Tujuan Hidup dengan Piramida Berpikir Logis

Oleh Erwin Parengkuan

Rupanya hampir 80% penduduk di dunia tidak memiliki tujuan hidup yang jelas, misalnya dalam sesi saya kemarin, seorang peserta yang merupakan seorang pegawai pemerintahan bertanya “Boleh tidak kalau saya memilih menjadi seorang mediocre saja?”. Saya bilang lagi, apa sudah dipikirkan dampaknya bila semua yang kita lakukan biasa-biasa saja, dengan inflasi yang makin meningkat, sekarang saja di Indonesia PPN tidak lagi 10% tapi 11%.

Ketika saya menyampaikan penjelasan ini, sang bapak kemudian merenung, saya bilang lagi, tentu semua tujuan yang akan dibuat harus jelas dan terukur, tidak muluk-muluk/terlalu jauh, karena saya percaya setiap orang harus memaksimalkan potensi dirinya, mulai dari menjadi seorang generalist dan kemudian beranjak perlahan menjadi seorang specialist dibidang yang ia tekuni setelah melewati rentang waktu kurang lebih 5 tahun, seperti yang dikatakan seorang penulis dan wartawan terkenal Malcomn Gladwell tentang 10.000 jam terbang untuk menjadi seorang ahli dibidangnya.

Setelah mendengarkan penjalasan saya, sang peserta kemudian sepakat untuk tidak menjadi mediocre:) Ok, sekarang giliran saya ingin menyampaikan kepada anda sebuah piramida logika yang ditemukan oleh duo ahli syaraf bernama Robert Dilts dan Gregory Bateson, dimana bila kita lakukan, akan membuat kita menjadi lebih powerful dalam kemampuan analisa, membantu orang lain, menyelesaikan masalah dan menciptakan hubungan yang harmonis:

Environment

Coba cermati lingkungan dimana anda berada, apakah lingkungan tersebut membantu anda untuk mencapai apa yang diinginkan? Tentu sebelum melihat lingkungan, kita harus bertanya dalam diri kita, apa yang mau kita tuju dalam hidup ini? Apa tujuan yang jelas? Apakah sudah dibuat dengan terukur? Jenjang karir yang ingin dicapai? Baru kita bisa mencocokan dengan lingkungan yang sepadan yang harus kita miliki. Termasuk membuang lingkungan/orang-orang yang tidak sapatutnya/terasosiasi dengan kita, untuk mempermudah pertumbuhan mental yang sehat.

Behavior

Ini kerap kali menjadi batu sandungan, seseorang yang sudah memiliki tujuan yang jelas, lingkungan yang tepat, tapi kalau tidak diikuti dengan perilaku yang menyenangkan, tentu tidak akan dapat dengan mudah mencapai ke jenjang selanjutnya. Tanyakan kedalam diri, apakah saya termasuk pribadi yang terbuka? Mau menerima input atau kritikan?

Ability

Ketika seseorang sudah memiliki 2 point diatas, saatnya fokus menjadi seorang specialist, tidak ada waktu untuk menunggu, tidak ada waktu untuk bemalas-malasan. Buatlah skala prioritas, ukur waktu pengerjaan, buatlah urutan dari yang tersulit harus dikerjakan baru yang termudah. Tidak ada waktu juga untuk menjadi overthinking karena tidak ada gunanya sama sekali. Overthinking hanya akan membuat kita kembali menjadi orang yang stagnan, frustasi dan akhirnya stress akan hal yang tidak penting dipikirkan, apalagi menyangkut hal external yang tidak dapat kita kendalikan sama-sekali. Pertajam keahlian dan bentangkan wawasan kita seluas samudera.

Belief and Values

Pertahanan mental kembali diperlukan dalam mencapai tujuan hidup yang jelas, apa yang kita percaya dalam diri? Nilai teguh apa yang kita pegang utuh? Kedisplinan? Tepat waktu? Integritas? menjadi pribadi yang memiliki growth mindset dan walk the talk adalah sangat tepat.

Identity

Buat dengan jelas, siapa identitas kita yang baru, dan lekas meninggalkan identitas yang lama. Menjadi orang yang baru, dengan semua pemikiran, perasaan, tubuh yang baru untuk menjadi pribadi yang tangguh. Jadi siapa saya yang baru? Brand apa yang mau saya gunakan? Pikirkan semua aspek yang sudah saya bahas diatas, dan rangkum menjadi kata kunci yang mewakili sifat kita, pekerjaan kita, cara kita berinteraksi, cara berpenampilan yang menjadi personal brand kita.

