Leadership from Within

Oleh Erwin Parengkuan

Pernah mengagumi bagaimana seorang pemimpin yang bijak memimpin perusahaannya dan membawa setiap orang bertumbuh secara kepribadian dan keahlian? Sehingga perusahaan tersebut dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Kalau saya amati seorang leader yang benar harus memiliki 2 kualitas utama yaitu menjadi mentor yaitu seseorang yang melatih dan memberikan instruksi, juga harus berfungsi sebagai coach yang membantu setiap teamnya memiliki kesadaran akan fungsinya di pekerjaan dan secara terus menerus melakukan pendampingan yang dapat membantu anggotanya mempunyai motivasi yang besar untuk terus meningkatkan kapasitas diri.

Dari penjelasan di atas, kita tentu sekarang dapat melihat di sekeliling kita, mana pemimpin yang memiliki kualitas yang benar sebagai seorang mentor dan coach. Menurut pandangan saya, seorang pemimpin yang benar bila kita ingin liat kualitas pribadinya, harus kita cek apakah ia di rumah dapat juga menjadi pemimpin yang baik? Kenapa? karena bila seseorang tidak dapat memimpin masyarakat yang paling kecil yaitu keluarganya sendiri, rasanya sulit seseorang dapat menjadi pemimpin dikantornya. Kalau memimpin anak sendiri tidak sanggup, bagaimana bisa memimpin anak orang lain yang tentu berbeda pemahaman, kebiasaan dan kultur?

Dari pengalaman yang beragam bertemu para pemimpin hebat dalam pekerjaan saya sebagai public speaking coach, sering kali sesi berlangsung di rumah mereka, saya kemudian dengan seksama mengamati pola komunikasi mereka dengan semua anggota keluarganya. Ada yang terasa sangat harmonis, ada yang memang terlihat kaku/otoriter, atau terlalu baik. Leader yang benar menurut saya mutlak untuk dapat mengendalikan diri dan ego-nya. Seorang kawan, bercerita tentang seorang leader besar.

Yang ia lihat dirumahnya sangat tempramental dan tidak sabaran. Untuk hal-hal kecil saja, ia dapat menggebrak meja karena sambal yang ditunggu di meja makan belum juga datang. Leader besar ini-pun ternyata diluaran sana sama saja perangainya. Pemarah dan terlihat dari ekspresi wajahnya bila tidak suka dengan sesuatu/seseorang.

Wajahnya memerah, memendam perasaan marah dan itu tertangkap dari ekspresi wajahnya. Saya lantas mencari beberapa nama yang sukses sebagai pemimpin di kantor juga sukses memimpin keluarganya. Seperti Nelson Mandela, Obama, John C. Maxwell, Anthony Robbins dst. Margaret Thatcher tidak sukses mendidik anaknya yang kembar, Bill Clinton tidak sukses di dalam rumah, juga banyak leader/pemimpin di negara ini.

Sebuah istilah : work-life balance yang sudah lama ada ternyata kurang tepat menurut saya, karena hanya mementingkan pekerjaan terlebih dahulu baru keluarga. Mungkin ini juga yang membuat para pemimpin menjadi miss-leading, fokus kepada pekerjaan tapi mengabaikan keluarganya. Yang lebih tepat adalah life-balance. Seorang leader sejatinya harus memiliki kesimbangan hidup, di kantor, di keluarga termasuk waktunya untuk diri sendiri. Memang sulit untuk melihat bagaimana seseorang pemimpin melakukan interaksi bersama keluarganya. Yang kita lihat biasanya hanya sebuah pencitraan di media sosial, terlihat akur dan bahagia. Sejumlah ahli psikolog mengatakan bila seseorang kerap menggumbar keharmonisan keluarganya kemungkinan besar yang ditampilkan justru bertolak belakang dengan kenyataannya.

Leader yang benar tidak fake melainkan natural dimanapun mereka membawakan diri. Bagaimana kita tahu bahwa seorang leader menjalankan fungsinya di pekerjaan sama dengan yang ia lakukan dirumahnya? Cara termudah adalah mengamati dengan seksama bagaimana mereka berinteraksi dengan orang terdekatnya. Entah itu dengan jajaran paling bawah, office boy, satpam, cleaning service. Karena kalau dengan lapisan yang paling bawah di kantor saja sudah ada respect dengan mereka, bisa jadi dirumahpun sama perilakunya. Beragam cerita para pembantu rumah tangga/supir ketika sudah tidak bekerja pada sang majikan mengumbar cerita di sosial media/pers tentang bagaimana mereka diperlakukan.

