Confidence is a must

Oleh Erwin Parengkuan

Pengalaman bertemu banyak individu yang sukses akan menambah “jam terbang” kita agar lebih berpengetahuan lagi yang tentunya akan membuat kita lebih percaya diri. Kemarin saya menjalankan sesi training dengan sebuah direktorat di Kementerian RI, dalam sesi lunch break, seorang pejabat yang membuka sesi pagi tadi, menghampiri dan duduk menemeni kami makan siang. Beliau bercerita tentang pengalamannya belum lama ini dalam sebuah penilaian untuk naik jabatan, dimana harus mengikuti sesi interview akan inovasi apa yang akan dilakukan agar “lolos” naik jabatan. Si bapak kemudian bertanya kepada anaknya di rumah yang sedang menempuh pendidikan akhir di sebuah Universitas Negeri bergengsi di negeri ini, Ia bertanya tentang ide apa yang harus disampaikan pada wawancara nanti berhubungan dengan inovasi. Seperti yang kita ketahui generasi Millenial sangat kaya akan informasi dan mereka sangat peka teknologi. Kemudian si anak menyarankan “fokus ke inovasi digital karena semua bisnis apapun harus pro digital karena sesuai dengan tuntutan zaman.”  Sang ayah kemudian mengangguk dan setuju akan usulan sang anak.

Ketika si bapak meneruskan cerita ini kepada kami, dengan cara bercerita yang berapi-api menguraikan momen ketika beliau di interview. Gagasan dari si anak kemudian dielaborasi sesuai dengan kemampuannya yang PD. Si bapak bercerita bahwa pihak penilai adalah mereka yang masih minim pengalaman dan tidak tahu tentang pengetahuan dan bidang yang mereka tanyakan kepada pihak yang lebih senior. Mereka hanya bertanya dari ide awal dan kembali menggali ide tersebut. Si bapak meyampaikan jurus rahasianya yaitu fokus kepada konten yang Ia sampaikan dan percaya diri, sehingga ketika pertanyaan berputar kepada penjelasan yang sudah diucapkan, Ia tidak “blunder” dan tetap fokus dan teguh dengan penjelasannya. Karena dalam setiap teknik interview, atau investigasi, ketika kita mulai mengarang, pertanyaan incaran pasti membidik kata-kata anda yang “mengambang” dan menjadi sasaran empuk. Mereka akan menyimpulkan bahwa anda mengarang dan tidak konsisten dengan jawaban dan tentu penilaian akan menjadi buruk, akhirnya kita tidak akan lulus dalam sesi interview/investigasi yang berlangsung.

Pengalaman cerita di atas dapat disimpulkan bahwa percaya diri adalah kunci dari semua aspek dalam kehidupan ini. Bayangkan kalau si bapak tidak PD, apa jadinya dengan kenaikan jabatan beliau yang nanti sejak lama? Hasil interview lolos dan si bapak naik jabatan, sedangkan beberapa rekannya harus kembali mengulang proses interview sampai beberapa kali karena ketidakyakinan mereka dalam berkomunikasi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari pihak penyelidik.

Persis dengan banyak tips yang sering kami sampaikan dalam setiap training bahwa “mapping” peta lawan bicara menjadi esensial, kepada siapa kita harus bicara, siapa mereka, bagaimana pengalaman mereka apakah setara dengan kita atau di bawah kita. Tentu mengambil cerita di atas, si bapak sudah melakukan PR-nya dengan baik, bahwa yang mewawancarainya tidak menguasai bidang yang dilakukan, mereka hanya menggali dan kembali “memutar” pertanyaan untuk mengetahui apakah jawaban betul dikuasai. Berbeda dengan kalau kita harus menaklukkan lawan bicara, apalagi dengan jumlah orang yang  “isi kepala” dan pengetahuannya berbeda-beda. Sehingga, pengetahuan anda mutlak harus di atas mereka. Jadi, pastikan sudah ada pemahaman yang dalam, data yang dan pengetahuan terbaru yang harus kita berikan kepada mereka. Kalau tidak anda harus bersiap diremahkan oleh audiens anda.

