TALKINC Logo
BerandaTentang Kami
LPK TALKINCKATATALKINC
TALKINC

Jl. Kendal No.18 A-B, Menteng,
Jakarta Pusat, 10310

+62 21 391 8899
info@talk-incorporation.com

Corporate Programs

  • In-House Training
  • Executive Coaching
  • Team Building
  • Video Learning

Public Class Programs

  • Calendar
  • Fundamentals
  • Professional
  • Youth Program
  • One Day Training

© 2026 PT. Trikata Esa Karsa. All rights reserved.

Kembali
November 22, 2024TalkInc

Bahaya Public Speaking tanpa Bobot dan Originalitas

Oleh Erwin Parengkuan-Founder, CEO, Strategic Communication Coach TALKINC

Public Speaking skills sangat dibutuhkan di era hyper-connected ini. Bayangkan jika seseorang memiliki keahlian yang luar biasa namun tidak memiliki kemampuan untuk mengartikulasikan dan menyampaikan apa yang ada di kepalanya kepada publik dengan menarik. Bagaimana ia dapat mengungkapkan keahlian tersebut? Selama dua puluh tahun saya menekuni profesi sebagai Professional Communication Coach, saya melihat banyak contoh dari para murid maupun peserta training memiliki kendala dalam menjadi Public Speaker yang menarik dan berbobot. Rendahnya rasa percaya diri dan mental block menjadi faktor utama terbesar mereka dengan kata-kata yang sering saya dengar, “Susah yaa bicara secara terstruktur,” “Susah ya menjadi menarik ketika tampil,” “Susah ya untuk jadi pede,” dan “susah-susah” lainnya. Ini merupakan contoh konkret ketika seseorang menolak perubahan karena tidak mau membayar harganya dengan usaha yang gigih dan konsisten. Ketika saya mengikuti pelatihan di London Business School, UK, 2 tahun yang lalu dengan materi Coaching and Leadership, saya sempat berbincang dengan seorang profesor yang membahas tentang Epigenetics (above genetic); bagaimana Nature dan Nurture akan memengaruhi hidup seseorang. Jujur, pada saat itu saya tidak paham apa yang dimaksud dan setelah selesai berbincang dengannya saya mencari tahu arti terminologi neuroscience yang mulai dibahas oleh para pakar neuroscientist dunia di awal tahun 2000-an. Intinya, bagaimana sebuah effort bila digabungkan dengan environment yang tepat akan membuat seseorang menjadi mahir di bidangnya. Hal ini menurut saya adalah jalan yang mutlak dipilih oleh setiap orang untuk menjadi sukses dan berdaya serta menonjol; termasuk kemampuan berbicara di depan publik. Sayangnya, tidak semua dari kita memiliki Mental Energy dan Mental Maps untuk mau mencintai sebuah proses yang merupakan satu-satunya kunci keberhasilan seseorang dalam mencapai tujuan hidup (purpose).

TALKINC mengajarkan kepada peserta untuk menjalankan 3 pilar utama dalam berkomunikasi; yang pertama adalah mengenal dirinya dengan baik yang terdapat dalam modul-modul Personal Development, dilanjutkan Communication Fundamentals yang akan saya jabarkan dalam artikel ini – setiap individu harus menguasai komponen-komponen komunikasi dengan tepat, dan diakhiri pilar Ketiga yaitu, Advancing in Public Speaking Skills. Ini adalah tahapan yang harus dilewati oleh para peserta, tidak mudah, tetapi bisa dijalankan dengan proses berkesinambungan. Ditambah lagi, kebanyakan orang memiliki kecenderungan maunya yang mudah saja. Pertanyaan berikutnya; apakah spirit shortcut juga sudah menjadi budaya masyarakat kita saat ini? Maunya serba cepat, maunya serba gampang. Aneh juga bila seseorang ingin menjadi Public Speaker yang andal tapi malas berlatih dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Di dalam kelas, saya juga mengamati kemampuan Public Speaking dari berbagai level peserta, baik itu entry level, professional, bahkan top level management. Dari data yang kami peroleh, hanya di bawah 20% yang menarik, sisanya mereka kesulitan untuk mengartikulasikan dan mengelola apa yang ada dalam pikiran dan perasaannya. Padahal, tugas seorang Public Speaker harus percaya diri, menjadi pribadi yang hangat, dapat diandalkan, serta menyenangkan. Kalau kita menelaah secara historis, bahwa bangsa kita dijajah sangat lama oleh V.O.C, ditambah

