Crack Under Pressure

Oleh: Erwin Parengkuan

Pernah membaca judul topik artikel ini? Sounds familiar? Yes, salah satu tagline brand jam terkenal dari Swiss dengan menambahkan kata “don’t” di depannya. Topik ini menjadi menarik melihat banyak sekali anak-anak muda ( Generasi Y dan Z ) yang gampang menyerah, mereka mudah retak dalam tekanan. Memang kondisi di mana generasi sekarang yang sangat instant menginginkan segala sesuatu bisa didapatkan dengan cepat, budaya instant menjadi sangat lekat dengan mereka. Seorang rekan yang menjadi pemimpin di sebuah media besar di Indonesia menegor generasi muda ini akan perilakunya yang dianggap tidak santun mewakili image perusahaan, apa yang terjadi? Anak ini tidak terima dikritisi dan besok Ia pun langsung resign tanpa pemberitahuan. Memang kita tidak bisa menyeragamkan semua anak muda dengan mental seperti ini, akan tetapi dari banyak wawancara saya di podcast dengan banyak pemimpin mereka kerap menyampaikan issue yang sama. Sehingga membuat saya tergerak untuk menulis artikel ini, sebagai mengingat dan ingin mengajak semua dari kita untuk mempunyai ketahanan mental seperti baja.

Untuk menghasilkan kualitas wine yang bagus, tentu anggur pilihan itu harus proses, airnya harus dikeluarkan, kalau dulu proses pembuatan wine harus diinjak-injak oleh manusia, dan akhirnya menghasilkan kualitas terbaik. Atau ketika seseorang mencapai kesuksesan, dibalik itu sangat panjang proses yang tidak menyenangkan mereka lalui. Sebut saja JK Roling penulis fiksi terkenal Harry Porter yang harus mendapatkan penolakan dari 11 publishing house karena dianggap novel ini tidak berbobot, atau Kolonel Sanders yang harus menerima penolakan dari 1009 restoran untuk membeli resep ayam goreng peninggalan neneknya akhirnya dengan proses yang panjang, tanpa henti, dan sekarang brand ini telah tersebar di lebih dari 118 negara dengan 18.000 cabang atau lebih.

Bagaimana ribuan success story tidak pernah lahir dengan mudah, memang perlu perjuangan dan kegigihan. Kepercayaan diri dan ketahanan mental adalah kuncinya. Hidup memang tidak ada yang mudah, dan sejatinya kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan di hidup ini asalkan kita percaya. Tentu perjalanan panjang yang terjal dan berkerikil akan kita lewati, keringat, air mata bahkan sampai darah! menjadi 3 komponen utama untuk punya ketahanan mental. Termasuk ketika kita sudah membuat sebuah target, harus fokus dan mengesampingkan hal-hal yang dapat membuat kita menjadi gagal fokus/distorsi. Banyak juga anak muda yang sekarang sukses berkat kegigihannya. Seperti Malala Yusafzay, seorang murid sekolah yang menjadi duta PBB termuda sepanjang sejarah, mendapatkan penghargaan bergengsi Nobel untuk perdamaian, mendali kebebasan, Order of The Smile dll, harus melewati masa kecil yang suram di negaranya di Pakistan dan dikejar-kejar dan akan di bunuh oleh teroris/Taliban, terbayang anak yang masih dibawah umur harus melewati tekanan hidup yang tidak sangat sulit. Ia bahkan menyamarkan namanya agar dapat menyebarkan cerita hidupnya di banyak artikel dan sosial media agar kebebasan memiliki hak bersuara dan mendapatkan pendidikan yang layak untuk setiap anak di negaranya. Sebuah pejuangan yang gigih, tanpa henti, dengan keringat, air mata dan darah yang harus Ia lewatkan, Malala tidak Crack Under Pressure!

Kita diberikan karunia yang luar biasa oleh Tuhan, kita diberikan otak kiri dengan limbik kiri yang akan membuat kita untuk rajin dan tekun, kita juga diberikan otak tengah untuk intuisi dan naluri serba bisa. Kenapa Malala bisa, kenapa Kolonel Sander yang usianya 65 tahun juga bisa, sedangkan kita tidak?