Walaupun ini belum tentu 100% benar karena kita hanya mendengar hanya dari satu sisi. Bagaimana-pun juga, ini adalah sebuah “tanda” yang dapat menjadi “perhatian” kita. Ada juga leader yang sangat perhatian dan baik, tapi apakah leader dengan kualitas tersebut dapat menjalankan disiplin di rumah dan kantornya kalau terlalu baik? Atau leader yang hanya “sugar coating” alias acting, agar telihat perhatian ternyata itu hanya sebuah rekasaya? Bagaimana cara mengetahuinya? mudah, perhatian mimik wajah mereka, tekanan suara mereka, pergerakan bibir dan mata, bahasa tubuh mereka. Anda tentu dapat merasakan apa itu dibuat atau asli.

Jadi kesimpulan saya, seorang pemimpin yang benar adalah pemimpin yang menjalankan fungsinya dengan baik di rumah dan di kantor. Menjadi pendidik juga pengawas, menjadi motivator juga penghibur, dan menjadi lembut juga tegas akan prinsip-prinsip utama yang harus dijalankan. Bila anda ingin tumbuh sebagai pemimpin yang benar, mulailah dari rumah, hargai orang-orang disekelilingmu. Everything start from small.

Public Speaking Bukan Sebuah Retorika

Oleh Erwin Parengkuan

Dalam sebuah sesi webinar saya diminta oleh sebuah universitas di Jakarta baru-baru ini untuk berbagi tentang materi public speaking. Banyak sekali audiens saya ratusan mahasiswa dari berbagai jurusan dan semester, menunjukkan ketertarikan mereka untuk mengetahui rahasia berbicara menarik di depan publik. Saya membuka sharing saya seperti judul ini. Mendengar kalimat pembuka saya, banyak mata yang terbelalak dan penasaran akan penjelasan saya selanjutnya. Sebelum saya jabarkan lebih lanjut, kenapa mereka terkejut? Karena dunia sekarang yang penuh retorika yang diamini oleh para generasi muda ( generasi Z) dimana mereka kerap bicara dengan lantang dan kalau kita perhatikan minim makna dan sering juga kita membaca caption yang mereka tampilkan di timeline begitu tegas tapi bila kita berjumpa dengan mereka ternyata pribadinya sangat pendiam. Betul bahwa komunikasi itu memerlukan konten yang berbobot tidak hanya berani bicara.

Habisnya kata-kata dalam ucapan sama saja seperti kendaraan tanpa bensin, roda tidak bisa berputar dan tujuan kita tidak akan kita sampai. Sayangnya banyak orang hanya berkoar-koar tanpa bobot. Dan sekarang semakin banyak kita jumpai baik secara langsung maupun bertembaran di media sosial. Kemana konten yang berkualitas yang dapat memberikan pengaruh besar dalam menciptakan perspektif baru, membuat audiens berpikir dan bertindak? Dalam kami membuka setiap sesi tentang komunikasi terdapat 5 hal penting yang harus dikuasai para komunikator kalau mau dibilang ulung. Pertama mereka harus dapat memberikan manfaat, kedua bicara harus runut, ketiga harus jelas tujuannya, keempat tidak boleh terburu-buru dan yang terakhir harus tidak boleh kepanjangan apalagi bertele-tele. Apakah anda sudah menguasai konten anda dengan baik?

Ketika saya memulai sesi pertama kelas online public speaking, alasan pertama soal memberikan manfaat dalam berkomunikasi saya sampaikan dan jelaskan secara terperinci kepada para peserta dan saya berhenti di alasan pertama itu serta meminta mereka mempersiapkan materi bicara dalam waktu 2 menit, sesi kemudian berlangsung dengan memberikan waktu 15 menit untuk mereka mempersiapkan konten apa yang akan mereka sampaikan hingga dapat memberikan manfaat. Apa yang terjadi selanjutnya? Semua peserta dapat tampil dengan memberikan manfaat kepada pendengarnya. Artinya, bila sebuah komunikasi dapat dipersiapkan dengan matang, tentu semua orang dapat bicara dengan bobot yang tepat. Persiapan adalah mutlak, sama seperti kalau kita akan pergi berlibur, semakin matang persiapan kita akan semakin baik perjalanan dan tempat yang akan kita kunjungi. Bila persiapan tidak matang baik, jangan harap perjalanan liburan akan menyenangkan.