pengaruh kultur budaya Jawa yang dibawa oleh sebagian besar pemimpin negeri ini yang cenderung dilayani bukan melayani, maka hal ini sangat bertolak belakang dengan semboyan pahlawan Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara (tertera di situs Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan), yaitu “Tut Wuri Handayani” (di belakang memberikan dorongan), telah menciptakan budaya nrimo, pasif, atau bahkan pasif-agresif dalam masyarakat kita. “Peninggalan” ini menjamur menjadi budaya yang serba merasa tidak enak bicara secara langsung (asertif), juga kultur Asia zaman dahulu dimana anak-anak tidak memiliki hak bersuara – berbeda dengan anak-anak di dunia barat sana. Tanpa sadar telah memberikan kontribusi besar kenapa sebagian besar masayarakat kita tidak percaya diri dan tidak nyaman ketika berbicara di depan publik.

Seseorang yang insecure akan mengalami banyak kendala ketika berbicara di publik, entah terlalu baper atau terlalu overthinking. Rasa gugup yang berkepanjangan dan emosi dari dalam diri telah mengambil alih dan membuat semua yang disampaikan menjadi berantakan tanpa kendali. Ditambah lagi minat baca yang sangat rendah di Indonesia membuat banyak orang tidak memiliki ragam kekayaan narasi. Dari data Unesco, minat baca masyarakat kita hanya 1 dari 1000 orang, artinya persentase minat baca di Indonesia yang hanya 0.001% telah mengantarkan negara kita pada urutan terendah di dunia dalam literasi. Akibatnya, tidak heran masyarakat kita mudah dikendalikan dan mudah diprovokasi karena tidak memiliki Critical Thinking. Dalam sebuah sesi coaching belum lama ini dengan salah seorang pemimpin daerah, beliau memiliki harapan untuk dapat berbicara di publik dengan fasih tanpa terbata-bata. Saya tanya apakah rutin membaca buku? Jawabannya tentu tidak! Saya berikan beberapa referensi buku untuk di baca, pertemuan 2 minggu selanjutnya, saya tanya sudah ada yang dibaca bukunya? Jawabannya ringan, “Saya belum sempat membeli dan membacanya.” Jadi ini contoh kegagalan fatal seseorang dalam Public Speaking yang sering kita lihat di sosmed atau di berbagai macam acara. Kalau saja seseorang tidak memiliki kosa kata yang kaya dan beragam, bagaimana kita bisa melakukan manuver dan persuasi dalam berkomunikasi, apalagi menaklukkan audiens dengan apa yang ada di “kepala” mereka? Di sisi lain, banyaknya kanal di Youtube memperlihatkan secara langsung perbedaan kontras antara mereka yang mahir dan tidak mahir dalam bertutur. Kebiasaan membaca buku tidak menjadi gaya hidup, sedangkan semua orang bermimpi untuk dapat melakukan Public Speaking yang berbobot dan dapat menyihir Audiens.

Dampak lainnya akibat tidak membaca buku secara rutin, adalah masalah blank yang kerap muncul dan mengakibatkan seseorang mengeluarkan Filler Words. Misalnya, “E…e…, apa itu namanya,” atau “ehmm, dan ehmmm.” Mengapa seseorang sering melakukan hal ini saat berbicara? Ada 3 potensi yang muncul: pertama seseorang tidak percaya diri, kedua seseorang menemui kesulitan dalam menemukan kata yang tepat, entah terlalu banyak sinonim/terlalu sedikit, biasanya yang terjadi karena minimnya perbendaharaan kata, dan yang ketiga adalah masalah kebiasaan yang terus dilakukan. Jadi mari kita obati penyakit ini dengan mengendalikan diri, mengganti “Eeee..eee” dengan jeda/diam yang harus terus dilakukan dalam berkomunikasi sehari-hari. Membaca buku secara rutin akan meningkatkan Verbal Fluency seseorang. Ketika kita melihat seseorang berbicara dengan kata-kata yang terbatas, kitapun sudah dapat menyelami isi kepalanya. Padahal, kata-kata yang mengalir deras layaknya “bahan bakar” untuk seorang Public Speaker. Coba lihat figur-figur dunia seperti Barrack Obama, Martin Luther King Jr, Winston Churchill, Oprah Winfrey, bahkan Malala Yousafzai, mereka begitu fasih dan terbebas dari Filler