Kesuksesan adalah sebuah pilihan hidup, termasuk ketahanan mental. Bila kita telaah lagi, bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama, tua, muda, dan umur yang kita miliki terbagi atas 3 hal, umur kronologis yaitu umur di mana seseorang lahir, umur biologis sesuai dengan bentuk tubuh tinggi atau kecil seseorang, dan umur mental yang merupakan sebuah pilihan (sekali lagi). Jadi untuk berhasil dibidang yang anda kuasai, marilah jangan pernah berpikir untuk Crack Under Pressure berapapun usia kita.

In Communication, which one is better : Introvert, Extrovert or Ambivert?

Oleh : Erwin Parengkuan

Dalam sebuah sesi coaching, seorang leader menyambut saya dengan sangat terbuka, begitu sesi pertama kami mulai, betapa menyenangkannya Ia sangat terbuka dengan materi tentang komunikasi yang kami hadirkan. Ia lantas bercerita tentang pengalaman hidupnya, tidak hanya menjadi pemimpin di organisasinya, tapi juga didaulat menjadi ketua dari organisasi keagamaan yang Ia anut. Ketika seseorang “haus” mereka akan seperti sponge yang akan menerima semua masukan dan informasi dengan baik. Ketika saya memintanya untuk menyampaikan materi presentasi, sifat keterbukaannya kemudian berubah 160 derajat. Bicaranya kaku, pendek dan tidak ada gesture yang terbuka.

Kita memang kompleks, ketika kita nyaman dengan situasi yang dihadapi akan sangat menyenangkan dalam menyampaikan sebuah pesan. Tapi bila kita takut melihat jumlah peserta, semakin banyak peserta yang hadir, akan semakin takut seseorang untuk bicara di depan publik. Bagaimana seorang yang extrovert bisa mendadak menjadi introvert, begitupun sebaliknya seseorang yang introvert ketika bicara akan menjadi sangat kaku, tapi ketika berjumpa dengan teman sepergaulannya mendadak berubah menjadi pribadi yang extrovert?

Bagaimana dengan seseorang yang berada di dua kubu extroversion dan introversion? Mereka akan sangat lentur membawakan diri. Pertanyaannya, siapa yang akan lebih sukses dari ketiganya dalam mengendalikan diri, membangun hubungan dalam berkomunikasi? Apa betul orang extrovert akan selalu menjadi sales yang baik dalam menjual idenya, dibanding yang introvert? Dari data yang data yang saya dapatkan, orang introvert maupun extrovert tidak akan bertahan lama dalam membangun hubungan dalam komunikasi, karena satu sangat pendiam dan satu dangan tidak bisa berhenti bicara. Dan Ini sebuah kegagalan besar yang sering terjadi.

Kembali kepada si bapak yang saya coaching, lantas materi saya hentikan, karena ternyata masih banyak “unfinished business” yang belum tuntas. Sehingga kami perlu mendiskusikan bagaimana seseorang dapat memiliki kesadaran penuh dalam diri dan berdamai dengan masa lalunya. Ketika kita bertemu dengan orang yang penuh dengan masalah, sudah pasti orang tersebut akan menjadi gagal dalam membangun hubungan. Dan orang yang kita jumpai tentu tidak ingin tahu masalah yang kita alami, sehingga kita harus dengan taktis dalam melupakannya sejenak, agar dapat fokus memperhatikan lawan bicara. Kita tahu bahwa orang yang bahagia akan menjadi orang yang menyenangkan di lingkungannya dan selalu dicari kemana mereka pergi. Bisakah kita bahagia? Tentu, karena bahagia itupun adalah pilihan. Kita bisa kok memilih untuk bahagia atau tidak. Yang perlu diingat adalah komunikasi yang berdampak akan datang dari hati yang bahagia, dan kita akan dengan sendirinya menjadi bersemangat ketika berkomunikasi dan apalagi memberikan data terbaru yang bermanfaat buat audiens kita.

Ambivert adalah mereka yang terbuka, bisa menikmati proses dan menghargai lawan bicara, dan di satu sisi mempunyai kemampuan analisa yang baik. Istilah ini ditemukan pada tahun 1920an oleh seorang psikolog Amerika dari Pennsylvania University bernama Dr Grant. Ambivert adalah orang-orang yang lebih sukses dalam menjalankan kehidupan ini dibanding orang introvert maupun extrovert. Mereka mudah beradaptasi, dapat mengendalikan diri menjadi extrovert maupun introvert di saat yang bersamaan, senang bersosialisasi juga nyaman hidup menyendiri. Bagaimana caranya kita bisa menjadi seperti mereka? Jawabannya mudah yaitu dengan melatih diri. Mulai menyapa lawan bicara terlebih dahulu. Tahukan anda, bila kita yang memulai pembicaraan terlebih dahulu, kita yang akan mengendalikan situasi. Buat yang extrovert terlalu banyak bicara, coba tahan diri, gunakan jeda lebih banyak untuk memberikan kesempatan lawan bicara lebih kita dengar pendapatnya.

