Materi favorit di kelas Public Speaking batch 18 TALKINC

Tujuan melanjutkan kelas Public Speaking setelah Elementary kelas adalah agar bisa melatih dan berlatih public speaking yang lebih efektif, yang mengena ke sasaran. Selain itu harapan saya adalah dapat lebih mengenal type yang tepat dan sesuai dengan karakter dan gaya bicara saya, yang cenderung suka menambhakan “bumbu” saat berbicara. Diakhir sesi ke 7, saya dapat melihat kecendrungan saya dan semakin menyadari kecendrungan ini serta berusaha lebih mawas diri.

Materi favorit saya adalah Practice Makes Perfect yang dibawakan oleh Lala Tangkudung. Materi ini menarik buat saya karena selain kita melatih diri kita, selama sesi kita juga bisa mengamati kreatifitas teman-teman saat melakukan praktek. Saat pengamatan kita juga jadi terpacu untuk menjadi kreatif dan juga menyesuaikan beberapa point yang tadinya ingin kita sampaikan atau yang tidak ingin disampaikan. Saya juga lebih mawas mengenai beberapa point yang perlu saya perbaiki seperti verbal filler, bridging dan juga tone suara saya terutama saat blank.

Saat kelas, Mba Lala juga sangat memperhatikan praktek tiap peserta dan memberikan tips untuk memudahkan ataupun memberikan masukan mengenai bagaimana sebaiknya presentasi dan praktek yang lebih pas bagi masing masing peserta. Tone dan pace suara juga diperhatikan selain dari posisi ke kamera dan interaksi kepada audience. Meskipun saat kelas dengan topik ini pembahasan teori tidak terlalu banyak dan merupakan ringkasan dari kelas sebelumnya, tapi sangat berguna untuk refresh ingatan mengenai topik-tpoki sebelumnya.

Hal yang sangat mengena adalah mengenai pentingnya Punch line saat di bagian closing, karena selama ini setiap bagian closing saya hanya terbiasa menggunakan summary dan rekap. Punch line yang mengena akan meninggalkan kesan yang bisa selalu diingat oleh para peserta. Materi di kelas ini juga sangat berguna untuk digunakan di setiap sesi praktek karena merupakan gabungan dari materi kelas sebelumnya dan sesi pengingat yang pas.

Ethos, Logos & Pathos

Oleh Erwin Parengkuan

3 istilah dari bahasa Yunani ini secara langsung dan tidak, pernah/sering kali kita gunakan dalam berinteraksi sehari-hari bahkan sampai dalam konteks bisnis/penjualan.

Mari kita bahas artinya masing-masing:
Ethos adalah sebuah kredibilitas yang dimiliki seseorang/organisasi dalam menjalankan perannya, termasuk dalam menciptakan brand awareness, brand loyalty, brand credibility dan social validation. Seseorang yang memiliki Ethos yang kuat, dapat dengan mudah menyampaikan pesan mereka dengan percaya diri sehingga akan sangat meyakinkan dengan apa yang mereka ketahui dari berbagai informasi/keahlian yang dimilikinya dan mudah dengan cepat memperoleh “trust” dari lawan bicara seiring dengan hasil kerja yang sudah terbukti dan diakui oleh lingkungan.
Logos adalah cara penyampaikan yang dilakukan dengan logis/rasional, diterima dengan struktur yang selaras dengan tujuan komunikasi, tidak membingungkan dalam penyampaikan pesannya, tuntas tidak menimbulkan tanda tanya oleh lawan bicara. Termasuk dapat menampilkan data pendukung yang akurat dengan pendekatan yang sesuai, entah itu mulai dari memberikan perbandingan, melakukan analogi agar hal teknis yang disampaikan dapat diserap dengan baik termasuk menggembangkannya dengan menggunakan pendekatan metafora.

Pathos adalah melakukan penjelasan dengan alur bercerita yang dapat menggerakkan emosi lawan bicara, menampilkan kutipan dari figur ternama (misalnya) dengan pemilihan kata yang jelas dan menampilkan nilai-nilai penting yang berlaku secara umum.