Kemarin juga dalam sesi online dengan para “agen perubahan” di sebuah Kementerian yang berbeda, seseorang bertanya kepada saya “bagaimana kita bisa menguasai sebuah materi yang baru kita terima, sementara waktunya sangat terbatas?” saya menjawab tidak ada cara lain selain memang harus mempelajari dengan melakukan riset, walaupun waktu kita terbatas. Untuk itu, kita dapat terlebih dahulu bertanya tentang konteks/tujuan pembicaraan yang akan dibahas. Dari info minim itu, walau kita belum mendapatkan pokok detail pembicaraannya apa, tapi kita harus “nyolong start” dengan segera mencarinya secara general. Misalnya topik tentang perubahan iklim, nah, dari situ anda bisa segera mencari isu-isu yang terjadi saat ini secara general, ambil fokus utama yang menjadi problem, dan mengkurasi info yang ada dengan data terbaru serta mencari alternatif solusi dari isu yang ada, sehingga ketika waktu datang, info yang sudah kita miliki kemudian akan memperkaya wawasan, walau dengan limitasi waktu, tapi kita sudah tahu dari hasil observasi yang sudah kita lakukan jauh hari sebelumnya. Intinya inisiatif untuk bergerak duluan. Kita memang harus lebih cerdas dari audiens kita, itu harga mati yang akan menaikkan “bobot” kita sebagai juru bicara. Kalau kita anda malas, tidak ada inisiatif tentu  akan “mati kutu” menghadapi audiens yang lebih berpengetahuan dari anda.  

Your 168 Hours

Oleh Erwin Parengkuan

Kalau dihitung, ini adalah jam dalam satu minggu dimiliki oleh semua orang. Mulai dari anak kecil dengan waktu bermain yang lebih banyak, beranjak dewasa dan meniti karir. Dimana waktu bermain kita lantas menjadi sedikit karena kita mengejar kehidupan yang baik. Semua itu kita jalani hingga detik ini, baik secara sadar maupun tidak sadar. Saya terkadang kagum dengan mereka yang dapat membagi waktunya dengan sangat amat efisien. Sebut saja orang-orang dengan jabatan yang tinggi. Seperti Presiden, seperti para pemimpin itu dengan jadwal yang padat detik demi detik, terkadang meeting dilakukan sambil berjalan kesuatu tempat, untuk pindah ke lokasi lain. Tiba-tiba ada disatu tempat, kemudian berpindah lagi, bertemu masyarakat, dan masih punya waktu dengan dirinya, keluarga dan  -bersenang-senang dengan teman inti mereka.

Sebagian dari anda mungkin tahu juga kalau saya memiliki saluran berbagi tidak hanya di website ini, tapi juga secara audio di podcast yang sudah saya jalankan rutin selama 2 tahun ini. Saya terkadang berniat untuk menghentikan podcast saya, tapi dari kegiatan yang saya lakukan, ada saja cerita baru yang muncul kemudian saya bagikan serentak secara audio, tulisan termasuk berbagi ke kelas online maupun offline.

Kita semua memiliki waktu yang sama, tapi terkadang tidak pandai membaginya. Orang yang sibuk tentu pandai akan hal ini, tapi orang yang banyak waktu luang, sepertinya tidak pandai dalam membagi waktu. Kegiatan rutin yang dilakukan setiap orang hendaknya membantu mereka untuk punya management waktu yang baik. Karena kegiatan yang kita lakukan akan terus berulang sampai kapanpun, tapi rupanya tidak semua orang bisa efesien soal waktu, termasuk ketika seseorang berbicara terkadang banyak sekali pemilihan kata yang berulang, atau salah dalam menempatkan/memilih kata, sehingga pesan kemudian menjadi bias.

Buku yang belum lama saya baca, bercerita tentang waktu. Bagaimana kita bisa lebih disiplin dalam menjalankan dan memaknainya. Saya berharap tulisan ini dapat membantu anda untuk lebih pandai dalam membagi waktu yang kita miliki.

