Testimoni Regulas Class MC TV presenter

Bagi saya, Ayang Andriana, mengikuti kelas di TALKINC. sudah menjadi keinginan saya sejak saya duduk dibangku kelas 3 SMA. Saya memang termasuk orang yang “suka ngomong” dan “banci tampil”. Saat itu cita-cita saya adalah menjadi seorang penulis buku atau menjadi seorang TV presenter. Namun setelah lulus SMA keinginan saya itu harus saya urungkan karena orangtua meminta saya untuk melanjutkan studi di Fakultas Kedokteran Gigi. Kuliah di jurusan kedokteran tidak membuat saya melupakan cita-cita terpendam saya, justru saya memulai semuanya dari bangku kuliah.

Beberapa kali mengajukan diri menjadi MC di acara seminar kampus, hingga akhinya tawaran menjadi MC dibeberapa acara jurusan lain, bahkan yang tidak berhubungan dengan kuliah saya di kedokteran gigi saat itu. Tak hanya sampai di ranah kampus, saya seakan tertarik makin jauh di dunia MC, beberapa kali menjadi MC untuk acara Kementrian Lingkungan Hidup, Badan Ekonomi Kreatif, dan juga WWF. Saya semakin tertarik mendalami dunia MC TV presenter.

Setelah lulus kuliah, Alhamdulillah kesempatan untuk menimba ilmu di TALKINC akhirnya datang juga. Saya begitu antusias mengikuti kelas disetiap minggunya. Salah satu kelas yang menjadi favorit saya adalah kelas ‘When Things Gone Bad & Building The Atmosphere’. Pengalaman beberapakali MC untuk acara formal, saya tak luput dari kesalahan yang menurut saya fatal, seperti salah penyebutan nama atau gelar.

Saat kelas berlangsung Kak Robby Purba yang menjadi fasilitator kala itu, benar-benar menularkan ‘positive vibes’ pada seisi kelas. Membuat kami yakin bahwa melakukan kesalahan pada saat tampil diatas panggung adalah hal yang wajar, bahkan untuk MC yang sudah professional sekalipun. Yang harus kita ingat adalah jangan sampai kesalahan kecil saat itu mempengaruhi keseluruhan acara, karena atmosfir positif diri sendiri sangatlah berpengaruh terhadap atmosfir acara saat itu. Tidak hanya itu, tapi juga aura positif itu harus kita mulai dari diri sendiri dan sejak pertama kali kita bangun pagi.

Saya sangat menikmati kelas yang penuh energi positif kala itu. semua yang di sampaikan oleh Kak Robby membuat saya berfikir bahwa dalam melakukan hal apapun, ‘bad things’itu bisa datang kapan saja dan pada siapa saja, namun kita yang harus tau bagaimana menghadapinya. Di TALKINC juga saya belajar untuk MC TV presenter yang ‘berkelas’ dan ‘berisi’ tidak hanya seseorang yang ‘jago ngomong’. Jaya terus TALKINC!

Bragologue : Membanggakan diri tapi tidak angkuh

Bragologue adalah seni dengan menyatukan Bragging (membanggakan diri sendiri) dan monolog (menyampaikan suatu gagasan). Dalam Bragologue ini akan membahas bagaimana menciptakan kesan yang menarik tentang diri kita di depan orang lain dengan lugas.

Tidak semua orang bisa melakukan “Bragologue” ini dengan baik, karena kita tidak mau terkesan sombong dan angkuh dengan menceritakan keberhasilan kita. Kita harus bisa memberikan branding tentang diri kita kepada orang di sekitar kita.

Tujuannya adalah agar nama kita bisa diingat dan dikenal oleh mereka saat kita ada ataupun saat kita tidak ada. agar bisa melakukan Bragologue dengan baik, ikuti beberapa langkah di bawah ini :

• Temukan 3 nilai inti diri anda.

• Temukan 5 keahlian anda

• Cari teman dekat anda untuk mendeskripsikan diri anda

Demi memperkuat kesan Branding anda di depan orang-orang sekitar, anda harus tetap menjalin hubungan positif dengan orang lain. Kita harus proactive dan melakukan sesuatu agar atasan kita, rekan kerja, bahkan orang yang terdekat dari kita bisa mengingat kita pada saat mereka membutuhkan sesuatu, kita bertanggung jawab terhadap penilaian dan kesan dari kita sendiri.