Words. Jadi, sesungguhnya banyak sekali contoh inspiratif yang dapat menjadi benchmark/acuan kita untuk tampil menarik di depan publik. Bicara soal bobotpun harus ada takaran yang pas. Pesan yang terlalu banyak tidak dapat diingat oleh Audiens. Seseorang yang tidak memiliki Self-awareness bahkan Mindfulness akan mengalami kesulitan untuk menjadi menarik dan membangun koneksi di depan publik. Membuat yang disampaikannya terlalu banyak, tidak terstruktur, keluar dari konteks, hanya satu arah dll. Yang perlu diingat, bahwa manusia memiliki keterbatasan daya tampung ingatan, bahkan sulit fokus dengan banyaknya distraksi yang datang dari dalam diri atau dari faktor eksternal. Umumnya, kita hanya dapat mengingat tidak lebih dari 3 pesan. Seseorang yang memiliki kesadaran (Self-awareness) akan dapat mengendalikan dirinya di depan publik (Self-control), seseorang yang sadar penuh (Mindfulness) akan hadir 100% (be present) dan dengan mudah dapat membangun relasi dengan audiens serta mengetahui berapa jumlah pesan yang akan disampaikan. Karena paham betul audiens kalau dijejali dengan banyak pesan, tidak ada yang mereka ingat. Gangguan digital (Digital Disruption) membuat daya tampung ingatan (Attention Span) seseorang menjadi semakin menurun. Seorang komunikator hendaknya dapat mengukur durasi waktu yang tepat agar bicara tidak kepanjangan, bertele-tele, dan mengulang-ulang kalimat karena akan sangat membosankan.

Dalam Public Speaking ada 3 area dengan bobot porsi yang berbeda: Opening paling sedikit, Content memiliki bobot terbesar, dan Closing tidak terlalu besar. Keahlian untuk menganalisa siapa audiens kita melalui Mapping dan Profiling menjadi esensial karena hal ini akan jadi penentu pertama yang harus dilakukan oleh setiap orang untuk melakukan riset yang mendalam. Setelah itu mutlak melakukan persiapan dengan menyusun kata-kata yang akan diucapkan dengan mengikuti kaidah 3T (terarah, terstruktur dan tuntas). Hindari penggunaan kata-kata yang ambigu seperti contoh-contoh berikut ini: “Beberapa hal berikut ini akan kami sampaikan,” Nah, ada berapa? dua? tiga? duapuluh? atau ”Itu yang tadi kami maksud!” itu yang mana? Penggunaan kata “Mungkin,” “Kayaknya,” “Kalau tidak salah,” “Kurang lebih…”, dsb akan membuat audiens kebingungan. Belum lagi penempatan kata; “Kita vs Kami,” “Aku vs Saya,” atau kata-kata “Kalian” untuk diberikan kepada audiens yang lebih tua. Seseorang dengan tujuan memberikan pengaruh dalam konteks Public Speaking akan tetapi menutupnya dengan kata-kata; “Mudah-mudahan yang tadi saya sampaikan bermanfaat!” Atau beberapa pemimpin pada saat melakukan presentasi menutupnya dengan pantun, yang akhirnya menjadi anti klimaks. Pantun umumnya digunakan untuk mencairkan suasana hendaknya dilakukan di awal, bukan di akhir karena akan mengaburkan tujuan komunikasi dan yang akan diingat oleh Audiens hanya kata; “Cakep dan cakep.” Beberapa contoh di atas menunjukkan betapa tidak kritisnya seseorang dalam melakukan Public Speaking. Kejelasan atau clarity menjadi penting untuk dapat memindahkan apa yang ada di “Kepala” kita ke “Kepala” Audiens.

Berbicara di depan publik tidak serta merta berbicara di puluhan atau ratusan orang. Public Speaking intinya adalah teknik berbicara kepada siapapun, baik itu di meeting, pesta kecil, ulang tahun anak, sampai seminar/simposium. Teknik komunikasi yang harus dipahami tentang Public Speaking adalah komunikasi yang dibangun tidak satu arah melainkan ada timbal balik/interaksi. Sejatinya komunikasi yang menjadi core berbicara di depan publik adalah sebuah

seni yang memerlukan kelihaian dari penggabungan “Buah” pikiran seseorang terhadap apa yang diyakininya, termasuk; Value, Goal, Connection, Visual Imagery, dan disampaikan dengan percaya diri dengan kata-kata yang menggugah emosi melalui sudut pandang (Perspective) dan dapat memberikan informasi baru, klarifikasi, inspirasi, serta motivasi. Dari dekade demi dekade Public Speaking akan menyesuaikan sesuai tuntutan zaman, walaupun tujuannya tetap sama yaitu untuk memberikan pengaruh. Public Speaking bila disampaikan dengan cara retorika seperti layaknya Presiden pertama kita, John F. Kennedy, Nelson Mandela, dll tentu sudah tidak akan releven di dunia modern saat ini.

