Oleh Erwin Parengkuan

Dalam sebuah sesi webinar saya diminta oleh sebuah universitas di Jakarta baru-baru ini untuk berbagi tentang materi public speaking. Banyak sekali audiens saya ratusan mahasiswa dari berbagai jurusan dan semester, menunjukkan ketertarikan mereka untuk mengetahui rahasia berbicara menarik di depan publik. Saya membuka sharing saya seperti judul ini. Mendengar kalimat pembuka saya, banyak mata yang terbelalak dan penasaran akan penjelasan saya selanjutnya. Sebelum saya jabarkan lebih lanjut, kenapa mereka terkejut? Karena dunia sekarang yang penuh retorika yang diamini oleh para generasi muda ( generasi Z) dimana mereka kerap bicara dengan lantang dan kalau kita perhatikan minim makna dan sering juga kita membaca caption yang mereka tampilkan di timeline begitu tegas tapi bila kita berjumpa dengan mereka ternyata pribadinya sangat pendiam. Betul bahwa komunikasi itu memerlukan konten yang berbobot tidak hanya berani bicara.

Habisnya kata-kata dalam ucapan sama saja seperti kendaraan tanpa bensin, roda tidak bisa berputar dan tujuan kita tidak akan kita sampai. Sayangnya banyak orang hanya berkoar-koar tanpa bobot. Dan sekarang semakin banyak kita jumpai baik secara langsung maupun bertembaran di media sosial. Kemana konten yang berkualitas yang dapat memberikan pengaruh besar dalam menciptakan perspektif baru, membuat audiens berpikir dan bertindak? Dalam kami membuka setiap sesi tentang komunikasi terdapat 5 hal penting yang harus dikuasai para komunikator kalau mau dibilang ulung. Pertama mereka harus dapat memberikan manfaat, kedua bicara harus runut, ketiga harus jelas tujuannya, keempat tidak boleh terburu-buru dan yang terakhir harus tidak boleh kepanjangan apalagi bertele-tele. Apakah anda sudah menguasai konten anda dengan baik?

Ketika saya memulai sesi pertama kelas online public speaking, alasan pertama soal memberikan manfaat dalam berkomunikasi saya sampaikan dan jelaskan secara terperinci kepada para peserta dan saya berhenti di alasan pertama itu serta meminta mereka mempersiapkan materi bicara dalam waktu 2 menit, sesi kemudian berlangsung dengan memberikan waktu 15 menit untuk mereka mempersiapkan konten apa yang akan mereka sampaikan hingga dapat memberikan manfaat. Apa yang terjadi selanjutnya? Semua peserta dapat tampil dengan memberikan manfaat kepada pendengarnya. Artinya, bila sebuah komunikasi dapat dipersiapkan dengan matang, tentu semua orang dapat bicara dengan bobot yang tepat. Persiapan adalah mutlak, sama seperti kalau kita akan pergi berlibur, semakin matang persiapan kita akan semakin baik perjalanan dan tempat yang akan kita kunjungi. Bila persiapan tidak matang baik, jangan harap perjalanan liburan akan menyenangkan.

Bicara yang baik juga mewakili jati diri kita, mewakili kultur, budaya kita, termasuk keluarga kita, tempat dimana kita bekerja dan tentu mewakili jati diri kita sebagai bangsa Indonesia. Saya masih ingat sebuah kasus komunikasi yang “asal bunyi” tanpa dipikirkan dampaknya terjadi beberapa tahun silam. Ketika seorang mahasiswa di sebuah kota di pulau Jawa yang mengumpat dengan kata-kata kasar karena pelayanan di pom bensin tidak membuatnya senang, lantas anak ini mencaci maki ditimelinenya. Dan warganet langsung murka untuk mencari siapa anak ini. Mulai dari siapa dia, kuliah dimana, suku apa dll. Kesadaran dalam berkomunikasi juga menjadi landasan penting yang selalu harus dipahami oleh setiap orang. Bila kita asal bicara di jagat maya, tentu masyarakat dunia akan mencari juga siapa pemilik akun tersebut dan dari negara mana ia berasal.

Mulai sekarang marilah kita tingkatkan kesadaran diri tentang peran kita di lingkungan juga menjaga reputasi bangsa, lakukan riset akan data yang tepat dan berbobot tidak lupa menyampaikannya dengan menarik dengan menggunakan pilihan bahasa yang baik dan santun. Ketika hal ini terus kita lakukan tentu akan meningkatkan reputasi diri dan citra yang positif diantara begitu banyaknya orang-orang yang asal bicara tanpa bobot.

WhatsApp Online Chat Support