Semua adalah bagian dari sebuah proses panjang yang selalu kita jalankan dalam keseharian kita. Mulailah membuat list mengatur kebiasaan baru, buatlah check list, monitoring akan merubah kepribadian kita menjadi ambivert. Ketika kita punya tujuan, tentu keseharian kita akan penuh dengan hal-hal yang membuat kita bertumbuh, dan pastinya akan membuat kita selalu tertantang. Yang akhirnya membuat semua orang dapat mahir berbicara dan membangun hubungan. Jangan lupa untuk bahagia dan berdamai dengan masa lalu, karena tidak ada satu manusia di dunia ini yang bebas masalah. Selama kita masih membuka mata, masalah selalu ada, kritikan selalu ada, tapi kita sekali lagi dapat melihatnya dari “kacamata” yang positif bahwa ini adalah tantangan bukan sebuah malapetaka. Toh, semua yang kita alami dan dapatkan di dunia ini, selalunya sifatnya sementara. Ada saat senang, sedih, kontemplasi, untuk maju dan terus berjuang.

Have a Strong Knowledge or Use Your Imagination

Oleh : Erwin Parengkuan

Tidak bisa dipungkiri, ketika kita mempunyai wawasan yang luas kita akan mampu menghasilkan sebuah gagasan dan jalan keluar yang terbaik dalam melakukan sebuah keputusan dan mengendalikan hidup dan karir yang kita bangun serta jalankan saat ini. Bayangkan, seseorang yang minim info, tidak dapat memperbaiki hidupnya. Contoh, belum lama ini saya berada di Lembang dan berhenti membeli beberapa buah kelapa untuk di minum. Saya bilang kepada pemilik warung untuk tidak menggunakan kantong plastik, lantas ia bertanya kenapa? Saya bilang plastik itu merusak lingkungan dan mencermari lautan kita. Ia pun tertawa sambil menatap saya penuh heran. Ada sepasang suami istripun yang menikmati es kelapa muda di warung itupun tertawa kecil melihat penjelasan saya.

Hahaha sayapun kembali menjelaskan dampak plastik sekali pakai kepada mereka, tapi rupanya hal ini tidak dimengerti oleh mereka dengan pendidikan yang terbatas. Sayapun ingat cerita ketika saya berkunjung ke sebuah daerah di So’e di Timor Tengah Selatan, NTT, dalam kunjungan saya bertemu dengan masyarakat sekitar melihat kehidupan yang sulit, dan mereka tidak percaya bahwa suhu yang terik disana dapat diusahakan untuk membuat ladang sayur, tapi karena kondisi tanah yang kering dan tidak ada pupuk yang dapat membuat ladang mereka tumbuh subur. Lantas, organisasi yang mengundang saya menginformasikan kepada penduduk disana untuk membuat pupuk buatan yang organik dengan memanfaatkan sisa bahan makan, termasuk sayur yang sudah tidak terpakai berikut kulit buah untuk dijadikan pupuk organik. Sayangnya informasi ini tidak dipercaya oleh mereka, lalu organisasi ini mengutus seorang ahli pupuk organik datang dan mengajarkan mereka, mencontohkannya, mereka melihat pupuk ini jadi dibuat dan menamburkannya di lahan tersebut, selang berapa lama, kebun merekapun tumbuh subur.

Dari dua cerita saya diatas, jelas terlihat, betapa wawasan atau pengetahuan yang kita miliki yang kita dapati dimana saja, akan membuat hidup kita menjadi lebih mudah. Contoh kecil diatas, adalah sekelumit dari perjalanan seseorang dalam membangun kehidupan dan karir yang lebih baik. Sayangnya di zaman yang serba penuh informasi ini, kita justru menjadi lebih “keder” bahkan malas untuk memburunya, di tambah banyak informasi negatif/hoax membuat kita bertambah cemas dan tentu malas. Bila kita mencari di dunia digital, sebut saja seperti yang ada di www.tedx.com, pinterest, master class atau laman-laman yang bermutu, anda akan menyadari bahwa terlalu banyak hal yang tidak kita ketahui banyak tersebar dimana-mana, kita tinggal mencarinya dan menelusurinya, menganalisa dan mempraktikannya yang akan membuat kita untuk terus mengasah kemampuan diri dari waktu ke waktu dan akan meningkatkan kualitas diri menjadi lebih baik lagi dengan pengetahuan baru yang akan membukakan cakrawala kita. Bayangkan dalam konteks komunikasi kalau kita minim info, bagaimana kita dapat menyusun sebuah kalimat kepada lawan bicara kita dan “menaklukkan” mereka. Kosa kata yang terbatas akan membuat seseorang sulit menterjemahkan apa yang ada di benaknya.

