Kekuatan Emosi dalam Public Speaking
Kita tentu pernah melihat sebuah tayangan iklan yang sangat berkesan dihati sehingga tergerak untuk membeli produk yang diiklankan atau paling tidak selalu teringat tayangan tersebut setiap kali melihat produknya terpajang di supermarket.
Dalam Public Speaking pembicaraan yang efektif adalah yang seperti tayangan iklan itu melekat kuat di benak pemirsa karena hasil menyentuh emosi mereka. Dengan menciptakan emosi yang cukup dan terus menerus membangkitkannya saat presentasi berlangsung, hadirin akan mengingat emosi tersebut ketika mereka melihat produk atau subjek yang telah anda presentasikan. Perasaan-perasaaan tersebut akan secara dramatis meningkatkan kemauan hadirin untuk melakukan tindakan yang anda harapkan.
Emosi adalah bagian sangat penting dalam Public Speaking. Bila anda seorang salesman, misalnya tidak cukup anda memilik penguasaan tentang produk yang anda jual, anda juga harus pandai membangkitkan emosi calon pembeli. Mengapa? Karena keistimewaan dan manfaat produk adalah bahasan dalam menjual, sedangkan emosi adalah bagaimana hadirin tergerak atau memutuskan untuk membeli produk anda.
Pembicara yang sukses biasanya menggunakan cerita untuk menciptakan emosi, membangun emosi, dan menacapkannya dengan kuat di hati hadirin.
Cerita dapat mengikat perasaan-perasaan hadirin secara kuat. Bila anda pernah menceritakan sebuah kisah dengan unsur perasaan, atau menceritakan pengelaman emosional kepada orang lain, hal ini akan efektif, baik dalam interaksi singkat yang hanya satu menit maupun dalam presentasi satu jam.
Training Penting Untuk Millenials “Mari Buka Jalan”
Seperti kita tahu millenials adalah generasi yang totally different than any other generations before, maka pelatihan yang dilakukan TALKINC khususnya kepada 1200 peserta Calon Pegawai Staff OJK pada Oktober-Desember 2016 adalah membekali mereka dengan mengetahuan tentang konsep diri, mengenali mereka tentang siapa mereka? Dan apa yang ingin dibangun berdasarkan konsep tersebut yang dikaitkan dengan potensi diri serta bagaimana mereka menilai diri (self image), berinteraksi dengan lingkungan (social image) dan menampilkan citra diri yang sesuai dengan pandangan lingkungan kepada mereka. Biasanya antara self image dan social image terkadang tidak sama pandangan. Misalnya seseorang menganggap dirinya sudah bersemangat ternyata dari pandangan social image dianggap moody. Kegiatan role play di dalam kelas, peserta maju dan menjelaskan siapa dirinya, menimbulkan kesan “first impression” apakah sama dengan yang ditampilkan vs dipandang orang lain.
Ini menjadi pelajaran penting bagaimana seseorang dapat “grow” dengan selalu mempunyai “self evaluation” yang dilakukan dari waktu ke waktu.
Adapun materi lainnya yang diperlukan adalah mempertajam personal branding mereka agar tepat sesuai tempat dimana mereka bekerja yang dikaitkan dengan core value perusahaan. Contoh Pribadi yang cuek tidak akan sesuai dengan budaya perusahaan yang peduli terhadap customernya. Disinilah fungsi pelatihan yang dilakukan untuk menyadarkan mereka akan pentingnya pengenalan diri dan secara konsisten membangunnya. Hal ini pernah kami bahas dalam buku kami Personal Brand-inc stategi taktis bertahan di karir yang kami buat pada tahun 2014.
Beberapa modul kami di kelas juga meningkatkan rasa percaya diri, dan berbicara dengan tepat dan terstuktur dalam pemilihan kata yang sesuai. Seperti kita tahu millenials mempunyai tendensi bicara pendek-pendek, seperti ok, ok ok..dalam setiap menjawab pertanyaan maupun dalam bahasa tulisan.
