by admin | Feb 25, 2016 | Information, News
Komunikasi adalah lifeblood dalam kehidupan berorganisasi, tanpa itu, organisasi tidak dapat berjalan dengan baik. Perusahaan dan karyawan memiliki keterbatasan yang sering dikarenakan kurang efektifnya komunikasi yang berjalan. Dalam survey menunjukan, indicator seorang manager menjadi manager yang sukses adalah kemampuan ia dalam komunikasi. Kemampuan komunikasi menjadi nomor satu dalam indicator mengukur kesuksesan seorang manager. Pesan dapat tersampaikan dengan baik, apabila komunikasi dalam perusahaan berjalan dengan baik. Sehingga, karyawan pun dapat mengikuti ritme kerja yang sesuai untuk mencapai tujuan perusahaan tersebut.
Karyawan diperlakukan dengan respect dan dihargai mengenai kinerjanya menjadi salah satu cara membenahi komunikasi yang lebih efektif dalam kantor. Hal ini tentu menjadi penting dalam menciptakan atmosfir kerja yang produktif dan suportif. Berdasarkan survey terdapat beberapa masalah komunikasi yang sering dilakukan oleh manager yang mempengaruhi atmosfir lingkungan kerja.
Efektif leader tentu mengetahui benar pentingnya komunikasi dalam energy atmosfir kantor, yang dapat menambah koneksi dan kedekatan satu sama lain. Namun terkadang seorang leader ataupun manager merupakan pentingnya achievement recognizing pada karyawan. Adanya perasaan dihargai oleh leader merupakan sebuah harapan yang sangat di inginkan oleh karyawan. Tetapi hal ini masih sedikit dilakukan, sehingga kurangnya apresiasi menjadi masalah utama efektif kepemimpinan. Ketika generasi milineals telah masuk ke dalam lingkungan kantor, maka leader seharusnya lebih peka dengan hal ini. Faktanya bahwa generasi millenials lebih membutuhkan apresiasi daripada generasi sebelumnya.
Setiap orang suka berbicara, begitupun karyawan-karyawan suka untuk membicarakan kinerja leader mereka. Ketika manager/leader mereka memberikan informasi yang valid dan tidak menyimpan informasi, maka rasa trust itu akan menambah. Namun begitupun sebaliknya. Akan tetapi, banyak kita jumpai leader yang tidak dapat memberikan arahan yang jelas. Dengan demikian, miss interpretasi akan muncul dalam komunikasi kantor.
Selanjutnya, good komunikasi memang tidak hanya dapat dijalin di lingkungan kantor/professional, namun juga perlu adanya komunikasi diluar lingkungan kantor. Kesibukan leader yang memiliki waktu terbatas, membuatnya kesulitan mengatur waktu untuk bercengkrama bahkan face to face saja pun sulit. Keterbatasan ini perlu di atasi, karena menjadi tiga masalah terbesar dalam efektif leadership.
by admin | Feb 19, 2016 | Information, News
Communication problems occur when people listen to reply instead of to understand. Masalah komunikasi ini terus menerus berlangsung dari generasi ke generasi. Kita pun terbiasa mendengar hanya untuk menjawab namun tidak melalui proses memahami konten yang sedang dibicarakan terlebih dahulu. Padahal fondasi utama komunikasi adalah mencoba memahami (understand). Masalah komunikasi inilah yang menjadi penghambat terbesar dalam kemampuan critical thinking.
Critical thinking merupakan proses intelektual secara aktif dan terampil berpikir dengan menganalisis, mengevaluasi informasi berdasarkan fakta, pengamatan dan refleksi diri. Dalam prosesnya, critical thinking memerlukan pemahaman tujuan dari menggali lebih dalam lagi masalah, mengumpulkan asumsi, mengevaluasi bukti selanjutnya menilai masalah dengan kesimpulan. Menurut Pearson, seorang Psikolog yang juga terkenal menjadi salah satu tokoh Sosiolog, memberikan analogi mengenai critical thinking menjadi RED. Recognize Assumption, Evaluate arguments and Draw conclusion. Analogi ini memberikan kita pemahaman sederhana mengenai critical thinking menjadi lebih sederhana dan sesuai step by step.