The Mission

Apa goal yang ingin kita capai? Goal pribadi? Goal dimana kita bekerja? Seorang pengusaha dan pembicara, Stephen Covey mengatakan “begin with the end in mind” berpikir akan hasil akhir yang ingin kita tuju. Buat apa tujuan itu? Ini adalah level tertinggi, yang akan membuat kita menjadi merasa berguna dalam hidup dan juga pada akhirnya memberikan kontribusi yang berarti kepada orang lain atau masyarakat luas. Level ini sangat powerful, the mission shines through everything. Anda akan selalu bangun tidur bersemangat ketika sudah merancang semua yang saya bahas dalam tulisan ini. Let’s!

Testimoni Peserta Regular Class Public Speaking Professional, Batch 19

Faiz Zaki Pinondang Dalimunthe

Regular Class Public Speaking Professional, Batch 19

Pertama kali tertarik untuk mengembangkan kemampuan dalam berkomunikasi baik secara visual maupun verbal adalah ketika saya presentasi di depan teman-teman. Saya merasa saat melakukan presentasi terdapat banyak kekurangan, tidak percaya diri, dan kurang menarik. Sejak saat itulah saya memutuskan untuk mengikuti kelas Public Speaking dari Talkinc. yang direkomendasikan oleh Ibu saya.

Secara keseluruhan, materi Public Speaking yang disampaikan oleh fasilitator tentunya sangat bermanfaat. Tidak hanya menyampaikan materi, pada saat kelas berlangsung juga disertai dengan latihan atau praktik disertai dengan saran dan kritikan dari fasilitator yang membuat kelas ini berjalan secara efektif.

Mulai dari gaya berbicara, bahasa tubuh (body language), dan pesan yang ingin disampaikan sangat diperhatikan dan dikoreksi oleh fasilitator dengan sangat baik, Legit. Menurut saya, materi yang paling berkesan adalah body language dan closing, di mana materi ini menjadi hal utama dalam public speaking agar dapat menarik perhatian pendengar agar tetap fokus dan tidak bosan. Di dalam materi closing yang membuat saya semakin tertantang adalah membuat punchline yang dapat mewakili pesan yang disampaikan dan bisa dibuat menjadi lebih humoris. hal-hal lainnya yang masih perlu saya tingkatkan adalah flow of mind, bahasa tubuh (body language), 3H (head, hearth, hand), dan closing yang mampu mewakili keseluruhan pesan yang disampaikan. Semua ini dapat ditutupi dengan latihan, aware terhadap hal sekecil apapun dan self evaluation yang menjadi tips dari Mas Erwin Parengkuan.
Terima kasih Talkinc.. semoga bisa bertemu kembali dan sukses selalu untuk Talkinc dan team.

Mimik Wajah dan Tekanan Suara dalam Berkomunikasi

Oleh Erwin Parengkuan

Coba perhatikan baik-baik setiap orang yang berbicara kepada kita. Amati Bahasa tubuh, terutama ekspresi wajah mereka. Mulai dari mata dan bergeraknya bibir. Seperti kita tahu, mata adalah pancaran jiwa yang sangat dekat alirannya dengan apa yang dipikirkan seseorang dan apa yang mereka rasakan dari hatinya. Ketika kita sudah tidak lagi memiliki sebuah ketakutan dalam berkomunikasi, tentu kita akan mempunyai perhatian yang penuh kepada mereka yang sedang melakukan interaksi kepada kita. Bayangkan hubungan yang begitu erat antara seseorang yang sedang berbicara (komunikator) dengan yang sedang mendengarkan (komunikan). Bila kita luput memperhatikan rambu-rambu yang terpancar dari mata dan gerakan bibir, juga tekanan suara, tentu akan banyak potensi kegagalan dalam membaca apa yang mereka sesungguhnya ingin ucapkan dan rasakan.

Kemarin, seorang kawan memberikan video di WA group, terhadap anak-anak yang sedang bermain games di kamar salah satu teman kami. Ketiga anak ini berusia 15 tahun, mereka adalah sahabat karib seperti kami para orang tuanya. Video dimulai dari pintu yang dibuka oleh teman kami, seorang ibu yang bertanya mereka sedang apa, dll. Begitu video itu dilihat oleh beberapa kawan kami, beberapa dari orang tua mereka mengatakan “kok anak-anak itu mukanya jutek?”. Tarikan bibir mereka yang menjawab sekedarnya sangat klop dengan tatapan mata mereka. Walau kata-kata yang mereka ucapkan sangat normatif “kami dengan main games!”