Kunci keberhasilan dari brogologue adalah menceritakan hal membanggakan yang pernah dialami oleh diri sendiri dengan tujuan untuk memotivasi dan memberikan pengaruh positif bagi orang lain, bukan menyombongkan diri.

Perbedaan antara host, presenter dan mc

Sering kali orang kebingungan dalam membedakan ketiga kosakata tersebut, sering terbalik-balik sehingga definisi nya menjadi membingungkan bagi kebanyakan orang. Yang pertama, “Host”, host dalam bahasa Inggris artinya adalah tuan rumah, sehingga pada acara yang mendatangkan bintang tamu, pemandu acaranya di sebut “Host”, misalnya seperti acara Talkshow, contohnya “Ellen DeGeneres”, “Kick Andy”, dan lain- lain.

Yang kedua adalah “presenter”, berasal dari kata Present yang artinya mempersembahkan, sehingga presenter adalah orang yang memperkenalkan atau membawakan materi dari program yang dibawakan, misalnya seperti pembicara seminar, pembawa berita atau News Anchor.

Yang ketiga adalah “mc” atau master of ceremonies, artinya adalah “Ahli acara”. Definisi dari mc ini adalah orang yang mengarahkan, memandu jalannya acara tahap demi tahap, biasanya mc untuk acara yang bersifat off air, seperti acara launching produk, pernikahan atau acara ulang tahun.

Pentingnya story telling dalam public speaking “Erwin Parengkuan”

Di awal tahun 2017, saya dan semua team kantor, melakukan outing ke Bali, lagi lagi tentang Bali yang tidak pernah membuat kita bosan. Singkat cerita kami pergi ke Nusa Lembongan, pagi hari, team kami yang berjumlah 14 orang sudah siap sebelum jam 8 pagi di Sanur untuk menantikan kapal yang akan mengantarkan kami ke Nusa Lembongan. Perjalanan yang tidak lama hanya 40 menit dan kami tiba disana tepat pada waktunya. Hari itu kami akan menghabiskan waktu seharian penuh, bermain di pantai , snorkeling dan tentunya makan enak. Ketika mendarat di dermaga kami saya melihat beberapa toko souvenir kerajianan Bali, dengan berjalan cepat saya mulai untuk mengamati barang apa saja yang cocok untuk di beli, termasuk oleh-oleh dan hiasan yang cocok untuk kantor baru kami yang akan pindah sebentar lagi.

Memasuki sebuah art shop adalah salah satu kenikmatan tersendiri buat saya. Mengamati cara pembuatan, finishing maupun materialnya. Beberapa barang sudah ada yang saya taksir, dan saya mengatakan kepada ibu penjual untuk menyimpannya. Hari itu, udara sangat bersahabat, tidak hujan seperti yang diramalkan, membuat trip hari itu terasa lengkap.

Setelah seharian menjelajah Nusa Lembongan, kami kembali ke dermaga untuk menunggu kapal datang, ada waktu satu jam, tentunya ini adalah waktu yang cukup untuk mengambil barang-barang yang sudah saya reserved, si Ibu penjual dengan senyumnya menyambut saya di depan tokonya. Sayapun mengamati lagi mungkin ada barang lain yang bagus untuk saya beli, hingga mata saya tertuju kepada 3 buah kerang seukuran telapak tangan saya. Warnanya silver dan bentuknya jarang saya lihat. “itu kakek saya yang ambil kerang ini, menyelam tanpa alat bantu, dan mengumpulkan kerang-kerang ini, jaman dulu tahun 1970an memang begitu…sekarang kerang-kerang ini sudah tidak ada lagi”.
Sambar si Ibu begitu melihat saya mengamati barang tersebut. “oh ya, bu?” ujar saya. “Ya, kerang-kerang ini tadinya koleksi kami, hanya karena saya perlu uang, akhirnya terpaksa kami jual, tadinya kakek saya punya ini 60 buah, sekarang tinggal 6 buah, dan tidak ada lagi yang jual di pulau ini, saya sebenarnya sayang juga mau jual!”.
Nah, disinilah saya semakin tertarik dengan cerita si ibu, membuat saya “melihat” kerang tersebut dengan nilai yang sudah berbeda dibanding pertama kali saya melihatnya. “ini cuma tiga, mana yang 3 lagi bu?” kemudian si ibu masuk kedalam dan membawa 3 kerang lainnya yang bermotif, kali ini saya justru belum pernah melihat motif kerang seperti ini. Saya semakin tertarik, Setelah negosiasi, singkat cerita sayapun memborong ke enam kerang tersebut , sambil membungkus kerang-kerang tersebut si ibu melanjutkan ceritanya kepada saya: “kalau masih mau lagi saya masih punya 6 lagi kok”. “loh, ibu masih ada lagi, katanya itu kolesi terakhir???” jawab saya dengan nada kaget :). “Iya, memang masih ada 6 pesanan orang, kalau mas mau, saya jual saja sekarang…” Dan sayapun terdiam.