Ketiga aspek ini menjadi fundamental dalam seseorang berbicara, berinteraksi dan mempengaruhi lawan bicara dan mengajak lawan bicara untuk dapat memahami apa yang akan disampaikan agar jelas diterima dengan baik dengan alasan yang dapat diterima. Walaupun istilah ini sudah ada sejak zaman Romawi kuno yang diciptakan oleh seorang filsuf terkenal Aristoteles dengan pengetahuan, keahlian dan sudut pandangnya yang luas mulai dari logika, fisika, metafika, komunikasi, biologi, politik dll dengan kemampuannya yang sangat mumpuni dalam 3 aspek tersebut (tetap) masih powerful hingga saat ini karena melibatkan logika, rasa dan kemahiran dalam berkomunikasi.

Dalam keseharian kita, ketika kita berbicara apakah anda masih sering kesulitan mengartikulasikan pikiran kedalam kata-kata? Sering kali saya melihat seseorang berbicara banyak sekali pemilihan kata yang tidak tepat digunakan. Seperti penggunaan kata yang ambigu (kalau tidak salah, mungkin, ee..ee, kayaknya dll) atau informasi yang diberikan sangat umum. belum lagi alur yang tidak runut dan terarah. Dalam tujuan mempengaruhi lawan bicara, pengetahuan, bobot materi yang disampaikan harus yang terbaru termasuk kekayaan dalam memiliki kosa kata yang beragam.

Ketiga istilah ini bila dimiliki oleh seseorang, ia akan mampu dengan mudah melakukan persuasi dan membuat lawan bicara bertindak atau memiliki perspektif yang baru. Tidak hanya dalam berkomunikasi aspek ini diperlukan tapi juga dalam setiap bentuk persuasi seperti iklan yang beredar dengan menggunakan 3 pendekatan ini.

Coba mulai sekarang buatlah target hal apa yang ingin diaktifkan dari 3 aspek tersebut, bila kurang data tentu anda harus lakukan riset, bila kurang lentur berbicara harus mempersiapkan alur/blue print akan tujuan bicara dan kenapa hal ini penting untuk anda sampaikan. Bila kurang pengalaman, cepat kejar dan perkaya dengan menggunakan riset yang memukau. Jangan lupa untuk menggunakan pendekatan emosi agar pesan mudah diserap dengan baik oleh lawan bicara.

From Oneself and It’s YOU!

Oleh Erwin Parengkuan

Dalam sesi training bersama para pemimpin di bank BUMN, yang berlangsung hanya 3 jam kemarin, saya berkesempatan mengambil bagian untuk membukakan para peserta yang jumlahnya 20 orang agar punya mindset yang lebih terbuka, tidak sempit sehingga mereka dapat menggerakkan organisasi besar ini bertumbuh sehubungan dengan sales mereka yang anjlok tahun lalu sampai merosot dibawah 50%. Memang menyedihkan kondisi dunia usaha selama pandemi ini, selain ada sebagian kecil yang menuai keuntungan, tapi sangat banyak yang merosot tajam bahkan sampai gulung tikar. Tapi di China semester pertama ini perekonomian mereka naik menjadi 20%, whoaaaaa. Yes, some win some loose. Kembali ke pelatihan yang berlangsung singkat selama 3 jam, tentu menjadi menantang buat saya, karena banyak sekali kebutuhan para leader ini yang harus dipersenjatai agar mereka lebih optimis, lebih tangguh, cara berkomunikasi yang lebih lentur, personal branding, percaya diri yang harus dibangkitkan kembali, sampai mengenal lawan bicara dengan mapping dan profiling. Sangat banyak PR saya dengan waktu yang sangat singkat. Ingat mengumpulkan para bos selengkap ini sangat sulit karena jadwal merekapun padat. Saya bahkan harus merevisi materi sampai 3x karenanya. Rencana 3 jam dengan tiga materi, menjadi hanya 2 materi saja.

2 jam pertama saya fokus menekankan kepada self concept yang harus kembali dibangun dengan mental positif dan tahan banting (resilience) lalu saya pindah ke self image dimana setelah seorang membuat kembali konsep dirinya harus dipindahkan ke self image dimana hal ini akan membantu mereka berhubungan dengan semua stakeholders. Self concept, self image, social image (stakeholders), self esteem (kemampuan menghargai diri dan melakukan evaluasi diri dari waktu ke waktu), self acceptance, yaitu menyadari tidak ada seorang manusia di dunia ini yang sempurna, dan kita harus punya self management untuk mengembangkan potensi dan membuat kebiasaaan yang baru. Belum lagi kita bicara soal self reward, self discipline dll Terbayangkah oleh anda sesi ini berlangsung selama 2 jam? Saya sangat fokus dan menajamkan kedalam diri setiap leader di kelas itu. Sedangkan waktu 1 jam tersisa saya harus membuat mereka lebih lentur dalam berkomunikasi.

