by admin | Oct 22, 2018 | Information, News
Selama saya mengikuti Training Mc – TV Presenter ini yang paling berkesan adalah pada saat encounter 1 leading by Mas Wahyu Wiwoho.
Step 1 :
First Impression ini sangat penting bagi saya pribadi karena menentukan seberapa excited saya untuk meneruskan kelas ini (haha – kegalauan seorang anak didik baru)
Kesan dihari pertama training saja sudah sangat luar biasa, jauh dari kesan monoton, dan materi materi nya pun disampaikan secara fun tapi berisi.
Step 2 :
Menjadi seorang MC Profesional harus memahami betul Do’s & Don’ts serta kode etik yang berlaku di dunia per MC an ataupun Presenter, di Encounter 1 ini semua detail yang dibutuhkan ada, kalau selama ini saya pribadi hanya membawakan sebuah acara berdasarkan rundown dan inti materi saja, dengan mengikuti kelas ini saya sangat terbantu bahwa seorang MC tidak hanya mengandalkan Product Knowledge serta berani berbicara di depan public saja melainkan ada step step yang harus dilakukan dan dipahami salah satunya :
Mengedukasi, Tidak hanya serta merta menyampaikan apa yang tertulis di rundown saja melainkan harus mengambil kesimpulan positif yang bisa di share kepada audience.
Memiliki Sense of Humor, Penyampaian materi atau pada saat membawakan acara tidak terkesan membosankan, sehingga audience bisa mengikuti step by step acara tersebut dengan fun namun tetap serius pada inti acara (tergantung jenis acara).
Inti dari materi yang disampaikan adalah, Seorang MC / Presenter tidak hanya harus berpenampilan menarik melainkan harus menjadi seorang yang professional yang bisa menyampaikan materi sesuai dengan kebutuhan dengan kalimat yang baik, mengedukasi dan bisa membawa Image Postive bagi dirinya sendiri maupun Brand yang sudah menggunakan jasa kita.
Regards,
Feranica Prilly – MC TV Presenter Batch 96
by admin | Sep 28, 2018 | Information, News
Berkomunikasi yang baik di dalam Public Speaking tidak hanya mengenai proses pengiriman dan penerimaan pesan, tapi lebih kepada pesan yang dikirimkan sesuai dengan apa yang diinginkan. Dalam berkomunikasi selalu mempunyai tujuan yang diinginkan, baik untuk persuasi, provokasi, informasi, negosiasi, klarifikasi maupun membangun hubungan. Good communication is building engage with people. Komunikasi yang baik adalah dengan membangun hubungan dengan komunikan.
Dengan membangun hubungan dengan komunikan, dapat membuat audiens merasa terikat dengan public speaker. Membangun hubungan dengan audiens penting dilakukan supaya audiens mau mendengar dan memberikan perhatian. Komunikasi yang baik harus memberikan manfaat bagi audiensnya, jelas alur dan tujuannya (alur disini dapat dikatakan sebagai flow of mind) dan harus interaktif. Interaktif dengan audiens menjadi salah satu cara dalam membangun engage with audiens.
Masalah yang kemudian muncul adalah bagaimana cara kita menyampaikan suatu pesan dengan tidak terburu-buru, terlalu panjang dan terlalu banyak. Lebih baik jika penyampaian pesan dilakukan dengan analogi supaya lebih praktis. Penyampaian pesan yang baik dapat dilakukan dengan analogi seperti pendekatan storytelling. Komunikasi yang modern menggunakan teknik bercerita. Diharapkan dengan tips ini, dapat membuat skills komunikasi anda menjadi lebih baik daripada sebelumnya.
by admin | Sep 20, 2018 | Information, News
Memiliki kegiatan rutin di Hari Sabtu selama 9 (Sembilan) kali dibutuhkan komitmen bagi saya. Bayangin aja, yang biasanya tiap weekend bisa bangun siang, weekend gateaway, pulang kampung ke Jogja, setelah daftar Kelas Public Speaking berarti jauh-jauh tuh mimpi liburan atau bangun siang di Hari Sabtu. So, it’s quite challenging for me! Decision has been made, so let’s go to TALKINC every Saturday!
Berbicara memang sangatlah mudah bagi orang-orang yang cerewet, tetapi cerewet belum tentu menandakan bahwa Ia memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik. Dengan seringnya diminta untuk presentasi di hadapan Direksi dan stakeholders, maka menata cara penyampaian pesan juga harus diperhatikan. Apalagi kalau sudah nervous, buyar semua tuh tadi yang mau diomongin.

