7 Levels of Awareness

Sadar atau tidak sadar seseorang dalam berinteraksi/berkomunikasi memerlukan fondasi ini. Kemampuan mengendalikan diri yang sangat erat hubungannya dengan kata “Awareness.” Seberapa sadar kita ketika berbicara? Mengamati perubahan tekanan suara? Bahasa tubuh? Menangkap pesan dari lawan bicara? Yang akan menciptakan kemampuan membangun hubungan jangka panjang yang harmonis.  

Ketika mencari bahan untuk tulisan ini, saya menemukan sebuah 1 bentuk piramida dengan 7 level kesadaran manusia, yang saya kembangkan dan terjemahkan dengan pengalaman saya:

  1. Flight of Fight

Maksudnya adalah ketika kita menghadapi sebuah situasi, tingkat kesadaran seperti apa yang akan anda lakukan? Flight artinya ketika kita tidak tertarik, atau tidak berdaya, kecenderungannya akan meninggalkan situasi tersebut. Bila kebalikannya anda akan “Fight” artinya melawan dengan kondisi yang ada. Misalnya seseorang yang kita ajak bicara kemampuan dan keahliannya diatas kita, maka kita akan mencoba melawan diri dengan berusaha tetap memperhatikannya. Tapi ketika kita menyerah, itu artinya kita “Flight” tidak memperdulikan apa yang ia ucapkan dan tentu tingkat kesadaran ini menjadi paling rendah urutannya. Sama seperti insting hewan, melawan atau malah meninggalkan/kabur dari kondisi yang dialami.

  • Follow The Crowd

Kita pindah ke level berikutnya, yaitu kesadaran yang dilakukan sesuai dengan norma yang berlaku. Mengikuti aturan yang ada. Misalnya seseorang yang kita jumpai terlihat dominan, tapi kita tidak nyaman, dan kita tetap santun dan tidak melakukan tindakan yang di luar aturan main. Atau kata yang tepat yaitu “normatif” kita ikuti saja sikapnya, alias pasrah tanpa tindakan. Ini menurut saya sebuah kesadaran yang masih standart, belum ada tindakan yang menonjol yang kita lakukan. Hidup berjalan seperti apa adanya yang kita jalani. Tanpa perlawanan tanpa tindakan berarti.

  • Desire without Action

Level selanjutnya, yaitu kita sudah terpikir untuk melakukan sebuah tindakan,akan tetapi gagasan yang muncul dalam pikiran kita, hanya sebuah aspirasi. Kok rasanya susah dilakukan. It’s good to have, but I have no intention to take action. Nah level ini, mungkin cocok dengan istilah “omdo” sudah sadar tapi hanya sebatas omongan (ngomong doang). Menurut saya kebanyakan orangpun demikian, hanya berkomentar, berpikir tapi hanya sampai di situ saja. Akhirnya orang-orang seperti ini hanya menjadi pengamat/penonton dan tidak menghasilkan upaya apapun dalam kehidupannya termasuk interaksinya dengan orang lain. Misalnya anda sadar harus memulai pembicaraan terlebih dahulu dengan orang lain, tapi ketika situasi itu kita alami, kita malah diam, walau dalam pikiran sudah sadar untuk menyapa terlebih dahulu, tapi tidak ada kalimat yang keluar dari mulut anda, seperti “hallo pak/bu selamat pagi? Bagaimana kabarnya hari ini? Kemarin saya lihat di IG baru pindah rumah ya, bagaimana rumah barunya?”

  • Express Uniqueness

Nah, kesadaran ini akan membuat anda menjadi lebih menonjol dengan pemikiran yang sejalan dengan tindakan anda. Setiap manusia memang unik dan berbeda, penduduk dunia ini yang jumlahnya 7 Milyar lebih tidak ada satupun manusia yang mempunyai DNA yang sama. Ketika kita terkoneksi dengan lingkungan dan situasi, kita berani bicara dan menunjukkan siapa diri kita. Kondisi ini tentu sifatnya sangat individual. Terlepas dari ucapan dan tindakan kita apa tepat atau tidak, karena ini berpulang kepada setiap individu. Bisa saja kalau anda termasuk orang yang spontan tentu anda akan bicara bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan.