Dalam proses Berpikir secara kritis, individu tentu memerlukan dan melibatkan kemampuan mendengar yang aktif dalam menggali asumsi dan bukti-bukti. Tak hanya aktif namun juga kritis dan mencoba memahami konten yang diberikan oleh pembicara. Critical listening relevan dan berkoneksi dengan kemampuan critical thinking seseorang. Hal ini berkoneksi ketika dalam mengasah kemampuan critical thinking, seseorang pun harus memiliki kemampuan untuk mengatur informasi, konteks, relevansi dan ide yang didapatkan dari berbagai sumber. Sehingga pada akhirnya, individu tersebut dapat mengevaluasi asumsi dan menganalisa bukti dengan kemampuan critical thinking-nya.
Namun, masalah lain muncul ketika kita sering melihat para politikus ditelevisi yang memiliki kebiasaan buruk memotong pembicaraan lawan bicaranya. Padahal syarat utama atau kunci utama dalam critical listening adalah kemampuan seseorang untuk masih ingin memahami apa yang orang lain katakan dan bertanggung jawab dalam mengevaluasi dan menganalisa konten yang lawan bicara katakan. Sehingga, penting sekali untuk meningkatkan kemampuan listening kita dan mencoba mengerti serta memahami bukan hanya sekedar menjawab.
by admin | Feb 9, 2016 | Information, News
Seringkali kita mengalami gagal dalam berkomunikasi. Padahal, komunikasi telah menjadi hal yang sangat lumrah bahkan dari kita sewaktu bayi. Komunikasi dengan orang lain menjadi hal mendasar manusia sebagai makhluk social. Namun di dalam dunia kerja, masalah komunikasi menjadi masalah yang sering dihadapi. Masalah komunikasi sangatlah beragam, mulai tidak percaya diri, tidak dapat menyampaikan secara jelas pendapat bahkan presentasi produk, ataupun bermasalah dalam menentukan personal branding. Permasalahan serta tantangan terus muncul ketika pekerjaan menuntut untuk memiliki kemampuan komunikasi yang baik.
Ketika memperoleh kepercayaan dari perusahaan untuk mewakili ataupun menjelaskan perusahaan dalam sebuah presentasi di seminar. Tentu bagi sebagian orang yang belum terbiasa dengan public speaking menjadi masalah yang besar. Masalah-masalah muncul ketika pembicaraan kita yang tidak terarah, komunikasi bersifat satu arah, terburu-buru atau tiba-tiba demam panggung duluan.
Penting untuk diingat bahwa di dalam sebuah menyiapkan presentasi ataupun menjelaskan produk pada klien, kita memerlukan modal dasar untuk mempersiapkannya agar menjadi lebih efektif. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan guna meningkatkan kemampuan komunikasi agar lebih efektif, antara lain :
a. Tujuan
Hal pertama yang diperhatikan adalah mengetahui mengenai audiens yang dihadapi. Memahami audiens menjadi hal yang penting, untuk diketahui karena pastilah konten komunikasi dengan staff akan berbeda apabila berkomunikasi dengan Direktur. Setelah kita lebih dulu memahami audiens, sehingga memudahkan kita dapat menyusun konten komunikasi yang pas.
b. Konten
Setelah mengidentifikasi mengenai audiens. Selanjutnya kita membahas konten. Konten mungkin menjadi sebuah hal yang utama dalam sebuah presentasi. Namun di dalam konten tetap memiliki hal-hal yang perlu diperhatikan oleh speaker. Konten terdiri dari 3 komponen : Opening, Body Content dan Closing. Opening menjadi hal yang sangat penting. Hal ini dikarenakan audiens akan menilai layak/tidaknya speaker tersebut mendapatkan attention, terlihat dari 7 detik pertamanya membuka sebuah presentasi. Sehingga opening menjadi hal yang penting. Gunakan fakta-fakta yang unik dalam membuka sebuah presentasi, sehingga audiens tetap penasaran dengan body content yang akan dibahas. Sekarang, kita beralih ke body content. Body content memerlukan pengemasan sedemikian rupa sehingga terjadi interaksi antara audiens dan speaker. Sehingga terjadi interaksi dua arah selama presentasi. Pada bagian closing, kita memerlukan kata-kata penutup yang bagus sehingga dapat diingat oleh audiens. Closing dapat dikemas melalui quotes-quotes yang menarik dan sesuai dengan konten. Pemilihan kata-kata untuk closing sangatlah penting, agar audiens dapat mengingat isi dari presentasi kita. Sehingga diperlukan pemilihan kata-kata yang tepat dan gampang diingat.