Ada 5 hal penting yang disampaikan dalam buku yang ditulis oleh Harry M. Jesen Kraemer, Jr dalam bukunya “From Values to Action” berikut pembagian waktu yang ia sampaikan:

Career : 50 jam (30%)

Family : 28 jam (17%)

Spirituality : 11 jam (7%)

Health/sleep : 55 jam (32%)

Fun/recreation/reading : 14 jam (8%)

Social responsibility/making difference : 10 jam (6%)

Ketika membaca buku ini saya lantas merefleksikan diri terhadap waktu yang saya jalani, apakah semua uraian tersebut sudah saya jalani. Soal berapa jumlah waktu/prosentase-nya tentu berpulang kepada setiap orang akan fungsi dan tujuan hidupnya. Saya sangat sependapat dengan penulis yang mengatakan bahwa hidup ini harus life balance, bukan work life balance, karena 6 faktor ini bila kita jalankan akan membuat kita berdaya, berdampak kepada diri dan orang lain. Tidak hanya sibuk mengejar karir.

Setiap kita memang mempunyai prioritas yang berbeda-beda, tapi sejatinya setiap orang harus memaksimalkan dirinya seperti yang kita tahu tentang teori dari Abraham Maslow “The Hierarchy of Needs.” Semakin tinggi tingkat kedewasaan seseorang dalam menjalankan karirnya harus dapat hidup seimbang. Tidak ada karir tentu tidak ada pendapatan, terlalu sibuk bekerja tentu akan tidak ada interaksi sosial dengan lingkungan luar, tidak membaca buku, tentu tidak ada wawasan baru, tidak tidur dan olah raga tentu fungsi tubuh akan melemah sejalan dengan bertambahnya usia dan sulit berkonsentrasi. Tidak punya waktu dengan keluarga tentu tidak ada support system yang akan memotivasi kita dan membuat kita bahagia.

Kalau pengalaman saya, selalu memaksakan diri untuk terus bertumbuh dengan 6 komponen diatas. Saya merasakan bahwa semakin hari semakin baik dalam membagi waktu saya. Ini adalah tantangan yang harus kita jalankan, walau kebayakan orang memang punya tendensi malas dan penunda. Itu tidak ada dalam kamus saya. Seperti contoh, bila satu hari tidak ada kegiatan dalam bekerja. Saya akan tetap membuat jadwal harian, crowd my calender! Pagi hari buat saya jam 5 adalah waktu terbaik saya untuk menjalankan rutinitas berolah raga dan baca buku. Mungkin 1 hal yang perlu saya tambahkan dari 6 komponen diatas adalah makan sehat. Cheating day hanya weekend. Menjadi lengkap bila semua hal ini kita jalankan dengan kesadaran diri tinggi untuk terus bertumbuh dan kemudian memberikan dampak positif bagi orang lain/lingkungan. Seperti yang dilakukan oleh orang-orang sukses mereka kemudian peduli kepada orang lain, menjadi dermawan dan merasakan hidup ini menjadi berguna dan juga bermanfaat. Life balance adalah kata yang tepat untuk kita saat ini dan di waktu mendatang.

Tahun 1999 & Tahun 2009 Dalam konteks Komunikasi

Oleh Erwin Parengkuan

Apa yang telah terjadi dalam satu dekade ternyata bisa memberikan dampak sangat signifikan dalam kehidupan kita khususnya dalam dunia komunikasi. Tahun 1999, ketika handphone berubah fungsi menjadi smartphone dari penemuan muktahir Blackberry (BB), ternyata telah membuat kebiasaan baru manusia untuk lebih mobile dan sangat “attached.” Waktu itu, kita melihat banyak orang yang tidak bisa lepas dengan HP mereka, ketika “demam BB” menjangkiti para penggunanya, terutama mereka yang sudah bekerja, semua orang sangat sibuk BB-an. Ada yang terbentur kaca lobby kantor karena terlalu fokus dengan gawai mereka, bahkan ketika meeting mereka malah tidak terkoneksi dengan peserta meeting, dan muncul anekdot tentang BB “mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.” Teknologi kemudian semakin berkembang, seiring dengan munculnya media sosial/beragam pertemanan virtual, mulai dari friendster, FB, IG, Path, Linkedin, dll telah mengakibatkan perubahan sangat besar dalam interaksi manusia dulu dan sekarang, termasuk menurunnya “attention spending” dari setiap individu.