Kita sudah tidak hidup di zaman batu dimana kita menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi. Dunia yang luas juga sempit, karena informasi begitu cepat menyebar, dan kita mutlak menyaringnya sebelum “meminumnya” membuat kita dapat mengimbangi diskusi atau komunikasi kita menjadi setara dengan mereka-mereka yang berwawasan luas. Tapi apakah seseorang dengan wawasan yang terbatas tidak dapat menciptakan sebuah gagasan atau prestasi? Bagaimana dengan zaman dulu kala, ketika tidak ada informasi seperti sekarang? Apakah artinya tidak ada informasi sama dengan tidak ada proses penciptaan? Tapi kenapa ada Piramida? Kenapa ada Spinks, kenapa ada banyak monumen bersejarah yang dibuat manusia dengan sangat iconic tercipta dari zaman dahulu kala? Sedangkan di zaman itu tidak ada informasi? Tidak ada tedx.com? Pinterest atau Master Class? Kenapa juga ada candi Buddha terbesar di dunia ada di negara kita dengan 1.460 relief dan 504 stupa Buddha? Darimana bangsa Sayilendra dapat membuat bentuk-bentuk yang monumental? Jawabannya bukan informasi atau surat dari surga, melainkan dari sebuah kata imaginasi. Kita manusia memiliki imaginasi yang sangat kaya. Sepeti Steve Jobs yang melihat bentuk apel dan menjadikannya logo perusahaan yang sangat powerful. Imaginasi dapat kita peroleh dari mengamati alam dan bentuk-bentuk alamiah di sekeliling kita.

Bagaimana banyak hasil karya dari para inventor dan seniman besar di dunia ini yang sukses dengan imaginasi yang mereka miliki? Bayangkan, Bila imaginasi ditambah dengan informasi yang tersedia saat ini betapa ini akan menjadikan kekuatan yang sangat mumpuni. Mari kita cari hanya informasi yang penting dengan sumber yang terpercaya yang akan membuat diri kita tumbuh subur seperti ladang sayur di So’e sana. Dengan catatan, imaginasi yang kita miliki harus dibuat dengan hati yang gembira tanpa beban. Karena kalau seseorang penuh derita tentu tidak akan dapat menghasilkan sebuah imaginasi yang berbobot seperti Candi Borobudur kita.

Find Your Missing Piece

Oleh Erwin Parengkuan

Dalam sebuah sesi online belum lama ini, seorang peserta bertanya kepada saya kenapa kok setiap bicara terlihat sangat bergairah? Ia lantas menyimpulkan bahwa saya sudah menemukan apa yang saya suka dalam menjalankan pekerjaan saya. Saya kemudian bercerita kepadanya bahwa untuk sampai ke titik ini, saya tidak pernah berhenti berproses. Tepat sekali dengan judul artikel kali ini untuk anda yang sedang galau menjalani pekerjaan anda. Kalau kita mencarinya terus menerus kita akan mendapatkan apa yang kita ingin lakukan dan sukai.

Saya kemudian flashback di akhir tahun 90’an, tepatnya ketika sudah menikah, perusahaan EO yang sudah dirintis 5 tahun akan membuat TV Cable di Belanda, sayangnya ketika perusahaan ini akan segera up and running, krisis moneter melanda negeri ini. Kalau saya ingat, di moment itu, saya juga sangat excited dengan kehidupan baru yang akan saya jalani. Bayangkan, ada di negeri 4 musim, mempunyai kegiatan yang bertolak belakang dengan apa yang selama ini saya jalani. Berada di balik layar, Sungguh menyenangkan! Tapi ternyata harapan tinggal harapan, ia pupus dan menguap sangat cepat. Saya kemudian kembali ke dunia broadcasting, siaran lagi, masuk TV lagi, dll. Sampai ketika 17 tahun yang lalu, ketika karir masih gemilang di panggung entertainment, saya melihat kesempatan lain untuk membuka sekolah komunikasi yang terus bertumbuh hingga sekarang. Berproses terus itu yang saya lakoni, tanpa lelah, terus dan terus.

