Oleh : Erwin Parengkuan

Dalam sebuah sesi coaching, seorang leader menyambut saya dengan sangat terbuka, begitu sesi pertama kami mulai, betapa menyenangkannya Ia sangat terbuka dengan materi tentang komunikasi yang kami hadirkan. Ia lantas bercerita tentang pengalaman hidupnya, tidak hanya menjadi pemimpin di organisasinya, tapi juga didaulat menjadi ketua dari organisasi keagamaan yang Ia anut. Ketika seseorang “haus” mereka akan seperti sponge yang akan menerima semua masukan dan informasi dengan baik. Ketika saya memintanya untuk menyampaikan materi presentasi, sifat keterbukaannya kemudian berubah 160 derajat. Bicaranya kaku, pendek dan tidak ada gesture yang terbuka.

Kita memang kompleks, ketika kita nyaman dengan situasi yang dihadapi akan sangat menyenangkan dalam menyampaikan sebuah pesan. Tapi bila kita takut melihat jumlah peserta, semakin banyak peserta yang hadir, akan semakin takut seseorang untuk bicara di depan publik. Bagaimana seorang yang extrovert bisa mendadak menjadi introvert, begitupun sebaliknya seseorang yang introvert ketika bicara akan menjadi sangat kaku, tapi ketika berjumpa dengan teman sepergaulannya mendadak berubah menjadi pribadi yang extrovert?

Bagaimana dengan seseorang yang berada di dua kubu extroversion dan introversion? Mereka akan sangat lentur membawakan diri. Pertanyaannya, siapa yang akan lebih sukses dari ketiganya dalam mengendalikan diri, membangun hubungan dalam berkomunikasi? Apa betul orang extrovert akan selalu menjadi sales yang baik dalam menjual idenya, dibanding yang introvert? Dari data yang data yang saya dapatkan, orang introvert maupun extrovert tidak akan bertahan lama dalam membangun hubungan dalam komunikasi, karena satu sangat pendiam dan satu dangan tidak bisa berhenti bicara. Dan Ini sebuah kegagalan besar yang sering terjadi.

Kembali kepada si bapak yang saya coaching, lantas materi saya hentikan, karena ternyata masih banyak “unfinished business” yang belum tuntas. Sehingga kami perlu mendiskusikan bagaimana seseorang dapat memiliki kesadaran penuh dalam diri dan berdamai dengan masa lalunya. Ketika kita bertemu dengan orang yang penuh dengan masalah, sudah pasti orang tersebut akan menjadi gagal dalam membangun hubungan. Dan orang yang kita jumpai tentu tidak ingin tahu masalah yang kita alami, sehingga kita harus dengan taktis dalam melupakannya sejenak, agar dapat fokus memperhatikan lawan bicara. Kita tahu bahwa orang yang bahagia akan menjadi orang yang menyenangkan di lingkungannya dan selalu dicari kemana mereka pergi. Bisakah kita bahagia? Tentu, karena bahagia itupun adalah pilihan. Kita bisa kok memilih untuk bahagia atau tidak. Yang perlu diingat adalah komunikasi yang berdampak akan datang dari hati yang bahagia, dan kita akan dengan sendirinya menjadi bersemangat ketika berkomunikasi dan apalagi memberikan data terbaru yang bermanfaat buat audiens kita.

Ambivert adalah mereka yang terbuka, bisa menikmati proses dan menghargai lawan bicara, dan di satu sisi mempunyai kemampuan analisa yang baik. Istilah ini ditemukan pada tahun 1920an oleh seorang psikolog Amerika dari Pennsylvania University bernama Dr Grant. Ambivert adalah orang-orang yang lebih sukses dalam menjalankan kehidupan ini dibanding orang introvert maupun extrovert. Mereka mudah beradaptasi, dapat mengendalikan diri menjadi extrovert maupun introvert di saat yang bersamaan, senang bersosialisasi juga nyaman hidup menyendiri. Bagaimana caranya kita bisa menjadi seperti mereka? Jawabannya mudah yaitu dengan melatih diri. Mulai menyapa lawan bicara terlebih dahulu. Tahukan anda, bila kita yang memulai pembicaraan terlebih dahulu, kita yang akan mengendalikan situasi. Buat yang extrovert terlalu banyak bicara, coba tahan diri, gunakan jeda lebih banyak untuk memberikan kesempatan lawan bicara lebih kita dengar pendapatnya.

Semua adalah bagian dari sebuah proses panjang yang selalu kita jalankan dalam keseharian kita. Mulailah membuat list mengatur kebiasaan baru, buatlah check list, monitoring akan merubah kepribadian kita menjadi ambivert. Ketika kita punya tujuan, tentu keseharian kita akan penuh dengan hal-hal yang membuat kita bertumbuh, dan pastinya akan membuat kita selalu tertantang. Yang akhirnya membuat semua orang dapat mahir berbicara dan membangun hubungan. Jangan lupa untuk bahagia dan berdamai dengan masa lalu, karena tidak ada satu manusia di dunia ini yang bebas masalah. Selama kita masih membuka mata, masalah selalu ada, kritikan selalu ada, tapi kita sekali lagi dapat melihatnya dari “kacamata” yang positif bahwa ini adalah tantangan bukan sebuah malapetaka. Toh, semua yang kita alami dan dapatkan di dunia ini, selalunya sifatnya sementara. Ada saat senang, sedih, kontemplasi, untuk maju dan terus berjuang.

WhatsApp Online Chat Support