Confidence is a must

Oleh Erwin Parengkuan

Pengalaman bertemu banyak individu yang sukses akan menambah “jam terbang” kita agar lebih berpengetahuan lagi yang tentunya akan membuat kita lebih percaya diri. Kemarin saya menjalankan sesi training dengan sebuah direktorat di Kementerian RI, dalam sesi lunch break, seorang pejabat yang membuka sesi pagi tadi, menghampiri dan duduk menemeni kami makan siang. Beliau bercerita tentang pengalamannya belum lama ini dalam sebuah penilaian untuk naik jabatan, dimana harus mengikuti sesi interview akan inovasi apa yang akan dilakukan agar “lolos” naik jabatan. Si bapak kemudian bertanya kepada anaknya di rumah yang sedang menempuh pendidikan akhir di sebuah Universitas Negeri bergengsi di negeri ini, Ia bertanya tentang ide apa yang harus disampaikan pada wawancara nanti berhubungan dengan inovasi. Seperti yang kita ketahui generasi Millenial sangat kaya akan informasi dan mereka sangat peka teknologi. Kemudian si anak menyarankan “fokus ke inovasi digital karena semua bisnis apapun harus pro digital karena sesuai dengan tuntutan zaman.”  Sang ayah kemudian mengangguk dan setuju akan usulan sang anak.

Ketika si bapak meneruskan cerita ini kepada kami, dengan cara bercerita yang berapi-api menguraikan momen ketika beliau di interview. Gagasan dari si anak kemudian dielaborasi sesuai dengan kemampuannya yang PD. Si bapak bercerita bahwa pihak penilai adalah mereka yang masih minim pengalaman dan tidak tahu tentang pengetahuan dan bidang yang mereka tanyakan kepada pihak yang lebih senior. Mereka hanya bertanya dari ide awal dan kembali menggali ide tersebut. Si bapak meyampaikan jurus rahasianya yaitu fokus kepada konten yang Ia sampaikan dan percaya diri, sehingga ketika pertanyaan berputar kepada penjelasan yang sudah diucapkan, Ia tidak “blunder” dan tetap fokus dan teguh dengan penjelasannya. Karena dalam setiap teknik interview, atau investigasi, ketika kita mulai mengarang, pertanyaan incaran pasti membidik kata-kata anda yang “mengambang” dan menjadi sasaran empuk. Mereka akan menyimpulkan bahwa anda mengarang dan tidak konsisten dengan jawaban dan tentu penilaian akan menjadi buruk, akhirnya kita tidak akan lulus dalam sesi interview/investigasi yang berlangsung.

Pengalaman cerita di atas dapat disimpulkan bahwa percaya diri adalah kunci dari semua aspek dalam kehidupan ini. Bayangkan kalau si bapak tidak PD, apa jadinya dengan kenaikan jabatan beliau yang nanti sejak lama? Hasil interview lolos dan si bapak naik jabatan, sedangkan beberapa rekannya harus kembali mengulang proses interview sampai beberapa kali karena ketidakyakinan mereka dalam berkomunikasi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari pihak penyelidik.

Persis dengan banyak tips yang sering kami sampaikan dalam setiap training bahwa “mapping” peta lawan bicara menjadi esensial, kepada siapa kita harus bicara, siapa mereka, bagaimana pengalaman mereka apakah setara dengan kita atau di bawah kita. Tentu mengambil cerita di atas, si bapak sudah melakukan PR-nya dengan baik, bahwa yang mewawancarainya tidak menguasai bidang yang dilakukan, mereka hanya menggali dan kembali “memutar” pertanyaan untuk mengetahui apakah jawaban betul dikuasai. Berbeda dengan kalau kita harus menaklukkan lawan bicara, apalagi dengan jumlah orang yang  “isi kepala” dan pengetahuannya berbeda-beda. Sehingga, pengetahuan anda mutlak harus di atas mereka. Jadi, pastikan sudah ada pemahaman yang dalam, data yang dan pengetahuan terbaru yang harus kita berikan kepada mereka. Kalau tidak anda harus bersiap diremahkan oleh audiens anda.