Mari kita pisahkan 2 kata: Public dan Speaking, Public yang artinya kita harus tahu betul siapa Audiens yang ingin kita ajak berbicara (Mapping dan Profiling). Berbicara dengan cendikiawan, profesional, ibu-ibu PKK, bahkan masyarakat di pedalaman Papua tentu akan berbeda teknik dan bahasa yang akan kita pilih. Speaking seperti yang sudah disampaikan bahwa ini adalah seni yang menggabungan 3 unsur penting dalam memberikan dampak dengan mengintegrasikan: Pikiran, Perasaan, dan Tubuh, untuk menjadi satu dan selaras. Jadi ketika seseorang ingin melakukan Public Speaking yang sukses dan berdampak dituntut untuk 100% fokus dan mempersiapkan dirinya dengan mental yang tangguh (percaya diri). Belum lagi audiens yang berbeda beda, juga harus disesuaikan dengan cara berpenampilan yang tepat. Istilah lama yang sering didengar yakni; “Don’t judge a book by its cover!” Menurut saya, terutama di zaman yang serba digital ini sudah kurang relevan untuk menerapkan istilah tersebut. Ketika seorang pembicara tampil dengan penampilan yang kuno dengan audiens yang usianya jauh lebih muda tentu mereka akan melihatnya sebagai figur yang kolot dan kaku. Dunia modern yang penuh warna saat ini, semuanya begitu Eye Candy, sehingga istilah kuno ini telah bergesar menjadi; “We do judge a book by its cover.” Contoh menarik yang saya temui ketika melakukan sesi coaching dengan seorang pemimpin yang diundang menjadi pembicara di kampus kepada mahasiswa semester awal, ia bercerita tentang kegagalannya dalam membangun relasi karena menggunakan jas rapi dan dasi. Para mahasiswa langsung berpandangan berbeda dan tidak tertarik. Ini baru urusan penampilan yang harus kita sesuaikan. Contoh, kalau dulu sepatu Oxford (Fantovel) sangat tepat di era 80-90an, tetapi tidak untuk zaman sekarang dimana semua orang sudah menggunakan sneakers termasuk para pemimpin dunia. Belum lagi soal intonasi suara dan bahasa tubuh yang harus diterima oleh Audiens. Dunia yang berkembang sangat cepat dan semua info tersebar disemua digital platform telah merubah dunia kita sekarang terhadap kemampuan seseorang dalam membawakan dirinya di publik. Kenapa demikian? Karena warganet saat ini sudah melihat ribuan contoh menarik seseorang melakukan Public Speaking, sehingga mereka memiliki perbandingan/ekpektasi dengan apa yang mereka lihat dari seseorang ketika tampil berbicara. Hal ini sangat berbeda ketika kita hidup sebelum era digitalisasi masuk (2004), dimana figur-figur yang berbicara menarik tidak terlihat oleh publik pada umumnya. Contoh berikutnya dari pengaruh besar dunia digital adalah soal bergesernya durasi dalam First Impression. Dulu, kesan pertama terjadi dalam 20 menit, setelah Generasi Digital lahir (Millenial) menjadi 8 detik. Sekarang begitu Generasi Z memenuhi dunia ini, kesan pertama terjadi begitu singkat hanya dalam hitungan 3 detik pertama. Bisa dibayangan bila seseorang ingin tampil bicara tanpa mempertimbangkan semua aspek di atas?

Saya menemukan 2 kata kunci penting dalam makna komunikasi/berbicara di publik yaitu: Positiveness dan Understanding. Bila kita ingin memengaruhi lawan bicara, tentu kita tidak dapat menggunakan kata yang negatif, karena esensi dalam komunikasi adalah membangun jembatan relasi. Kata-kata negatif justru akan “membakar” jembatan. Dan bila seseorang berbicara tidak memiliki kata understanding, maka Public Speaking yang dilakukan tidak dapat menjangkau hati Audiens. Terjebak dengan bahasa yang sulit dimengerti (ambigu), serta menggunakan banyak bahasa teknis yang asing dikuping pendengar. Akhirnya yang terjadi pesan tidak tersampaikan, dan kita hanya membuang-buang waktu percuma. Jadi, pilihlah bahasa yang mudah dimengerti. Jangan berasumsi bahwa apa yang akan kita sampaikan serta merta dimengerti oleh Audiens. Memang untuk menjadi menarik dalam seni berbicara di era disrupsi digital ini menuntut seseorang untuk dapat beradaptasi dengan cepat, sama seperti bahasa yang kita pilih harus mengikuti perkembangan zaman. Dulu zaman predigital, kita tidak mengenal istilah; Baper, Mager, Healing, Ambis, Ghosting dll.