Contoh diatas menunjukkan betapa pentingnya sebuah perhatian penuh kepada lawan bicara kita. Sayangnya, dunia yang makin tidak menyenangkan ini membuat kita kerap kali lalai memperhatikan signal-signal yang terpancar dari wajah lawan bicara, apalagi mencerna tekanan suara mereka. Bahwa ekspresi wajah juga bahasa tubuh adalah sebuah komunikasi yang sangat jujur yang diberikan kepada seseorang termasuk kita diminta untuk cermat mencerna tekan suara seseorang apakah datar, rendah, antusias atau penuh tekanan tinggi tanda emosi yang tidak stabil saat itu.

Dalam setiap kesempatan berbagi di kelas, saya melihat, kondisi ini makin jelas tergambar. Seseorang yang pusing karena tekanan hidup dan ribetnya urusan kantor, belum lagi yang sudah menikah mempunyai segudang masalah dan tantangan yang datang tanpa henti. Beberapa cara terbaik yang dapat kita lakukan untuk dapat menangkap semua signal-signal tersebut, selain kita harus fokus, kita juga harus mengatakan kepada diri kita bahwa saatnya saya berkonsentrasi menangkap semua ekspresi wajah berikut tekanan suaranya. Karena kalau kata-kata bisa menjadi sangat manipulatif. Misalnya ketika kita bertandang ke rumah kawan pada saat jam makan siang, dan tuan rumah nenawarkan ajakan makan siang, tapi karena kita sungkan, kata-kata yang akan kita ucapkan tentu berbeda dengan isi hati dan pikiran kita yang sedang lapar.

Hal yang sama juga ketika kita sedang menelpon seseorang, dimana kita tidak dapat melihat ekspresi wajah mereka, apa yang anda tangkap dari tekanan suara di seberang sana? Intonasi suara yang senang? datar? atau terengah-engah?

Setiap komunikasi yang kita lakukan tidak luput dari semua aspek yang barusan saya utarakan kepada anda. Berpihaklah kepada pengamatan yang jeli kepada semua orang di depan anda, 100% agar semua yang mereka sampaikan melalui ekspresi wajah, tatapan mata tertarik, takut, menjauh dengan juga menganalisa tekanan suara, akan memberikan gambaran yang jelas tentang suasana hati dan pikiran seseorang, sehingga hasilnya andapun akan semakin taktis untuk lihai dan menilai apakah komunikasi yang anda lakukan harus diteruskan, hentikan, atau segera mengganti topik yang berbeda.

Self Discipline

Oleh Erwin Parengkuan

Saya jadi ingat kegiatan rutin setiap minggu sewaktu masih SMP kami anak-anak diperbantukan memotong ayam untuk disajikan di restoran milik ibu, mengupas ayam rebus yang jumlahnya tidak sedikit. Kegiatan ini selalu berlangsung rutin, saya dan kakak saya kebagian masing-masing 5 ekor ayam rebus untuk dipotong kecil-kecil menyerupai dadu. Saya selalu mencoba untuk tekun menyelesaikan tugas mingguan ini. Ibu tidak mau ini dikerjakan oleh staffnya, saya juga tidak mengerti kenapa waktu itu. Mungkin beliau ingin kami anak-anak ikut terlibat dan belajar arti sebuah proses. Bayangkan hampir 1 jam setiap minggu saya berkutat dengan aroma ayam yang tidak saya suka, tangan berminyak mengupas kulit ayam, melepaskan daging dan tulangnya yang terkadang keras dan tajam. Karena saya tahu bahwa 1 jam akan selesai tugas yang sangat tidak menyenangkan ini, saya secara alami belajar mencintai sebuah proses.

Banyak hal-hal kecil dikehidupan kita tidak lepas dari kata disiplin. Disiplin untuk terus melakukan sebuah proses yang berulang dari waktu ke waktu. Walaupun saya termasuk tipe manusia yang sangat aktif, tidak bisa diam, dan pembosan. Tetapi, mengingat kejadian SMP mengupas ayam, saya kemudian mulai menjadi lebih disiplin dan tekun karenanya. Saya melihat proses bukan sebuah hal yang menyakitkan. Saya melihat sebuah hasil/result. Saya mengukur waktu tempuh dan kemudian menantikan sebuah hasil yang akan saya peroleh apapun wujudnya. Banyak hal dihidup ini bila dijalankan dengan sungguh-sungguh dan melihat hasil yang akan kita capai, kita akan belajar mencintai sebuah proses yang akan dilewati. Bagaimanapun hasil yang akan kita dapatkan, kita diminta untuk bertekun menjalaninya dengan sepenuh jiwa.