Kemarin juga dalam sesi online dengan para “agen perubahan” di sebuah Kementerian yang berbeda, seseorang bertanya kepada saya “bagaimana kita bisa menguasai sebuah materi yang baru kita terima, sementara waktunya sangat terbatas?” saya menjawab tidak ada cara lain selain memang harus mempelajari dengan melakukan riset, walaupun waktu kita terbatas. Untuk itu, kita dapat terlebih dahulu bertanya tentang konteks/tujuan pembicaraan yang akan dibahas. Dari info minim itu, walau kita belum mendapatkan pokok detail pembicaraannya apa, tapi kita harus “nyolong start” dengan segera mencarinya secara general. Misalnya topik tentang perubahan iklim, nah, dari situ anda bisa segera mencari isu-isu yang terjadi saat ini secara general, ambil fokus utama yang menjadi problem, dan mengkurasi info yang ada dengan data terbaru serta mencari alternatif solusi dari isu yang ada, sehingga ketika waktu datang, info yang sudah kita miliki kemudian akan memperkaya wawasan, walau dengan limitasi waktu, tapi kita sudah tahu dari hasil observasi yang sudah kita lakukan jauh hari sebelumnya. Intinya inisiatif untuk bergerak duluan. Kita memang harus lebih cerdas dari audiens kita, itu harga mati yang akan menaikkan “bobot” kita sebagai juru bicara. Kalau kita anda malas, tidak ada inisiatif tentu  akan “mati kutu” menghadapi audiens yang lebih berpengetahuan dari anda.  

Tahun 1999 & Tahun 2009 Dalam konteks Komunikasi

Oleh Erwin Parengkuan

Apa yang telah terjadi dalam satu dekade ternyata bisa memberikan dampak sangat signifikan dalam kehidupan kita khususnya dalam dunia komunikasi. Tahun 1999, ketika handphone berubah fungsi menjadi smartphone dari penemuan muktahir Blackberry (BB), ternyata telah membuat kebiasaan baru manusia untuk lebih mobile dan sangat “attached.” Waktu itu, kita melihat banyak orang yang tidak bisa lepas dengan HP mereka, ketika “demam BB” menjangkiti para penggunanya, terutama mereka yang sudah bekerja, semua orang sangat sibuk BB-an. Ada yang terbentur kaca lobby kantor karena terlalu fokus dengan gawai mereka, bahkan ketika meeting mereka malah tidak terkoneksi dengan peserta meeting, dan muncul anekdot tentang BB “mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.” Teknologi kemudian semakin berkembang, seiring dengan munculnya media sosial/beragam pertemanan virtual, mulai dari friendster, FB, IG, Path, Linkedin, dll telah mengakibatkan perubahan sangat besar dalam interaksi manusia dulu dan sekarang, termasuk menurunnya “attention spending” dari setiap individu.

1 dekade kemudian, seorang figur pemimpin baru dengan gaya komunikasi yang terbuka, lentur, dan fasih yaitu Presiden ke 44 Amerika Serikat Barrack Obama hadir. Sangat kontras dengan gaya pemimpin zaman Orde Baru yang kaku dan otoriter. Telah membuat semua pemimpin (di dunia ini) termasuk para bos di dunia korporasi ingin meniru gaya komunikasi seperti Obama. Semua orang menginginkan gaya komunikasi yang lebih terbuka seperti-nya, apalagi kedekatan secara emosi antara masyarakat Indonesia dengan Obama yang pernah melewati masa kecil di Jakarta, suka t bakso, sate dan nasi goreng membuat kita kemudian secara sadar mengindolakannya.

Tentu tidak mudah untuk merubah kebiasaan setiap orang, perlu kesadaran tinggi dan perlu “effort” yang besar. Merubah mental, sudut pandang, intonasi suara, pilihan kata-kata yang lebih “sejuk” dan bahasa tubuh yang terbuka dll adalah rentetan pekerjaan rumah yang harus dilakukan. Apalagi dalam seni berbicara, seseorang dituntut untuk dapat mengendalikan dirinya, agar menyelaraskan gaya komunikasi yang inginkan banyak orang, bukan sebaliknya.