Selanjutnya, kata atau kalimat yang kita ucapkan terbagi menjadi 3 aspek penting: Head, Heart, dan Hand. Head adalah data akurat dan terkini yang harus dihadirkan. Heart adalah pendekatan dari hati yang menyentuh emosi lawan bicara, dan Hand adalah tindakan apa yang kita harapkan dari Audiens. Mulai dari melakukan Opening dengan Smiling Voice dan bersemangat akan membuat Audiens senang dan melupakan sejenak masalah hidup mereka. Energi Negatif dikalahkan oleh Energi Positif Anda, dan ini akan menular ke mereka. Kemudian, pikirkan umpan (Catch) apa yang menarik perhatian Audiens, hal ini akan membuat semua mata tertuju kepada Anda. Kita bisa memilih untuk melemparkan Data terlebih dahulu, atau pendekatan Emosi? Dan di dalam konten kita bisa menggabungan 3 pendekatan tersebut secara berkesinambungan. Contoh: 8 juta ton sampah plastik terurai ke laut (Head), bayangkan betapa perilaku umat manusia terhadap biota laut (Heart) yang mati karena di dalam perut mereka terdapat banyak micro dan nano plastic. Lalu tindakan seperti apa yang akan kita lakukan dalam menggunakan penggunaan plastic sekali pakai? (Hand), dan seterusnya. Kombinasi Head, Heart, dan Hand akan selalu ada di dalam struktur komunikasi. Dan menjadi kebebasan setiap individu dalam memainkannya. Coba bayangkan apa yang akan terjadi kalau materi yang kita sampaikan hanya berisi Head saja dan terlalu banyak? Atau Heart saja tanpa menyampaikan data yang akurat? Hal lainnya yang sering terjadi yang membuat seorang Public Speaker gagal mencuri perhatian Audiens karena tidak adanya sesuatu yang baru yang mereka sampaikan seperti; data terbaru, studi kasus, observasi, story-telling, untuk memberikan perspektif baru dengan bobot dan benefit, padahal hal ini menjadi bagian yang ditunggu-tunggu oleh Audiens.

Saatnya sekarang kita bicara soal Blueprint atau Struktur dalam Public Speaking/presentasi yang terbagi atas 3 bagian utama: Opening dengan bobot 10%, Content memiliki bobot 70%, dan Closing memiliki bobot 20%. Alur ini akan menjadi panduan Anda dalam mempersiapkan sebuah Blueprint (layaknya ingin membangun rumah). Opening yang terlalu lama akan membuat audiens jenuh. Hendaknya alur presentasi dilakukan dengan persiapan yang matang dan harus diinternalisasikan oleh seorang pemimpin ketika ingin melakukan Public Speaking, bukan bergantung dengan skrip dari sekretaris/jubir dan kemudian tinggal dibacakan saja, alhasil seseorang tampil tidak meyakinkan. Membaca naskah pidato, menyebutkan salam pembuka kepada audiens dengan membaca text tanpa melakukan Eye Contact, adalah kegagalan

utama dalam menciptakan First Impression. Tidak ada konektifitas yang terbangun (Connection). Alur/flow dalam Blueprint juga harus dibuat tidak seperti garis flat (mendatar), tapi harus dibuat terus bereskalasi, seperti analogi menaiki sebuah tangga. Buatlah alur Anda dengan penuh kejutan karena itu akan terus menarik perhatian audiens. Layaknya ketika menonton sebuah film, bila kita sudah dapat menembak alur cerita, adegan demi adegan dalam film tersebut, kitapun tidak akan bergairah untuk menontonnya kembali. Zaman sekarang, audiens menuntut sebuah alur yang penuh dinamika. Jadi, kita sendiri yang harus bertanggung jawab untuk berlatih, mengorkestrasikannya, dan menghidupkannya di depan audiens. Jangan lupa untuk memikirkan 3 aspek yang ada dalam Blueprint presentasi: What? Apa yang ingin disampaikan, Why? Kenapa topik ini diangkat? Dan How? Bagaimana cara menyampaikan dengan kemampuan Story Telling yang baik. Penguasaan dalam membuat Blueprint harus juga disesuaikan dengan Train of Thought/kereta berpikir audiens yang berjalan paralel dengan pikiran Anda, layaknya 2 orang yang berjalan kaki bersama, terkoneksi, dan saling keterhubungan (interconnected).