Kami mempertajam kelancaran verbal mereka dengan mengingatkan bahwa ada tujuan komunikasi dan pemilihan kata yang harus disampaikan dengan baik, sehingga komunikasi memenuhi aspek 3T : Terarah, Tuntas dan Tidak menimbulkan Tanda tanya.
Tantangan bagi sebagian Millenials yang minim bicara menjadi sulit dalam membangun hubungan dengan audience, sehingga diperlukan juga kemampuan untuk membangkitkan gairah dalam melakukan pembicaraan dengan audience tanpa sibuk dengan gadget dan belajar cara menghargai lawan bicara, khususnya dengan generasi Baby Boomers. Saran saya adalah: buang asumsi tentang generasi Boomers adalah generasi bapuk/jadul yang sulit diajak bicara. Justru mereka harus “Mapping” tentang siapa mereka, dan “Profiling” sehingga terjadi sinergi, mari mulai berkomunikasi dengan respect, membuang dokma-dokma negative dan mulai membangun hubungan yang horizontal, bahwa bicara dengan para senior khususnya baby boomers akan memperkaya pengetahuan dan mendapatkan nilai-nilai teguh yang dipegang mereka sehingga generasi millenials akan menjadi generasi digital yang mempunyai rasa empathy yang didapatkan dari boomers, di situlah mereka akan menonjol, manakala teman-teman mereka masih acuh, tapi mereka tidak!
Mari take Action!
First Impresions sangat penting untuk MC dan Presenter
Mengikuti kelas MC & TV Presenter di TALKINC di batch 88 menjadi pengalaman dan pelajaran yang sangat berkesan dan bermanfaat bagi saya yang ingin menjadi seorang MC dan presenter yang professional. Dari semua materi yang diajarkan, materi favorit saya yaitu pada encounter 3 atau tentang First impression dan juga teaming with partner yang pada saat itu disampaikan oleh Ka Robby Purba.
Menurut saya first impression yang sangat penting untuk menciptakan profesionalitas kita sebagai seorang MC/Presenter, karena image terhadap audiens ditentukan pada dua menit pertama kita dalam membuka suatu acara. First Impresions juga penting untuk menjaga hubungan baik kepada stakeholders, karena ada poin-poin yang harus kita jaga sebagai seorang professional MC dan presenter dalam pembentukan brand image yang baik. Pada materi teaming with your partner kita juga diajarkan untuk tidak menjadi partner yang dominan atau memonopoli bagian partner kita pada saat tampil. Proses reading script juga sangat penting untuk mengetahui bagian kita dan partner sebelum memulai acara.
Kelas yang saat itu dimentori oleh Ka Robby purba merupakan kelas yang paling berkesan dari kelas-kelas lain yang pastinya tidak kalah seru dan menyenangkan. Pada pertemuan kelas itu berkesan karena kita diajarkan untuk bagaimana tersenyum melalui mata dan body language kita, lalu diberi tugas untuk membuat script kuis sponsor yang sebelumnya kita juga telah diberikan contoh script asli dr acara tv jadi lebih jelas memberi gambaran untuk tau seperti apa script yang baik dan benar. Dan Fun Challenge kita terakhir pada kelas saat itu, kita harus bisa mempresentasikan suatu produk dengan first impression kita masing-masing dan produk yang secara acak diberikan oleh mentor kita dalam waktu yang sangat singkat untuk bagaimana menarik audiens dengan produk yang diberikan pada saat itu. It was fun and challenging untuk kita bersama-sama koreksi dan bagaimana menjadi seorang MC dan Professional TV Presenter.
Orang pintar bukan orang cerdas
Faktor penting yang membuat seseorang sukses dalam hidup
Kita tahu IQ bukanlah faktor utama yang membuat orang berhasil dalam hidupnya. Buktinya teman-teman yang dulu pintar dengan nilai yang tinggi di sekolah ketika dewasa tidak lebih sukses dari mereka yang nilainya biasa-biasa saja di sekolah.
Emotional quotient adalah kecerdasan seseorang dalam mengolah “rasa” serta efektif menerapkan ketajaman emosi dan tingkat kolaborasi yang tinggi.