10 tahun adalah rentan waktu yang telah merubah gaya komunikasi dunia modern saat ini. Dulu tidak ada warganet/netizen, dulu tidak ada orang-orang yang nyinyir, tapi sekarang dengan tekanan yang begitu besar dari media sosial membuat kita melihat banyak perkataan yang tidak pantas bersliweran di banyak timeline. Seseorang yang lebih muda bisa berkomentar buruk kepada mereka yang lebih tua, walaupun tidak saling kenal. Semua orang seperti lantas sangat ringan berceloteh, mengeluarkan isi perutnya. Sedangkan, contoh figur terbaik komunikator yang ulung macam Obama, hanya menjadi sebuah figur yang ideal.

Dulu, ketika Charles Darwin di abad 18 mengemukan tentang teori evolusi manusia dan menyebutkan tentang survival of the fittest, bahwa hanya mereka yang adaptif yang dapat bertahan hidup. Teori ini menjadi nyata dan sangat relevan setelah Covid-19 memporak-porandakan tatanan ekonomi dunia saat ini. Kita yang bertahan hingga saat ini adalah yang adaptif. Sehingga untuk semua orang, dituntut untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman, lebih terbuka akan input, terus bertumbuh dan bertumbuh.

>Pada awal bulan Maret 2021, perusahaan raksasa Microsoft membeberkan sebuah fakta bahwa negara kita memiliki tingkat komunikasi yang sangat buruk di media sosial. Dulu kita dikenal sebagai bangsa besar yang ramah, tapi sekarang yang paling julid (nyiyir/kasar). Dalam rentan waktu 10 tahun-pun, jati diri kita sebagai bangsa yang baik perlahan mulai runtuh, diikuti dengan komentar yang julid di situs media sosial Microsoft membuat perusahaan ini harus menutup aksesnya untuk sementara atas derasnya komen yang negatif atas fakta yang mereka sampaikan. Mendengar berita ini, saya pribadi sangat malu dan miris. Kemana masyarakat Indonesia yang ramah itu?

Mari kita bentuk (lagi) gaya komunikasi yang santun, ramah dan meyenangkan. Termasuk bagi para pemimpin di perusahaan agar dapat meninggalkan gaya otoriter mereka dan menciptakan garis yang horizontal bukan vertikal, agar setara dan selaras dengan siapapun. Mari kita juga tinggalkan ego dalam berkomunikasi, tinggalkan juga masalah kita ketika berbicara kepada siapapun. Agar dengan mudah kita bisa fokus kepada mereka yang kita ajak bicara. Ketika semua orang mempunyai kesadaran yang baik, tentu ini akan mengembalikan reputasi kita sebagai bangsa yang santun dan ramah. Mudah kok dijalankan.   

Acts of Service

Tidak ada satu manusia di dunia ini yang tidak suka dilayani. Ketika kita melayani lawan bicara kita, mereka merasa diistimewakan oleh kita dan kemudian relasi menjadi lebih erat. Dalam sebuah buku berjudul “Five Love Languages” karya Garry Chapman bahwa kita manusia mempunyai 5 bahasa cinta yang berbeda-beda. Salah satunya adalah Bahasa Pelayanan (acts of service). Buku ini sangat populer dan akan membantu setiap pembaca mengetahui bentuk cinta seperti apa yang diharapkan oleh lawan bicara kita/pasangan/anak/lawan bicara. Adapun 4 bahasa cinta lainnya adalah sentuhan, penghargaan, waktu dan hadiah. Buku ini diterbitkan di awal tahun 1992 dan sampai sekarang masih releven.

Saya akan fokus kepada judul tulisan ini, karena kita semua mempunyai tujuan yang sama untuk membangun sebuah hubungan yang harmonis, terlepas dari penjelasan 5 bahasa cinta diatas, tetap setiap orang ingin dilayani. Apalagi budaya Jawa yang sangat kental di Indonesia, dimana para leader yang masih bercokol di jajaran tinggi sebuah organisasi masih mengusung peninggalan budaya ini. Saya mengambil contoh dalam pekerjaan saya ketika salah seorang rekan yang merupakan pemimpin perusahaan berencana untuk menggunakan jasa kami untuk melatih para karyawannya, saya tidak serta merta memberikan tanggung jawab ini kepada team marketing di kantor. Karena saya yakin, rekan saya ini mempunyai ekspektasi keterlibatan saya dalam rencana kerjasama ini.

