Testimoni Regular Class Online Professional Public Speaking TALKINC– Sakti H. Pramudya

Pada awalnya saya agak sedikit skeptis dengan metode training online yang dilaksanakan oleh Talkinc untuk program “professional public speaking”, karena Saya percaya materi akan diserap dengan lebih baik jika training dilaksanakan face-to-face. Namun demikian ternyata Saya salah, kualitas pelatihan yang diberikan oleh para fasilitator Talkinc ketika online training sama bagusnya dengan pengalaman offline training yang pernah saya ikuti.

Saya sangat enjoy mengikuti sesi-sesi training dari Talkinc yang secara signifikan mengupgrade kemampuan public speaking Saya. Rasa gugup dan kesulitan membuat narasi yang terstruktur dengan baik ketika berbicara di depan public dapat Saya atasi berkat saran dan masukan para fasilitator. Para fasilitator yang dihadirkan oleh Talkinc merupakan para “senior” di dunia public speaking Indonesia yang jam terbang dan kapabilitasnya tidak diragukan lagi. Fasilitator favorit Saya adalah Mbak Lala Tangkudung yang telah membantu Saya untuk menemukan permasalahan public speaking Saya di assessment awal (yang bahkan Saya tidak sadari), mengenali potensi dan kapabilitas Saya yang bisa ditingkatkan lebih lanjut, dan juga memberikan masukan yang sangat membekas di sesi favorit Saya “When Things go Bad” dimana saran-saran beliau mengenai cara menghandle “difficult audience” sangat membantu Saya ketika menghadapi situasi serupa.

Saya telah menyelesaikan kursus public speaking online ini dengan pengalaman yang sangat positif dan berkesan, terutama ketika ujian akhir dimana Saya dan rekan-rekan lainnya diuji langsung oleh Bu Becky Tumewu yang merupakan “senior” di industri entertainment yang juga merupakan fasilitator komunikasi ternama Indonesia. Terimakasih Talkinc atas pengalaman training yang sangat menyenangkan ini!

Public Speaking Di Era Digital

Oleh Erwin Parengkuan

Di era digital Public Speaking sangat dibutuhkan, dengan begitu banyaknya platform jejaring sosial di era digital mulai dari Facebook, Twitter, Instagram, Linkedin, Tiktok dll yang masing-masing mempunyai klasifikasi dan kegunaan yang tidak sama, contoh Facebook adalah jejaring pertemanan dan komunitas, sedangkan Linkedin khusus untuk dunia profesional/pekerjaan dll. Bahwa siapapun penggunanya harus paham betul akan fungsinya masing-masing, terlepas banyak banyak para pengguna yang tidak menyadari sepenuhnya kegunaan dari masing-masing platform ini, tetap saja setiap jam/menit/detik begitu banyak bahkan terlalu banyak informasi yang mengucur deras di timeline setiap orang. Apa efeknya? Terlalu banyak yang diketahui, sedikit yang diingat, atau semua yang menarik menjadi bisa saja karena semua orang telah meniru cara yang menarik itu dengan gaya masing-masing.

Dampaknya sesuatu yang kita sampaikan ke publik harus diperhitungkan sejeli mungkin, dengan memikirkan sebuah pesan disampaikan secara menarik, tepat, efektif, bukan meniru, tidak boleh terlalu lama dan apalagi bertele-tele karena akan membuat audiens menjadi mudah bosan. Ini adalah sebuah tantangan yang makin besar ceruknya dan semakin membuat setiap orang kesulitan menyampaikan topik mereka dikarenakan setiap orang “attention spending” mereka semakin sempit kisaran antara 1-8 detik pertama yang akan menjadi penentu akibat terlalu marak konten di era digital, belum lagi media konvensional yang masih terus berdengung hingga sekarang menambah kusutnya jalur informasi yang perlu dicerna oleh setiap orang. Anda sebagai pengirim pesan/informasi dan audiens sebagai penerima pesan yang saat ini harus dapat dengan jelas menyampaikannya/tidak ambigu sehingga proses pengiriman pesan menjadi momen kritis yang tersampaikan dengan tepat tanpa gangguan. Bila tidak, apa yang anda ucapkan berikutnya tidak akan didengarkan mereka dan menjadi sia-sia. Belum lagi era digital ini membuat mereka mudah lelah dan terdistraksi.

Adakah resep terbaik untuk menjadi public speaker yang menarik diantara tantangan yang semakin besar? Tentunya setiap tantangan pasti ada jalan keluarnya bila dipikirkan dan dibuat dengan sebuah strategi yang tepat. Berikut ini adalah 6 langkah jitu yang dapat anda lakukan:

1. Kenali Diri

Siapa anda, kultur dan budaya anda, gaya bicara anda, kepribadian anda dan semua hal-hal positif yang menjadi kekuatan diri yang harus ditampilkan di depan publik. Buatlah penyusunan kekuatan dan potensi/minat diri yang dapat menjadi modal utama dalam “menjual” image anda di publik. Pastikan image yang ditampilkan adalah otentik, tidak meniru gaya seseorang yang anda sukai karena ini akan menjadi sangat tidak menarik.

