Professional Public Speaking – Batch 84 : Pengembangan diri untuk menjadi individu yang lebih hebat

Mengikuti program TALKINC merupakan salah satu hal yang telah saya targetkan sejak tahun 2019. Pada saat itu saya sedang menunggu kelulusan kuliah dan sedang menjalani magang di salah satu creative agency. Kala itu saya melihat secara langsung MC dan moderator pada berbagai acara yang melibatkan creative agency tempat saya magang hingga menimbulkan keinginan untuk meingkatkan kemampuan public speaking saya. Dengan keinginan saya tersebut, saya berharap suatu saat juga dapat berdiri di panggung layaknya MC dan moderator profesional seperti yang biasa saya lihat.

Berdasarkan rekomendasi salah satu rekan di tempat magang, TALKINC menjadi pilihan saya untuk mulai mengembangkan diri dan kemampuan komunikasi saya. Namun, keinginan tersebut harus saya tunda hingga tahun 2023 karena saya ingin mencari waktu dimana saya dapat berkomitmen penuh dan fokus di kelas. Karena kelas dilaksanakan setiap hari Sabtu, saya memaksimalkan untuk memetakan pekerjaan agar tidak mengganggu kehadiran saya di kelas dan memilih pertemuan offline.

TALKINC memiliki beberapa program kelas yang dapat diikuti sehingga saya cukup bimbang, karena sebelumnya saya berpikir untuk langsung memilih kelas MC & Moderator Program. Namun setelah menimbang berdasarkan tuntutan pekerjaan saat ini, saya akhirnya mendaftarkan diri pada kelas Offline Professional Public Speaking batch 84. Menurut saya, sangat penting untuk memantapkan dasar – dasar dalam public speaking sehingga apapun peran yang akan dijalani nantinya akan lebih mudah (tidak terbatas pada MC & Moderator).

Dari semua materi yang diberikan, materi favorite saya adalah “When Things Gone Bad, How to Handle the Audience” yang dibawakan oleh Mas Imam Wibowo sebagai fasilitator. Berkilas pada pengalaman membawakan presentasi di pekerjaan, banyak sekali momen-momen yang saya rasa dapat dikatakan sebagai “out of the box”. Mulai dari kesalahan teknis hingga pertanyaan di sesi tanya jawab yang membuat saya tidak berkutik. Dari momen – momen tersebut saya belajar bahwa kita tidak sekadar “presentasi lalu selesai” namun banyak hal yang perlu kita antisipasi agar presentasi yang kita bawakan berkesan dan diterima dengan baik oleh audiens mulai dari awal pembukaan presentasi hingga menutup sesi tanya jawab.

Setelah mengikuti kelas – kelas TALKINC, saya memahami strength dan weakness dari diri saya dan hal tersebut saya anggap sebagai awal dari perjalanan pengembangan diri saya untuk menjadi individu yang lebih hebat lagi baik secara personal maupun professional. Terima kasih saya ucapkan untuk semua fasilitator TALKINC yang telah membagikan ilmunya dan menjawab rasa penasaran saya dalam hal public speaking. Target saya selanjutnya, semoga saya dapat bergabung kembali di kelas MC & Moderator Program

Oleh Rizka Putri Adriani

Testimoni: Kenyamanan Kelas Public Speaking di TALKINC

TALKINC adalah tempat belajar public speaking yang asik dan seru. Trainer ramah dan semangat dalam menyampaikan materi di setiap pertemuan sehingga membuat saya lebih terbuka. Trainer di TALKINC juga sangat berkompeten, memiliki pengalaman yang cukup luas sesuai dengan bidangnya masing-masing, materi yang disampaikan oleh trainer sangat mudah dipahami dengan baik oleh saya dan langsung bisa diterapkan dalam kehidupan professional maupun personal. Fasilitas dan ruang belajarnya sangat bersih dan nyaman sehingga mendukung pembelajaran kami.