Kerap kali kita dihadapkan dengan situasi seperti ini, kapan kita harus melayani lawan bicara dll? Apakah lebih baik kita delegasikan kepada sekertaris, team atau orang lain? Ketika sebuah hubungan sudah terjalin baik seperti antara saya dengan rekan tersebut, sejatikan saya-lah orang yang paling tepat untuk melayani mereka. Ketika akhirnya pelatihan sudah berakhir-pun karena saya yang diminta untuk mengajarkan teamnya, saya langsung melakukan kontak dan menyampaikan penilaian saya atas proses belajar mengajar di kelas online tersebut. Rekan saya sangat puas dan team saya segera akan mengirimkan report hasil pelatihan tersebut. Jadi ada proporsi kapan bagian saya melayani, dibagian yang mana? Kapan team yang melakukan pelayanan sesuai dengan fungsi masing-masing.

Kita tentu tahu, banyak leader yang sukses mereka memiliki values yang sangat banyak. Values adalah nilai teguh/prinsip yang dipegang oleh seseorang dalam menjalankan kehidupan dan pekerjaannya. Dari dulu saya sangat disiplin, ini adalah contoh sebuah values, bila ada janji atau ucapan kepada orang lain saya selalu akan berusaha semaksimal mungkin untuk menepatinya dan bila ada hal yang tidak sesuai, sayapun orang pertama yang akan mengabarkan mereka. Begitupun mungkin hal ini dilakukan oleh anda. Semakin disiplin kita, semakin baik performa diri seseorang. Saya jadi ingat perkataan seseorang kepada saya ketika saya baru memulai karir “apapun yang kamu lakukan pasti akan sukses asalkan kamu turun tangan langsung.” Perkataan ini sangat menancap dalam ingatan saya dan menjadi salah satu values yang saya pegang erat-erat hingga saat ini. Tantangan dan godaan/distraksi yang saat ini kita hadapi memang begitu banyak, sehingga terkadang kita luput melakukan pelayanan. Seperti banyak orang berjanji ingin mengabarkan kita, tapi mereka tidak melakukannya. Atau yang paling mudah ketika kita berkomunikasi via tulisan ketika mereka membacanya, mereka tidak merespon kita. Ini adalah contoh kecil dari sebuah respon/pelayanan yang krusial menurut saya. Bila kita fokus kepada hal utama yang harus dijalankan, kita pasti akan bekerja lebih efektif. Sejatinya kita-lah yang paling bertanggung jawab untuk membuat diri kita lebih baik dari waktu ke waktu. Bila kita gagal, tidak ada (juga) satu orangpun yang akan lebih baik memotivasi diri kita selain kita sendiri. Kita memang dituntut untuk semakin hari semakin matang dan bijaksana. Kapan saatnya kita melakukan pelayanan yang tepat kepada orang lain, juga pelayanan kepada diri sendiri. Kapan kita harus lebih fokus kepada orang lain dan mengukur mana perhatian kecil,sedang dan besar yang penting harus dilakukan. Analisa ini menjadi mutlak menurut pendapat saya, agar hubungan harmonis dengan siapapun terbangun dengan perhatian dan pelayanan yang kita berikan menjadi berharga buat semua pihak, dan tidak berat sebelah. Disamping itu kita juga harus pandai dalam melihat hal-hal mikro maupun makro, agar kita tidak terjebak melayani hal yang kecil tapi ternyata itu tidak memberikan dampak yang signifikan dalam membangun relasi kita dengan siapapun.  

The impactful engagement through business

Oleh Fernando Edo


Bad PR. Iya, belakangan kata-kata ini menjadi alasan salah satu merk lokal menjadi viral. Namun kalau diperhatikan, bukan kali ini saja sebuah perusahaan mengambil Langkah yang kurang tepat dalam berkomunikasi entah itu untuk internal atau pesan tersebut untuk dikonsumsi orang banyak. Padahal mungkin maksud dan tujuan perusahaan adalah untuk menjaga kredibilitas suatu perusahaan, tapi sayangnya itu menjadi boomerang.


