Introvert Nggak Bisa Public Speaking? Siapa bilang?

Oleh Irina Dewi – TALKINC Facilitator

Ada beberapa orang beranggapan bahwa ekstrovert adalah orang yang cerewet dan introvert adalah orang yang pendiam. Makanya ketika ada orang yang lancar sekali berbicara di depan umum, anggapannya adalah: “Oh, pasti dia extrovert, wajarlah bisa ngomong lancar di depan umum”. Ini merupakan satu miskonsepsi mengenai penilaian tipe kepribadian yang sering kita dengar dan pada artikel ini kita cari tahu jawabannya ya!
Oke, saya disclaimer dulu ya. Saya adalah seorang introvert yang sudah bergelut di dunia public speaking selama lebih dari 20 tahun. Pertama kali saya sadar bahwa saya adalah seorang introvert adalah ketika saya membaca buku dari Carl Jung yang berjudul Psychological Types. Dalam buku ini, Jung menggambarkan introvert sebagai orang yang lebih fokus pada dunia internal, cenderung memproses informasi dengan refleksi diri dan lebih memilih waktu sendiri untuk mengisi ulang energi. Sementara, ekstrovert cenderung lebih fokus pada dunia luar, memproses informasi melalui interaksi dengan lingkungan sosial, dan mendapatkan energi dari interaksi sosial tersebut. Jadi kalau balik lagi ke pertanyaan, apakah introvert pasti pendiam dan extrovert pasti cerewet? Jawabannya adalah: TIDAK. The only difference is how you recharge your energy. Jadi kalau kamu adalah tipe menjadi enerjik ketika kamu bertemu banyak orang, kemungkinan besar kamu adalah extrovert. Kalau kamu lebih enerjik seusai menghabiskan waktu sendirian, kemungkinan besar kamu introvert.

Dalam buku Understanding People, Erwin Parengkuan, founder Talk Inc, memisahkan tipe introvert dan ekstrovert dalam konteks gaya komunikasi, bahwa ada 4 tipe manusia secara general yaitu, Si Gesit, Si Rinci, Si Kuat, dan Si Damai. Untuk detilnya silahkan baca sendiri dan lakukan tesnya biar lebih mengenal diri sendiri. Intinya, gaya komunikasi introvert dan ekstrovert memang sangat berbeda.

Nah, kalo kembali lagi ke topik kita tadi, bisakah seorang introvert menjadi Public Speaker yang baik? Jawabannya adalah: BISA BANGET. Memang, seorang ekstrovert kecenderungannya lebih nyaman berbicara di depan umum dan bahkan menjadi enerjik berbicara di depan audience dalam jumlah besar, tetapi introvert juga banyak kelebihannya lho. Introvert cenderung memiliki kemampuan yang baik dalam mendengarkan, cenderung memperhatikan detil, memahami sudut pandang orang lain dengan lebih baik, memproses informasi secara mendalam untuk mengembangkan perspektif yang matang, dan cenderung memiliki kemampuan observasi yang kuat.

Jadi bagaimana supaya seorang Introvert lebih nyaman berbicara di depan umum, padahal secara energi banyak terserap dengan kehadiran orang banyak apalagi menjadi menjadi pusat perhatian? Yang biasa saya lakukan adalah pertama, persiapkan materi secara menyeluruh. Dengan memiliki pengetahuan yang mendalam tentang topik yang akan dibawakan, kita akan merasa lebih percaya diri saat berbicara di depan umum. Preparation is key. Kedua, rehearse, rehearse, and rehearse. Lakukan latihan dan repetisi sebelum berbicara di depan umum. Rehearsal membantu membangun rasa percaya diri dan memperkuat kemampuan berbicara secara lancar. Berikutnya adalah fokus pada konten. Introvert cenderung lebih memikirkan isi pesan daripada perhatian yang diberikan oleh audiens. Maksimalkan kekuatan ini dengan berfokus pada inti pesan yang ingin disampaikan. Last but not least, give yourself time to recover. Setelah melakukan public speaking, introvert cenderung merasa lelah secara emosional. Kasih waktu ke diri sendiri untuk mengisi ulang energi dengan menghabiskan waktu sendiri.

Jadi nggak ada lagi alasan nggak mau berbicara di depan umum dengan melabeli diri introvert ya. Pada dasarnya semua kepribadian memiliki kesempatan yang sama untuk mampu menjadi Great Public Speaker. We can do it!