Selama mengikuti Professional Program Public Speaking Batch 82 di TALKINC saya mendapatakan tambahan wawasan untuk lebih mengasah skill komunikasi saya dari banyak aspek. Pelajaran kesukaan saya yang paling berkesan dan sangat bermanfaat yaitu The Opening Speech oleh trainer atas nama Fernando yang membuat saya lebih percaya diri dalam berkomunikasi. Dari beliau saya lebih memahami bagaimana sebaiknya dalam menyampaikan apa yang ingin saya bicarakan dengan percaya diri agar mendapatkan atensi dari audiens saat awal saya berbicara.

Dengan mengikuti kelas Professional Program Public Speaking Batch 82 di TALKINC selain membuat saya lebih percaya diri, saya juga mendapatkan pengetahuan terkait public speaking yang sebaiknya dilakukan maupun sebaiknya dihindari. Terkadang kita melakukan kebiasaan-kebiasaan di luar kendali kita yang justru membuat audiens akan tidak nyaman atau bertanya-tanya, pada kelas ini saya mendapatkan pencerahannya. Sungguh tidak menyesal saya mengikuti kelas ini karena dapat saya implementasikan di kegiatan sehari-hari terutama dalam tupoksi pekerjaan saya.

Terima kasih TALKINC, semoga semakin jaya, bersinar, dan bertumbuh!

Testimoni Febri Irawan

Belajar Komunikasi Dari Lingkup Keluarga

Sebagai orang tua, siapa yang suka kebingungan kalau sudah mulai memasuki hari libur anak? Saya termasuk golongan tersebut! Saya merasa bertanggung jawab untuk memberikan pengalaman liburan yang bermakna & tak terlupakan buat anak saya khususnya anak perempuan saya yang pertama.

Keinginan terdalam saya memang mengajak anak bermain dengan alam, namun banyak pertimbangan lain untuk saya dan keluarga. Mengingat anak ke dua saya masih bayi yang sangat rentan dan sensitif kulitnya terlebih adanya pertimbangan cuaca yang tidak menentu lalu saya mengurungkan niat tersebut. Hingga akhirnya sebagai kaum urban, mengajak anak pergi ke shopping mall adalah jurus ninja bagi saya.

Ini tantangan bagi saya sebagai orang tua untuk berpikir kreatif dalam mengemas liburan di shopping mall. Saya coba mengajak bermain anak saya di supermarket dengan trivia quiz (Contoh: coba kamu sebutkan minuman kesukaan Ayah & Ibu!). Permainan lain menyesuaikan dengan favorite corner anak saya yakni seafood corner. Di sana kita bisa melihat ikan yang masih hidup dan ada aneka hewan laut yang masih fresh sehingga bisa sedikit menyelipkan basic knowledge yang berkaitan dengan corner tersebut. Hal itu terlihat sederhana namun membuat anak saya menjadi “getting excited” setiap kali diajak ke supermarket. Syukurlah liburannya jadi menyenangkan & berkesan.

Dari hal ini dapat diketahui bahwa hal terpenting komunikasi bahkan dalam lingkup keluarga adalah observasi, mengenal lebih jauh karakteristik tiap orang dalam keluarga dan menyesuaikan pendekatan sesuai karakteristiknya. Hal ini berlaku juga loh saat kita berkomunikasi dalam lingkup professional, baik saat dengan tim/divisi kita, atau bahkan saat berkomunikasi dengan klien! Melakukan penyesuaian komunikasi yang tepat akan menarik orang lain sehingga dapat membangun hubungan yang lebih dekat, saling percaya, dan berkelanjutan. Coba ingat-ingat, sudahkah Anda mengamati & menyesuaikan gaya komunikasi sesuai lawan bicara?