  • Give Self a Command and Keep It

Kesadaran selanjutnya adalah sebuah tindakan/ucapan yang terus menerus kita lakukan sehingga ini akan menciptakan sebuah ritme/pola dari semua yang kita jalani. Akhirnya kita menjadi terbiasa dengan ritme tersebut. Menjadi disiplin dengan apa yang kita jalani maupun miliki. Tapi apakah tindakan/ucapan yang kita lakukan itu benar atau tidak? Belum tentu jawabannya, karena kita harus meneruskan kesadaran kita sampai ke level teratas.

  • Real Learning

Kita mengenal istilah pengalaman adalah guru yang berharga dalam hidup ini. Dari pengalaman yang kita lalui, kesadaran apa yang timbul? Adakah “lesson learned” yang didapatkan? Bila kita reaktif dalam menjalani kehidupan ini? Apa hasil yang anda dapatkan?misalnya anda selalu berbicara dengan cepat (Level 4 dan 5) apakah impact yang didapatkan dengan berbicara cepat? Atau bertindak cepat? Adalah kesadaran itu timbul? Dan apa yang akan anda lakukan lebih baik? Banyak juga kita yang jarang melakukan “self evaluation.” Buat saya mengevaluasi diri harus dilakukan setiap saat, karena ini akan membuat kita menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Kesadaran level 6 ini menjadi rangkuman yang baik sesuai urutannya. Bila anda sudah sampai dititik ini, tentu referensi dan wawasan akan menuntun anda kearah yang jauh lebih baik/bertumbuh.

  • Respond vs React

Ini adalah level teratas di mana kita sudah bisa mengendalikan diri kita, kita sudah belajar dari pengalaman di level 6, kita sudah sadar mana dampak terbaik dari yang kita jalani, kita sudah melakukan analisa dan mengetahui lebih baik kita respond atau react? Misalnya ketika teman kita curhat dan bilang “aduh kenapa ya gue selalu gagal dalam percintaan?” Nah, kata apa yang akan anda sampaikan? Respon dengan kata yang bijak akan lebih baik daripada react. Karena react adalah hasil dari spontanitas yang muncul dan bisa menimbulkan kondisi yang tidak sesuai dengan harapan. Bila kita respon, kita akan mengambil napas sejenak, berpikir dan bertindak/berucap dari kesadaran penuh yang positif dan membangun hubungan yang harmonis dengan siapapun atau apapun yang kita jalani.

Saatnya semua orang memiliki tingkat kesadaran yang lebih baik, lebih sadar bukan reaktif seperti menyaksikan debat kandidat Presiden Amerika antara Trump dan Bidan kemarin, dimana keduanya sangat reaktif bukan responsif. Oh ya, dari pengalaman saya termasuk melihat banyak hal di pekerjaan, umur seseorang tentu tidak ada hubungannya dengan tingkat kematangan emosi seseorang. Selain menyangkut soal kultur, budaya, karakter, dan kepribadian, ini semua harus diselaraskan dengan tujuan hidup kita, kepada siapa kita bicara dan untuk apa kita ada di dunia ini?  Sadar penuh dengan level 7 adalah mandatori, terlepas berapapun usia kita.    

3 Kualitas Utama Sebagai Seorang Komunikator Ulung

Oleh Erwin Parengkuan

Dalam sebuah sesi online dengan beberapa leader belum lama ini, salah seorang leader mengeluh kehilangan kepribadian yang ia telah miliki dulu karena setelah disadari ternyata “tekanan” di kantor telah membuatnya menjadi pribadi yang berbeda. Ia lantas merenung dan mengungkapkan ini di depan forum online. Sedih juga saya mendengarkan kejujuran ceritanya. Saya membandingkan dengan diri saya, yang kok ringan-ringan aja menjalankan hidup, dan tetap menjadi apa adanya. Bukan karena saya bebas masalah, karena tidak ada satupun manusia di dunia ini yang bebas masalah. Selama kita masih membuka mata, ya tentu masalah akan datang silih berganti. Saya bisa menjadi apa adanya karena selalu mengingat ucapan mendiang ayah saya “selama kamu tidak buat salah, tidak menyakiti lawan bicara, jangan pernah kau takut anak!”