c. Vokal
Suara dan intonasi menjadi hal yang mungkin dianggap sepele oleh mayoritas orang. Namun nyatanya menurut penelitian, body language dan suara mendapat persentasi yang cukup banyak dalam meng attract perhatian audiens. Menurut penelitian Mehrabian Study (1967 – 1972) berpendapat bahwa body language dan how you say it memiliki persentase hampir 80% menjadi bagian yang penting dalam sebuah presentasi. Hanya sebanyak 7% kita berkomunikasi berdasarkan words, 39% berdasarkan suara dan intonasi dan 55% berdasarkan perilaku non verbal. Maka, intonasi, vocal sampai body language sangat perlu diperhatikan dan menjadi hal yang penting dalam presentasi.
by admin | Feb 3, 2016 | Information, News
“Harus PD, harus PD” demikian kata Jenar berkali-kali ke dirinya. Jenar adalah mahasiswa tingkat akhir yang akan melakukan presentasi didepan para dosen dan teman-teman kelasnya. Pada akhirnya, apa yang sudah dipersiapkan dengan matang oleh Jenar, tidak berhasil ditampilkan. Jenar merasa gagal, dan kondisi ini yang membuat ia selalu makin takut presentasi.
Melihat contoh diatas, bisa jadi kondisi ini juga pernah atau sering kita alami, ketika ingin berbicara dengan orang lain, kita menjadi takut dan kerapkali membandingkan potensi yang kita miliki dengan orang tersebut, apakah dia lebih berpengetahuan dan berpengalaman atau membandingkan strata ekonomi bahkan beberapa orang membandingkannya dengan kondisi fisik. Akhirnya membuat apa yang sudah kita persiapkan dengan matang menjadi sia-sia.
Sebagian orang punya rasa Percaya Diri yang baik, ada yang merasa masih jauh tertinggal, masih ragu dan malu untuk menyampaikan gagasan atau sekedar memberikan komentar. Seperti Jenar yang akhirnya merasa gagal dalam presentasi karena kemampuan bicara yang kurang baik karena minimnya Percaya Diri.
Percaya Diri, bila kita uraikan maknanya adalah Percaya akan kemampuan Diri untuk tampil dan bicara. Di dalam meningkatkan rasa percaya diri, terdapat 3 komponen yang mempengaruhi, yaitu self esteem, self image dan social image. Pengertian dari self esteem merupakan value yang ada di dalam diri seseorang. Nilai ini yang menegaskan individu menjadi baik dan berharga. Self image adalah citra diri yang kita tampilkan, baik berdasarkan pengalaman maupun internalisasi orang lain. Sedangkan, istilah social image yang cukup umum didengar adalah proses dimana orang melihat dan menerima kita sebagai individu. Ketiga komponen tersebut merupakan hal-hal yang mendasari rasa kepercayaan diri pada seseorang.
Dari uraian diatas, bahwa semua manusia hakikatnya mempunyai kemampuan atau potensi yang sama, tidak terkecuali, bahkan bila kita lihat salah satu pianis handal, Hee ah Lee dari Korea Selatan yang mahir bermain Piano hanya dengan menggunakan keempat jari tangannya. Terlahir dengan ketidaksempurnaan yang dimilikinya, Hee ah Lee lahir hanya memiliki 4 jari tangan dengan kaki yang hanya sebatas lutut. Bahkan untuk bermain piano saja, Hee Ah Lee sengaja meninggikan pedal piano agar tetap terjangkau olehnya. Keterbatasan fisik itu, tidak menjadikan Hee ah Lee patah semangat dalam membuktikan potensinya sebagai seorang pianis handal. Hee ah Lee telah membuktikan kemampuannya dengan mendapatkan sederet penghargaan atas keterampilannya dalam bermain piano.