Bicara yang baik juga mewakili jati diri kita, mewakili kultur, budaya kita, termasuk keluarga kita, tempat dimana kita bekerja dan tentu mewakili jati diri kita sebagai bangsa Indonesia. Saya masih ingat sebuah kasus komunikasi yang “asal bunyi” tanpa dipikirkan dampaknya terjadi beberapa tahun silam. Ketika seorang mahasiswa di sebuah kota di pulau Jawa yang mengumpat dengan kata-kata kasar karena pelayanan di pom bensin tidak membuatnya senang, lantas anak ini mencaci maki ditimelinenya. Dan warganet langsung murka untuk mencari siapa anak ini. Mulai dari siapa dia, kuliah dimana, suku apa dll. Kesadaran dalam berkomunikasi juga menjadi landasan penting yang selalu harus dipahami oleh setiap orang. Bila kita asal bicara di jagat maya, tentu masyarakat dunia akan mencari juga siapa pemilik akun tersebut dan dari negara mana ia berasal.

Mulai sekarang marilah kita tingkatkan kesadaran diri tentang peran kita di lingkungan juga menjaga reputasi bangsa, lakukan riset akan data yang tepat dan berbobot tidak lupa menyampaikannya dengan menarik dengan menggunakan pilihan bahasa yang baik dan santun. Ketika hal ini terus kita lakukan tentu akan meningkatkan reputasi diri dan citra yang positif diantara begitu banyaknya orang-orang yang asal bicara tanpa bobot.

Living with Conscious & Unconscious Mind

Dalam sebuah sesi dengan para leader di perusahaan telekomunikasi dimana mereka mendapat tekanan dari kantor pusat untuk segera melakukan perubahan yang cepat agar dapat bersaing dengan para kompetitornya, terlihat wajah mereka yang sangat tidak relax, stress dan bahkan bingung. Sedangkan sesi yang akan berlangsung seharian ini merupakan sesi kelanjutan dari sesi 3 bulan sebelumnya. Tentu akan sulit buat saya ketika memulai sesi tanpa melakukan “interaksi” tentang apa yang mereka rasakan dimana ini sangat berbeda dengan kondisi 3 bulan yang lalu. Head of HR mereka kemudian membuka dengan kalimat “kita harus segera transformasi besar-besaran.” Pesan kuat ini mengkonfirmasi wajah-wajah mereka yang tegang itu.

Setelah melakukan interaksi dan menemukan fakta yang mereka hadapi, saya kemudian menyampaikan tentang bagaimana manusia beraksi dan bertindak dari semua tantangan yang mereka hadapi. Semua tentu bermula dari sebuah kesadaran (conscious) atau ketidaksadaran seseorang (unconscious) akan apa yang dialami. Termasuk dapat segera bertindak agat dapat dengan cepat keluar dari situasi yang dialami dan melakukan perubahan yang cepat agar kondisi yang ada dapat diatasi.

Kesadaran atau ketidaksadaran kita tentu berawal dari bagaimana seseorang dapat mengendalikan pikirannya dan mengetahui dengan jelas fungsi otak bekerja dan memaksimalkannya dengan frekuensi yang baik secara sadar maupun tidak sadar. Untuk hal-hal yang berhubungan dengan kesadaran diri seseorang meliputi 3 komponen penting frekuensi otak yaitu: Gamma (a-ha moment), Bheta (work) dan Alfa (relaxing). Ketiga komponen ini akan membantu seseorang untuk dapat menganalisa dan mengaktifasi hal mendasar apa yang harus mereka lakukan. Contoh ketika seseorang bicara dengan menarik, cara penyampaiannya, emosinya, datanya tentu akan menciptakan a-ha moment yang membuat lawan bicara tertarik dan memperhatikannya dengan seksama. Bheta adalah hasil upaya yang dilakukan oleh setiap orang untuk kinerja yang datang dari frekuensi Gamma (a-ha moment). Sedangkan untuk menghasilkan Gamma dan Bheta kita perlu Alfa yaitu perasaan yang tenang tanpa tekanan.