Sangat terlihat wajah-wajah para bos ini yang langsung rungsing, kusut tepatnya ketika fokus 2 jam kepada diri mereka. Lebih dari 80% peserta terlihat di wajah mereka dengan arah mata yang melirik ke kiri, tanda mereka kembali ke masa lalu dalam memvalidasi apa yang saya ucapkan dalam interaksi mereka kepada semua orang di kantor maupun kepada para nasabah/regulator. Seorang bapak, tiba-tiba bertanya “saya lihat mas Erwin sangat sering bicara tentang Self..self..self dari tadi, apa ini artinya memang semua harus dimulai dari diri kita dulu? Bukan dari orang lain?”

Sangat jelas terlihat gambaran pertanyaan sang bapak, mungkin juga sama dengan apa yang terlintas dipikiran anda ketika mencerna pertanyaan tersebut. Semua memang berpulang kepada diri kita terlebih dahulu, sebelum kita terkoneksi dengan dunia luar. Apa yang ada dalam diri kita, kekuatan kita, kekurangan kita, tantangan kita, dll sejatinya siapapun kita mempunyai “kekayaan” yang banyak akan apa yang sudah kita miliki. Seperti kultur, budaya ketimuran, didikan keluarga, lingkungan, sampai kepada pekerjaan/pengalaman. Ketika ada self awareness yang tinggi (lagi-lagi SELF) kita dapat mengerakkan semua yang kita miliki dalam diri untuk membangun hubungan yang harmonis dengan siapapun orang yang kita jumpai, bahkan sampai di kanal media sosial yang kita punya.

Kemampuan ini yang sudah dimiliki setiap orang akan membantu mereka punya keberanian untuk bergerak dan selalu tertarik untuk mengetahui “kekayaan” yang dimiliki orang lain untuk menjadi pengetahuan baru buat kehidupan kita. Saya sendiri selalu sangat suka berbicara dengan orang-orang yang memiliki banyak pengalaman yang tidak saya miliki, bahkan ketika berjumpa dengan generasi Z yang saat ini memasuki dunia pekerjaan, banyak sekali cara pola pikir mereka, cara mereka berinteraksi yang tidak sama dengan apa yang saya lewati ketika saya seumur mereka. Dan ini menjadi menarik untuk saya pelajari. Coba kalau mental ini yang kita miliki, tentu efeknya setiap kita bertemu dengan siapapun akan selalu antusias mendengarkan cerita mereka, bahkan sampai mengetahui hal-hal yang mengganggu pikiran mereka hidup di masa pandemi ini. Akhirnya, kita memulai sesuatu yang positif dari konsep diri yang akan kita tampilkan ke lawan bicara kita, siapapun mereka! Dan memang semua berpulang seperti pertanyaan si bapak tadi. Bagaimana kita memandang diri kita dan mengaktivasi diri kita untuk hubungan yang menyenangkan kepada semua orang.

Impromptu Speech

Oleh Erwin Parengkuan

Ketika seseorang diminta untuk menyampaikan sebuah pesan singkat secara spontan dan pesan tersebut harus dapat ditangkap dengan jelas oleh lawan bicara yang memberikan dampak pengetahuan baru atau sebuah tindakan, itulah artinya impromptu speech (IS). Dalam setiap lini dan channel komunikasi baik itu secara formal dan informal kita secara sadar maupun tidak sadar sering kali melakukan hal ini. Saatnya kita dapat memaksimalkan kemampuan ini untuk membuat tujuan bicara kita dapat memberikan dampak sesuai yang kita utarakan.