Ketika seseorang terlalu didera dengan masalah hidup, masalah pekerjaan, kita kemudian menjadi seperti robot, alias template seperti slides presentasi yang dapat diambil bebas dimana-mana. Sayang sekali ketika seseorang tidak memiliki kesadaran akan pertumbuhan diri. Tidak mempunyai kendali atas dirinya dan mengaturnya (self management). Jujur, makin kesini saya melihat banyak orang makin bermasalah dengan dirinya, kalau anda berdalih karena Covid, bukanya 7 milyar lebih manusia di dunia ini juga mengalami hal yang sama dengan anda? cemas, kuatir akan masa depan, bagaimana kalau tertular? bagaimana dengan pekerjaan saya, keluarga saya? itu hanya salah satu contoh yang saya sampaikan untuk membuka tulisan ini. Jawaban terbaik adalah kita semua harus memiliki kesadaran penuh seperti tema ulang tahun Talkinc kali ini “AM I Fully Awake?” Apakah anda juga sadar? Akan tujuan hidup? Karena semua orang bila memiliki kesadaran akan menentukan/mendapatkan jawaban: untuk apa saya hidup di dunia ini? Apa tujuannya? Apa yang saya inginkan? Ketika semua pertanyaan dapat anda jawab, anda akan menjadi Otentik apa adanya. Itulah kualitas pertama dari judul tulisan saya. Bila kita tidak otentik, tentu sulit dalam menjalani kehidupan ini. Kalau terlalu jaim, kita akan terjebak dalam sesuatu yang sangat umum dalam berkomunikasi, tidak ada yang membedakan kita dengan kebanyakan orang. Dan lawan bicara menginginkan anda menjadi pribadi yang otentik, bukan palsu, apalagi ada agenda terselubung!

Kualitas kedua yang mutlak setelah seseorang kembali menemukan dirinya dengan proses kontemplasi, selftalk, meditasi, relaksasi. Me time dll. Kita dapat melihat diri kita lebih komperhensif lagi, yaitu membangun hubungan dengan kata Relevant! Relevan artinya adalah memenuhi ekspektasi lawan bicara,sesuai dengan harapan mereka, tidak keluar jalur, memberikan jawaban yang dibutuhkan dan mengikuti kaidah etika yang berlaku (common sense and common ground). Seorang kawan bercerita kepada saya, tante tertuanya dalam sebuah acara kedukaan di kuburan, diminta untuk memberikan pidato kepada semua keluarga dan relasi yang datang. Sayangnya sang tante justru bukan bicara tentang kepergian kehilangan yang dialami keluarga, eh malah bicara tentang betapa bersyukurnya ia memiliki support system di bisnis yang ia jalankan, kebetulan beberapa support system yang ia maksud berada juga pada acara penguburan itu. Bukti ketika kita bisa bicara di depan publik, tidak serta merta setiap orang dapat menjadi releven. Kuncinya adalah analisa berpikir, kemampuan untuk membaca situasi yang ada ( common sense) dan menyampaikan narasi yang sesuai dengan ekspektasi lawan bicara. Makin banyak saya amati dalam setiap kelas, keadaan seperti ini terus bermunculan. Seorang leader yang membuka acara webinar kemarin-pun, bicara panjang lebar, sangat normatif, tidak ada insight dan sangat tidak relevan, kasian! Orang ini seperti asik sendiri didunianya tanpa menyadari apa yang terjadi dilingkungan dimana ia berada.

Kualitas terakhir adalah Connection. Nah ini memerlukan banyak latihan, setelah kita fokus kepada 2 kualitas penting diatas, sekarang saatnya belajar melatih diri dengan melihat dari “kacamata” lawan bicara, bukan dari sudut pandang kita. Karena hal itu pasti akan menjadi subjektif dan tidak dapat connected dengan lawan bicara. Latihan menurunkan ego ketika bicara adalah kuncinya, melihat dari sudut pandang mereka, akan apa yang mereka butuhkan. Tidak mendominasi pembicaraan, mendengarkan dengan kedua telinga anda, itu yang disebut seni membangun hubungan dengan active listening. If we could always stay connected with our audience you definitely will win their hearts. And again, in communication one thing to be remember, it’s not about you, it’s about them!