Ketika saya menyampaikan 3 komponen ini terlihat ekspresi para leader di kelas berubah, lebih sadar dan seperti mendapatkan “pencerahan.” Beberapa yang saya dekati terlihat pupil mata mereka membesar. Saya mengatakan bahwa kendali diri tentu akan menciptakan kesadaran kita dengan waktu yang kita punya saat itu (right here right now) atas langkah-langkah yang harus dilakukan seseorang. Apakah solusi yang mereka lakukan sesuai dengan analisa yang tepat, dari hasil yang tepat tanpa terburu-buru untuk menghasilkan kinerja yang mengagumkan? Tidak semua orang mempunyai kemampuan yang sama dalam mengendalikan dirinya yang datang dari masing-masing frekuansi itu. Apalagi dalam kita berkomunikasi karena kita selalu dituntut untuk tidak hanya menyampaikan sebuah materi yang menarik (a-ha moment) tapi juga dapat menyampaikan pesan yang lengkap mulai dari suara, kata-kata, cara berpenampilan sampai bahasa tubuh. Sehingga dapat memberikan manfaat kepada lawan bicara. Dalam hal ini, para leader dikelas (memang) dituntut untuk menghasilkan hasil kerja yang berbeda dari yang pernah mereka lakukan sebelumnya sehingga bisa keluar dari tantangan besar yang mereka hadapi.

Frekuensi otak lainnya juga sangat besar pengaruhnya yang datang dari alam bawah sadar kita. Yaitu Theta (dreaming) dan Delta (dreamless sleep). Artinya hal apa yang diyakini oleh seseorang sebelum  bertindak merupakan “buah” dari alam bawah sadar mereka. Kalau kita menyakini hal yang akan kita lakukan itu sulit tentu halnya akan sama sulitnya. Lain bila kita menyakini ini mudah, tentu hasilnya akan berjalan dengan mulus. Kemampuan menggabungkan kelima frekuensi ini harus seimbang, dipakai dengan tepat tidak boleh hanya 1 atau 2 saja karena tidak akan menghasilkan hasil yang maksimal.

Seseorang yang hanya fokus ke frekuensi Theta (dreaming) dan Alfa (relaxing) akan membuatnya tidak bisa fokus karena tidak ada Bheta (work) yang mereka lakukan. Seseorang yang berbicara dengan tubuh yang bergerak-gerak, pandangan mata yang tidak menyapu audiens secara menyeluruh tentu juga menjadi contoh konkrit bila seseorang tidak sadar. Di semua kelas yang selalu kami adakan ketidaksadaran dalam mengendalikan bahasa tubuh memang sangat terlihat. Ketika ditanya “kamu sadar tidak ketika bicara tangan kamu menunjuk ke audiens? Kamu sadar tidak kaki kiri kamu tadi bergerak tanda kamu gugup?” Semua jawaban dari peserta mengatakan mereka memang tidak sadar. Nah ketidaksadaran ini kalau kita lihat dari pikiran manusia terjadi atas frekuensi-frekuensi yang dikeluarkan oleh Theta maupun Delta. 2 frekuensi ini yang ada dipikiran manusia membuat kita tidak sadar. Lebih parahnya ketika frekuensi Delta terlalu besar, tentu tidak akan dapat berbicara dengan menarik. Misalnya karena kita punya mental yang negatif, mental yang tertutup (mental block) dalam diri kita, apa yang kita katakan dalam diri kita (self talk) akan mempengaruhi kesadaran kita, apa yang kita katakan dalam diri itu akan langsung membentuk fodasi yang semakin membesar, mengakar dan semakin sulit dilepaskan.

Kita perlu teknik khusus yaitu mulai memandang semua hal yang kita alami adalah baik, untuk sebuah kebaikan, semua hal positif, mengganti kata masalah dengan tantangan dll adalah sebuah teknik sederhana untuk mengantikan kata negatif menjadi kata positif. Semua bisa kita lakukan kalau kita mau, mau artinya berpikiran terbuka melihat sebuah perubahan yang begitu cepat menjadi sebuah rencana kerja yang harus dilakukan dengan terus menerus dengan mengaktifkan frekuensi Alfa, Bheta dan menghasilkan Gamma. Ketika berbicara dengan lawan bicara yang negatif kita akan melihat ekspresi wajah yang tidak menyenangkan, tekanan suara yang mengintimidasi, apalagi mendengar pilihan katanya. Bila semua orang frustasi dan stress tentu siapapun tidak akan dapat berkomunikasi dengan menarik. Boro-boro akan membuat orang bertindak, melihatnya saja kita tidak selera.

