Dalam sebuah sesi dengan para leader di perusahaan telekomunikasi dimana mereka mendapat tekanan dari kantor pusat untuk segera melakukan perubahan yang cepat agar dapat bersaing dengan para kompetitornya, terlihat wajah mereka yang sangat tidak relax, stress dan bahkan bingung. Sedangkan sesi yang akan berlangsung seharian ini merupakan sesi kelanjutan dari sesi 3 bulan sebelumnya. Tentu akan sulit buat saya ketika memulai sesi tanpa melakukan “interaksi” tentang apa yang mereka rasakan dimana ini sangat berbeda dengan kondisi 3 bulan yang lalu. Head of HR mereka kemudian membuka dengan kalimat “kita harus segera transformasi besar-besaran.” Pesan kuat ini mengkonfirmasi wajah-wajah mereka yang tegang itu.

Setelah melakukan interaksi dan menemukan fakta yang mereka hadapi, saya kemudian menyampaikan tentang bagaimana manusia beraksi dan bertindak dari semua tantangan yang mereka hadapi. Semua tentu bermula dari sebuah kesadaran (conscious) atau ketidaksadaran seseorang (unconscious) akan apa yang dialami. Termasuk dapat segera bertindak agat dapat dengan cepat keluar dari situasi yang dialami dan melakukan perubahan yang cepat agar kondisi yang ada dapat diatasi.

Kesadaran atau ketidaksadaran kita tentu berawal dari bagaimana seseorang dapat mengendalikan pikirannya dan mengetahui dengan jelas fungsi otak bekerja dan memaksimalkannya dengan frekuensi yang baik secara sadar maupun tidak sadar. Untuk hal-hal yang berhubungan dengan kesadaran diri seseorang meliputi 3 komponen penting frekuensi otak yaitu: Gamma (a-ha moment), Bheta (work) dan Alfa (relaxing). Ketiga komponen ini akan membantu seseorang untuk dapat menganalisa dan mengaktifasi hal mendasar apa yang harus mereka lakukan. Contoh ketika seseorang bicara dengan menarik, cara penyampaiannya, emosinya, datanya tentu akan menciptakan a-ha moment yang membuat lawan bicara tertarik dan memperhatikannya dengan seksama. Bheta adalah hasil upaya yang dilakukan oleh setiap orang untuk kinerja yang datang dari frekuensi Gamma (a-ha moment). Sedangkan untuk menghasilkan Gamma dan Bheta kita perlu Alfa yaitu perasaan yang tenang tanpa tekanan.

Ketika saya menyampaikan 3 komponen ini terlihat ekspresi para leader di kelas berubah, lebih sadar dan seperti mendapatkan “pencerahan.” Beberapa yang saya dekati terlihat pupil mata mereka membesar. Saya mengatakan bahwa kendali diri tentu akan menciptakan kesadaran kita dengan waktu yang kita punya saat itu (right here right now) atas langkah-langkah yang harus dilakukan seseorang. Apakah solusi yang mereka lakukan sesuai dengan analisa yang tepat, dari hasil yang tepat tanpa terburu-buru untuk menghasilkan kinerja yang mengagumkan? Tidak semua orang mempunyai kemampuan yang sama dalam mengendalikan dirinya yang datang dari masing-masing frekuansi itu. Apalagi dalam kita berkomunikasi karena kita selalu dituntut untuk tidak hanya menyampaikan sebuah materi yang menarik (a-ha moment) tapi juga dapat menyampaikan pesan yang lengkap mulai dari suara, kata-kata, cara berpenampilan sampai bahasa tubuh. Sehingga dapat memberikan manfaat kepada lawan bicara. Dalam hal ini, para leader dikelas (memang) dituntut untuk menghasilkan hasil kerja yang berbeda dari yang pernah mereka lakukan sebelumnya sehingga bisa keluar dari tantangan besar yang mereka hadapi.