PD dan Asertif, berani Buat salah!

Oleh : Erwin Parengkuan (TALKINC Founder & Facilitator)

Anda mungkin bingung dengan judul yang saya buat ini? Coba cerna lagi, kaitan antara rasa percaya diri, menjadi pribadi yang asertif dan berani buat salah. Tadi pagi ketika saya jogging, saya sudah berencana untuk menulis artikel ini termasuk untuk podcast saya. Tadinya saya ingin membahas hanya soal Asertif, arti Asertif adalah berani bicara tanpa menyinggung orang lain. Lantas selama jogging saya kembali merekonstruksi dan mencerna makna dari kata itu, lalu hasil dari buah pikiran saya pagi tadi, adalah seseorang tidak dapat menjadi Asertif kalau mereka tidak PD. Tidak Percaya Diri karena mereka takut akan apa yang akan diutarakan, takut bisa juga salah dalam menafsir atau bisa jadi karena anda termasuk pribadi yang tertutup atau introvert. Orang yang Percaya Diri, adalah orang yang tahu kekuatan dirinya dan kelemahannya. Asal Confidence dari Self Esteem ( seseorang menghargai dirinya dan terus melakukan evaluasi diri ).

Dalam Zoom meeting belum lama ini dengan klien kami, ketika ada sesi tanya jawab, hanya ada 1 orang yang bertanya, sisanya dari 7 orang tersebut hanya diam dan jadi penonton. Setelah meeting selesai, beberapa orang bertanya japri ke team saya beberapa pertanyaan yang harusnya dilontarkan pada saat meeting tadi, tapi mulut mereka tertutup rapat. Contoh tadi hanya sebagian kecil dari banyak interaksi yang terjadi dalam pekerjaan dan kehidupan kita sehari-hari. Bayangkan kalau kebiasaan ini terus dibawa sampai mereka tua, pasif dan seseorang akan kesulitan untuk dealing with their own conditions and circumstanses. So sad! Boro-boro mau Asertif, PD aja enggak, bagaimana mau bertahan hidup di dunia yang makin kejam ini?

Perlu disadari, tidak ada satupun manusia di dunia ini yang lahir langsung mahir. Kita dituntut untuk berani, berani coba, berani gagal, berani malu, berani mengakui diri, dan berani bangkit lagi. Bila hal ini dilakukan terus menerus, tentu akan ada hasil progresif dari kebiasaan yang kita bentuk. Coba sekali, dua kali, beberapa kali hingga kita menemukan formula yang jitu dalam semua hal yang ada dalam kehidupan kita, easier said than done? Yes, but you need to get out immediately from your Comfort Zone, never wait, keep on going until you become it! Dari situ anda baru dapat berbicara dengan Asertif, evaluasi hasilnya seperti apa. Di kelas saya sering mengatakan kepada peserta, luangkanlah waktu 2 menit setelah kita bicara untuk mengevaluasi apa yang bagus dan apa yang belum bagus. Ini akan menjadi a great learning process buat anda.

Oh ya, satu lagi, bila anda berasal dari Jawa, atau terdidik dari budaya Jawa, tentu akan memberikan pengaruh besar kepada cara anda berkomunikasi. Menurut saya, salah satu nilai luhur falsafah Jawa yaitu Nrimo ( menerima ), jujur tidak relevan dalam konteks komunikasi saat ini. Dunia Modern, Dunia Digital menuntut anda untuk berani mengutarakan pendapat, tidak Pasif tapi Asertif. Ribuan Pribadi yang saya jumpai dalam pekerjaan saya, ketika mereka Nrimo, mereka akhirnya gagal dalam membangun hubungan dengan lingkungan dimana mereka berada, sangat disayangkan! Mari mulai jangan tunggu sampai anda tua nanti! It’s useless.