Ditulis oleh: Fernando Edo
Editor: Alyezca Disya Rahadiz

Exploring The Impact: Experience with Public Speaking Training

TALKINC facilitators came to the place where I currently work three times at three different periods. However, for some reasons, I didn’t manage to attend those three sessions. In order to catch up, I read the slides which were presented during those three sessions. Surprisingly, most of the slides are not self-explanatory. My mind automatically made assumptions to fill in the missing information, but at the same time, I doubted my own assumptions. To figure out the hidden meanings behind the few words written in the presentation slides (as well as to improve my communication skills), I registered for the Offline Professional Public Speaking Batch 89 (“PS89”) class.

On my first day at TALKINC Class, I received a book which elaborates the few words that I previously read in the presentation slides. Besides, the book also mentions that well prepared presentations have three components (i.e. speakers, audiences, and tools) that work in synergy with each other which answers the reason why TalkInc purposely prepared such kind of presentation slides. This synergy concept was discussed by Kak Edo in the “The Overview of Public Speaking” session, was further explained by Kak Aurellio in the “How to Create Impressive Presentation Slides” session, and was consistently applied by the facilitators assigned for PS89 class where they maintained engagement with the students exceptionally well and utilized presentation slides as a supporting tool to share their valuable knowledge.

After attending the entire nine sessions, I realized that I gained not only knowledge but also memorable experiences. As such, for me, the synergy concept is one of the most impactful materials that I learned from Public Speaking Batch 89 class at TALKINC as it can differentiate one speaker from another.

Written by: Helsya
Public Speaking 89 Class

Materi Favorite dari Public Speaking Professional Class

Pengalaman saya dalam mengikuti kelas “Public Speaking Professional” di TALKINC benar-benar luar biasa! Terutama ketika kami sampai pada sesi mengenai “The Closing Speech” yang diajarkan oleh Lala Tangkudung. Materi ini menjadi favorite saya karena Lala Tangkudung adalah fasilitator yang sangat kompeten dalam mengajar. Beliau mampu dengan sangat baik mengupas satu per satu dari materi-materi sebelumnya, memastikan kami memahaminya dengan baik. Sesi tersebut benar-benar memberikan pemahaman mendalam tentang bagaimana mempertajam kemampuan public speaking dalam waktu singkat, bahkan dalam 3 menit.

Kelas “Public Speaking Professional” di TALKINC juga berhasil menciptakan lingkungan yang mendukung proses pembelajaran. Selama sesi tersebut, para peserta benar-benar merasa termotivasi dan mendapatkan dukungan yang dibutuhkan untuk mengembangkan keterampilan berbicara di depan umum. Kombinasi antara materi yang lengkap dan pengajaran yang interaktif membuat kami merasa lebih percaya diri dalam berkomunikasi.

Saya sangat merekomendasikan kelas “Public Speaking Professional” di TALKINC kepada siapa saja yang ingin meningkatkan kemampuan berkomunikasi mereka. Ini adalah investasi yang sangat berharga untuk siapa pun yang ingin menjadi lebih baik dalam berbicara di depan umum. Sesi “The Closing Speech” bersama Lala Tangkudung adalah salah satu contoh bagus bagaimana kelas ini memberikan pengalaman pembelajaran yang berkualitas dan relevan.

Ditulis oleh Dinto P.

Pace: Pengaruh Kemampuan Komunikasi atau Public Speaking

Oleh Erwin Parengkuan

“Pernahkan Anda mengamati cara jalan seseorang dengan seksama? Dari cara jalan seseorang hendaknya kita dapat melihat kepribadian termasuk kecepatan kinerja seseorang!” ujar saya. “Aduh, kok begitu?” respon seorang peserta dalam sebuah sesi yang saya bawakan minggu lalu. Rasanya benar, kalau kita melihat orang yang teliti maka dari cara jalan mereka akan terlihat rapi/teratur, orang yang kaku pun akan terlihat, termasuk mereka yang ceroboh kemungkinan tersandung, dan cedera yang lebih banyak.