Nah, bisa anda bayangkan, bagaimana kekuatan story telling dapat mempengaruhi kita dalam mendengarkan sebuah cerita. Coba bayangkan cerita saya diatas, bila tanpa sebuah “storytelling” tentu tidak akan membuat saya memborong ke 6 kerang tersebut. Saya membeli karena terpengaruh dengan cerita si ibu.

Kalau kita perhatikan, memang storytelling adalah salah satu daya pikat utama dalam seni berbicara, khususnya untuk public speaking. Akan mudah dicerna oleh audience bila cerita anda nyambung dengan materi yang akan disampaikan. Tidak hanya itu, cerita yang disampaikan harus mengandung emosi, sehingga membuat kita yang mendengarkannya menjadi antusias ingin mendengarkan kelanjutan dari setiap sequences yang anda sampaikan. Audience akan dengan seksama mengikuti alur anda. Buatlah storytelling anda menjadi relevant dan mempunyai ending yang baik.
Pastikan ada “value” yang anda tawarkan melalui cerita anda.

Kapan baiknya story telling dilakukan, ada baiknya di awal pada saat anda selesai greetings dan introduction. Anda bisa memulainya dengan kata-kata positif seperti ini; “ saya punya pengalaman yang menarik tentang topik hari ini, waktu itu saya……..” Selamat membuat cerita yang menarik!.

Didalam public speaking kemampuan berbicara itu penting

Didalam public speaking, Teknik berbicara sederhana tidak akan bisa membuat seseorang mampu menguasai atau bahkan mempersuasi orang lain untuk kepentingan tertentu. Maka dari itu, kita membutuhkan keterampilan berbicara, menguasai teknik berbicara, baik dalam proses menyampaikan pesan, mempengaruhi orang, memberi motivasi, dan lain – lain.

Pandai berbicara bukan berarti banyak omong, akan tetapi mempunyai kemampuan mengolah kata – kata menjadi sedemikian rupa, sehingga apa yang disampaikan dapat mampu merubah pola pikir mereka dan audiens setuju dengan apa yang di katakan oleh kita.

Kemampuan berbicara atau public speaking juga akan meningkatkan kemampuan kita untuk berpikir kritis, kemampuan tersebut berkesinambungan dengan kemampuan otak untuk mencari solusi dari suatu masalah secara cepat dan tepat. Kemampuan berbicara juga bisa mengatasi rasa takut anda untuk berbicara di depan umum, berbicara di depan umum akan memaksa untuk melawan rasa takut yang anda miliki.

Pentingnya flow of mind dalam public speaking

Tampil didepan umum sebagai seorang mahasiswa/i, tidak lain dan tidak bukan adalah melakukan presentasi. Presentasi bisa dikatakan sebagai “makanan wajib” dan pasti selalu ada di setiap pergantian mata kuliah baru di setiap semesternya. Hal tersebut memang sudah biasa di alami semenjak saya memasuki dunia perkuliahan. Saya biasa disapa Sonia ini adalah seorang mahasiswi semester enam yang sedang giat-giatnya mencari ilmu demi meraih gelar sarjana di bidang Ilmu Politik atau Pemerintahan di salah satu universitas negeri di Depok, Jawa Barat.  Dari semester satu hingga semester enam ini, saya telah merasakan banyak pengalaman yang berharga, mulai dari bekerja dalam kelompok, menulis berpuluh-puluh halaman makalah dan jurnal, serta melatih diri dalam mengutarakan pendapat dan melakukan presentasi baik berkelompok maupun individu.

