Oleh Erwin Parengkuan

Pernah mengagumi bagaimana seorang pemimpin yang bijak memimpin perusahaannya dan membawa setiap orang bertumbuh secara kepribadian dan keahlian? Sehingga perusahaan tersebut dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Kalau saya amati seorang leader yang benar harus memiliki 2 kualitas utama yaitu menjadi mentor yaitu seseorang yang melatih dan memberikan instruksi, juga harus berfungsi sebagai coach yang membantu setiap teamnya memiliki kesadaran akan fungsinya di pekerjaan dan secara terus menerus melakukan pendampingan yang dapat membantu anggotanya mempunyai motivasi yang besar untuk terus meningkatkan kapasitas diri.

Dari penjelasan di atas, kita tentu sekarang dapat melihat di sekeliling kita, mana pemimpin yang memiliki kualitas yang benar sebagai seorang mentor dan coach. Menurut pandangan saya, seorang pemimpin yang benar bila kita ingin liat kualitas pribadinya, harus kita cek apakah ia di rumah dapat juga menjadi pemimpin yang baik? Kenapa? karena bila seseorang tidak dapat memimpin masyarakat yang paling kecil yaitu keluarganya sendiri, rasanya sulit seseorang dapat menjadi pemimpin dikantornya. Kalau memimpin anak sendiri tidak sanggup, bagaimana bisa memimpin anak orang lain yang tentu berbeda pemahaman, kebiasaan dan kultur?

Dari pengalaman yang beragam bertemu para pemimpin hebat dalam pekerjaan saya sebagai public speaking coach, sering kali sesi berlangsung di rumah mereka, saya kemudian dengan seksama mengamati pola komunikasi mereka dengan semua anggota keluarganya. Ada yang terasa sangat harmonis, ada yang memang terlihat kaku/otoriter, atau terlalu baik. Leader yang benar menurut saya mutlak untuk dapat mengendalikan diri dan ego-nya. Seorang kawan, bercerita tentang seorang leader besar.

Yang ia lihat dirumahnya sangat tempramental dan tidak sabaran. Untuk hal-hal kecil saja, ia dapat menggebrak meja karena sambal yang ditunggu di meja makan belum juga datang. Leader besar ini-pun ternyata diluaran sana sama saja perangainya. Pemarah dan terlihat dari ekspresi wajahnya bila tidak suka dengan sesuatu/seseorang.

Wajahnya memerah, memendam perasaan marah dan itu tertangkap dari ekspresi wajahnya. Saya lantas mencari beberapa nama yang sukses sebagai pemimpin di kantor juga sukses memimpin keluarganya. Seperti Nelson Mandela, Obama, John C. Maxwell, Anthony Robbins dst. Margaret Thatcher tidak sukses mendidik anaknya yang kembar, Bill Clinton tidak sukses di dalam rumah, juga banyak leader/pemimpin di negara ini.

Sebuah istilah : work-life balance yang sudah lama ada ternyata kurang tepat menurut saya, karena hanya mementingkan pekerjaan terlebih dahulu baru keluarga. Mungkin ini juga yang membuat para pemimpin menjadi miss-leading, fokus kepada pekerjaan tapi mengabaikan keluarganya. Yang lebih tepat adalah life-balance. Seorang leader sejatinya harus memiliki kesimbangan hidup, di kantor, di keluarga termasuk waktunya untuk diri sendiri. Memang sulit untuk melihat bagaimana seseorang pemimpin melakukan interaksi bersama keluarganya. Yang kita lihat biasanya hanya sebuah pencitraan di media sosial, terlihat akur dan bahagia. Sejumlah ahli psikolog mengatakan bila seseorang kerap menggumbar keharmonisan keluarganya kemungkinan besar yang ditampilkan justru bertolak belakang dengan kenyataannya.

Leader yang benar tidak fake melainkan natural dimanapun mereka membawakan diri. Bagaimana kita tahu bahwa seorang leader menjalankan fungsinya di pekerjaan sama dengan yang ia lakukan dirumahnya? Cara termudah adalah mengamati dengan seksama bagaimana mereka berinteraksi dengan orang terdekatnya. Entah itu dengan jajaran paling bawah, office boy, satpam, cleaning service. Karena kalau dengan lapisan yang paling bawah di kantor saja sudah ada respect dengan mereka, bisa jadi dirumahpun sama perilakunya. Beragam cerita para pembantu rumah tangga/supir ketika sudah tidak bekerja pada sang majikan mengumbar cerita di sosial media/pers tentang bagaimana mereka diperlakukan.

Walaupun ini belum tentu 100% benar karena kita hanya mendengar hanya dari satu sisi. Bagaimana-pun juga, ini adalah sebuah “tanda” yang dapat menjadi “perhatian” kita. Ada juga leader yang sangat perhatian dan baik, tapi apakah leader dengan kualitas tersebut dapat menjalankan disiplin di rumah dan kantornya kalau terlalu baik? Atau leader yang hanya “sugar coating” alias acting, agar telihat perhatian ternyata itu hanya sebuah rekasaya? Bagaimana cara mengetahuinya? mudah, perhatian mimik wajah mereka, tekanan suara mereka, pergerakan bibir dan mata, bahasa tubuh mereka. Anda tentu dapat merasakan apa itu dibuat atau asli.

Jadi kesimpulan saya, seorang pemimpin yang benar adalah pemimpin yang menjalankan fungsinya dengan baik di rumah dan di kantor. Menjadi pendidik juga pengawas, menjadi motivator juga penghibur, dan menjadi lembut juga tegas akan prinsip-prinsip utama yang harus dijalankan. Bila anda ingin tumbuh sebagai pemimpin yang benar, mulailah dari rumah, hargai orang-orang disekelilingmu. Everything start from small.

WhatsApp Online Chat Support