Apa hubungan cara jalan seseorang dengan Pace atau kecepatan seseorang dalam berkegiatan? Coba lihat orang-orang yang berada di kota-kota dunia, New York, Tokyo, London, Seoul, Singapore, dll. Kota yang sibuk, tidak berhenti berdenyut, dari cara jalan mereka yang cepat mewakili kehidupan dan roda kegiatan yang terus berputar. Berbeda ketika kita pergi ke tempat liburan, Universal Studio, Disneyland, atau di Bali, jarang kita lihat seseorang berjalan secepat kota-kota yang sibuk. Memang belum ada penelitian tentang ini, dan semuanya bersifat situasional.

Semakin kita memiliki kecepatan dalam bekerja tentu semakin banyak hasil yang akan kita dapatkan, begitupun dalam berkomunikasi atau public speaking, semakin cepat kita menangkap pesan-pesan dari lawan bicara dengan teliti, akan semakin efektif kita dalam berkomunikasi dan public speaking. Mari kita bahas, satu persatu.

Soal habbit atau kebiasaan bekerja dengan ritme yang cepat, tentu semua berasal dari sebuah perencanaan, dan prioritas. Ketika kita menuliskan secara terperinci semua hal yang menjadi tugas harian kita, kemudian kita harus menyusun skala prioritasnya, mana yang urgent, top urgent, mana yang bisa dikerjakan nanti, dan tentu kita juga harus mahir dalam menghitung berapa lama waktu yang akan ditempuh dalam pengerjaan sebuah tugas. Begitupun bila kita telah mempersiapkan agenda kerja kita dalam satu hari, seminggu, sebulan, setahun sebelumnya (misalnya projek besar) tentu akan semakin baik kita dalam mengatur kejelian atas kecepatan sebuah tugas harus diselesaikan sesuai waktu. Contoh yang sangat mudah, bila setiap pagi kita baru akan mempersiapkan baju untuk kita berkegiatan, akan berbeda dengan dampaknya kalau sudah dipersiapkan sehari atau seminggu sebelumnya karena kita sudah tahu penampilan dan kegiatan yang akan kita kenakan dan sesuaikan dalam minggu depannya. Pagi kita tentu tidak akan terburu-buru. Tentu semua yang saya sampaikan berhubungan dengan tindakan. Bila hanya ditulis atau direncanakan tanpa sebuah tindakan, sama saja nihil.

Kecepatan ini tentu akan sangat membantu seseorang semakin produktif atau tidak. Kita tentu sering mendengar istilah fast learner, nah orang-orang tipe ini memiliki kinerja yang mudah menyerap dan cepat dalam menjalankannya. Ketika kebiasaan ini kita pupuk, tentu akan menjadi habbit bahkan gaya hidup kita nanti. Hanya saja, tidak semua orang mau keluar dari zona nyamannya. Padahal semua orang harus memaksakan dirinya untuk bertumbuh.

Memulai sesuatu yang baru memang menantang dan perlu sebuah keberanian dan tindakan. Ketahuilah bahwa hanya perlu 14 hari bertahan dalam kebiasaan baru itu, karena itu adalah critical moment yang banyak orang tidak tahu. Kalau kita menyerah melakukan hal yang baru, biasanya tidak sampai satu minggu kita sudah mental block lagi dan kembali ke kebiasaan yang lama yang selalu membuat kita terus berada di zona nyaman. Sekarang saya informasikan 14 hari, Anda sudah bisa memiliki kesadaran dan mental kuat untuk memaksakan merubahnya. Nanti kebiasaan ini kita ulang terus dan terus, tentu akan serta merta menjadi gaya hidup/lifestyle kita selanjutnya.

Sebuah kecepatan/pace layaknya mengendarai kendaraan, semakin cepat semakin mudah kita mencapai sebuah tujuan, semakin cepat kita menangkap info dari lawan bicara dengan teliti, akan semakin efektif kita berkomunikasi. Dan waktu yang kita miliki akan menjadi sangat baik dan produktif. Jangan lupa juga menyisihkan waktu untuk me time dan personal development!

Penyunting: Alyezca Disya Rahadiz