Di Talkinc kami menyadari dan percaya bahwa setiap individu mempunyai kemampuan dan potensi diri yang baik, untuk itu proses pengenalan diri menjadi penting, dengan membuka diri dan mengetahui apa saja yang menjadi
kekuatan kita, mengetahui nilai-nilai hidup dan kebaikan bagi sesama, sehingga kita dapat menilai diri kita sebagaimana mestinya. Hal sederhana adalah memahami hal yang membuat kita merasa menjadi manusia yang utuh, mulai dari hal apa yang membuat kita bangga akan diri kita baik dari sisi mental, pengetahuan, persiapan yang telah dilakukan dst. Proses ini menjadi penting karena kita akan mengetahui hal-hal apa saja yang perlu ditanamkan dan dikembangkan, sehingga disisi lain kita akan mengembangkan potensi lainnya yang belum dimaksimalkan.
Kemampuan mau belajar menjadi penting untuk membuka diri dan menggalinya. Karena kebanyakan orang yang tidak percaya diri adalah kurang mampu menilai dirinya, tidak tahu siapa dirinya serta tidak mengenal dirinya dengan baik, sehingga potensi diri tidak dikembangkan dengan baik. Padahal bisa saja, masih banyak sekali potensi yang ada dalam diri kita, namun belum ter-eksplore dengan baik. Dengan demikian, percaya diri adalah kunci atau syarat utama dalam menunjukkan potensi yang dimiliki tiap individu.
Ketika seseorang sudah Percaya Diri, ia akan dapat berani bicara dan menyampaikan apa yang menjadi buah pikirannya atau sekedar membuka pembicaraan dengan orang lain. Mulailah dari hal yang sederhana seperti berani memulai pembicaraan kepada orang lain saat antri disebuah antrian. Tindakan kecil seperti ini mungkin terlihat sederhana, namun dapat memiliki impact yang besar ketika kita sering melalukannya.
Jadilah pribadi yang percaya diri dan berani untuk menyampaikan gagasan atau pendapat kita. Sayang sekali bila setiap individu mengabaikannya, karena Rasa Percaya Diri adalah komponen Utama seseorang untuk hidup dan menjadi
Pribadi yang lebih baik lagi, yang siap menjawab tantangan dan tuntutan jaman, terlebih untuk menghadapi kompetisi Tingkat Asean ataupun dunia Internasional.
by admin | Jan 20, 2016 | Information, News
Bank BNI adalah klien TALKINC sejak tahun 2013, dimana sebelumnya TALKINC pernah mengadakan pelatihan dengan pihak Bank BNI untuk para Teller & Customer Service. Di tahun ini Bank BNI mengadakan pelatihan kembali dengan TALKINC dimana pesertanya berasal dari jajaran Managerial & Assitant Vice President. Maksud dan tujuan pelatihan ini adalah untuk mengupgrade kemampuan peserta dalam berkomunikasi. Walaupun para peserta sudah berpengalam dalam public speaking, peningkatan kemampuan serta konsep-konsep baru dan modern tentang Public Speaking semakin memperkaya kemampuan mereka melalui pelatihan bersama TALKINC.

Training ini diadakan selama 2 hari, dihari pertama dibawakan oleh main facilitator TALKINC yaitu Mas Bona Sardo dimana materi yang disampaikan adalah tentang Boosting Confidence dan understanding people & professional positioning. Seperti biasa sebelum sesi dimulai, Mas Bona Sardo memberikan pertanyaan satu persatu sebelum masuk ke materi yaitu “Bagaimana caranya meningkatkan rasa percaya diri?” disini fasilitator memberikan contoh-contoh dan penjelasan bahwa cara pertama kali yang harus dilakukan adalah pahami dahulu diri kita.