Ego dan Dampak dalam Komunikasi

Oleh : Erwin Parengkuan (TALKINC Founder & Facilitator)

Bicara mengenai ego merupakan sebuah kondisi yang sulit, kenapa? Hal ini dikarenakan semua orang memilikinya dan sangat jarang ditemui orang-orang yang mampu mengendalikannya. Padahal tujuannya adalah supaya kita bisa Legowo, atau dalam bahasa Jawa artinya rela, lapang dada, tidak ada perasaan menggajal hati atau ikhlas dalam bahasa Indonesia. Kenapa sulit ya? Karena setiap dari kita mempunyai jumlah penghargaan atas diri dengan kadar dari masing-masing orang yang berbeda-beda dan dampak yang akan terjadipun berbeda-beda dalam mereka menjalankan kehidupannya.

Terbayang, bila seseorang bicara dan kerap berbicara melulu tentang dirinya? rasanya langsung ingin tutup kuping. Belum lagi ia tidak mau mengalah atau dikalahkan?

Sebut saja Dinda yang merupakan seorang profesional dengan gelar bertumpuk, bekerja di divisi Human Capital dimana tugas utama menjadi “penyambung lidah” perusahaan. Akan tetapi Dinda selalu merasa dirinya paling benar (paling pintar) sehingga pikiran maupun tindakan selalu bentrok dengan pihak lain. Menyedihkan melihat sikap Egosentrik seperti itu, bukankah “di atas langit ada langit lagi?”

Berbeda dengan Anton seorang petinggi di perusahaan Multi National dalam instagramnya, foto yang ada di feed-nya melulu tentang wajah dan dirinya. Saya menulis ini, bukan berarti saya sudah sukses berdamai dengan Ego, no! Ego tidak hanya tentang kita juga, tapi semua atribut yang menempel di diri kita, termasuk apa juga dengan yang kita yakini. Ego adalah fanatisme tentang diri sendiri, seperti mitologi Yunani kuno tentang Narcissus, seseorang yang jatuh cinta pada bayangannya dan terus menatap wajahnya di sebuah danau. Akhirnya karena terus berkaca suatu hari, tenggelamlah ia dan tewas karena terlalu lama mengagumi wajahnya. Ada lagi cerita yang saya alami, pada suatu hari, saya menyuruh anak kami untuk mengatarkan makanan ke seorang kerabat. Ketika mereka sampai disana, kerabat kami tidak pernah berhenti ngoceh, akhirnya anak kamipun pamit pulang sangking sudah tidak tahan mendengar celotehannya. Menganggu? Tentu sangat!

Hanya sedikit orang yang saya temui yang dapat selalu berdamai dengan dirinya dan keadaan. Bila kita dapat seperti mereka, alangkah menyenangkannya hidup ini. Tentu kita semua tahu, ketika ajal menjemput, kita tidak akan hidup kembali, artinya hidup kita hanya 1x ini saja. Ya, hanya satu kali, tidak dua kali apalagi sampai seperti nyawa kucing. Apa langkah yang mutlak yang harus kita lakukan? agar hidup yang hanya satu kali ini dapat membuat kita terus tenang dan damai? Jawabannya adalah hiduplah dengan hati yang tentram tanpa terganggu oleh apapun. Tanpa mengkedepankan Ego. Kalau beberapa cerita di atas dipindahkan dalam situasi seseorang harus berbicara di depan umum? Bayangkan, orang itu akan bicara tentang dirinya, hidupnya, kesukaannya, ketidaksukaannya, dimanapun, kapanpun dan berapa lamapun. Mati aku!

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa manusia adalah mahluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri, kita selalu membutuhkan orang lain, membutuhkan hasil kerja dari orang lain, termasuk semua alat yang kita gunakan dalam hidup ini, mulai dari smartphone, alat transpotasi, sampai genteng rumah kita. Ketika kesadaraan itu kita miliki, kepekaan itupun akan terus ada dan kita akan menjaganya baik-baik. Manfaatnya kita manusia akan hidup terus berdampingan dengan damai.  Semakin kita dapat mengatur Ego kita, kitapun kita dapat mengedalikan diri untuk dapat mengukur kapan harus bicara dan kapan harus diam. Agar ada kesempatan yang sama juga untuk mendengarkan cerita dari orang yang kita jumpai, ada yang bicara ada yang mendengar dan begitu sebaliknya. Bila kita dapat melakukannya terus menerus artinya kita sudah menikmati hidup yang hanya satu kali ini saja. Mari kita nikmati hidup dan rayakan!