Frekuensi otak lainnya juga sangat besar pengaruhnya yang datang dari alam bawah sadar kita. Yaitu Theta (dreaming) dan Delta (dreamless sleep). Artinya hal apa yang diyakini oleh seseorang sebelum  bertindak merupakan “buah” dari alam bawah sadar mereka. Kalau kita menyakini hal yang akan kita lakukan itu sulit tentu halnya akan sama sulitnya. Lain bila kita menyakini ini mudah, tentu hasilnya akan berjalan dengan mulus. Kemampuan menggabungkan kelima frekuensi ini harus seimbang, dipakai dengan tepat tidak boleh hanya 1 atau 2 saja karena tidak akan menghasilkan hasil yang maksimal.

Seseorang yang hanya fokus ke frekuensi Theta (dreaming) dan Alfa (relaxing) akan membuatnya tidak bisa fokus karena tidak ada Bheta (work) yang mereka lakukan. Seseorang yang berbicara dengan tubuh yang bergerak-gerak, pandangan mata yang tidak menyapu audiens secara menyeluruh tentu juga menjadi contoh konkrit bila seseorang tidak sadar. Di semua kelas yang selalu kami adakan ketidaksadaran dalam mengendalikan bahasa tubuh memang sangat terlihat. Ketika ditanya “kamu sadar tidak ketika bicara tangan kamu menunjuk ke audiens? Kamu sadar tidak kaki kiri kamu tadi bergerak tanda kamu gugup?” Semua jawaban dari peserta mengatakan mereka memang tidak sadar. Nah ketidaksadaran ini kalau kita lihat dari pikiran manusia terjadi atas frekuensi-frekuensi yang dikeluarkan oleh Theta maupun Delta. 2 frekuensi ini yang ada dipikiran manusia membuat kita tidak sadar. Lebih parahnya ketika frekuensi Delta terlalu besar, tentu tidak akan dapat berbicara dengan menarik. Misalnya karena kita punya mental yang negatif, mental yang tertutup (mental block) dalam diri kita, apa yang kita katakan dalam diri kita (self talk) akan mempengaruhi kesadaran kita, apa yang kita katakan dalam diri itu akan langsung membentuk fodasi yang semakin membesar, mengakar dan semakin sulit dilepaskan.

Kita perlu teknik khusus yaitu mulai memandang semua hal yang kita alami adalah baik, untuk sebuah kebaikan, semua hal positif, mengganti kata masalah dengan tantangan dll adalah sebuah teknik sederhana untuk mengantikan kata negatif menjadi kata positif. Semua bisa kita lakukan kalau kita mau, mau artinya berpikiran terbuka melihat sebuah perubahan yang begitu cepat menjadi sebuah rencana kerja yang harus dilakukan dengan terus menerus dengan mengaktifkan frekuensi Alfa, Bheta dan menghasilkan Gamma. Ketika berbicara dengan lawan bicara yang negatif kita akan melihat ekspresi wajah yang tidak menyenangkan, tekanan suara yang mengintimidasi, apalagi mendengar pilihan katanya. Bila semua orang frustasi dan stress tentu siapapun tidak akan dapat berkomunikasi dengan menarik. Boro-boro akan membuat orang bertindak, melihatnya saja kita tidak selera.

Mengendalikan alam bawah sadar, subconscious adalah mandatory, semua orang mempunyai kekuatan yang sama dalam dirinya, siapapun mereka untuk menjadi versi terbaik dari dirinya. Kita harus membereskan alam bawah sadar kita untuk mempunyai  a positive fixed mindset sehingga dengan membereskan Delta, kita bisa memperbesar dreaming (Theta) dalam melihat hal positif yang akan kita dapatkan di hari ini dan esok. Asalkan diimbangi dengan perasaan relax (Alfa) dan terus bekerja (bheta) sehingga kita dapat menjadi pribadi yang menarik (Gamma) membuat orang suka dengan kita.

Bayangkan betapa menyenangkan perjalanan yang akan kita lewati ini. Uraian yang saya sampaikan, juga saya bagikan kepada para leader di kelas itu. Mereka bisa lebih sadar untuk mengaktifkan frekuansi yang mana dalam membuat kemampuan komunikasi menjadi lebih tepat. Karena kita semua memiliki hak dan kompetensi yang sama untuk bahagia dan memaksimalkan kesadaran dan ketidaksadaran kita untuk terus menjadi yang terbaik dengan tombol-tombol frekuensi Gamma, Bheta, Alfa, Theta dan juga Delta.

WhatsApp Online Chat Support