Mengendalikan alam bawah sadar, subconscious adalah mandatory, semua orang mempunyai kekuatan yang sama dalam dirinya, siapapun mereka untuk menjadi versi terbaik dari dirinya. Kita harus membereskan alam bawah sadar kita untuk mempunyai  a positive fixed mindset sehingga dengan membereskan Delta, kita bisa memperbesar dreaming (Theta) dalam melihat hal positif yang akan kita dapatkan di hari ini dan esok. Asalkan diimbangi dengan perasaan relax (Alfa) dan terus bekerja (bheta) sehingga kita dapat menjadi pribadi yang menarik (Gamma) membuat orang suka dengan kita.

Bayangkan betapa menyenangkan perjalanan yang akan kita lewati ini. Uraian yang saya sampaikan, juga saya bagikan kepada para leader di kelas itu. Mereka bisa lebih sadar untuk mengaktifkan frekuansi yang mana dalam membuat kemampuan komunikasi menjadi lebih tepat. Karena kita semua memiliki hak dan kompetensi yang sama untuk bahagia dan memaksimalkan kesadaran dan ketidaksadaran kita untuk terus menjadi yang terbaik dengan tombol-tombol frekuensi Gamma, Bheta, Alfa, Theta dan juga Delta.

Kemampuan menulis meningkatkan cara berpikir kritis

Oleh Erwin Parengkuan

Dalam sebuah tulisan di surat kabar kemarin, seorang pengamat politik mengungkapkan pendapat dan analisanya tentang pernyataan Presiden atas kedua Menterinya yang kedapatan telah melakukan praktik korupsi. Dalam tulisan tersebut dibahas oleh sang penulis, kalimat yang telah diucapkan Presiden dan uraian tentang maknanya. Bahwa sebuah pernyataan yang disampaikan oleh seorang pemimpin negara atau kita sebagai seorang komunikator akan menjadi penilaian publik terhadap pesan yang disampaikan, mulai dari ; maknanya, tekanan dalam pesan tersebut, serta peran seseorang dalam menyampaikan sebuah pesan. Terlepas dari penyataan Presiden, bahwa pesan tersebut dinilai kuat atau tidak berdasarkan jabatan seseorang, bahwa saya telah menangkap sebuah pemaparan yang jelas tentang komunikasi publik harus disampaikan selaras dengan fungsi kerja seseorang. Seperti judul artikel ini bahwa kemampuan seseorang berkomunikasi tentu tidak terlepas dari seberapa Ia mahir  berbicara berdasarkan jumlah kosa kata, wawasan yang dimiliki dan peran yang diembannya.

Layaknya sebuah bahan baku yang banyak, itulah analogi yang dapat dipakai untuk memperjelas kemampuan seseorang dalam berbicara. Semakin banyak kosa kata yang dimiliki seseorang tentu akan meningkatkan kemampuan berbicara yang lebih lancar, dan harusnya hal itu juga diikuti dengan berkembangnya pengetahuan dan wawasan yang terus ditingkatkan. Latihan, latihan dan latihan menulis adalah kuncinya yang akan meningkatkan bobot dari tulisan kita dan semua itu berasal dari kemampuan berpikir secara kritis yang telah dimiliki seseorang. Ketika paragraf pertama dari tulisan ini anda baca, anda juga telah mendapatkan sebuah pandangan tentang sebuah makna dari sebuah tulisan.

Bagaimana cara kita untuk dapat terus meningkatkan kemampuan menulis yang berdampak kepada kemampuan otak berpikir secara kritis? Tentu perlu kecepatan berpikir dan kreativitas, dimana semua yang kita miliki terdapat dalam sebuah mesin kecerdasan yaitu otak kiri, otak kanan, limbik kiri dan limbik kanan. Untuk itu, mulailah sekarang meningkatkan kemampuan menulis anda, dari apa yang kita pikirkan dalam menjawab pertanyaan atau penyampaikan gagasan melalui email, WA, dll. Pikirkan terlebih dahulu tujuan yang akan kita sampaikan, apakah sifatnya hanya sebagai pengingat, atau mempertajam kata/pesan kepada seseorang melalui tulisan yang kita buat dan apa peran kita dalam menuliskan pernyataan tersebut? Analisa lagi apakah tulisan yang telah anda buat sesuai dengan gaya kita? Sesuai dengan tugas/jabatan kita?