Mempresentasikan materi berhaluan sosial politik memang tidaklah mudah. Butuh memori yang cukup besar untuk bisa memahami beragam macam bahan bacaan dan analisis yang telah saya ataupun kelompok saya lakukan. Hal tersebutlah yang terkadang membuat gaya bicara dalam presentasi menjadi tidak karuan, sebut saja, banyak nge-blank nya. Sehingga, mau tidak mau saya banyak melihat ke layar PowerPoint presentasi atau makalah yang sudah saya buat sebagai pemandu dalam menyampaikan materi. Saya tau jika hal yang saya lakukan adalah salah dan tidak akan menciptakan figur yang menarik di mata teman-teman saya lantaran cara membawakan presentasi saya yang cenderung kaku dan mencari aman dengan membaca dengan sesekali menatap ke arah audience, namun saya sendiri menjadi tidak merasakan esensi dari presentasi tersebut.

Ternyata benar, membawakan materi yang sangat berat memang tidaklah mudah untuk saya pribadi yang sesungguhnya pada masa SMA saya lumayan sering ditunjuk untuk menjadi seorang MC dan membawakan sebuah acara formal di sekolah saya. Lalu saya mulai berpikir, bagaimana caranya saya bisa membawakan presentasi dengan baik, mengalir seperti ketika seseorang sedang bercerita tanpa putus-putus yang diimbangi dengan intonasi dan body language yang seakan-akan menyihir para penonton untuk terus mengikuti alur saya dalam menyampaikan sebuah materi.

Pada akhirnya ketika saya sudah merasa ada yang tidak beres dengan cara saya melakukan presentasi, saya langsung mencari-cari informasi untuk melakukan kursus yang benefitnya adalah membuat saya menjadi percaya diri, tidak nge-blank pada saat menyampaikan materi, tetapi tetap enak didengar suaranya oleh teman-teman maupun dosen yang sedang mendengarkan presentasi saya. Lalu, saya teringat ketika saya masih duduk di bangku SMP saya pernah membeli sebuah majalah remaja yang didalamnya berisikan kumpulan foto-foto kegiatan karantina pemilihan model sampul majalah remaja tersebut. Kemudian setelah mengingat-ngingat kembali, ada suatu momen dimana mereka diajarkan untuk melakukan public speaking yang diawali dengan pengenalan diri hingga cara mereka menentukan sikap pada saat berbicara di depan umum. Nama dari sebuah agensi public speaking tersebut bernama Talk Inc. Oleh karena itu, saya langsung mendiskusikan dengan kedua orang tua saya yang pada akhirnya mereka menyetujui saya untuk mengikuti program kelas public speaking demi menunjang kepercayaan diri saya dalam berbicara didepan umum.

Kelas demi kelas tentunya tidak pernah saya lewatkan satupun mengingat dengan mengikuti kursus ini saya yakin saya akan bisa jauh lebih percaya diri ketika saya harus mempresentasikan materi didepan kelas dengan alur yang jelas dan tepat. Pertemuan pertama diawali dengan pengenalan public speaking yang dilanjutkan dengan video mapping, dimana satu per satu dari kami harus berbicara didepan kamera dengan membawakan materi bebas yang telah kita kuasai. Dilanjutkan dengan pertemuan berikutnya, hingga sampailah pada suatu pertemuan yang berjudul “Flow of Mind.” Yang terbesit dalam benak saya adalah, saya akan belajar bagaimana mengatur cara berpikir saya ketika sedang melakukan presentasi dan saya sudah cukup tertantang ketika melihat judul materi yang selalu terpampang didepan pintu kelas disertai dengan pengajar atau fasilitatornya.

Fasilitator untuk kelas Flow of Mind pada hari Sabtu itu memiliki nama lengkap Boy Kelana Soebroto atau lebih akrabnya dipanggil “Mas Boy”. Di kelas ini, selain kita akan maju satu per satu untuk menampilkan presentasi sesuai dengan alur berpikir yang benar, kita juga diberikan macam-macam cara mempresentasikan suatu materi menggunakan alur berpikir tersebut, dimulai dari problem-solution, cause-effect, chronological, theory-practice, acronym, numerical order, dan yang terakhit psycological effect. Dari bermacam-macam alur berpikir tersebut, tentunya membuka pikiran saya mengenai cara-cara untuk mengatur jalan berpikir saya pada saat berlatih untuk melakukan presentasi yang tentu saja akan memudahkan saya dalam mengingat cukup banyak materi presentasi yang akan disampaikan.