Di era sosial media ini, istilah pembeli adalah raja harus direvisi karena menurut saya selain kita layani pembeli dengan maksimal, kita juga harus bisa membina hubungan dengan mereka. Jadi saya ganti dengan Pembeli adalah Teman Baik. Layani mereka dengan tulus, jujurlah jika ada kendala dalam sebuah proses bisnis kita. Persaingan di semua industri bisnis semakin ketat, semua menawarkan harga yang terjangkau dan produk atau jasa yang terpercaya. Namun,menurut penulis ada satu kata kunci dalam berbisnis, Bagaimana anda sebagai penjual berkomunikasi dengan pembeli.

Beberapa waktu lalu, saya membeli earphone di toko online dan cukup terkejut Ketika membuka kemasan ada secarik kertas dengan bunyi seperti ini :


Dear Kakak, terimakasih sudah berbelanja di toko aku semoga barang yang kakak beli awet ya. Oh Ya, adik sangat berharap kakak dapat memberikan bintang 5 jika barang yang kakak pesan sesuai dengan pesanan ya. Salam hangat, adik tercinta.


Wow, sebuah cara dalam mencari pelanggan setia bisa dilakukan dalam hal yang sederhana.

Saya juga teringat, beberapa tahun lalu makan di hotel bintang 5 dengan konsep “fine dining”.

Pada saat meminta waiters untuk menaburkan lada di potongan daging saya, ternyata yang ditaburkan adalah garam dan itu memang cukup merusak rasa dari makanan saya. Saya kembali memanggil waitersnya dan ia meminta maaf lalu diganti dengan yang baru. Selang beberapa menit, datang Manager Restaurant Kembali meminta maaf dan memberikan potongan harga atas kesalahan tim nya sambil menanyakan apakah ada yang kurang dari segi pelayanan dan makanan?. Jika memang ada sebuah kesalahan, akui dan minta maaf lah dengan tulus. Pembeli pasti akan dengan senang hati memaafkan dan melupakan kesalahan penjual apalagi disertai dengan potongan harga.


Berkaca dari pengalaman itu, sebuah masukan atau saran adalah hal sangat berharga dari sebuah bisnis. Karena sebagai penjual, harus memiliki cara pandang seorang pembeli dan bukan mempertahankan sudut pandang lalu seakan sebuah saran menjadi citra buruk bagi suatu bisnis. Sebuah bisnis dapat berdiri dan bertahan karena pelanggan yang selalu datang dan sudah memiliki ikatan emosi dengan sebuah layanan yang prima. Apakah anda sudah memiliki cara berkomunikasi yang baik dalam berbisnis ? apakah anda sudah melayani pelanggan anda layaknya “one of your best friend” ?

Experiential Learning for a Life

Oleh Erwin Parengkuan

Setiap lini kehidupan ini adalah sebuah pembelajaran dan memudahkan seseorang untuk terus belajar, tidak heran sebutan pengalaman adalah guru terbaik selalu menjadi pengingat kita. Dalam buku yang sedang saya baca, mengikuti anjuran untuk terus bertumbuh, buku dengan judul sama dengan artikel ini, dimana saya baru membaca 1 bab yang panjang dengan berbagai macam teori pembelajaran akan saya sampaikan dan tentunya menambahkan dengan apa yang saya pahami dan pelajari dari kehidupan ini, dengan deretan tugas dan pekerjaan yang saya lakoni hingga saat ini.