Masyarakat kita adalah masyarakat yang gemar bercerita, terbukti di setiap warung kopi, di rumah atau di hotel mewah sekalipun, semua orang akan tertarik mendengarkan sebuah cerita. Untuk itu, jadilah seorang Story Teller yang menarik dalam menyampaikan presentasi Anda. Jangan lupa untuk menyebarkan beberapa contoh relevan yang mendukung alur pemaparan Anda. Public Speaking tidak sepenuhnya soal bobot belaka, melainkan bagaimana Anda menyampaikannya dengan Kata-kata, Suara dan Bahasa Tubuh yang terbuka. Intonasi menurut saya adalah “jiwa” dari seseorang dengan kekhasan karakter suaranya. Intonasi yang beragam harus kita mainkan seperti layaknya alunan musik, diawal bicara tentu nada suara yang antusias akan mencuri perhatian, lalu nada suara ini akan berubah-ubah sesuai dengan gairah/emosi dari pesan yang ada didalamnya. Kapan kita melakukan jeda, kapan kita melakukan penekanan, dan mengunakan kecepatan bicara (pace) yang beragam, dengan artikulasi yang jelas. Walaupun suara hanya memiliki dampak 20%, Kata-kata 10%, Penampilan 10%, serta Bahasa Tubuh dengan bobot paling besar adalah 60% dalam Anatomi Komunikasi (Communication Fundamentals). Bahasa Tubuh seperti yang kita ketahui memegang peranan sangat besar, karena hal ini terlihat secara kasat mata. Bahasa Tubuh adalah bahasa yang jujur. Kita dapat dengan mudah mengindentifikasikan tingkat kepercayaan diri seseorang melalui bahasa tubuhnya. Apakah ketika tampil, seseorang terlihat gugup, percaya diri atau angkuh. Tentu kepercayaan diri menjadi landasan seseorang untuk dapat menaklukkan audiens yang sudah kita bahas pada awal tulisan ini. Akan tetapi sebelum kita tampil, kita dulu yang harus dapat menyakini diri kita (Belief System) atas bobot/kebermanfaatan (Benefit) yang akan kita berikan kepada audiens. Kalau seseorang hanya berbicara melulu dari sudut pandang dirinya tanpa memerhatikan sudut pandang audiens tentu akan terjebak menggurui. Sehingga kata Understanding menjadi penting: Understanding your Self-image, Understanding the Audience Perspective, dan Understanding your Personality Traits, adalah bentuk persiapan yang mutlak diketahui.

Jadi kalau ditanya berapa besar bobot prosentasi vs cara menyampaikan? Tentu porsi cara menyampaikan menjadi lebih besar. Dapat dikatakan bobot hanya 30% dan cara menyampaikan menjadi 70%, dengan Gestur yang tepat mulai dari: Kepala, Tangan, Postur dan cara Berdiri (Posture dan Stance). Kaki atau tangan yang bergerak terlalu banyak ketika berdiri, akan menunjukkan seseorang yang nervous. Belum lagi tidak adanya Eye Contact yang merata kepada

semua Audiens yang hadir, tidak ada senyum yang tulus dari hati, gerakan tangan yang kaku, tangan disaku akan membuat kita terlihat arogan, apalagi tangan menunjuk. Tangan dibelakang membuat kita terlihat tidak percaya diri. Hand Gesture yang disesuaikan dengan Flow akan memberikan penekanan, seperti kalau kita bilang bagus, dengan diikuti bentuk kepalan tangan dan jempol tegak akan mempertajam sebuah pesan. “Speak with your hand!” Ketika kita memahami bahwa tujuan utama Public Speaking yakni untuk mempengaruhi, kita perlu menyadari bahwa manusia menggunakan tiga indra utama ketika melihat seorang pembicara di atas panggung. Ketiga Indera itu adalah: Indera Pengelihatan (Bahasa tubuh dan Penampilan), Indera Pendengaran (Total Vocal), dan Indera Perasa (Kinesthetic). Indera Perasa akan menjadi penentu Audiens kepada Anda (First Impression) dan tersimpan lebih lama dalam ingatan (Top of Mind) daripada kedua indera lainnya.