Dalam sebuah ujian online untuk para murid-murid advance kelas public speaking, dimana mereka diminta untuk presentasi selama 3-5 menit dengan menampilkan slides presentasi yang sudah dipersiapkan. Saya menambahkan tugas mendadak agar mereka melakukan IS, tentu reaksi mereka kaget, karena ini tidak ada dalam agenda ujian. Lantas saya menjelaskan kenapa tugas baru ini saya lakukan. Kemudian saya memberikan satu topik dan tujuan mereka menyampaikannya dengan tujuan lawan bicara mempunyai informasi baru/bertindak. Alhasil 50% dari peserta gagal dalam berbicara secara spontan.

Sebelum sesi berlangsung, saya bercerita dengan seorang kawan baru setelah ia memberikan band aid kepada saya, ia tanya “memang kenapa kakinya mas?

Apa yang harus kita siapkan dalam membuat bicara yang spontan dan berdampak? Ada 5 faktor penting yang harus anda perhatikan:

1. Tidak bertele-tele, langsung utarakan apa yang ingin anda sampaikan

2. Harus berisikan informasi yang berguna buat lawan bicara, hal ini menjadi faktor kesulitan buat mereka yang tidak memiliki informasi yang sesuai. Kegagalan di point kedua ini akan membuat lawan bicara tidak akan “membeli” apa yang akan anda utarakan. Tentu jawabannya untuk kita harus memiliki pengetahuan/wawasan yang valid

3. Hindari pengulangan kata, hal ini memerlukan kemampuan kesadaran diri dalam memilih kata-kata yang tepat dalam mendukung informasi anda. Bila anda punya kecenderungan mengulang-ulang kata karena anda tidak dapat menyusunnya dengan baik maka dampaknya lawan bicara selain enggan mendengarkan kalimat anda selanjutnya, ada tidak akan efektif dalam melakukan IS.

4. Perhatikan kebutuhan sesungguhnya dari lawan bicara, apakah ini sesuai dengan apa yang mereka cari atau tidak?

5. Jangan menyampaikan IS dengan tendensius, atur tempo bicara, tidak dengan nada tinggi dan menggurui. Kendalikan suara dan mimik wajah anda. Nada rendah selalu tepat untuk menyampaikan saran anda

Kelima faktor diatas bila terus anda latih dalam berkomunikasi sehari-hari akan membuat anda menjadi komunikator yang efektif dan inspiratif, karena selalu dapat memberikan informasi yang tepat/jalan keluar kepada lawan bicara atas apa yang anda sampaikan dan dibutuhkan. Misalnya anda setelah nonton sebuah film dan ingin memotivasi lawan bicara untuk nonton film yang menurut anda bagus, coba lakukan IS, tapi lihat dulu apakah lawan bicara menyukai jenis film yang sama? Kalau tidak dan anda merasa itu penting untuk ia saksikan, utarakan alasan yang bernas kenapa ia harus menotonnya, keuntungan apa yang ia akan peroleh ketika menonton film yang anda anjurkan. Kedua contoh diatas, menjadi jelas buat anda dan penting bila setiap kesempatan yang kita lakukan (apalagi dalam konteks pekerjaan) kita memberikan pengaruh yang positif dari apa yang kita sampaikan. Dampaknya kemampuan komunikasi kita meningkat, bobot data yang kita miliki menjadi banyak dan kita menjadi inspirator baru buat mereka yang membuat mereka selalu senang bila berjumpa kita.

Unconditional Positive Regards-The Power of Self Acceptance

Oleh Erwin Parengkuan

Ketika saya mendapatkan kalimat ini dari buku yang saya baca, temuan seorang psikolog ternama Amerika bernama Roger Walcot Sperry (lahir 1913-wafat 1994) saya langsung berhenti membaca dan mencerna dalam-dalam kalimat tersebut yang menjadi judul tulisan saya kali ini. Sperry bersama sahabatnya seorang psikolog yang sama populernya Abraham Maslow (The Hierachy of Needs) telah juga melakukan sebuah gerakan pada saat mereka berkolaborasi yaitu “consciousness rising” movement. 2 figur yang saya sangat kagumi, telah melakukan kerjasama dan mengkonfirmasi bahwa kehidupan yang kita jalani adalah sebuah proses panjang yang perlu dibuat dengan tujuan dan jelas dan dilakukan dengan penuh kesadaran.