Adalagi, SQ (spiritual quotient) bagaimana manusia bergantung kepada kekuatan lain yang lebih tinggi darinya yaitu : Allah sang pencipta.
Tentu jawaban saya adalah EQ, karena disana terdapat kemampuan mengolah “rasa” dimana seseorang dituntut untuk paham siapa dirinya. Dalam teori yang gunakan di sekolah kami TALKINC adalah sesuai buku Understandinc People yang saya tulis dan saat ini sudah menjadi National Best Seller.
Melihat makna lain yang ada di EQ tertulis kolaborasi yang tinggi menurut saya ini menjadi faktor penentu yang tidak kalah penting. Manusia hakekatnya adalah mahluk sosial yang harus dapat beradaptasi dengan lingkungannya. Dia tidak solitare tetapi menjadi flexible terhadap lingkungan sekitar, khususnya hal yang berhubungan dengan kesuksesan yang ingin dicapai. Ini termasuk branding apa yang ingin ditampilkan dan kemampuan untuk beradaptasi dengan efektif dan berkomunikasi dengan tepat.
Nah rasanya terjawab orang yang cerdas = sukses, orang pintar hanya untuk nilai di sekolah.
Memasuki dunia digital saat ini, ada tantangannya baru bagaimana kita dituntut menjadi berbeda dari orang lain, sehingga menjadi menonjol, selain karena faktor values, skill, behaviour terdapat juga faktor pendukung lainnya yaitu : total look , authentic (apakah sesorang tulus atau KW) dan uniqueness ( Buku Personal Brand-inc 2015). Dan semua itu tentu tidak akan berhasil kalau hanya rencana. Dia harus direalisasikan supaya Terlihat! Jawabannya menurut saya adalah : untuk menjadi sukses kita harus menciptakan kebiasaan yang baru mulai sekarang! Yuk.
Erwin Parengkuan
Founder and Managing Director
Talkinc
Jl Kendal no 18 A-B
www.talk-incorporation.com
Materi Favorit Regular Class MC TV Presenter
Saya selalu senang melihat MC atau presenter di berbagai acara. Sepertinya mereka sangat asyik ya dan sangat menikmati dalam membawakan acara. Kagum deh pokoknya dengan semangat positif yang bisa mereka tularkan ke para audience. Kebetulan beberapa teman saya juga berprofesi sebagai MC atau presenter. Waktu itu salah satu teman saya bercerita kalau dia pernah mengikuti sekolah presenter di TALKINC. Saya pun mencari tahu tentang TALKINC dan dengar-dengar kualitas pengajaran di TALKINC memang bagus. Sayang sekali karena berbagai kesibukan saya sempat terhalang ketika ingin bergabung. Namun senang sekali akhirnya sekarang saya bisa menyempatkan waktu untuk bergabung di TALKINC!
Banyak sekali wawasan dan pengalaman baru yang saya dapatkan di tiap pertemuan. Tidak hanya sekedar berbagi pengetahuan, para tutor juga selalu berhasil menginspirasi saya. Sulit menentukan mana pertemuan yang paling mengesankan. Namun pada kali ini saya ingin berbagi mengenai salah satu sesi yang fasilitatornya adalah Wahyu Wiwoho. Tema pertemuan pada waktu itu adalah “Building the Atmosphere” dan “When Things Gone Bad”. Pas banget karena saya selalu penasaran bagaimana sih seorang MC selalu bisa berhasil membawa suasana? Mas Wahyu kemudian menjelaskan unsur-unsur atmosfer yang semuanya berperan penting dan saling mendukung satu sama lain.
Ketika memasuki tema “When Things Gone Bad”, kami di kelas menonton beberapa video. Salah satunya adalah suasana ketika pembawa berita yang sedang on air mengalami gempa. Wah saya yang nonton aja nggak kebayang paniknya gimana. Mas Wahyu lalu berpesan kalau dalam situasi apapun usahakan harus tetap tenang. Kita juga boleh mengkomunikasikan apa kendala yang dialami kepada audience. Masih banyak lagi ‘wejangan’ dan feedback lainnya yang diberikan Mas Wahyu di kelas dan masih saya ingat sampai sekarang.