Seperti kita tahu bahwa komunikasi menjadi senjata ampuh manusia dalam berinteraksi, yang tidak dapat digantikan oleh mesin kecerdasan (AI). Walaupun, AI secara perlahan telah menggeser tenaga manusia dan hal ini akan terus terjadi. Sehingga manusia modern dituntut untuk lebih cerdas dan kreatif. Banyak pekerjaan yang nantinya akan digantikan oleh mesin, dan beberapa profesi barupun akan terus bermunculan. Apapun yang akan terus terjadi di dunia kita mendatang, tetap saja memerlukan kemampuan komunikasi/Public Speaking yang andal. Di sisi lain, ekspektasi audiens terhadap seseorang untuk tampil bicarapun semakin tinggi. Dan menuntut siapapun dari kita untuk terus mengasah kemampuan komunikasi sehari-hari untuk menjadi Komunikator ulung dengan memiliki: Agile Mindset, Growth Mindset, dan Winning Mindset. Seorang Public Speaker dalam membangun keterkaitan dengan audiens dituntut juga untuk memiliki kemampuan Listening Skills, sebagai komponen yang tidak dapat dipisahkan dari komunikasi. Bayangkan apa yang akan terjadi bila kita hanya mampu berbicara tanpa memiliki kemampuan mendengar? Ketika audiens berisik, kita tidak dapat mengendalikannya. Ketika kita melakukan interaksi, tetapi gagal dalam memberikan respon yang tepat karena tidak memiliki kemampuan dalam menjadi pendengar yang baik.

Kita sudah bicara panjang lebar soal bobot yang harus dimiliki oleh seorang Public Speaker. Sekarang saatnya mengupas tentang makna orisinalitas (otentik) seperti judul tulisan ini. Otentik yang artinya bagaimana seseorang menampilkan citra dirinya tanpa di buat-buat. Di sisi lain, tidak ada satu orangpun yang ingin terlihat jelek di mata orang lain, akan tetapi bila seseorang selalu berpura-pura dalam berinteraksi, lama kelamaan akan menempel di ingatan orang lain dan semakin menjauhkan diri mereka dari kata otentik. Sebaliknya, impresi yang dibangun secara sadar dan terus dilakukan secara konsisten akan membangun Brand Image seseorang untuk dikenal lebih luas. Seperti Indera Perasa (Kinesthetic) yang memberikan pengaruh terlama dalam ingatan seseorang, maka impresi dari apa yang kita tampilkan, dapat dirasakan langsung oleh audiens, entah Anda siap atau tidak. Dalam salah satu materi kami tentang Personal Branding, terdapat pembahasan tentang Understanding your Self Image, yaitu bagaimana Self Image dan Social Image dibangun secara selaras walaupun pada kenyataannya tidak melulu sama. Contoh seseorang yang enerjik bisa dipandang oleh orang lain sebagai orang yang caper/lebay, atau seseorang merasa dirinya perhatian dianggap oleh orang lain penuntut, dst. Personal Branding versi kami terbagi atas dua komponen: Komponen Utama yang terdiri dari: Value, Skill dan Behavior, dan Komponen Tambahan: Total Look, Authenticity dan Uniqueness. Unsur “Buatan”

dalam Personal Branding tetap ada, tetapi tidak memiliki porsi yang besar, yaitu ketika seseorang memiliki role model yang akan membuat mereka meniru salah satu kekuatan dari sang idola, lama kelamaan bila terus dilakukan akan menjadi kebiasaan baru, dan termanifestasikan. Disinilah proses dalam membuat Personal Branding dari Created menjadi Authentic.

Sosial media secara sadar dan tidak sadar telah memberikan banyak kebebasan kita untuk meniru cara seseorang dalam membawakan dirinya. Hal ini menjadi sah-sah saja selama kita tidak meniru 100%. Akan tetapi menurut saya, setiap dari kita adalah mahluk unik dengan keberagaman gaya, suara, karakter, kepribadian, perilaku, sudut pandang, serta pola pikir. Dan kekhasan ini yang harus ditonjolkan. Sehingga penting buat siapapun untuk memiliki Self Esteem yang tepat. Self Esteem adalah Core dari Self Confidence dengan 2 kualitas didalamnya: Kemampuan seseorang dalam menghargai dirinya (Self Respect), dan secara berkesinambungan mengevaluasi dirinya (Self-evaluation). Kalau seseorang hanya menghargai dirinya tanpa mengevaluasi dirinya, tentu akan terlihat angkuh, begitupun sebaliknya, mereka yang selalu mengevaluasi dirinya, tanpa menghargai dirinya akan terlihat rendah diri. Memiliki 2 kualitas ini akan membuat seseorang terus bertumbuh dengan melakukan Self Check kapanpun setelah kita tampil atau berpresentasi. Luangkan waktu untuk melakukan Self Reflection terhadap apa yang sudah baik dilakukan dan apa yang belum dilakukan.