Saya kemudian tumbuh menjadi pribadi yang lebih disiplin. Waktu lepas SMA, saya merasa sangat bahagia karena tidak lagi harus menghafalkan sesuatu yang sama sekali tidak saya sukai. Saya menantikan pembelajaran dari “hidup baru” yang saya akan jumpai. Memilih jurusan kuliah yang saya suka (walapun akhirnya tidak tamat), ditambah, ada perasaan sangat bahagia ketika bertemu kelompok baru dimana waktu itu saya bergabung dengan sebuah organisasi kepemudaan yang berfokus kepada seni dan budaya. Dengan proses panjang penerimaan anggota saya setia melewati proses tersebut. Latihan fisik, mental dan berorganisasi saya jalani dengan sungguh-sungguh. Ibaratnya menjadi seperti kertas kosong yang membuka pikiran, perasaan dan tubuh untuk melebur bersama sebuah proses, waktu itu usia sayapun baru 17 tahun. Saya tidak berharap apapun dalam kegiatan yang saya tekuni seminggu sekali itu, tujuannya hanya ingin belajar dan belajar.

Bila kita bicara soal mental, tentu setiap orang mempunyai bobot mental yang berbeda-beda. Ada yang kuat seperti baja, tahan banting, ada yang memiliki mental tempe, mudah rapuh! Pertanyaannya apakah semua orang bisa mempunyai mental yang kuat seperti baja? Tentu jawabannya 100% bisa. Dengan banyak persyaratan yaitu yang utama motivasi kuat yang harus dimiliki setiap orang. Apa tujuan yang diharapkan?

Sayangnya, dunia kita yang sekarang serba instan, membuat banyak orang mudah menyerah, maunya serba cepat. Proses tetap harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar. Selain keteguhan mental yang harus seperti baja, tujuan yang jelas harus diikrarkan dan tinggal menjalaninya dengan belajar mencintai proses. Disitulah disiplin akan muncul perlahan tapi pasti. Kemahiran membuat kalkulasi waktu, mana yang penting untuk dilakukan, mana yang tidak, akan muncul dengan otomatis bila kita selalu meluangkan waktu untuk menganalisa diri dari proses yang sudah kita jalani. Harus rajin melakukan self-check, kalau bisa setiap hari seperti yang saya lakukan. Karena menurut saya hidup ini adalah sebuah tindakan yang tidak ada habisnya, termasuk pencarian menggali potensi diri, meningkatkan keahlian yang dipupuk dari kedisiplinan, dan tidak membiarkan perasaan kita menjadi lemah karenanya.

Silence In Communication Without speech or other sound

Oleh Erwin Parengkuan

Wah, menulis artikel kali ini penuh tantangan. Bagaimana saya bisa menguraikan sesuatu semantic/makna dalam kata “diam” tidak ada satu patah kata yang terucap, tidak ada suara yang terdengar, yang juga merupakan bagian utuh dari sebuah kata “komunikasi.” Terkadang dalam sebuah interaksi atau komunikasi terlihat seseorang, dua orang, atau banyak orang melakukan an absent of speech. Seorang orator yang diktator seperti Adolf Hitler, kerap kali melakukan hal ini, an absent of speech selama bebeberapa menit di atas panggung. Menghipnotis audiens dan penuh tekanan yang membuat tujuan pidatonya menjadi lebih powerful. Sering juga mungkin pasangan berada dalam satu mobil, tidak saling bicara. Hening..tenang…masing-masing membiarkan pikiran mereka berada dalam senyap tanpa suara. Bukan berarti mereka malas bicara/mungkin. Bisa jadi menikmati suasana dan tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Kita juga dulu sering mendengar kalimat “silent is gold’ apakah dalam komunikasi hal ini masih valid? Jawabannya relatif! Untuk apa, dan mengapa hal ini dilakukan oleh seseorang. Dalam berbagai situasi, perlu dilakukan, karena menurut saya mutlak saja seseorang absen dari bicara ketika berkomunikasi, bukan dalam kontek gagap atau kehilangan kata-kata, tetapi menjadi bagian dari alur/the flow. Menciptakan kekuatan baru dan perhatian lebih dari lawan bicara, untuk terus stay on the flow dan menantikan kata berikutnya yang akan kita ucapkan. Seperti sebuah jeda/pause. Sangat penting dilakukan ketika berbicara, agar kata-kata yang diucapkan tidak terus mengalir deras seperti kran yang bocor. Hasilnya, sulit ditampung oleh lawan bicara!

