Your 168 Hours

Oleh Erwin Parengkuan

Kalau dihitung, ini adalah jam dalam satu minggu dimiliki oleh semua orang. Mulai dari anak kecil dengan waktu bermain yang lebih banyak, beranjak dewasa dan meniti karir. Dimana waktu bermain kita lantas menjadi sedikit karena kita mengejar kehidupan yang baik. Semua itu kita jalani hingga detik ini, baik secara sadar maupun tidak sadar. Saya terkadang kagum dengan mereka yang dapat membagi waktunya dengan sangat amat efisien. Sebut saja orang-orang dengan jabatan yang tinggi. Seperti Presiden, seperti para pemimpin itu dengan jadwal yang padat detik demi detik, terkadang meeting dilakukan sambil berjalan kesuatu tempat, untuk pindah ke lokasi lain. Tiba-tiba ada disatu tempat, kemudian berpindah lagi, bertemu masyarakat, dan masih punya waktu dengan dirinya, keluarga dan  -bersenang-senang dengan teman inti mereka.

Sebagian dari anda mungkin tahu juga kalau saya memiliki saluran berbagi tidak hanya di website ini, tapi juga secara audio di podcast yang sudah saya jalankan rutin selama 2 tahun ini. Saya terkadang berniat untuk menghentikan podcast saya, tapi dari kegiatan yang saya lakukan, ada saja cerita baru yang muncul kemudian saya bagikan serentak secara audio, tulisan termasuk berbagi ke kelas online maupun offline.

Kita semua memiliki waktu yang sama, tapi terkadang tidak pandai membaginya. Orang yang sibuk tentu pandai akan hal ini, tapi orang yang banyak waktu luang, sepertinya tidak pandai dalam membagi waktu. Kegiatan rutin yang dilakukan setiap orang hendaknya membantu mereka untuk punya management waktu yang baik. Karena kegiatan yang kita lakukan akan terus berulang sampai kapanpun, tapi rupanya tidak semua orang bisa efesien soal waktu, termasuk ketika seseorang berbicara terkadang banyak sekali pemilihan kata yang berulang, atau salah dalam menempatkan/memilih kata, sehingga pesan kemudian menjadi bias.

Buku yang belum lama saya baca, bercerita tentang waktu. Bagaimana kita bisa lebih disiplin dalam menjalankan dan memaknainya. Saya berharap tulisan ini dapat membantu anda untuk lebih pandai dalam membagi waktu yang kita miliki.

Ada 5 hal penting yang disampaikan dalam buku yang ditulis oleh Harry M. Jesen Kraemer, Jr dalam bukunya “From Values to Action” berikut pembagian waktu yang ia sampaikan:

Career : 50 jam (30%)

Family : 28 jam (17%)

Spirituality : 11 jam (7%)

Health/sleep : 55 jam (32%)

Fun/recreation/reading : 14 jam (8%)

Social responsibility/making difference : 10 jam (6%)

Ketika membaca buku ini saya lantas merefleksikan diri terhadap waktu yang saya jalani, apakah semua uraian tersebut sudah saya jalani. Soal berapa jumlah waktu/prosentase-nya tentu berpulang kepada setiap orang akan fungsi dan tujuan hidupnya. Saya sangat sependapat dengan penulis yang mengatakan bahwa hidup ini harus life balance, bukan work life balance, karena 6 faktor ini bila kita jalankan akan membuat kita berdaya, berdampak kepada diri dan orang lain. Tidak hanya sibuk mengejar karir.

Setiap kita memang mempunyai prioritas yang berbeda-beda, tapi sejatinya setiap orang harus memaksimalkan dirinya seperti yang kita tahu tentang teori dari Abraham Maslow “The Hierarchy of Needs.” Semakin tinggi tingkat kedewasaan seseorang dalam menjalankan karirnya harus dapat hidup seimbang. Tidak ada karir tentu tidak ada pendapatan, terlalu sibuk bekerja tentu akan tidak ada interaksi sosial dengan lingkungan luar, tidak membaca buku, tentu tidak ada wawasan baru, tidak tidur dan olah raga tentu fungsi tubuh akan melemah sejalan dengan bertambahnya usia dan sulit berkonsentrasi. Tidak punya waktu dengan keluarga tentu tidak ada support system yang akan memotivasi kita dan membuat kita bahagia.

Kalau pengalaman saya, selalu memaksakan diri untuk terus bertumbuh dengan 6 komponen diatas. Saya merasakan bahwa semakin hari semakin baik dalam membagi waktu saya. Ini adalah tantangan yang harus kita jalankan, walau kebayakan orang memang punya tendensi malas dan penunda. Itu tidak ada dalam kamus saya. Seperti contoh, bila satu hari tidak ada kegiatan dalam bekerja. Saya akan tetap membuat jadwal harian, crowd my calender! Pagi hari buat saya jam 5 adalah waktu terbaik saya untuk menjalankan rutinitas berolah raga dan baca buku. Mungkin 1 hal yang perlu saya tambahkan dari 6 komponen diatas adalah makan sehat. Cheating day hanya weekend. Menjadi lengkap bila semua hal ini kita jalankan dengan kesadaran diri tinggi untuk terus bertumbuh dan kemudian memberikan dampak positif bagi orang lain/lingkungan. Seperti yang dilakukan oleh orang-orang sukses mereka kemudian peduli kepada orang lain, menjadi dermawan dan merasakan hidup ini menjadi berguna dan juga bermanfaat. Life balance adalah kata yang tepat untuk kita saat ini dan di waktu mendatang.