Beberapa panduan berikut ini bisa membantu anda menyelaraskan bobot tulisan anda. 5 tahap yang dapat anda lakukan:

1. Observing

Amati tulisan yang sudah anda buat, lihat beberapa gaya penulisan yang bertebaran dimana-mana dan tentukan gaya tulisan anda. Serius, jenaka? Monoton? Carilah contoh sebuah gaya tulisan yang paling anda suka. Pilih beberapa penulis favorit anda.

2. Habits of mind

Cerna cara pola pikir anda sehari-hari. Apakah selalu mudah menerima sebuah pesan? kritis? Skeptis?

3. Questioning strategies of writing

Setelah anda mulai menulis, tanyakan apakah ini yang memang benar ingin anda paparkan dalam tulisan anda? Apa “irama” dalam tulisan itu.

4. Use evidence

Tentu menggunakan data terbaru yang valid untuk memperkuat bobot tulisan anda. Jangan biarkan asumsi mempengaruhi tulisan anda.

5. Evaluate thinking and writing goals

Setelah selesai anda membuat tulisan itu, baca kembali, cerna apakah sudah benar-benar tepat.

Sayapun terus menganalisa tulisan-tulisan yang telah saya buat, dengan kelima proses diatas. Dengan banyaknya buku yang saya baca dari berbagai macam disiplin ilmu, saya akan kembali mencerna semua kata yang saya dapatkan kemudian saya biarkan “mengambang” di kepala saya untuk beberapa saat, baru kemudian saya buat plotnya untuk siap menulis. Semakin rutin saya menulis, semakin cepat jari-jari saya menari-nari di tuts Ipad saya. Proses ini terus mengalir dari apa yang ada dalam pikiran dan gagasan ke gaya tulisan saya. Biasanya, artikel seperti ini membutuhkan waktu penulisan selama 30 menit, kalau dulu saya memerlukan waktu sampai 2 jam lebih. Buat saya ketika artikel telah selesai, cukup 3x membaca ulang sebelum dipublikasi. Proses yang saya lewati ini, telah menciptakan sebuah formula yang menjadi panduan saya tidak hanya dalam menulis tapi juga dalam berbicara di depan publik.

Strategi 4 Tipe Kepribadian dengan 5 Indra Manusia di dalam komunikasi

Oleh Erwin Parengkuan

Seperti yang saya tulis dalam buku Understandinc People, Strategi Taktis Berkomunikasi Berbagai Kepribadian-2017, Gramedia Pustaka Utama, di dalam komunikasi bahwa ada 4 tipe kepribadian manusia berdasarkan teori Hippocrates dengan 4 istilah yang saya rubah menjadi: Gesit, Kuat, Rinci dan Damai. Gesit adalah pribadi yang terbuka, extrovert feeling, ceplas-ceplos dan menyukai tren terbaru, sedangkan si Kuat adalah extrovert thinking, yang pemberani, pantang mundur dan to the point cenderung kaku. Si Rinci adalah introvert thinking yang sangat cinta keindahan dan detail, berbicara sangat terstruktur dan cenderung panjang, dan yang terakhir, si Damai yang cinta ketenangan, hidupnya sangat normatif, anti konfrontasi dan introvert feeling.

Keempat kepribadian ini, pada dasarnya ada dalam diri setiap orang, tergantung urutannya. Contohnya saya urutan kepribadian adalah: Gesit, Rinci, Damai dan Kuat. Dalam kurun waktu tertentu, berdasarkan pekerjaan dan lingkungan urutan ini bisa berubah dan tentu berdampak dalam kemampuan seseorang berinteraksi. Sesuai judul tulisan saya di atas bahwa ke empat tipe kepribadian ini sangat berhubungan dengan 5 indera kita, pengelihatan, pendengaran, rasa/kinestetik, penciuman dan pengecap. Contoh dalam memilih makanan, si Gesit akan tertarik oleh sesuatu dengan tampilan menarik, unik dan kekinian, sedangkan si Rinci akan sangat memilih berdasarkan rasa yang tepat dan penyajian yang sempurna, si Kuat tidak mementingkan semua yang diminati oleh si Gesit dan si Rinci, buatnya makanan yang penting mengenyangkan, sudah cukup. Dan si Damai, apapun makanannya rasa menurut mereka hanya ada 2 yaitu enak dan enak banget. Itu baru urusan makanan, belum yang lain.