Orang yang otentik dapat dengan mudah membangun relasi dengan siapapun yang mereka jumpai, artinya orang tersebut sudah “Beres” dengan dirinya dan menjadi pribadi yang terbuka. Mereka PD dimanapun berada, tanpa membawa Ego mereka. Figur yang seperti ini adalah pribadi yang menarik dan menjadi “magnet” buat orang lain. Merupakan modal penting seseorang untuk dapat memberikan pengaruh yang positif kepada lingkungan sekitarnya dan menjadi Public Speaker yang ulung. Kata Otentik juga tidak dapat dipisahkan dari karakter dan kepribadian seseorang, dan tipe kepribadian yang membuat mereka “terbuka” adalah kepribadian yang Ambivert. Sebuah istilah yang berkembang ketika Carl Jung dalam bukunya Psychological Types (1921) menuliskan bahwa ada orang-orang yang tidak terlalu Introvert dan tidak terlalu Extrovert. Tipe kepribadian seperti ini adalah mereka yang balance dan mudah berbaur dengan siapapun, tidak banyak layer, tidak berjarak, dan disenangi oleh semua orang. Kalau kita bicara tentang impresi/Personal Branding harus juga memenuhi unsur 3T: Terlihat, Terasa dan Terukur. “Terlihat” dari bahasa tubuh dan penampilan yang sesuai, “Terasa” artinya kesadaran penuh yang dibawa kemanapun, dan “Terukur” artinya keberadaan mereka diakui dan mempunyai jam terbang tampil yang tinggi. Kurangnya kesadaran diri (Self-Awareness dan Mindfulness) akan membawa seseorang dalam menampilkan sisi idealnya saja di sosmed atau di publik, tetapi bukan sisi originalitasnya. Padahal, dalam DNA manusia, terdapat 0,1% perbedaan dibanding 8 milyar penduduk di dunia ini. Jadi, ada genetik keunikan dalam diri setiap orang. Menurut saya setiap orang harus dapat menampilkan sisi keunikan yang membuat mereka stands among the crowd.

Sebagai warganet kitapun sudah sangat jenuh melihat banyak figur dengan “Tameng” yang mereka pasang. Termasuk gaya seseorang yang umum/normative, tidak mencuri perhatian Audiens. Sebuah jebakan yang akhirnya membuat seorang Public Speaker tidak dianggap keberadaannya. Ditambah lagi “Ketakutan” untuk menjadi berbeda, sehingga mereka terlihat

sama dengan orang lain. Keberanian menjadi modal utama seseorang dalam mengeksplorasi dirinya (Self-Exploration dan Self-Discovery) dalam menemukan sisi keunikannya. Menjadi berbeda selain menuntut keberanian, juga menuntut konsistensi dalam membangun citra diri/Personal Branding. Keberanian/Courage serta rasa penasaran yang tinggi (Curiosity) adalah “Energi” yang akan membuat kita terus berproses dan menjadi mahir. Banyak faktor yang membuat seseorang sulit mengeluarkan sisi keasliannya. Takut dibilang jelek, atau keluar dari pakem jabatan, tidak nyaman dengan dirinya, trauma masa lalu, dan masih banyak ketakutan-ketakutan lainnya. Berdamai dengan diri adalah hal terpenting karena tidak ada satupun manusia yang sempurna, maka Self-Acceptance menjadi mandatori untuk dapat membuka diri, sehingga kita terus maju dan menjadi apa adanya (Actual-Self). Be Authentic and be Real!

Terakhir, modal berikut ini esensial bagi seorang Public Speaker yaitu memiliki Ketulusan Hati yang akan membuat seseorang mudah diterima dan dapat dengan jujur menyampaikan apa yang dirasakan dan dimilikinya. Ingat, semua yang datang dari hati akan sampai ke hati, asalkan keaslian yang kita tampilkan tidak menabrak norma dan aturan yang berlaku. Dan kalau kita bicara tentang komunikasi, kita tidak hanya bicara tentang bobot dan keunikan, tetapi kita juga bicara tentang behavior/perilaku seseorang untuk dapat membangun hubungan yang bermakna (Meaningful Engagement). Seseorang bisa saja sangat mahir dibidangnya, tetapi kalau tidak memiliki kemampuan untuk menghargai orang lain, memiliki empati, tentu tidak ada yang ingin bekerjasama dengannya. Dunia yang semakin bising dan panas ini membuat kita hanya mau berdekatan dengan mereka-mereka yang menyenangkan dan tulus, yang membuat kita merasa bahagia dan nyaman didekatnya. Banyak orang yang tidak sadar tentang merawat keberlangsungan dalam memaknai sebuah relasi jangka panjang. Negara kita memerlukan sangat banyak Public Speaker yang dapat menjadi corong motivasi di negeri ini, tidak hanya memiliki Bobot tetapi juga harus otentik untuk membangun negeri menyongsong Indonesia Emas 2045.

 

Dipublikasi di Wawasan