Kalimat pada judul ini kalau diterjemahkan bahwa kita manusia hendaknya menerima lawan bicara kita apa adanya, atas tindakan, ucapan, maupun emosi yang mereka berikan kepada kita dalam konteks ketika kita menjadi pendengar yang baik tanpa mengevaluasi, memotong pembicaraan atau menuduh mereka. Pernyataan ini memang sangat releven dalam konteks pekerjaan sebagai seorang psikolog ketika berinteraksi dengan para pasiennya untuk mendapatkan uraian yang mereka rasakan dan alami. Sehingga akan didapatkan sebuah informasi yang lengkap ketika tidak ada sanggahan dari sang psikolog dalam mendengar problema yang dihadapi oleh pasiennya.

Bila hal ini kita pindahkan dalam konteks komunikasi atau membangun hubungan dengan lawan bicara, menurut saya teori ini tetap relevan. Sesungguhnya posisi kita sebagai pendengar akan berlaku sama dengan lawan bicara ketika mereka mendengarkan perkataan kita. Sehingga akan terjalin sebuah komunikasi yang seimbang, seperti makna komunikasi dalam bahasa latin adalah communion atau bersama.

Bayangkan apa yang akan dialami oleh kedua pribadi yang sedang berinteraksi bila masing-masing menjalankan unconditional positive regards (UPS). Tentu akan sangat menyenangkan dan kondusif. Kalau kita sadari atau peran yang kita jalani sehari-hari, peran itu akan selalu berganti, baik itu di lingkungan kerja ataupun di rumah. Ketika kita bekerja tentu kita mencari kesetaraan dengan rekan kerja begitupun ketika berbicara dengan atasan. Kesetaraan ini menurut saya menjadi landasan terpenting karena akan terjadi mutual benefit/saling menguntungkan dan saling menghargai. Begitupun ketika kita kembali ke rumah, anggota keluargapun menginginkan hubungan yang sama, terlepas hubungan hirarki anak-orang tua. Terjadinya ketidaksamaan hubungan komunikasi kalau salah satu merasa lebih superior apalagi ketika seseorang berbicara dengan “hati yang panas,” tentu UPS ini tidak dapat dijalankan sama sekali dan kesetaraan ini akan pudar karena salah satu ada yang merasa lebih benar. Secara fungsi baik orang tua maupun atasan tentu memiliki tanggung jawab sebagai pembimbing. Artinya mereka harus tahu momen terbaik kapan peran ini akan dijalankan, tanpa harus memotong pembicaraan atau merasa lebih tinggi. Begitupun ketika kita berada di jalan, peran ini akan berubah, dimana kita menjadi warga masyarakat dengan identitas negara ini. Hal yang sama terjadi ketika kita keluar negeri, bangsa lain tidak akan melihat atribut yang kita miliki di kantor maupun di rumah, melainkan mereka melihat kita sebagai perwakilan sebuah negara.

Artinya tidak ada yang benar dan salah, kita diminta untuk tidak menyela, menuduh, atau menghakimi apapun yang ada di dunia ini. Ketika kita membebaskan diri kita dari sikap dan sifat yang berfokus kepada ego kita, maka kita akan membiarkan setiap lawan bicara kita untuk menjadi apa adanya mereka, karena ini menjadi hak dan pilihan setiap orang. Tentunya dalam konteks pekerjaan dan keluarga ada aturan yang harus dijalankan dan dihargai oleh masing-masing anggotanya, dan tugas seorang pemimpin untuk dapat mengatur alur yang tepat, kapan harus mendengar, kapan harus berbicara dalam menjalankan perannya. Walaupun sejatinya setiap orang adalah mahluk bebas yang boleh melakukan apa yang diinginkan.

Buat saya pribadi apa yang disampaikan oleh Sperry sangat membantu saya untuk lebih aware dalam berkomunikasi dan membawa diri saya terhadap berbagai peran yang saya jalankan, agar hidup saya lebih ringan dan berfokus kepada menjadi pribadi yang lebih terbuka, ramah dan berbuat kebajikan kepada siapapun, saya yakin anda juga setuju dengan pendapat ini. Kita sejatinya selalu menginginkan hidup yang menyenangkan, seimbang dan bahagia walaupun orang-orang disekeliling kita tidak sama frekuensinya dengan kita, biarlah itu menjadi hak mereka. Kita kemudian akan menerima diri kita dalam sebuah hubungan ini, begitupun dalam kita menerima lawan bicara kita.