Beberapa teori yang ada dalam buku yang ditulis dengan sempurna oleh David A. Kolb, seorang pendidik, cendikiawan dan peneliti yang sudah memiliki 50 tahun pengalaman, menjabarkan dalam buku ini bahwa 3 point penting tentang sebuah experiential learning mulai dari: pendidikan, pekerjaan dan pengembangan pribadi. Ketika kita memiliki 3 fundamental diatas, kita akan mudah menjalankan proses pembelajaran ini. Banyak sekali teori dengan pendekatan yang berbeda yang dipaparkan dalam buku ini oleh para peneliti/pendidik dari abad yang berbeda-beda. John Dewey mengatakan pendidikan adalah fondasi terpenting: experiental education, William James mengatakan tentang the state of mind, pure experience, yang terbebas dari pemahaman konseptual yang dimiliki seseorang, Mary Parker menambahkan unsur kreativitas yang harus dimiliki seseorang the law of relation, Kurt Lewin mengatakan unsur konsep perhitungan topography, berdasarkan kebutuhan, tujuan, memori, lingkungan, hambatan dan jalur hidup yang akan dilewati seseorang, termasuk Carl Jung dengan teori modern dan radikal mengatakan bahwa proses yang dilewati seseorang sesuai impian dan ketidaksadaran melihat simbol-simbol yang ada, individu yang terintegasi untuk sebuah imaginasi yang aktif, self talk, untuk proses yang diinginkan, dan beberapa peneliti yang lahir di abad 18, termasuk salah satu peneliti terakhir di tahun 1960-an Carl Roger mengatakan tentang self worth.

Begitu banyak pemaparan dan info yang dapat kita ambil untuk tujuan memanfaatkan kehidupan ini menjadi menguntungkan kita. Tenggoklah ke belakang, saat ini dan lihatlah jauh kedepan yang sudah kita lewati bersama, dapatkan, maknai, dan mengambil keuntungan dari semua peristiwa dalam hidup ini. Dalam salah satu pemaparan diatas, disebutkan bagaimana kita mengaktivasi rasa dan logika. Saya sangat sependapat akan hal itu. Membuat semua teori yang sangat logis dan masuk akal (di era teori tersebut) pada akhirnya kita harus pandai-pandai menyimpulkan dengan konteks relevansi, alias mana yang akan kita ambil adalah hanya yang paling relevan untuk dijalankan di saat ini. Semudah membagi teori/penelitian tersebut menjadi 2 bagian besar tentang RASA dan LOGIKA. Atau dalam salah satu buku yang saya tulis tentang komunikasi bahwa kata-kata yang kita utarakan harus mengandung 2 unsur feeling dan thinking secara berkesinambungan.

Saya sendiri sekarang lebih mendisiplikan diri untuk menambah durasi waktu dalam membaca buku yang sudah saya beli dan menunggu giliran untuk dibaca. Dan seperti yang disampaikan oleh David A. Kolb, 3 komponen yang diatas sudah saya sampaikan akan memberikan banyak manfaat dari pembelajaran yang kita lewati dalam kehidupan ini. Memaknai hidup dengan terus belajar akan otomatis membuat kita terus semangat menyambut pagi. Deretan kegiatan yang sudah direncanakan juga merupakan jalur tujuan hidup yang sudah kita rancang, kalau belum ada, saatnya untuk dibuat. Kapan waktu berekspresimen dengan tugas dan pekerjaan kita, tentang personal development kita, menghargai diri, bobot apa yang akan kita terus tingkatkan untuk terus mengasah otak dan diintegrasikan dengan lingkungan terdekat, keluarga, pasangan, anak, rekan kerja, dan sosial adalah sebuah kesadaran utama yang harus terus kita bangun.

Kapan waktu terbaik menggunakan feeling, thinking dan menggabungkan keduanya dalam kehidupan yang kita jalani, menghargai waktu yang kita miliki dan membuatnya menjadi bermakna. Buat saya itu adalah sebuah keharusan. Seperti sebuah kutipan dalam buku tersebut yang mengatakan: No pleasure, no learning. No learning, no pleasure.

Coming to our senses

Oleh Erwin Parengkuan

Ini judulnya ringan tapi bermakna dalam, kenapa karena tulisan saya ini akan bercerita tentang kita, tentang saya dan anda dan kita, tentu sebagai manusia dengan kelima indera yang kita miliki menjadi bagian penting dalam membangun sebuah hubungan. Indera Pengelihatan, Indera Pendengaran, Indera Perasa, Indera Penciuman dan Indera Pengecap. Kelima Indera ini saya sudah urutkan berdasarkan bagaimana kita berinterkasi dalam berkomunikasi. Dari kelima Indera ini, hanya 1 yang tidak kita gunakan, yaitu Indera Pengecap.