Saya ketika berada dalam sebuah diskusi atau sesi mengajar, sering sekali menggunakan strategi jeda ini. Peserta kemudian menunggu kalimat berikut yang akan saya sampaikan. Walau terkadang jeda dilakukan sebagai sebuah proses dalam mencari kata yang paling tepat dari banyaknya sinomim dibenak saya. Sekali lagi, kita bicara kali ini dalam konteks positive silent/jeda untuk sebuah kekuatan, bukan destructive silence shout down communication, dimana terjadi ketidakmampuan seseorang dalam memilih kata/blank/gugup. Karena sudah sepatutnya apapun yang kita bicarakan harus/mutlak dikuasai.

Berikut ini adalah 5 keuntungan penting yang akan diraih seseorang ketika melakukan “diam/jeda” dalam berbicara:
1. Memimpin pembicaraan
2. Golden moment
3. Membuat lawan bicara mencerna dan menunggu
4. Dalam kendali diri
5. Ekspresi dari perasaan

Seperti yang sering saya bahas di kelas maupun dalam tulisan-tulisan saya, bahwa non verbal communication menduduki bobot terbesar dalam berkomunikasi yaitu 70 % ( Penampilan 10%, Bahasa tubuh 60%), kata-kata 10% dan suara 20%. Bagaimana kita bisa dalam kendali, membuat bahasa tubuh juga “diam” sebagai bagian dari mempertebal tujuan. Atau bisa juga anda merubah posisi duduk/berdiri yang mendukung tujuan.

Silence adalah aset penting dalam berkomunikasi, juga ketika saya pergi menginap di hotel, saya tidak menyalakan TV, memutar musik, saya hening, tenggelam dalam pikiran dan perasaan. Ini juga merupakan bagian dari meditasi, kontemplasi diri, berbicara dengan diri sendiri, melakukan self check dan masih banyak lagi keuntungan ketika bisa menggunakan silence sebagai bagian dari komunikasi kepada lawan bicara/audiens. Silence juga menurut saya lebih baik daripada berbicara tanpa makna apapun, seperti terkadang kita menikmati waktu bersama dengan orang lain, tanpa berbicara untuk berada dalam zona diri yang tenang dan nyaman dari dunia yang makin bising saat ini.

Materi favorit di kelas Public Speaking batch 18 TALKINC

Tujuan melanjutkan kelas Public Speaking setelah Elementary kelas adalah agar bisa melatih dan berlatih public speaking yang lebih efektif, yang mengena ke sasaran. Selain itu harapan saya adalah dapat lebih mengenal type yang tepat dan sesuai dengan karakter dan gaya bicara saya, yang cenderung suka menambhakan “bumbu” saat berbicara. Diakhir sesi ke 7, saya dapat melihat kecendrungan saya dan semakin menyadari kecendrungan ini serta berusaha lebih mawas diri.

Materi favorit saya adalah Practice Makes Perfect yang dibawakan oleh Lala Tangkudung. Materi ini menarik buat saya karena selain kita melatih diri kita, selama sesi kita juga bisa mengamati kreatifitas teman-teman saat melakukan praktek. Saat pengamatan kita juga jadi terpacu untuk menjadi kreatif dan juga menyesuaikan beberapa point yang tadinya ingin kita sampaikan atau yang tidak ingin disampaikan. Saya juga lebih mawas mengenai beberapa point yang perlu saya perbaiki seperti verbal filler, bridging dan juga tone suara saya terutama saat blank.

Saat kelas, Mba Lala juga sangat memperhatikan praktek tiap peserta dan memberikan tips untuk memudahkan ataupun memberikan masukan mengenai bagaimana sebaiknya presentasi dan praktek yang lebih pas bagi masing masing peserta. Tone dan pace suara juga diperhatikan selain dari posisi ke kamera dan interaksi kepada audience. Meskipun saat kelas dengan topik ini pembahasan teori tidak terlalu banyak dan merupakan ringkasan dari kelas sebelumnya, tapi sangat berguna untuk refresh ingatan mengenai topik-tpoki sebelumnya.

Hal yang sangat mengena adalah mengenai pentingnya Punch line saat di bagian closing, karena selama ini setiap bagian closing saya hanya terbiasa menggunakan summary dan rekap. Punch line yang mengena akan meninggalkan kesan yang bisa selalu diingat oleh para peserta. Materi di kelas ini juga sangat berguna untuk digunakan di setiap sesi praktek karena merupakan gabungan dari materi kelas sebelumnya dan sesi pengingat yang pas.