1 dekade kemudian, seorang figur pemimpin baru dengan gaya komunikasi yang terbuka, lentur, dan fasih yaitu Presiden ke 44 Amerika Serikat Barrack Obama hadir. Sangat kontras dengan gaya pemimpin zaman Orde Baru yang kaku dan otoriter. Telah membuat semua pemimpin (di dunia ini) termasuk para bos di dunia korporasi ingin meniru gaya komunikasi seperti Obama. Semua orang menginginkan gaya komunikasi yang lebih terbuka seperti-nya, apalagi kedekatan secara emosi antara masyarakat Indonesia dengan Obama yang pernah melewati masa kecil di Jakarta, suka t bakso, sate dan nasi goreng membuat kita kemudian secara sadar mengindolakannya.

Tentu tidak mudah untuk merubah kebiasaan setiap orang, perlu kesadaran tinggi dan perlu “effort” yang besar. Merubah mental, sudut pandang, intonasi suara, pilihan kata-kata yang lebih “sejuk” dan bahasa tubuh yang terbuka dll adalah rentetan pekerjaan rumah yang harus dilakukan. Apalagi dalam seni berbicara, seseorang dituntut untuk dapat mengendalikan dirinya, agar menyelaraskan gaya komunikasi yang inginkan banyak orang, bukan sebaliknya.

10 tahun adalah rentan waktu yang telah merubah gaya komunikasi dunia modern saat ini. Dulu tidak ada warganet/netizen, dulu tidak ada orang-orang yang nyinyir, tapi sekarang dengan tekanan yang begitu besar dari media sosial membuat kita melihat banyak perkataan yang tidak pantas bersliweran di banyak timeline. Seseorang yang lebih muda bisa berkomentar buruk kepada mereka yang lebih tua, walaupun tidak saling kenal. Semua orang seperti lantas sangat ringan berceloteh, mengeluarkan isi perutnya. Sedangkan, contoh figur terbaik komunikator yang ulung macam Obama, hanya menjadi sebuah figur yang ideal.

Dulu, ketika Charles Darwin di abad 18 mengemukan tentang teori evolusi manusia dan menyebutkan tentang survival of the fittest, bahwa hanya mereka yang adaptif yang dapat bertahan hidup. Teori ini menjadi nyata dan sangat relevan setelah Covid-19 memporak-porandakan tatanan ekonomi dunia saat ini. Kita yang bertahan hingga saat ini adalah yang adaptif. Sehingga untuk semua orang, dituntut untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman, lebih terbuka akan input, terus bertumbuh dan bertumbuh.

>Pada awal bulan Maret 2021, perusahaan raksasa Microsoft membeberkan sebuah fakta bahwa negara kita memiliki tingkat komunikasi yang sangat buruk di media sosial. Dulu kita dikenal sebagai bangsa besar yang ramah, tapi sekarang yang paling julid (nyiyir/kasar). Dalam rentan waktu 10 tahun-pun, jati diri kita sebagai bangsa yang baik perlahan mulai runtuh, diikuti dengan komentar yang julid di situs media sosial Microsoft membuat perusahaan ini harus menutup aksesnya untuk sementara atas derasnya komen yang negatif atas fakta yang mereka sampaikan. Mendengar berita ini, saya pribadi sangat malu dan miris. Kemana masyarakat Indonesia yang ramah itu?

Mari kita bentuk (lagi) gaya komunikasi yang santun, ramah dan meyenangkan. Termasuk bagi para pemimpin di perusahaan agar dapat meninggalkan gaya otoriter mereka dan menciptakan garis yang horizontal bukan vertikal, agar setara dan selaras dengan siapapun. Mari kita juga tinggalkan ego dalam berkomunikasi, tinggalkan juga masalah kita ketika berbicara kepada siapapun. Agar dengan mudah kita bisa fokus kepada mereka yang kita ajak bicara. Ketika semua orang mempunyai kesadaran yang baik, tentu ini akan mengembalikan reputasi kita sebagai bangsa yang santun dan ramah. Mudah kok dijalankan.   