Mari kita mulai membahasnya, bicara soal Indera Pengelihatan, atau dalam komunikasi adalah Visual, cara manusia melihat tentu banyak berpengaruh dari mata, apa yang kita lihat dengan Indera yang memberikan dampak terbesar ini? bila kita melihat seseorang, tentu penampilan terlebih dahulu yang kita lihat sekaligus mengamati gerak-gerik tubuhnya. Bila penampilan kita umum, tentu kita tidak menonjol. Sekedar berpenampilan yang pantas dan sesuai buat saya itu sudah lebih dari cukup. Sedangkan bahasa tubuh seseorang yang kita amati akan membuat seseorang terlihat terbuka atau tertutup. Gerakan tubuh yang “sedikit” akan memberikan kesan yang berbeda dengan tubuh yang “ringan” dan rileks. Indera ini sekali lagi memberikan dampak terbesar dalam berkomunikasi. Seperti kita ketahui, kalau mengambil sebuah perumpamaan, film adalah sebuah contoh yang tepat. kenikmatan visual untuk mata kita sangat dimanjakan. Semakin jelas warna yang ditampilkan, akan menimbulkan kesan yang berbeda. Film dengan gambar yang tidak menarik, akan membuat mata kitapun lelah. Akhirnya menjadi tidak menarik mata.

Begitupun dengan Indera Pendengaran/auditory, dimana intonasi, tekanan suara yang kita dengar atau pancarkan akan memperkuat/memperlemah kesan seseorang. Telinga kita akan menangkap dengan jerih sebuah pesan. Apakah terdengar sesuai dengan yang terlihat? dan Indra Pengelihatan dan Indera Pendengaran akan senantiasa terus bersingungan. Lagi-lagi,  layaknya sebuah film dengan scoring music yang tepat menghasilkan efek sempurna dalam sebuah gambar. Indera Pendengaran berperan tidak terlalu besar dibandingkan dengan Indera Pengelihatan, dan kedua Indera ini menjadi penentu dalam dampaknya, akan tetapi paling mudah dilupakan. Misalnya tahun berlalu, kita tidak akan ingat visual dan auditory seseorang dibandingkan dengan Indera berikut ini.

Indera Perasa, kinesthetic begitu disebut, adalah Indera yang paling lama bertahan dalam ingatan kita. Artinya bila kita bicara? Apa yang kita rasakan? Takut? Senang? Gelisah? Tidak fokus? Terlalu bersemangat? Atau berlebihan? Indera Perasa ini yang akan tersimpan jauh lebih lama dalam diri setiap orang. Inipun termasuk strategi dalam membangun hubungan. Bagaimana kesan kita terhadap orang yang kita jumpai? Membangun hubungan memerlukan kemahiran dan keluwesan. Seperti memperlakukan siapapun yang kita jumpai seperti kawan kita, tentu kita akan tampil apa adanya tanpa dibuat-buat atau terpaksa, tentu kita akan sangat mudah membangunnya dan dengan sendirinya membuat sebuah relasi berjalan dengan natural. Kitapun sangat senang bertemu orang yang apa adanya “seperti warna asli-nya.” Buat saya, indera ini justru memegang peranan penting dalam interaksi/komunikasi umat di dunia ini apapun situasi maupun kondisi yang ada dalam hidup seseorang. Indera ini adalah “jitu” yang menjadi penentu kita dalam memilih perkawanan, dalam memilih hubungan. Bila kita sudah tidak “klop” lagi, tentu akan sangat sulit situasinya, dan seseorang akan memilih menghindar dari seseorang yang dianggap tidak membuat nyaman dirinya.

Sedangkan, Indera penciuman, menurut saya memegang peranan paling kecil dalam dampak berkomunikasi karena ini hanya melengkapi ketiga Indera yang baru kita dibahas. Bila kita wangi, atau tidak mengeluarkan bau menyengat dalam tubuh atau parfume yang kita kenakan, semua hubungan akan tepat dalam kondisinya.