Yang pasti saya benar-benar merasa berkembang dengan mengikuti MC-TV Presenter Class di TALKINC. Seperti yang saya sudah bilang sebelumnya, I always feel inspired when I leave the class. Terima kasih TALKINC!
Personal Branding and Influential Communication Skills with BRI Life
Pada tanggal 1 Agustus 2017, Talkinc mengadakan training bersama BRI Life dengan materi “Personal Branding and Influential Communication Skills Training”. Peserta berasal dari seluruh Indonesia, seperti Bali, Medan, Bandung, dan lain – lain. Dalam sesi pertama, Adinda Djoko Sanjoto, selaku facilitator, memperkenalkan diri dan kemudian memulai sesi pertama yaitu “Personal Branding”, facilitator bertanya kepada peserta, apa yang mereka pikirkan saat mendengar “Indonesia”, “Dalam Kemasan”, “Air Mineral”, semua peserta menjawab aqua. Fasilitator menjelaskan, bahwa setiap orang mempunyai persepsi yang berbeda akan tiap hal.
Sesi kedua adalah “Understanding People”, diawal sesi fasilitator menjelaskan bahwa ada 4 jenis kepribadian yaitu Kuat, Gesit, Rinci dan Damai, kemudian peserta mengisi form Understanding People yang diberikan oleh Talkinc. Setelah mengetahui mereka termasuk di kepribadian yang mana, mereka akan duduk secara berkelompok dan kemudian akan melakukan group presentation, dimana setiap kelompok akan membuat nama kelompok, kekuatan, kekurangan, motto dan juga yel – yel.
Sesi ketiga adalah “Influential Communication”, disesi ini facilitator menjelaskan tentang proses komunikasi, yang terdiri dari source, message, channel and feedback. Fasilitator juga menjelaskan bahwa komunikasi yang efektif terdiri dari :
• Tujuan
• Peran
• Isi Pesan
• Audience
• Kesan
• Intonasi
• Bahasa Tubuh
Terdapat beberapa tantangan komunikasi yang umum dihadapi, yaitu :
• Tidak memberi manfaat
• Tidak jelas alur dan tujuannya
• Tidak interaktif
• Terburu – buru
• Terlalu panjang, terlalu banyak dan terlalu detail
Effective Communication Skills Training with Sinarmas Land
Pada hari Jumat, tanggal 28 Juli 2017, TALKINC mengadakan Effective Communication Skills Training dengan Sinarmas Land di Sinarmas Land Customer Care, BSD. Facilitator pada hari itu adalah Becky Tumewu. Training dimulai pada pukul 9.00 pagi, sesi dimulai dengan menunjukkan 2 video, video masak dan video tentang hiu, kemudian beberapa perwakilan peserta diminta untuk menceritakan kembali video tersebut, peserta sangat antusias akan aktifitas ini.
Kemudian facilitator bertanya kepada setiap peserta, apakah kesan pertama orang lain pada saat bertemu anda untuk pertama kali, peserta banyak yang menjawab pendiam, humoris, galak, dan lain – lain. Fasilitator juga kemudian menjelaskan tentang tantangan komunikasi yang bisa ditemui, yaitu, takut tidak memberi manfaat, tidak jelas alur dan tujuannya, tidak interaktif, terburu – buru dan terlalu detail.
Komunikasi adalah proses komunikasi verbal dan non verbal, mengirim pesan dan menerima pesan, proses negosiasi, persuasi dan bagaimana membangun hubungan dengan audiens. Komunikasi terdiri dari 55% Bahasa Tubuh, 38% Intonasi Suara dan 7% kata – kata. Pada saat akan melakukan sebuah presentasi, perlu di ingat bahwa sebuah presentasi atau speech yang baik terdiri dari Opening (Apresiasi, Ice Breaking, Building), Body Content (Sudut Pandang, Alur berfikir).