Kemudian fasilitator meminta kepada peserta untuk melakukan aktifitas dengan meminta peserta untuk mengambarkan dirinya disebuah kertas flip chart. Dari gambar yang mereka tulis dan deskripsikan, peserta diminta untuk memberikan tanda panah dimana letak kekuatannya pada gambar yang sudah dibuat, lalu fasilitator meminta pendapat beberapa temannya mengenai kekuatan dari gambar temannya dengan memberikan tanda panah juga pada gambar yang sudah dibuat, begitupun sebaliknya peserta yang lain. Dengan aktifikitas ini maka peserta bisa menilai dirinya sendiri maupun orang lain menilai dirinya.

Pelatihan ini sangat menyenangkan dan Seru! Disesi boosting confidence ini fasilitator memutar sebuah video- X-Factor yaitu Christopher Maloney, disini peserta diminta penjelasan tentang kesan dari video tersebut apabila dikaitkan dengan materi yang disampaikan di sesi ini. Dari video yang ditampilkan bahwa Maloney bisa melawan rasa tidak percaya dirinya diatas panggung. Disamping itu juga fasilitator memberikan penjelasan bahwa faktor utama yang mempengaruhi percaya diri adalah:
1. Faktor keluarga
2. Faktor lingkungan
3. Budaya
4. Pengalaman Sucsess or Failure.
Selain itu disesi pertama ini, Mas Bona juga memberikan materi tentang bagaimana mengenal karakter atau pribadi lawan bicara kita kemudian dikatikan dengan materi professional positioning.
Disesi ini peserta diajak untuk mengisi form dimana form ini lebih mengenal karakter diri sendiri maupun orang lain, kemudian peserta dibagi menjadi 4 kelompok berdasarkan 4 karakter. Pada sesi inilah setiap kelompok diberikan tugas untuk membuat acara dimana budgetnya tidak terbatas. Kemudian setiap kelompok diminta untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya lalu fasilitator memberikan feed back.
Secara garis besar pelatihan berjalan dengan lancar dan peserta menilai pelatihan komunikasi ini sangat bermanfaat dan antusias untuk mengikuti pelatihan berikutnya bersama TALKINC.
by admin | Dec 28, 2015 | Information, News
Saya Henry Erlande Lika Kelas Reguler Public Speaking Batch 47, selama menjalani kursus di TALKINC, materi favorit saya adalah “When Things Gone Bad”, yang difasilitasi oleh Bona Sandro. Sebagai seorang dengan background psikolog, beliau tahu bagaimana melihat kelemahan dan kelebihan masing-masing anggota, tanpa perlu berasumsi apapun. Dengan hal tersebut, kelas berjalan dengan smooth.

Photo Documentasi : Kelas Reguler Public Speaking Batch 47 sesi Bona Sardo
Kami diajarkan beberapa contoh kejadian jika kejadian buruk terjadi, dan bagaimana cara menyikapinya. Kita juga diajak terlibat untuk menentukan kejadian-kejadian apa yang bisa kita cegah, dan mana yang tidak. Selebihnya kami diajak untuk role play, dimana seorang murid akan berbicara di depan kelas, dan yang lainnya mengambil peran sebagai “pengganggu”. Melihat respon pembicara saat “diusik” oleh audience sangatlah menarik dan sedikit menghibur.

Foto bersama: Henry Erlande Lika – Kelas Reguler Public Speaking Batch 47 sesi Erwin Parengkuan
Kesimpulan yang bisa saya ambil adalah, sebagai pembicara kita mempunyai control yang sebesar-besarnya atas diri sendiri. Faktor apapun yang berasal dari diri sendiri seharusnya bisa diatasi dan dicegah. Namun faktor-faktor eksternal yang sering timbul memang tidak dapat dihindari, sehingga dengan mental dan konsentrasi pikiran yang kuat, kita dapat mengatasi gangguan tersebut dengan baik.