Acts of Service

Tidak ada satu manusia di dunia ini yang tidak suka dilayani. Ketika kita melayani lawan bicara kita, mereka merasa diistimewakan oleh kita dan kemudian relasi menjadi lebih erat. Dalam sebuah buku berjudul “Five Love Languages” karya Garry Chapman bahwa kita manusia mempunyai 5 bahasa cinta yang berbeda-beda. Salah satunya adalah Bahasa Pelayanan (acts of service). Buku ini sangat populer dan akan membantu setiap pembaca mengetahui bentuk cinta seperti apa yang diharapkan oleh lawan bicara kita/pasangan/anak/lawan bicara. Adapun 4 bahasa cinta lainnya adalah sentuhan, penghargaan, waktu dan hadiah. Buku ini diterbitkan di awal tahun 1992 dan sampai sekarang masih releven.

Saya akan fokus kepada judul tulisan ini, karena kita semua mempunyai tujuan yang sama untuk membangun sebuah hubungan yang harmonis, terlepas dari penjelasan 5 bahasa cinta diatas, tetap setiap orang ingin dilayani. Apalagi budaya Jawa yang sangat kental di Indonesia, dimana para leader yang masih bercokol di jajaran tinggi sebuah organisasi masih mengusung peninggalan budaya ini. Saya mengambil contoh dalam pekerjaan saya ketika salah seorang rekan yang merupakan pemimpin perusahaan berencana untuk menggunakan jasa kami untuk melatih para karyawannya, saya tidak serta merta memberikan tanggung jawab ini kepada team marketing di kantor. Karena saya yakin, rekan saya ini mempunyai ekspektasi keterlibatan saya dalam rencana kerjasama ini.

Kerap kali kita dihadapkan dengan situasi seperti ini, kapan kita harus melayani lawan bicara dll? Apakah lebih baik kita delegasikan kepada sekertaris, team atau orang lain? Ketika sebuah hubungan sudah terjalin baik seperti antara saya dengan rekan tersebut, sejatikan saya-lah orang yang paling tepat untuk melayani mereka. Ketika akhirnya pelatihan sudah berakhir-pun karena saya yang diminta untuk mengajarkan teamnya, saya langsung melakukan kontak dan menyampaikan penilaian saya atas proses belajar mengajar di kelas online tersebut. Rekan saya sangat puas dan team saya segera akan mengirimkan report hasil pelatihan tersebut. Jadi ada proporsi kapan bagian saya melayani, dibagian yang mana? Kapan team yang melakukan pelayanan sesuai dengan fungsi masing-masing.

Kita tentu tahu, banyak leader yang sukses mereka memiliki values yang sangat banyak. Values adalah nilai teguh/prinsip yang dipegang oleh seseorang dalam menjalankan kehidupan dan pekerjaannya. Dari dulu saya sangat disiplin, ini adalah contoh sebuah values, bila ada janji atau ucapan kepada orang lain saya selalu akan berusaha semaksimal mungkin untuk menepatinya dan bila ada hal yang tidak sesuai, sayapun orang pertama yang akan mengabarkan mereka. Begitupun mungkin hal ini dilakukan oleh anda. Semakin disiplin kita, semakin baik performa diri seseorang. Saya jadi ingat perkataan seseorang kepada saya ketika saya baru memulai karir “apapun yang kamu lakukan pasti akan sukses asalkan kamu turun tangan langsung.” Perkataan ini sangat menancap dalam ingatan saya dan menjadi salah satu values yang saya pegang erat-erat hingga saat ini. Tantangan dan godaan/distraksi yang saat ini kita hadapi memang begitu banyak, sehingga terkadang kita luput melakukan pelayanan. Seperti banyak orang berjanji ingin mengabarkan kita, tapi mereka tidak melakukannya. Atau yang paling mudah ketika kita berkomunikasi via tulisan ketika mereka membacanya, mereka tidak merespon kita. Ini adalah contoh kecil dari sebuah respon/pelayanan yang krusial menurut saya. Bila kita fokus kepada hal utama yang harus dijalankan, kita pasti akan bekerja lebih efektif. Sejatinya kita-lah yang paling bertanggung jawab untuk membuat diri kita lebih baik dari waktu ke waktu. Bila kita gagal, tidak ada (juga) satu orangpun yang akan lebih baik memotivasi diri kita selain kita sendiri. Kita memang dituntut untuk semakin hari semakin matang dan bijaksana. Kapan saatnya kita melakukan pelayanan yang tepat kepada orang lain, juga pelayanan kepada diri sendiri. Kapan kita harus lebih fokus kepada orang lain dan mengukur mana perhatian kecil,sedang dan besar yang penting harus dilakukan. Analisa ini menjadi mutlak menurut pendapat saya, agar hubungan harmonis dengan siapapun terbangun dengan perhatian dan pelayanan yang kita berikan menjadi berharga buat semua pihak, dan tidak berat sebelah. Disamping itu kita juga harus pandai dalam melihat hal-hal mikro maupun makro, agar kita tidak terjebak melayani hal yang kecil tapi ternyata itu tidak memberikan dampak yang signifikan dalam membangun relasi kita dengan siapapun.  