Perubahan teknik berkomunikasi, di dukungnya kemajuan teknologi, dan keberadaan sosial media terkadang membatasi kita dalam mengungkapkan pendapat. Menyampaikan pesan secara tidak langsung (melalui whatsapp, email atau artikel) juga tidak mudah, karena dituntut untuk memiliki kemampuan menulis dengan baik.
4 (empat) jam Sesi “Practice Makes Perfect” di kelas Public Speaking yang dibawakan oleh Mas Erwin Parengkuan, kami ditantang untuk role play presentasi. Materi ini menurut saya merupakan summary dari kelas-kelas sebelumnya yang tidak kalah menariknya. Kelebihan dan kekurangan setiap peserta dicatat secara detail. Pemaparan materi dijelaskan secara terstruktur dan lugas. Bagaimana menggunakan tools saat presentasi, sikap saat Greetings, pentingnya profiling dan mapping saat persiapan, tujuan presentasi mempengaruhi context dan content materi yang akan dibawakan.
Di akhir sesi, Mas Erwin Parengkuan membacakan satu artikel tentang pemain sepakbola, dan kami ditantang untuk menceritakan kembali secara bergantian dan melanjutkan apa yang sudah disampaikan peserta sebelumnya. Tentunya harus dalam konteks Preparation, Structure (GISI, 3W, and SuReP) serta Impact nya. Hal seperti ini menyenangkan, dituntut untuk berpikir cepat dan tepat. Nah, lagi-lagi mau ngomong aja musti mikir, but it was super fun!
Ternyata, menantang diri sendiri untuk 9x Hari Sabtu bangun lebih pagi dan mengikuti Kelas Public Speaking ini berdampak positif untuk saya; bertemu dengan teman-teman baru, belajar memperbaiki kemampuan komunikasi, belajar introspeksi diri tidak hanya saran dan kritikan yang diungkapkan oleh para fasilitator untuk diri sendiri tetapi juga belajar dari teman-teman serta belajar bagaimana mengkontrol nervous sebelum presentasi.
by admin | Aug 10, 2018 | Information, News
Menulis.
Hmm… Bagi sebagian orang, ini ‘pekerjaan’ berat. Begitu juga bagi banyak siswa reguler class PROFESSIONAL MC TV PRSENTER TALKINC.
Mau jadi MC, kok malah disuruh nulis?”
“Liat rundown, langsung ngomong aja bisa, kok…”
“Aku sih mending disuruh ngomong berjam-jam deh, daripada disuruh nulis satu paragraf.”
“Helooooww… kerjaan dua kali kaleee kalo mau ngemsi harus bikin naskah dulu…”
“Nulis naskah? Uh lalaaa… gubraxxx!!! “
Kalemmm Mas Brooo, Mbak Sis…. Tarik nafas, buang nafas…. Sudah tenang?
Ok… Jadi begini…
Kemampuan berbicara, memang sudah Tuhan kasih lebih dulu sejak usia kita masih bulanan; sedangkan kemampuan menulis, baru bisa kita miliki setelah sekolah. Wajar, kalau kita lebih pandai ngomong dari pada nulis. Tapiii… Ngomong dalam kaitannya dengan public speaking, enggak gampang juga. Itulah sebabnya kenapa Talkinc juga menyelenggarakan kelas Public Speaking. Jadi intinya, untuk menjadi MC atau host atau presenter, atau pembicara, harus memiliki keahlian berbicara yang tidak hanya mengandalkan talenta. Karena “berbicara”nya seorang pembawa acara, bukan sekedar berbicara layaknya ngobrol dengan teman.

“Berbicara”nya MC adalah “berbicara” yang berkaidah, harus memperhatikan berbagai aspek: Materi pesan yang akan disampaikan, khalayak yang dituju, gaya bahasa penyampaian, pilihan kata, intonasi, durasi , speed, dan penampilan.
Nah, dengan batasan kaidah yang banyak itu, bisakah kita bicara tanpa naskah?
Jawabannya, bisa. Tapiii.. rasanya hanya orang-orang pilihan yang diberkahi ‘gift’ dari Tuhan yang akan mampu, ataaaauu… mereka yang sudah lama malang melintang (memiliki jam terbang yang banyak) di bidang per-MC-an. Kalau kita bukan dari dua kelompok di atas dan tetap mau ngemsi tanpa naskah, ya monggo… Silakan bandingkan hasilnya dengan mereka yang menyiapkan pekerjaan MC-nya dengan membuat naskah terlebih dahulu.
Pertanyaan selanjutnya adalah: Memangnya pihak stasiun televisi atau event organizer penyelenggara acara tidak menyediakan naskah untuk MC? Jawabnya: Tidak semua.