Bagaimana dengan Indera pengelihatan yang memberikan dampak besar pada kesan pertama yang bekerja di bawah 8 detik? Si Kuat menginginkan seseorang yang dijumpainya meyakinkan, cara berdiri yang PD, suara yang lantang. Bila si Rinci menginginkan penampilan seseorang harus rapih, profesional, sepatu bersih, dan dokumen lengkap. Bila di Gesit menginginkan gaya komunikasi yang terbuka, penampilan harus trendy, suara berirama, dan sangat dinamis. Sedangkan si Damai tidak menginginkan sesuatu yang berlebihan, penampilan sesuai sudah cukup, suara tidak berlebihan, suasana yang tenang itu yang akan membuat mereka nyaman. Sedangkan untuk si Gesit dan Damai, yang feeling, menginginkan semua yang anda sampaikan berdasarkan feeling bukan logika berpikir. Kebalikannya buat yang thinking seperti si kuat dan rinci, sangat mengutamakan logika berpikir, analisa, dan data yang kuat dan jelas.

Dari penjelasan saya di atas, sudah sangat jelas, bahwa kita dengan tendensi kepribadian yang dimiliki akan menggunakan pengukuran kepribadian ini dengan Indera yang paling besar pengaruhnya untuk kita. Bila orang yang kita jumpai masuk kategori Feeling, maka yang tepat adalah memasukkan unsur yang sama feeling/rasa juga kepada mereka, dengan pilihan makanan yang sesuai, tempat pertemuan yang sesuai, gaya yang sesuai dengan yang mereka minati. Akan sangat bermasalah bagi mereka yang tidak memperdulikan analisa/mapping seperti ini, seseorang dipastikan akan gagal dalam membangun relasi bila kita lalai melakukan mapping dan profiling dengan lawan bicara. Contoh lainnya, Indera penciuman buat si Kuat menjadi tidak penting, juga buat si damai, tapi bagi si Gesit ruangan harus punya aroma tertentu, begitupun dengan si Rinci yang akan memikirkan aroma terapi yang di sesuaikan dengan suasana siang atau malam.  

Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan melakukan sesi coaching dengan CEO perusahaan yang usia beliau mirip-mirip dengan saya, sangat thinking, campuran di Kuat, Rinci, Gesit dan Damai. Saya sudah investigasi profilenya dan mendengarkan banyak informasi dari pihak internal perusahaan tersebut. Ketika sesi di mulai saya memintanya untuk mengisi form assessment test kepribadian. Ketika beliau mengisi, saya pun sudah mengukur urutan kepribadiannya, yang kemudian hasilnya tepat seperti analisa saya. Sesi berjalan banyak diskusi dan semua memang merujuk pada analisa berpikir beliau yang sangat kuat dan detail, terkadang terjadi argumentasi dan saya menjawabnya dengan data terbaru yang saya miliki. Bila saya tidak melakukan maping yang benar dengan investigasi, bisa dipastikan saya akan mengalami kegagalan dalam sesi tersebut. Ketika terjadi argumentasi, saya tahu, tidak boleh menggunakan feeling/kinestetik ketika berhubungan dengan figur seperti ini. Suara lebih saya naikkan, bahasa tubuh harus tegak dan meyakinkan untuk dapat “di beli” olehnya. Jadi tulisan saya kali ini, ingin mengingatkan anda bahwa ketika kita menjadi relasi dengan siapapun, pentingnya juga mempelajari peta lawan bicara, tidak hanya kepribadiannya semata, urutan kepribadiannya, termasuk mengetahui indera mana yang paling utama menjadi perhatian mereka, sehingga interaksi kita dengan mereka menjadi sejalan, selaras dan dapat memberikan dampak positif seperti yang kita harapkan, ini adalah jurus kunci sebuah strategi sukses berkomunikasi. Sayapun setelah sesi coaching berakhir sangat senang karena merasa sukses “menaklukkan” coachee saya yang kaku nan penuh wawasan, ketika sesi berakhir beliau bertanya kepada saya “sudah berapa buku yang kamu baca?”   

WhatsApp Online Chat Support