Kemudian saya menjadi pengajar, coach, dan penulis buku. Waduh, ini juga sesungguhnya tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Saya hanya tidak pernah berhenti mencari, menggali, terus penasaran akan apa yang saya lihat dan ingin ketahui.

Kita manusia memiliki sifat dasar yang tidak pernah puas, kalau ini yang kita bina terus, dalam konteks pencarian the missing piece, saya percaya semua orang akan menemukannya. Perbanyaklah rasa penasaran akan hal baru yang belum kita ketahui, perbanyaklah waktu diskusi dengan diri sendiri, be truthful to yourself. Tanyakan apa ini yang menang benar kita suka? Adakah alternatif lain yang membuat kita lebih bergairah?
Salah satu “engine” lainnya yang perlu kita miliki adalah memperbanyak wawasan dengan membaca buku. Contoh ini selalu memberikan inspirasi yang sangat kaya kepada saya. Banyak orang bertanya bagaimana caranya mengetahui buku bagus yang akan kita baca? Kalau saya, mengandalkan Pinterest yang dapat kita unduh di google play, dan tinggal ketik New York Best Selling Book, disana bertebaran buku-buku terbaik dunia. Semua disiplin ilmu ada disana. Dan ketika kita membaca banyak judul yang menarik, buka juga nama-nama penulisnya direkam jejak digital mereka. Tentu ini akan membantu kita lebih kenal dan penasaran dengan sang penulis buku.

Manusia yang terus berproses tanpa henti akan menemukan jalan yang tepat. Kita tentu tidak ingin seperti Colonel Sanders yang baru menemukan passionnya setelah ia pensiun. Itu terlalu lama menurut saya, walaupun akhirnya sukses membuka resto cepat saji pertamanya setelah menawarkan resep ayam goreng sang nenek ke 1.000 pintu yang ia ketuk. Inipun membuktikan kepada kita tentang proses panjang dan tidak pernah mengenal kata terlambat untuk memulai sesuatu yang kita suka dan ingin tahu. Dan bila anda berpikir saat ini bukan waktu yang tepat, percaya deh, tidak ada waktu yang sempurna dalam setiap kesempatan.

Saatnya sekarang anda cari, sebelum terlambat, sebelum anda tua dan tidak memiliki gairah lagi. Jangan pernah berhenti melangkah, gali terus potensi diri, lihat trend kedepan akan seperti apa bentuk dunia nanti. Seorang teman pernah juga mengatakan kepada saya “kita tidak perlu membuat sesuatu yang belum pernah ada di dunia ini, cukup mengembangkan yang sudah ada, yang biasa menjadi luar biasa itupun sudah keren banget.” Dan saya sangat sependapat dengan kalimat yang ia ucapkan. Oh ya, satu lagi yang terpenting, tindakan akan mengalahkan sebuah ketakutan, so be true to yourself!

Leadership from Within

Oleh Erwin Parengkuan

Pernah mengagumi bagaimana seorang pemimpin yang bijak memimpin perusahaannya dan membawa setiap orang bertumbuh secara kepribadian dan keahlian? Sehingga perusahaan tersebut dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Kalau saya amati seorang leader yang benar harus memiliki 2 kualitas utama yaitu menjadi mentor yaitu seseorang yang melatih dan memberikan instruksi, juga harus berfungsi sebagai coach yang membantu setiap teamnya memiliki kesadaran akan fungsinya di pekerjaan dan secara terus menerus melakukan pendampingan yang dapat membantu anggotanya mempunyai motivasi yang besar untuk terus meningkatkan kapasitas diri.

Dari penjelasan di atas, kita tentu sekarang dapat melihat di sekeliling kita, mana pemimpin yang memiliki kualitas yang benar sebagai seorang mentor dan coach. Menurut pandangan saya, seorang pemimpin yang benar bila kita ingin liat kualitas pribadinya, harus kita cek apakah ia di rumah dapat juga menjadi pemimpin yang baik? Kenapa? karena bila seseorang tidak dapat memimpin masyarakat yang paling kecil yaitu keluarganya sendiri, rasanya sulit seseorang dapat menjadi pemimpin dikantornya. Kalau memimpin anak sendiri tidak sanggup, bagaimana bisa memimpin anak orang lain yang tentu berbeda pemahaman, kebiasaan dan kultur?