Kemampuan Menulis dan Dampak Dalam Berkomunikasi.

Oleh : Erwin Parengkuan (TALKINC Founder & Facilitator)

Bisa dibayangkan betapa sulitnya menulis dibandingkan dengan berbicara. Atau mungkin sebaliknya, buat para penulis betapa menatangnya berbicara. Memang setiap orang mempunyai tantangannya masing-masing dalam berkomunikasi. Fokus saya hari ini lebih kepada kemampuan menulis yang akan meningkatkan kemampuan berbicara kita secara terstruktur. Yes, semua memang perlu dilatih dengan instensif. Seperti para penulis andal yang mempunyai kemampuan sangat baik dalam menyusun kata yang tepat, mereka hanya perlu melatih keberanian dalam berbicara, melatihnya dengan semangat seolah yang diajak bicara adalah kawan mereka sendiri, itu sudah akan meningkatkan kemampuan berbicara yang lebih ekspresif buat mereka.

Mari kita kembali fokus kepada mereka yang sudah memiliki keberanian bicara tapi belum mengasah kemampuan menyusun kata yang tepat bahkan berdampak. Berbagai macam bentuk latihan cara menulis, bercerita ( story telling), dan menuangkannya di platform digital yang akan membantu mereka dalam mengelaborasi kata menjadi kalimat. Saya ingin mengajak semua dari anda melalui tulisan ini untuk mulai memperhatikan urutan dalam alur yang akan disampaikan. Subjek, Predikat, Objek dll adalah bagian penting yang dapat dipelajari dan didapatkan dengan mudah di mana saja. Tetapi penekanan saya kali ini adalah kita harus memaksimalkan setiap momen untuk menulis, khususnya ketika semua orang punya sosial media, dimana itu adalah ruang mereka untuk menyampaikan ide, dan pendapat, itu yang harus diasah dan dimanfaatkan. Seperti bertanya ke dalam diri ketika mau menulis:

Siapa sasaran target pembaca saya

Keuntungan apa yang akan saya berikan dalam tulisan saya

Apa tujuan saya menulis, menyampaikan sebuah informasi, melakukan klarifikasi, menginspirasi sampai memotivasi

3 pertanyaan diatas akan membuat anda punya tujuan yang jelas dalam menulis. Berdasarkan pengalaman saya, kemampuan menulis akan meningkatkan keahlian dalam membuat alur yang menarik. Itu adalah manfaat besar yang saya rasakan saat ini, dengan menulis kemampuan komunikasi verbal saya semakin meningkat. Perlu disadari bahwa setiap orang mempunyai gaya penulisannya masing-masing. Sayapun dari pengalaman menulis buku, artikel, caption, narasi dalam podcast, bahkan saat ini menulis di website untuk anda adalah lahan untuk eksplorasi diri dalam menyusun kata yang lebih baik. Kalau saya menoleh ke belakang, dulu kemampuan saya sangat buruk dalam menulis, susunan kata yang berantakan, kebingungan menentukan tujuan saya menulis, intinya semua orang akan melewati proses yang sama. Kadang saya terlalu fokus ke kosa kata, tanda baca bahkan membuat “jembatan keledai” dan saya selalu kembali ke paragraf awal,  sehingga saya membuang waktu sangat lama untuk menulis sebuah artikel singkat. Tapi karena terus dilatih, kemudian saya sadar bahwa ketika saya menulis saya tidak boleh mengevaluasi tulisan yang sudah saya buat, melainkan membiarkannya untuk terus mengalir, membiarkan isi kepala saya terintegrasi dengan jari saya untuk terus menari di tuts keyboard. Agar tidak adanya distraksi dalam pikiran. Baru setelah selesai menulis, saya akan memeriksa kembali tulisan saya dari awal dan mengkoreksi tanda baca, makna, susunan kata dll. Akhirnya sekarang, setelah melihat banyak sekali perbaikan dari waktu ke waktu saya semakin mudah menuangkan pikiran saya dalam kalimat yang lebih baik dan tepat.