Seusai saya mempelajari alur berpikir tersebut, saya mulai mempraktikan sendiri untuk mempersiapkan performa saya dalam menyalurkan materi yang sudah saya kemas sedemikian rupa melalui sebuah makalah yang meliputi teori serta analisisnya. Saya mencoba untuk menuliskan alur berpikir saya sehingga menyerupai sebuah cerita agar tidak membosankan para pendengar. Walaupun pada saat itu saya masih menggunakan key note, namun saya sudah mulai bisa mengatur cara berpikir saya yang tentunya akan mempengaruhi kata demi kata yang akan saya sampaikan. Selain alur berpikir, Mas Boy juga tak lupa mengingakan saya dan teman-teman sekelas untuk selalu banyak membaca demi memperkaya kosa kata sehingga tidak ada lagi kata nge-blank dalam kamus kami pada saat melakukan presentasi.

Setelah sembilan pertemuan saya lalui sebagai murid kelas public speaking membuat saya memiliki pengalaman baru. Mulai dari bertemu para fasilitator yang sudah handal di bidangnya, selalu memberikan penilaian dan masukan-masukan positif, dan juga ilmu-ilmu baru yang sesungguhnya tidak banyak didapatkan di sekolah formal, karena public speaking merupakan suatu bakat yang menurut saya pribadi semua manusia mampu mengasah dan membiasakan berbicara didepan umum dengan alur berpikir yang baik akan menandakan bahwa kita adalah public speaker yang cerdas dalam memilih padanan kata per kata yang baik dan memberikan kesan hangat bagi penonton yang sedang mendengarkan kita menyampaikan materi-materi yang tentunya mereka ingin dengarkan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa antara presenter dengan penonton memiliki hubungan timbal balik yang terjalin selama materi-materi tersebut tengah disampaikan dengan cara berpikir yang runtut dan baik.

Tiga hal dasar presentasi didalam public speaking

Keahlian presentasi merupakan salah satu keahlian yang jika dimiliki oleh seseorang akan menjadi suatu poin plus di dunia kerja. Keahlian presentasi ini akan meningkatkan kemampuan berbicara di depan public dalam situasi apapun, keahlian ini juga bisa membuat kita menjadi seorang professional.

Pembicara yang handal adalah pembicara yang mampu memberikan inspirasi kepada audiens nya dan juga memiliki kemampuan untuk menyampaikan pesan secara persuasive. Dengan memiliki kemampuan berbicara, memberi kesempatan anda untuk mengungkapkan ide dengan baik.

Agar menjadi seorang yang handal dalam menyampaikan ide dalam presentasi, anda harus sering latihan dalam setiap kesempatan. Ada beberapa hal dasar yang harus di perhatikan, 3 hal dasar presentasi yaitu fundamental, guidelines dan rapport.

Fundamental merupakan hal-hal penting yang harus anda miliki.  Agar presentasi berjalan lancar, anda harus mengenali materi presentasi dan berfikir positif. Guidelines atau panduan, harus di persiapkan sebelum melakukan presentasi, seperti kesiapan materi dan pengetahuan akan materi tersebut.

Rapport adalah kesan, agar bisa menciptakan kesan yang “menempel” pada audiens, anda harus berfikir positif, santai dan tidak tergesa – gesa, serta jangan minta maaf untuk hal yang tidak perlu. Jika semua hal tersebut sudah di persiapkan dengan baik, presentasi akan berjalan dengan lancar.

Beberapa jenis audience di dalam public speaking

Sebagai seorang Public Speaker di dalam public speaking anda harus bisa memahami tipe – tipe audiens dan cara memahami nya, jika anda mengenali jenis atau tipe audiens, anda akan lebih mudah menghandle mereka. Berikut adalah beberapa jenis audience yang perlu di ketahui :

The Sheep
– Tipe audiens ini akan fokus dalam mendengar apa yang anda katakan dan sangat menanti jawaban dari anda
– Tipe audiens ini akan mendengar dan berharap untuk mengerti pembahasan dari materi yang disampaikan dan juga berdiskusi dengan anda.
– Mereka harus di berikan arahan yang jelas, karena mereka tidak suka menunjukkan kemandirian dan kreatifitas.