by admin | Dec 27, 2015 | Information, News
Sebelum kita mengenal bahasa tulisan yang dipahami oleh sebuah bangsa, peradaban dimulai dari masa Pra Aksara atau yang sering disebut masa Pra Sejarah. Zaman Pra Aksara di Indonesia berlangsung sampai abad ke-3 Masehi. Pada masa Pra Aksara, manusia masih berkomunikasi secara terbatas. Komunikasi pada masa ini hanya menggunakan simbol-simbol dan isyarat tangan dalam menyampaikan dan menerima pesan. Kemudian pada awal abad ke-4 Masehi, manusia mulai mengetahui dan mengenal aksara dalam berkomunikasi. Dengan seiring waktu, komunikasi mengalami perkembangan dan menjadi semakin sempurna. Walaupun demikian, komunikasi dengan kondisi dulu-pun dapat dipahami maknanya.
Zaman berganti dan kini semua bangsa menjadi universal, global citizen bahasa kerennya. Sebagai pemersatu, bahasa Inggrislah yang unggul menjadi pemenang, saya tidak akan menyorot asal-usul kenapa Bahasa Inggris. Bahwa saat ini kita menjadi sangat mudah berkomunikasi dengan bahasa sebagai pemersatu global citizen juga karena tehnologi-lah yang membuatnya menjadi global.
Ada yang menarik ketika zaman terus berganti dan generasi demi generasi lahir. Pada era tahun 80-an hanya ada generasi Baby Boomers. Baby Boomer merupakan individu-individu yang lahir sekitar tahun 1945 sampai 1964. Dan anak-anak mereka yaitu Generasi X (lahir tahun 1965-1980). Dimana dua generasi ini, misalnya ayah saya yang Baby Boomers dan saya yang generasi X, harus tunduk dengan aturan dan kedisiplinan serta nilai luhur. Interaksi-interaksi tidak banyak bersinggungan diantaranya karena belum kontras ditambah dunia digital masih merangkak pada saat itu.
Zaman berganti, sekarang ada generasi lain yang lahir, yang populer disebut Millenial atau Generasi Y yang lahir pada 1981 hingga 1997. Generasi Millenial merupakan individu-individu yang berumur 18 sampai 34 tahun pada tahun 2015. Mereka lahir di abad teknologi yang serba cepat dan membuat dunia menjadi global. Dulu ketika saya membutuhkan berita dari luar negeri harus menunggu keesokkan harinya atau beberapa hari untuk mendapatkan berita tersebut, berbeda dengan sekarang yang sangat “real-time.” Apa yang terjadi di belahan dunia manapun, kita langsung dapat mengaksesnya.
Bagaimana dengan dunia komunikasi abad ini? Kini ketiga generasi tersebut hidup dan saling bersinggungan. Begitu pula di dunia kerja, pada saat dikantor pun terjadi interaksi antar generasi tersebut. Hal ini menjadi kompleks, ketika generasi senior (baby boomers) masih menjadi pemegang kekuasaan di divisi mereka, atau di perusahaan yang harus berhadapan dengan generasi millenial yang memiliki kateristik spontan dan fokus kepada hasil. Cara pandang yang berbeda dan cara berkomunikasi yang berbeda membuat gap yang jauh antar generasi satu dengan yang lain.
Dalam banyak pelatihan in-house training yang kami lakukan di TALKINC dengan banyak perusahaan, pemintaan pelatihan untuk training ”Generation Gap” semakin banyak, terutama untuk perusahaan besar dan pemerintahaan. Hakikatnya setiap generasi layaknya adalah kita sebagai manusia, mau dipahami, dimengerti. Sehingga berkomunikasi dengan respect harusnya dijalankan untuk siapapun, tanpa terkecuali. Generasi Baby Boomers harus membuka diri untuk perubahan zaman, sedangkan Generasi Millenial harus tetap menjaga kesantunan dengan menyapa dan peduli dunia sekitar.
Mari kita kembali ke nilai komunikasi yang fundamental, komunikator dan komunikan hendaknya dapat selalu menjalin interaksinya dengan saling menghargai satu-sama lain. Tidak sulit seperti zaman Pra Aksara, dimana komunikasi hanya dilakukan menggunakan isyarat dan simbol saja. Maka luangkan waktu untuk saling memahami satu sama lain.