Oke, jadi, harus belajar membuat naskah, ya? Iya. Sekali lagi, iya. Percayalah, belajar membuat naskah di kelas HOW TO CREATE YOUR SCRIPT, tidak sehoror yang dibayangkan (kalau tidak percaya, boleh tanya tetangga sebelah, hahaa….). Materi utamanya adalah membuka kotak pandora tempat ide-ide berkeliaran; membuka simpul kusut saat mau memulai kata pertama; dan selanjutnya adalah merangkai kalimat-kalimat ujaran sesuai prinsip “Write The Way You Talk”.
InsyaAllah, meski agak senam otak, di akhir pembelajaran, siswa pasti bisa membuat naskah kata per kata. Hah??? Naskahnya harus kata per kata? Iya. Tapi, meski dibuat kata per kata, pada saat bertugas nanti, naskah di cue card tidak dibaca word by word . Fungsi naskah hanya sebagai primary supporting tool, yaitu sebagai alat pendukung utama, membantu kita saat ada bagian yang kita lupa. Lalu, kalau tidak dibaca, apakah harus dihapal? Tidak juga, karena ketika kita menyusun kata-kata sendiri di naskah, lalu membacanya, merevisinya, membacanya lagi, merevisinya lagi, secara tidak sengaja, kita sudah ‘menanam benih’ dalam memori. Ingat, menulis adalah menguatkan ingatan.
Dengan menyiapkan naskah terlebih dahulu, kita bisa membuat pemetaan di bagian mana (segmen berapa, slot ke berapa) pesan utama harus ditekankan, jokes harus dilontarkan, suasana khidmat harus dibangun, atmosfir ceria harus dibangkitkan. Dengan membuat naskah terlebih dahulu, kita bisa mencari pilihan kata yang lebih tepat, bridging sentence yang lebih nyambung, dan yang paling penting dari itu semua adalah kita bisa membuat acara yang kita bawakan memiliki jiwa (soul) dan penuh dengan nilai (value).
Jadilah MC yang mampu memberi “isi” pada acara, bukan hanya sekedar MC yang cuma bisa ngomong: “Demikian tadi…. Selanjutnya adalah….”.
Regards,
Lia Halim – Fasilitator TALKINC
by admin | Jul 25, 2018 | Information, News
Pengalaman menjadi Fasilitator Talkinc dr awal 2012 banyak memberi manfaat buat saya.Tidak hanya berbagi pengalaman,tapi juga mendapat banyak pengalaman baru. (Termasuk memberikan “nama panggung” untuk peserta).

Membimbing peserta untuk siap menjadi MC/Presenter professional.
8 module yg diberikan melalui teori & praktek dan diakhiri dengan ujian dengan sertifikasi,dari mulai persiapan menjadi seorang MC & Presenter,cara interview yg baik sampai cara berpenampilan dan bersikap selalu humble membuat peserta siap tampil secara professional.
Mengikuti kemajuan peserta sampai akhirnya beberapa diantaranya tampil di stasiun televisi dan tampil dalam panggung2 acara,sungguh kebanggaan yang luar biasa untuk saya.
by admin | Jul 4, 2018 | Articles, Information, News
Selama saya mengikuti training MC dan Presenter ini, materi yang paling membantu saya adalah membuat script. Ibu Lia Halim mengajarkan bahwa sebagai “calon” MC Professional kita harus menulis sendiri scriptnya, untuk mempermudah kita menguasai materi acara. Dalam penulisan script juga harus dituliskan kata –kata seperti nah, ooh, masa., tidak hanya point-pointnya saja, sehingga kita sebagai MC pemula tidak akan mengalami momen “blank ” saat memandu sebuah acara.
Dalam penulisan skrip, ini juga dijelaskan tahap-tahapnya, dari pembukaan, ice breaking, bridging, sampai penutup. Hal yang selalu ditekankan adalah jangan jadi MC terima kasih dan acara selanjutnya, perkaya script dengan informasi tentang materi acara atau hal-hal yang personal pengundang acara, seperti: lagu kesukaan, makanan kesukaaan, dll.
Praktek membuat script juga cukup berkesan, saya juga dapat beberapa koreksi, salah satunya tidak nyambung, antara kalimat, sehingga membingungkan bagi yang mendengar, ini menjadi kelemahan saya yang harus diperbaiki. Ibu Lia juga menjelaskan, pembuatan script itu gampang gampang susah, semakin sering membuat script, semakin baik kemampuan kita menulis, semakin baik menyikapi situasi saat memandu acara.
Menjadi MC dan TV presenter tidak hanya memilki fisik yang menarik, tetapi juga mempunyai kemampuan yang mumpuni untuk memahami kliennya. Kata-kata yang dikeluarkan harus berisi disesuaikan dengan tema acara. Membuat script yang baik menjadi salah satu modal yang harus dimiliki MC professional.