The Hotshot
– Tipe audiens ini adalah audiens yang percaya diri dan nyaman dalam mengikuti seminar.
– Mereka suka mendatangi seminar untuk belajar dan berdiskusi.
– Mereka belajar dengan cepat dan akan menanyakan pertanyaan yang menantang agar mereka bisa mengerti lebih dalam.
– Jika anda tidak memenuhi harapan mereka sebagai peserta, mereka akan memberikan masukan dan complaint kepada anda.

The Clown
– Tipe audiens ini suka berinteraksi social.
– Mereka akan banyak bertanya dan memberikan komentar.
– Mereka menyukai diskusi dan tugas-tugas
– Tipe audiens ini mudah di motivasi hanya dengan memberikan mereka sedikit perhatian.

The Sniper
– Tipe audiens ini sering disebut “egois”
– Mereka akan mencari kesempatan yang tepat untuk mengkritik atau hanya sekedar untuk menunjukkan keahlian mereka di acara tersebut.

The Unwanted Panelist
– Tipe audiens ini seringkali mencoba untuk memperpanjang pembahasan dengan menceritakan audiens tentang pengalaman mereka, hal ini terkadang di sengaja untuk memperoleh respect.
– Mereka seringkali menjadi yang pertama menjawab pertanyaan dengan penjelasan yang terlalu panjang.
– Audiens lain menganggap peserta ini sangat mengganggu.

Jika anda telah memahami tipe-tipe audiens tersebut, anda akan bisa lebih engage dengan audiens dan lebih fasih dalam menghandle jenis-jenis audiens tersebut.

Personal Branding hal yang penting dalam membangun jaringan

Memasuki Era Digital ini, Personal Branding merupakan hal yang penting, terutama dalam membangun jaringan. Pengguna social media sangat melejit di bandingkan tahun – tahun sebelumnya, jika di manfaatkan dengan baik, Era Digital ini akan menjadi kesempatan yang baik untuk mengembangkan Personal Branding.

Kita juga harus menjaga sikap dalam berinteraksi dalam Social Media, agar tidak merusak Personal Branding yang telah kita bangun. Kasus yang tidak lama ini terjadi adalah kasus yang menimpa Dian Sastro, ia terlihat sedang berada di bioskop, setelah melaksanakan acara nonton bersama film terbaru nya, ada penggemar yang memegang lengan nya, kemudian Dian Sastro menunjukkan muka yang seakan “jijik” atas perlakuan fans nya tersebut.

Dikarenakan oleh satu kejadian itu, image seorang Dian Sastro, seorang perempuan Jawa, yang selalu memerankan peran wanita lugu dan cantik, image nya langsung berubah menjadi wanita yang sombong dan tidak ramah terhadap fans nya. Hal tersebut juga berpengaruh terhadap film yang baru saja di rilis, banyak orang yang jadi tidak mau menonton film tersebut.

Beberapa hal yang harus dikuasai seorang MC TV Presenter

Sebagai seorang MC TV Presenter, tentunya ada banyak hal yang harus di kuasai. Demam panggung adalah hal yang biasa, akan tetapi sebagai MC TV Presenter, harus mempunyai cara untuk mengatasi rasa takut tersebut. Ada beberapa tugas pokok dari MC selama acara berlangsung, salah satunya adalah memberikan salam, memberikan ucapan “Selamat Pagi!”, ucapkan terima kasih atas kehadiran para peserta dan jangan lupa untuk memperkenalkan diri.

Tidak lupa juga untuk mengenguasai tema acara, ungkapkan maksud dan tujuan dari acara tersebut, ingatkan juga peserta akan manfaat mereka datang ke acara ini. Penting juga untuk menjadi humoris, agar suasana menjadi “cair” dan tidak tegang. Kenalkan juga pembicara, agar peserta bisa mengetahui pembicara secara brief. Susunan acara juga harus disampaikan, agar peserta bisa mengetahui agenda acara hari itu.

Jangan tergesa – gesa, santai dan rileks, agar tidak ngos2an dan terlihat luwes. Simak dan catat juga poin – poin penting pada saat acara berlangsung, agar bisa dikaitkan kepada pembicara selanjutny, Penutupan acara juga sangat penting, sampaikan terima kasih kepada tamu-tamu yang datang dan sebutkan highlight selama acara berlangsung.