3 Kualitas Utama Sebagai Seorang Komunikator Ulung

Oleh Erwin Parengkuan

Dalam sebuah sesi online dengan beberapa leader belum lama ini, salah seorang leader mengeluh kehilangan kepribadian yang ia telah miliki dulu karena setelah disadari ternyata “tekanan” di kantor telah membuatnya menjadi pribadi yang berbeda. Ia lantas merenung dan mengungkapkan ini di depan forum online. Sedih juga saya mendengarkan kejujuran ceritanya. Saya membandingkan dengan diri saya, yang kok ringan-ringan aja menjalankan hidup, dan tetap menjadi apa adanya. Bukan karena saya bebas masalah, karena tidak ada satupun manusia di dunia ini yang bebas masalah. Selama kita masih membuka mata, ya tentu masalah akan datang silih berganti. Saya bisa menjadi apa adanya karena selalu mengingat ucapan mendiang ayah saya “selama kamu tidak buat salah, tidak menyakiti lawan bicara, jangan pernah kau takut anak!”

Ketika seseorang terlalu didera dengan masalah hidup, masalah pekerjaan, kita kemudian menjadi seperti robot, alias template seperti slides presentasi yang dapat diambil bebas dimana-mana. Sayang sekali ketika seseorang tidak memiliki kesadaran akan pertumbuhan diri. Tidak mempunyai kendali atas dirinya dan mengaturnya (self management). Jujur, makin kesini saya melihat banyak orang makin bermasalah dengan dirinya, kalau anda berdalih karena Covid, bukanya 7 milyar lebih manusia di dunia ini juga mengalami hal yang sama dengan anda? cemas, kuatir akan masa depan, bagaimana kalau tertular? bagaimana dengan pekerjaan saya, keluarga saya? itu hanya salah satu contoh yang saya sampaikan untuk membuka tulisan ini. Jawaban terbaik adalah kita semua harus memiliki kesadaran penuh seperti tema ulang tahun Talkinc kali ini “AM I Fully Awake?” Apakah anda juga sadar? Akan tujuan hidup? Karena semua orang bila memiliki kesadaran akan menentukan/mendapatkan jawaban: untuk apa saya hidup di dunia ini? Apa tujuannya? Apa yang saya inginkan? Ketika semua pertanyaan dapat anda jawab, anda akan menjadi Otentik apa adanya. Itulah kualitas pertama dari judul tulisan saya. Bila kita tidak otentik, tentu sulit dalam menjalani kehidupan ini. Kalau terlalu jaim, kita akan terjebak dalam sesuatu yang sangat umum dalam berkomunikasi, tidak ada yang membedakan kita dengan kebanyakan orang. Dan lawan bicara menginginkan anda menjadi pribadi yang otentik, bukan palsu, apalagi ada agenda terselubung!

Kualitas kedua yang mutlak setelah seseorang kembali menemukan dirinya dengan proses kontemplasi, selftalk, meditasi, relaksasi. Me time dll. Kita dapat melihat diri kita lebih komperhensif lagi, yaitu membangun hubungan dengan kata Relevant! Relevan artinya adalah memenuhi ekspektasi lawan bicara,sesuai dengan harapan mereka, tidak keluar jalur, memberikan jawaban yang dibutuhkan dan mengikuti kaidah etika yang berlaku (common sense and common ground). Seorang kawan bercerita kepada saya, tante tertuanya dalam sebuah acara kedukaan di kuburan, diminta untuk memberikan pidato kepada semua keluarga dan relasi yang datang. Sayangnya sang tante justru bukan bicara tentang kepergian kehilangan yang dialami keluarga, eh malah bicara tentang betapa bersyukurnya ia memiliki support system di bisnis yang ia jalankan, kebetulan beberapa support system yang ia maksud berada juga pada acara penguburan itu. Bukti ketika kita bisa bicara di depan publik, tidak serta merta setiap orang dapat menjadi releven. Kuncinya adalah analisa berpikir, kemampuan untuk membaca situasi yang ada ( common sense) dan menyampaikan narasi yang sesuai dengan ekspektasi lawan bicara. Makin banyak saya amati dalam setiap kelas, keadaan seperti ini terus bermunculan. Seorang leader yang membuka acara webinar kemarin-pun, bicara panjang lebar, sangat normatif, tidak ada insight dan sangat tidak relevan, kasian! Orang ini seperti asik sendiri didunianya tanpa menyadari apa yang terjadi dilingkungan dimana ia berada.

Kualitas terakhir adalah Connection. Nah ini memerlukan banyak latihan, setelah kita fokus kepada 2 kualitas penting diatas, sekarang saatnya belajar melatih diri dengan melihat dari “kacamata” lawan bicara, bukan dari sudut pandang kita. Karena hal itu pasti akan menjadi subjektif dan tidak dapat connected dengan lawan bicara. Latihan menurunkan ego ketika bicara adalah kuncinya, melihat dari sudut pandang mereka, akan apa yang mereka butuhkan. Tidak mendominasi pembicaraan, mendengarkan dengan kedua telinga anda, itu yang disebut seni membangun hubungan dengan active listening. If we could always stay connected with our audience you definitely will win their hearts. And again, in communication one thing to be remember, it’s not about you, it’s about them!

tes

[nimble-portfolio post_type=”post” taxonomy=”category”  filters=”65″ ]

WhatsApp Online Chat Support