Dari pengalaman yang beragam bertemu para pemimpin hebat dalam pekerjaan saya sebagai public speaking coach, sering kali sesi berlangsung di rumah mereka, saya kemudian dengan seksama mengamati pola komunikasi mereka dengan semua anggota keluarganya. Ada yang terasa sangat harmonis, ada yang memang terlihat kaku/otoriter, atau terlalu baik. Leader yang benar menurut saya mutlak untuk dapat mengendalikan diri dan ego-nya. Seorang kawan, bercerita tentang seorang leader besar.

Yang ia lihat dirumahnya sangat tempramental dan tidak sabaran. Untuk hal-hal kecil saja, ia dapat menggebrak meja karena sambal yang ditunggu di meja makan belum juga datang. Leader besar ini-pun ternyata diluaran sana sama saja perangainya. Pemarah dan terlihat dari ekspresi wajahnya bila tidak suka dengan sesuatu/seseorang.

Wajahnya memerah, memendam perasaan marah dan itu tertangkap dari ekspresi wajahnya. Saya lantas mencari beberapa nama yang sukses sebagai pemimpin di kantor juga sukses memimpin keluarganya. Seperti Nelson Mandela, Obama, John C. Maxwell, Anthony Robbins dst. Margaret Thatcher tidak sukses mendidik anaknya yang kembar, Bill Clinton tidak sukses di dalam rumah, juga banyak leader/pemimpin di negara ini.

Sebuah istilah : work-life balance yang sudah lama ada ternyata kurang tepat menurut saya, karena hanya mementingkan pekerjaan terlebih dahulu baru keluarga. Mungkin ini juga yang membuat para pemimpin menjadi miss-leading, fokus kepada pekerjaan tapi mengabaikan keluarganya. Yang lebih tepat adalah life-balance. Seorang leader sejatinya harus memiliki kesimbangan hidup, di kantor, di keluarga termasuk waktunya untuk diri sendiri. Memang sulit untuk melihat bagaimana seseorang pemimpin melakukan interaksi bersama keluarganya. Yang kita lihat biasanya hanya sebuah pencitraan di media sosial, terlihat akur dan bahagia. Sejumlah ahli psikolog mengatakan bila seseorang kerap menggumbar keharmonisan keluarganya kemungkinan besar yang ditampilkan justru bertolak belakang dengan kenyataannya.

Leader yang benar tidak fake melainkan natural dimanapun mereka membawakan diri. Bagaimana kita tahu bahwa seorang leader menjalankan fungsinya di pekerjaan sama dengan yang ia lakukan dirumahnya? Cara termudah adalah mengamati dengan seksama bagaimana mereka berinteraksi dengan orang terdekatnya. Entah itu dengan jajaran paling bawah, office boy, satpam, cleaning service. Karena kalau dengan lapisan yang paling bawah di kantor saja sudah ada respect dengan mereka, bisa jadi dirumahpun sama perilakunya. Beragam cerita para pembantu rumah tangga/supir ketika sudah tidak bekerja pada sang majikan mengumbar cerita di sosial media/pers tentang bagaimana mereka diperlakukan.

Walaupun ini belum tentu 100% benar karena kita hanya mendengar hanya dari satu sisi. Bagaimana-pun juga, ini adalah sebuah “tanda” yang dapat menjadi “perhatian” kita. Ada juga leader yang sangat perhatian dan baik, tapi apakah leader dengan kualitas tersebut dapat menjalankan disiplin di rumah dan kantornya kalau terlalu baik? Atau leader yang hanya “sugar coating” alias acting, agar telihat perhatian ternyata itu hanya sebuah rekasaya? Bagaimana cara mengetahuinya? mudah, perhatian mimik wajah mereka, tekanan suara mereka, pergerakan bibir dan mata, bahasa tubuh mereka. Anda tentu dapat merasakan apa itu dibuat atau asli.

Jadi kesimpulan saya, seorang pemimpin yang benar adalah pemimpin yang menjalankan fungsinya dengan baik di rumah dan di kantor. Menjadi pendidik juga pengawas, menjadi motivator juga penghibur, dan menjadi lembut juga tegas akan prinsip-prinsip utama yang harus dijalankan. Bila anda ingin tumbuh sebagai pemimpin yang benar, mulailah dari rumah, hargai orang-orang disekelilingmu. Everything start from small.

WhatsApp Online Chat Support