Penulis adalah:
Praktisi Komunikasi dan Personal Branding Specialist
Managing Director Talkinc
School for Public Speaking and MC/TV Presenter
www.talk-incorporation.com
by admin | Dec 22, 2015 | Information, News
Dibulan Desember 2015 ini TALKINC mengadakan pelatihan di jakarta ke perusahaan Putera Sampoerna Foundation atau Sampoerna University untuk level staff officer tentang bagaimana berkomunikasi lebih effektif dan bagaimana cara strategi penyampaiannya? sehingga lebih effektif dan terstruktur karena keduanya berkaitan dan saling menunjang.
Cara berkomunikasi juga dapat membantu banyak hal, misalnya dalam presentasi, negosaiasi, email, sms atau media sosial. Tantangan kita saat ini adalah bagaimana meningkatkan kemampuan komunikasi kita? Sebenarnya banyak cara melakukannya, dan untuk kali ini TALKINC memberikan pelatihan ke Putera Sampoerna Foundation (PSF).

Pada Pelatihan ini TALKINC memberikan pelatihan selama satu hari dimana pelatihan terdiri dari dua sesi materi yaitu sesi pertama materinya tentang understanding people dan perofessional positioning, sedangkan untuk sesi kedua materinya tentang strategi komunikasi.
Fasilitator TALKINC yang membawakan pelatihan ini dibawakan oleh Bona Sardo seorang psikolog dan pengajar yang saat ini aktif menjadi dosen Psikologi di Universitas Indonesia. Selain itu, Bona Sardo juga praktek di beberapa rumah sakit swasta di Jakarta. Materi yang dia sampaikan di PSF kali ini adalah bagaimana berkomunikasi secara lebih effektif dan bagaimana memahami karakter lawan bicara kita agar dapat berkomunikasi sesuai karakter lawan bicara. Sebelum memahami orang lain kita harus memahami diri kita sendiri terlebih dahulu karena dengan kita memahami orang lain kita akan bisa menempatkan posisi, memahami dan menghargai lawan bicara kita.

Sedangkan sesi kedua fasilitator dari TALKINC Disampaikan oleh Adinda Djoko Sanjoto, beliau kegiatannya sehari-hari selain menjadi main fasilitator TALKINC juga seorang pakar dan konsultan komunikasi. Materi yang dibawakan Adinda adalah strategi berkomunikasi. Dalam effective komunikasi kita harus tahu apa yang menjadi obyek yang akan disampaikan, sehingga sesuai dengan tujuannya. Pada saat kita tampil, kesan pertama kita dipengaruhi banyak hal yaitu dari penampilan, gaya bicara, bahasa tubuh sampai level percaya diri.

Keseluruhan sesi pelatihan berjalan dengan interaktif dan para peserta secara langsung menerapkan teknik Public Speaking dan Presentasi melalui praktek di akhir sesi pelatihan komunikasi.
by admin | Dec 17, 2015 | Information, News
Dibulan November yang lalu tepatnya tanggal 25 -26 november 2015, TALKINC memberikan pelatihan Public Speaking untuk perusahaan PT. KMK Global Sport dimana level pesertanya mulai dari level Direktur Utama sampai Level Manager. Perusahaan ini adalah salah satu perusahan manufaktur pembuat sepatu yang terkenal di hampir seluruh dunia. Tujuan pelatihan ini adalah bagaimana meningkatkan kemampuan komunikasi khususnya Public Speaking dan juga personal branding yang difokuskan pada bagaimana menonjolkan kelebihan yang dimiliki sehingga dapat dimanfaatkan sebagai citra diri yang positif. Selain itu pelatihan ini juga bertujuan untuk memahami dan mengenal karakter yang berbeda dan bisa menempatkan diri pada posisi yang berbeda dengan tujuan untuk membangun hubungan profesional dengan orang lain.