Editor: Alyezca Disya Rahadiz

Its not just about communication. Its about ‘build the relationship’

Tulisan ini tertuang dari sebuah pengalaman saya pada saat menjadi facilitator di sebuah “online class” dimana ada satu peserta yang memiliki pendapat bahwa berbicara itu menyampaikan pesan, ide dan perintah. Memang peserta tersebut tidak menceritakan secara detail apa yang dimaksud komunikasi dari pandangannya. Tapi, saya sudah bisa menarik kesimpulan bahwa arti dari komunikasi hanya sebatas itu.

Kalau TALKINC friends suka membaca artikel di website ini, Mas Erwin Parengkuan sudah membahas tuntas mengenai komunikasi itu seni membangun hubungan. Nah, sekaran saya Tanya, siapa di sini yang merasa beraaaatt sekaliii untuk memulai pembicaraan dengan orang lain? Hahaha mungkin ada yang mengaku dan tidak yaaa. Baik saya contohkan dengan diri saya ya.

Saya itu termasuk orang yang sulit (malas) untuk memulai pembicaraan dengan siapapun. Tapi karena pekerjaan yang mengharuskan saya untuk menjadi orang yang talk-active, saya paksa sehingga ini sudah menjadi kebiasaan setiap kali bertemu dengan orang baru. Memulai pembicaraan. Ada banyak buku / literasi yang menuntun kita bagaimana memulai percakapan. Bagi TALKINC Friends yang merasa “eh relate banget dengan saya nih”, boleh untuk dicoba yaa.

Saya selalu memulai percakapan dari keadaan sekitar mulai dari mengomentari topik sederhana seperti cuaca, kemacetan yang terjadi, atau bahkan tempat bertemu kita dengan lawan bicara. Mengapa dari topik-topik tersebut untuk memulai pembicaraan? Karena dari topik sederhana itu mudah dipahami dan dikomentari oleh banyak orang, dan saat itu kita sedang mencari “chemistry” dengan lawan bicara. Masuk ke tahap selanjutnya yaitu mencari persamaan seperti makanan kesukaan. Ya topik ini yang paling mudah dibawa ke dalam pembicaraan sebagai “ice breaking” sekaligus kita mencari persamaan dengan lawan bicara.

Pada saat saya bekerja menjadi Marketing Manager, tugas saya yaitu membuka kerjasama dengan berbagai pihak. Salah satunya adalah dengan produsen wine dan saya ditawari untuk mengikuti wine tasting. Wine tasting ini tentu acara khusus yang biasanya diikuti oleh orang-orang yang berhubungan dan memiliki pengetahuan banyak tentang wine. Malam itu juga saya belajar istilah dasar mengenai wine agar saya dapat in-line saat mengobrol tentunya. Pada saat wine tasting, saya harus bolak balik ke kamar kecil karena muka saya merah dan mencoba untuk cuci muka agar tidak terlihat. Karena ini untuk kepentingan bisnis saya berusaha untuk bertahan dan menemani produsen wine hingga larut malam. Selama wine tasting tidak ada pembicaraan bisnis sedikitpun. Selang beberapa hari, proposal kerjasama akhirnya disetujui dan kami pun bekerjasama. Apa maksud dari cerita ini? Terkadang kita perlu melakukan penyesuaian dalam mencapai tujuan kita — dalam kasus ini kesepakatan bisnis. Hal ini bukan berarti kita menjadi 180o orang yang berbeda ya.

Cerita lain berasal dari teman saya. Ia bercerita harus membeli raket tenis hanya karena keesokan harinya harus menemani client bermain tenis. Saat bermain tenis, Ia hanya sanggup bermain selama 15 menit karena memang belum pernah bermain tenis. Namun, dari situ timbul rasa respect dan segan dari client kepada teman saya sehingga kesepakatan bisnis pun tercapai. Inti dari ke dua cerita ini adalah alangkah akan lebih maksimal jika kita dapat menyentuh hati lawan bicara kita. Artinya kita memiliki keseriusan dalam dalam membangun hubungan.

Terdapat salah satu quotes dari Nelson Mandela yang memiliki makna bahwa ketika kita berbicara maka gunakan bahasa yang dapat menyentuh hati dari lawan bicara kita.

TALKINC Friends, mungkin Anda fasih berbagai bahasa asing. Tapi apakah “bahasa” yang Anda gunakan sesuai dengan lawan bicara Anda?

Penulis: Fernando Edo – TALKINC Main Facilitator

Editor: Alyezca Disya Rahadiz