Oleh Erwin Parengkuan

Seperti yang saya tulis dalam buku Understandinc People, Strategi Taktis Berkomunikasi Berbagai Kepribadian-2017, Gramedia Pustaka Utama, di dalam komunikasi bahwa ada 4 tipe kepribadian manusia berdasarkan teori Hippocrates dengan 4 istilah yang saya rubah menjadi: Gesit, Kuat, Rinci dan Damai. Gesit adalah pribadi yang terbuka, extrovert feeling, ceplas-ceplos dan menyukai tren terbaru, sedangkan si Kuat adalah extrovert thinking, yang pemberani, pantang mundur dan to the point cenderung kaku. Si Rinci adalah introvert thinking yang sangat cinta keindahan dan detail, berbicara sangat terstruktur dan cenderung panjang, dan yang terakhir, si Damai yang cinta ketenangan, hidupnya sangat normatif, anti konfrontasi dan introvert feeling.

Keempat kepribadian ini, pada dasarnya ada dalam diri setiap orang, tergantung urutannya. Contohnya saya urutan kepribadian adalah: Gesit, Rinci, Damai dan Kuat. Dalam kurun waktu tertentu, berdasarkan pekerjaan dan lingkungan urutan ini bisa berubah dan tentu berdampak dalam kemampuan seseorang berinteraksi. Sesuai judul tulisan saya di atas bahwa ke empat tipe kepribadian ini sangat berhubungan dengan 5 indera kita, pengelihatan, pendengaran, rasa/kinestetik, penciuman dan pengecap. Contoh dalam memilih makanan, si Gesit akan tertarik oleh sesuatu dengan tampilan menarik, unik dan kekinian, sedangkan si Rinci akan sangat memilih berdasarkan rasa yang tepat dan penyajian yang sempurna, si Kuat tidak mementingkan semua yang diminati oleh si Gesit dan si Rinci, buatnya makanan yang penting mengenyangkan, sudah cukup. Dan si Damai, apapun makanannya rasa menurut mereka hanya ada 2 yaitu enak dan enak banget. Itu baru urusan makanan, belum yang lain.

Bagaimana dengan Indera pengelihatan yang memberikan dampak besar pada kesan pertama yang bekerja di bawah 8 detik? Si Kuat menginginkan seseorang yang dijumpainya meyakinkan, cara berdiri yang PD, suara yang lantang. Bila si Rinci menginginkan penampilan seseorang harus rapih, profesional, sepatu bersih, dan dokumen lengkap. Bila di Gesit menginginkan gaya komunikasi yang terbuka, penampilan harus trendy, suara berirama, dan sangat dinamis. Sedangkan si Damai tidak menginginkan sesuatu yang berlebihan, penampilan sesuai sudah cukup, suara tidak berlebihan, suasana yang tenang itu yang akan membuat mereka nyaman. Sedangkan untuk si Gesit dan Damai, yang feeling, menginginkan semua yang anda sampaikan berdasarkan feeling bukan logika berpikir. Kebalikannya buat yang thinking seperti si kuat dan rinci, sangat mengutamakan logika berpikir, analisa, dan data yang kuat dan jelas.

Dari penjelasan saya di atas, sudah sangat jelas, bahwa kita dengan tendensi kepribadian yang dimiliki akan menggunakan pengukuran kepribadian ini dengan Indera yang paling besar pengaruhnya untuk kita. Bila orang yang kita jumpai masuk kategori Feeling, maka yang tepat adalah memasukkan unsur yang sama feeling/rasa juga kepada mereka, dengan pilihan makanan yang sesuai, tempat pertemuan yang sesuai, gaya yang sesuai dengan yang mereka minati. Akan sangat bermasalah bagi mereka yang tidak memperdulikan analisa/mapping seperti ini, seseorang dipastikan akan gagal dalam membangun relasi bila kita lalai melakukan mapping dan profiling dengan lawan bicara. Contoh lainnya, Indera penciuman buat si Kuat menjadi tidak penting, juga buat si damai, tapi bagi si Gesit ruangan harus punya aroma tertentu, begitupun dengan si Rinci yang akan memikirkan aroma terapi yang di sesuaikan dengan suasana siang atau malam.  

Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan melakukan sesi coaching dengan CEO perusahaan yang usia beliau mirip-mirip dengan saya, sangat thinking, campuran di Kuat, Rinci, Gesit dan Damai. Saya sudah investigasi profilenya dan mendengarkan banyak informasi dari pihak internal perusahaan tersebut. Ketika sesi di mulai saya memintanya untuk mengisi form assessment test kepribadian. Ketika beliau mengisi, saya pun sudah mengukur urutan kepribadiannya, yang kemudian hasilnya tepat seperti analisa saya. Sesi berjalan banyak diskusi dan semua memang merujuk pada analisa berpikir beliau yang sangat kuat dan detail, terkadang terjadi argumentasi dan saya menjawabnya dengan data terbaru yang saya miliki. Bila saya tidak melakukan maping yang benar dengan investigasi, bisa dipastikan saya akan mengalami kegagalan dalam sesi tersebut. Ketika terjadi argumentasi, saya tahu, tidak boleh menggunakan feeling/kinestetik ketika berhubungan dengan figur seperti ini. Suara lebih saya naikkan, bahasa tubuh harus tegak dan meyakinkan untuk dapat “di beli” olehnya. Jadi tulisan saya kali ini, ingin mengingatkan anda bahwa ketika kita menjadi relasi dengan siapapun, pentingnya juga mempelajari peta lawan bicara, tidak hanya kepribadiannya semata, urutan kepribadiannya, termasuk mengetahui indera mana yang paling utama menjadi perhatian mereka, sehingga interaksi kita dengan mereka menjadi sejalan, selaras dan dapat memberikan dampak positif seperti yang kita harapkan, ini adalah jurus kunci sebuah strategi sukses berkomunikasi. Sayapun setelah sesi coaching berakhir sangat senang karena merasa sukses “menaklukkan” coachee saya yang kaku nan penuh wawasan, ketika sesi berakhir beliau bertanya kepada saya “sudah berapa buku yang kamu baca?”   

WhatsApp Online Chat Support