Dalam presentasi, “Ingin – Perlu – Harus” perlu diingat, apa yang ingin dibicarakan, perlu dibicarakan dan harus dibicarakan. Facilitator juga menjelaskan tentang pentingnya intonasi suara, intonasi suara harus dinamis, tidak datar dan passionate. Body Language merupakan hal yang sangat penting, body language adalah satu – satunya Bahasa yang tidak bisa berbohong, fasilitator memberikan beberapa contoh Bahasa tubuh, seperti video Bill Clinton, apa arti dari Bahasa tubuh ini, mana Bahasa tubuh yang baik dan mana Bahasa tubuh yang buruk.
Impactful Presentation Skills Training with Sinarmas Land
Pada hari Selasa, tanggal 18 Juli 2017, TALKINC mengadakan Impactful Presentation Skills Training bersama rekan –rekan dari Sinarmas Land, diawal sesi, Erwin Parengkuan selalu facilitator, menyapa para peserta dan kemudian meminta peserta agar memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama, jabatan dan tantangan dalam berkomunikasi, banyak peserta yang menyebutkan bahwa kebanyakan dari mereka adalah introvert dan tidak tahu bagaimana cara membina hubungan dengan audiens atau orang lain.
Materi pada sesi pertama adalah “Boosting Confidence”, fasilitator menjelaskan tentang Self – Esteem, Self – Concept, Self – Image dan Social Image, kemudian fasilitator menjelaskan bagaimana cara membangun Self – Esteem, anda harus membuat “Feel Good Folder”, kumpulkan surat, e-mail dan hadiah yang memberikan semangat dan buat tagline mengenai diri anda.
Pada sesi Impactful Presentation Skills, fasilitator meminta peserta untuk berkelompok berjumlah 5 orang, lalu mempresentasikan kembali tentang video yang telah ditampilkan sebelumnya. Artikulasi sangat penting dalam proses penyampaian pesan. Fasilitator menjelaskan tentang SuReP, Summary, Recap dan Punchline, ketiga hal tersebut penting dalam menyampaikan sebuah presentasi, agar pesan bisa tersampaikan dengan baik.
Effective Communication and Presentation Skills Training
Pada hari Rabu, tanggal 19 Juli 2017, TALKINC mengadakan training bersama rekan – rekan OJK Kasubag. Sesi pertama dimulai dengan “Ice Breaking”, selaku facilitator, Adinda Djoko Sanjoto, meminta setiap kelompok untuk maju kedepan dan mepresentasikan nama kelompok, moto dan yel – yel dari kelompok masing – masing. Semua peserta maju ke depan dan menunjukkan keunikan masing – masing kelompok. Kemudian sesi dilanjutkan dengan sesi “Understanding People”, dimana peserta akan mengetahui kepribadian mereka dengan mengisi form yang diberi oleh Talk inc.
Peserta lalu mengetahui mereka berapa di kuadran yang mana, apakah mereka mempunyai Kepribadian Kuat, Gesit, Rinci atau Damai? Fasilitator meminta peserta untuk duduk sesuai tipe kepribadian masing – masing dan kemudian menyebutkan kekurangan & kelebihan dari masing – masing kepribadian. Kemudian dilanjutkan sesi “Professional Positioning”, dimana peserta akan mengisi formulir dan kemudian akan mengetahui apakah mereka berada di kuadran “I’m Ok, You’re OK” atau “I’m Not OK, you’re not OK” dan lain – lain.
Gap Generation merupakan sesi yang ditunggu – tunggu oleh peserta, di dalam sesi ini, fasilitator akan membahas tentang bagaimana berkomunikasi dengan orang – orang yang berbeda generasi, diawal sesi peserta ditunjukkan beberapa gambar elektronik dan teknologi, peserta menebak elektronik tersebut cocok dengan generasi yang mana. Fasilitator menjelaskan tentang Traditionalist, Generation X, Millenials dan Baby Boomers.
Sesi selanjutnya adalah Impactful Presentation Skills, dimana peserta akan belajar bagaimana melakukan presentasi yang baik, dari segi time management, konten, opening, closing, alur berfikir dan bagaimana design slides yang menarik bagi audiens. Perwakilan dari setiap kelompok presentasi kedepan menggunakan slides, kemudian fasilitator akan memberikan feedback, apa yang sudah bagus dan apa yang harus diperbaiki.