Foto dokumentasi pelatihan Effective Communication Training untuk PT. KMK Global Sports – Fasilitator Erwin parengkuan
Pelatihan ini diadakan selama dua hari dibawakan oleh founder TALKINC yaitu Erwin Parengkuan dan Becky Tumewu. Di hari pertama dibawakan oleh mas Erwin Parengkuan dengan materi tentang personal branding dan understanding people.
Disesi ini peserta juga diberikan materi tentang bagaimana meningkatkan rasa percaya diri ketika berkomunikasi didepan umum, selain itu fasilitator juga menjelaskan tentang apa yang dimaksud dengan self concept yang dihubungkan dengan self image dan social image kemudian fasilitator juga memberikan materi apa itu personal branding? Komponen-komponen apa saja yang ada di personal branding? Selain itu fasilitator menjelaskan dan memberikan contoh-contoh beserta praktek kepada setiap peserta.

Foto dokumentasi role play peserta pelatihan Effective Communication Training untuk PT. KMK Global Sports – Fasilitator Erwin parengkuan
Yang menariknya dari sesi pertama ini, peserta juga diberikan materi tentang understanding people dan professional positioning, dimana peserta diajarkan bagaimana mengenal lebih dalam karakter masing-masing, sehingga kita bisa menempatkan posisi kita pada saat berkomunikasi.
Dihari kedua dibawakan oleh Mbak Becky Tumewu, disesi ini mbak Becky memberikan materi tentang Effective Communication, dimana disesi ini tujuannya adalah bagaimana meningkatkan kemampuan diri dalam hal komunikasi dan presentasi baik dari konsep, metode, konten, alur struktur dan tehnik penyampaiannya.

Foto dokumentasi pelatihan Effective Communication Training untuk PT. KMK Global Sports – Fasilitator Becky Tumewu – Fasilitator Becky Tumewu
Disesi ini fasilitator memberikan banyak hal tentang materi komunikasi yaitu tantangan, tujuan dan strategi komunikasi , selain itu fasilitator juga memberikan materi tentang blue print communication dimana didalamnya terdapat rangkaian penyampaian presentasi dalam public speaking mencakup opening, body content dan closing yang baik. Diakhir sesi peserta diberikan role play tampil satu persatu selama 3 menit kemudian direkam. Perserta sangat puas dan happy dengan pelatihan 2 hari ini, karena mendapatkan suatu hal yang baru sehingga lebih memberikan manfaat yang besar kepada semua peserta dalam karir yang mereka jalani.
by admin | Dec 17, 2015 | Information, News
Pada tanggal 12-17 November 2015 tepatnya di Jakarta Talkinc memberikan pelatihan untuk PT. Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mengenai Effective Presentation Skill Training. Didalam praktek public speaking tidak serta merta selalu berjalan lancar dan mulus dan tidak menutup kemungkinan akan mengalami hambatan.

Foto dokumentasi pelatihan Effective Presentation Skill Training untuk PT. Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) – Facilitator Erwin parengkuan
Hal ini merupakan salah satu hambatan yang dialami para peserta pelatihan effective presentation PT. KSEI, dimana para peserta pelatihan ini merasa kemampuan public speaking dan kepercayaan diri ketika berbicara didepan umum masih merasa kurang, namun setelah mengikuti program training tentang effective presentation skill yang dibawakan oleh beberapa fasilitator TALKINC, semua peserta merasakan sudah mulai percaya diri dan lebih lancar presentasinya didepan umum.

Foto dokumentasi pelatihan Effective Presentation Skill Training untuk PT. Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) – Facilitator Becky Tumewu
Materi yang diberikan dipelatihan ini adalah tentang boosting your confidence dan effective communication dimana disesi terakhir peserta diberikan role play individual presentation secara satu persatu kemudian diberikan feedback oleh para fasilitator. Melalui pelatihan ini, para peserta mendapatkan masukan dari para fasilitator TALKINC yang sangat berpengalaman di bidang Public Speaking sehingga berbagai ilmu serta masukan dapat dijadikan dasar dalam menerapkan teknik Public Speaking yang berkualitas dalam dunia kerja.