Nah, supaya anda menjadi lebih berani dalam menulis, syarat utamanya adalah berani gagal, berani menilai sendiri makna dari tulisan yang anda buat, liat lagi susunan kata, tanda baca, urutan, kosa kata, apakah sudah sesuai? benar atau tidak seperti yang anda harapkan? Dari kemampuan menulis yang dilatih terus menerus, saya akhirnya menemukan gaya tulisan saya. Ayo jangan berpikir terlalu lama, mulailah menulis di platform yang dimiliki. Semakin sering dilatih, ini akan membuat anda lebih runut dalam berbicara secara verbal. Di pikiran anda nanti akan ada sebuah pola, sebuah urutan yang tinggal diucapkan dari kerangka berpikir yang telah diasah melalui menulis. Seperti yang sering saya sampaikan bahwa kemampuan komunikasi yang baik akan membuat hidup dan karir kita lebih baik, jadi mari mulai sekarang rajin mengasahnya dalam menulis.

SOLE ( Self Organized Learning Environment)

Oleh : Erwin Parengkuan

Pandemi Covid-19 telah merubah dunia kita, termasuk metode pembelajaran di dunia ini. Belum tuntas kita “membaca” tentang Disruptive yang terjadi di semua lini usaha dan kehidupan, dimana kita semua dituntut untuk dapat cepat melakukan perubahan yang sangat cepat, meninggalkan cara-cara lama yang tidak sejalan lagi dengan teknologi dan tuntutan perubahan itu sendiri, tiba-tiba wabah ini menambah banyak masalah baru yang kemudian memaksa kita untuk lebih cepat lagi melakukan perubahan. Satu belum tuntas dijalankan, dan pendemi ini datang begitu tiba-tiba, tanpa pemberitahuandan kita kemudian banyak diantara kita tidak siap.

Dari banyak pengalaman yang saya lihat, terhadap para pelaku bisnis dan masyarakat pada umumnya yang memang masih berpola pada cara-cara konvensional, membuat banyak “cara” lama yang tidak dapat bertahan dan mati. Karena Sang Pencipta telah memberikan kita anugerah yang dasyat yaitu akal dan pikiran maka mari kita segera membuatnya, beradaptasi, tahan banting dan tetap mencari inovasi baru yang dapat membuat kita bertahan dalam pekerjaan dan kehidupan.

Dari pengamatan saya, bahwa hal yang tidak akan hilang selama dunia ini ada yaitu interaksi antar manusia dengan manusia, apapun bentuk platform yang digunakan, tetap kita harus berinteraksi. Bahwa akan ada perubahan gaya komunikasi menjadi lebih efisien lagi, tentu! Dari tahun lalu kami di Talkinc sudah mempersiapkan sistem pembelajaran online yang memang trend ini akan makin meningkat, tentu dengan adanya pandemi ini, memaksakan semua orang untuk menggunakan sistem pembelajaran baru maupun cara komunikasi yang baru sesuai dengan tuntutan yang ada.

Yang perlu disiasati adalah kita sebagai individu untuk tetap fokus dalam melakukan interaksi komunikasi online, karena dari pengalaman kami menjalankan metode ini di kelas maupun untuk para perusahaan, adalah peserta harus dapat fokus dan meminimalisir gangguan/distraksi yang datang dari rumah. Beruntunglah kita yang telah mempunyai akses internet, bayangkan puluhan jutaan orang mungkin ratusan juta orang di dunia yang tidak punya akses internet ini, bagaimana mereka bisa stay at home dan belajar dari platform digital?

Untuk anda yang punya fasilitas ini, dapat memaksimalkan pembelajaran dengan menentukan sendiri metode terbaik untuk terus belajar, tentukan waktu yang tepat, tentukan alat-alat yang dapat membantu anda, dekorasi ulang tempat untuk belajar di rumah, termasuk memilih bangku yang nyaman, hindari distraksi, kenali diri, buang hal-hal yang tidak efektif dan tidak penting. Dan terakhir amati pola pembelajaran anda, agar dapat menemukan cara terbaik untuk terus belajar dan memaksimalkan waktu untuk meningkatkan potensi diri.

Online Chat WhatsApp