The impactful engagement through business

Oleh Fernando Edo


Bad PR. Iya, belakangan kata-kata ini menjadi alasan salah satu merk lokal menjadi viral. Namun kalau diperhatikan, bukan kali ini saja sebuah perusahaan mengambil Langkah yang kurang tepat dalam berkomunikasi entah itu untuk internal atau pesan tersebut untuk dikonsumsi orang banyak. Padahal mungkin maksud dan tujuan perusahaan adalah untuk menjaga kredibilitas suatu perusahaan, tapi sayangnya itu menjadi boomerang.


Di era sosial media ini, istilah pembeli adalah raja harus direvisi karena menurut saya selain kita layani pembeli dengan maksimal, kita juga harus bisa membina hubungan dengan mereka. Jadi saya ganti dengan Pembeli adalah Teman Baik. Layani mereka dengan tulus, jujurlah jika ada kendala dalam sebuah proses bisnis kita. Persaingan di semua industri bisnis semakin ketat, semua menawarkan harga yang terjangkau dan produk atau jasa yang terpercaya. Namun,menurut penulis ada satu kata kunci dalam berbisnis, Bagaimana anda sebagai penjual berkomunikasi dengan pembeli.

Beberapa waktu lalu, saya membeli earphone di toko online dan cukup terkejut Ketika membuka kemasan ada secarik kertas dengan bunyi seperti ini :


Dear Kakak, terimakasih sudah berbelanja di toko aku semoga barang yang kakak beli awet ya. Oh Ya, adik sangat berharap kakak dapat memberikan bintang 5 jika barang yang kakak pesan sesuai dengan pesanan ya. Salam hangat, adik tercinta.


Wow, sebuah cara dalam mencari pelanggan setia bisa dilakukan dalam hal yang sederhana.

Saya juga teringat, beberapa tahun lalu makan di hotel bintang 5 dengan konsep “fine dining”.

Pada saat meminta waiters untuk menaburkan lada di potongan daging saya, ternyata yang ditaburkan adalah garam dan itu memang cukup merusak rasa dari makanan saya. Saya kembali memanggil waitersnya dan ia meminta maaf lalu diganti dengan yang baru. Selang beberapa menit, datang Manager Restaurant Kembali meminta maaf dan memberikan potongan harga atas kesalahan tim nya sambil menanyakan apakah ada yang kurang dari segi pelayanan dan makanan?. Jika memang ada sebuah kesalahan, akui dan minta maaf lah dengan tulus. Pembeli pasti akan dengan senang hati memaafkan dan melupakan kesalahan penjual apalagi disertai dengan potongan harga.


Berkaca dari pengalaman itu, sebuah masukan atau saran adalah hal sangat berharga dari sebuah bisnis. Karena sebagai penjual, harus memiliki cara pandang seorang pembeli dan bukan mempertahankan sudut pandang lalu seakan sebuah saran menjadi citra buruk bagi suatu bisnis. Sebuah bisnis dapat berdiri dan bertahan karena pelanggan yang selalu datang dan sudah memiliki ikatan emosi dengan sebuah layanan yang prima. Apakah anda sudah memiliki cara berkomunikasi yang baik dalam berbisnis ? apakah anda sudah melayani pelanggan anda layaknya “one of your best friend” ?