2. Kenali Tujuan Bicara

Pikirkan matang-matang bobot materi apa yang akan anda sampaikan, jangan sampai anda tidak membuat alur yang jelas dan tujuan bicara anda. 4 tujuan bicara mulai dari memberikan informasi, melakukan klarifikasi, menginspirasi atau memotivasi harus anda persiapkan dan rancang dengan matang. Bisa jadi keempat tujuan komunikasi anda disampaikan secara berkesinambungan, atau hanya memilih beberapa saja. Misalnya hanya ingin memberikan informasi dan memotivasi saja itu sudah cukup.

3. Kenali Profile Audiens

Lakukan riset pasar, akan siapa audiens anda. Profile mereka, kultur, bahasa populer/daerah yang mereka gunakan, cara menyapa mereka, kebiasaan mereka, nilai mereka, sampai hal-hal tabu/etika yang mereka gemari harus anda cari tahu, jadi bicara betul-betul sesuai dengan profil mereka, anda akan berada di “kolam” yang sama dengan mereka.

4. Kuasai Materi

Setelah membuat dan mempersiapkan point 1 sampai 3, saatnya anda melakukan latihan di depan kamera HP, dan nilai, apakah sudah sesuai dengan bobot yang anda harapkan? Carilah beberapa referensi sebagai bahan pertimbangan dan acuan dalam alur anda berbicara, tapi tidak meniru cara mereka berbicara.

5. Gunakan Kreativitas Menyusun Script

Setelah anda melihat hasil rekaman tersebut, coba bongkar lagi script dalam bentuk pointers yang sudah anda buat, saran saya jangan pernah membuat menjadi sebuah narasi (kata-kata yang panjang) karena anda akan terjebak membaca dan membuat anda menjadi sangat kaku. Bayangkan audiens adalah teman-teman terdekat anda, sehingga gaya penyampaian akan bersemangat,terbuka dan terkoneksi dengan mereka. Lihatlah beberapa ide baru dalam script yang anda buat, mau ditambah dengan story telling, gaya tertentu, alat bantu (visual element) yang akan membuat daya tarik tersendiri sehingga audiens akan terus memperhatikan anda. Jangan lupa bahasa tubuh anda harus terbuka, intonasi harus bersemangat, harus memberikan kesan hangat, menyenangkan dan berbobot dari sisi konten.

6. Pikirkan waktu bicara

Jangan sampai anda terjebak dengan kalimat atau penjelasan yang terlalu panjang. Ingat daya ingat masyarakat modern yang semakin pendek, mereka mudah bosan sehingga anda hanya menyampaikan poin terpenting dengan konten yang terbaru yang akan membuat mereka tidak jenuh. Kalau perlu berhentilah bicara ketika audiens masih ingin mendengarkan anda.
Semoga keenam point penting diatas dapat membuat anda menjadi seseorang yang tampil bicara manarik di depan publik, menjadi otentik adalah modal utama, melakukan riset adalah bobot yang akan menjadi plus poin untuk pendengar anda, menjadi teman yang menyenangkan akan membuat anda menjadi public speaker yang selalu dicari orang. Good luck!

Menjadi Otentik

Oleh Erwin Parengkuan

Dalam sebuah wawancara dengan seorang direktur di sebuah universitas, kami membahas tentang kriteria seorang pemimpin masa depan, dalam satu penjelasannya sang direktur menyebutkan bahwa pemimpin itu harus otentik. Saya kembali bertanya “Bagaimana caranya menjadi otentik?” Ia membeberkan bahwa yang dimaksud dengan menjadi otentik adalah seseorang yang selalu meningkatkan pengetahuan dan kompetensinya. Ia-pun menjelaskan bila pemimpin tidak memiliki kapasitas dari kompetensinya yang terus ditingkatkan tentu akan sulit menyelesaikan berbagai masalah. Selain itu, seorang leader juga tidak boleh berfokus kepada sesuatu untuk menjadikannya pemimpin yang populer, apalagi semata-mata hanya memikirkan image pribadi.

Bila ditela’ah penjelasan diatas, tentu sangat mengacu kepada sebuah keahlian yang terus dikembangkan atau harus dikembangkan oleh setiap orang. Leader yang baik juga menurut saya harus memiliki wawasan dan landasan teori yang kuat yang dapat membantunya dalam pengambilan sebuah keputusan penting untuk membantu organisasinya berkembang lebih baik lagi dalam menjawab tantangan masa depan yang sangat kompleks. Saat ini, kita tengah menghadapi dunia yang sudah tidak sama lagi. Adanya VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity) adalah dimana semua serba tidak pasti apalagi dunia usaha yang tidak bisa diukur, terus berubah dan ambigu. Bagaimana seseorang bisa menjadi pribadi yang tangguh dalam menghadapi dunia dengan ketidakpastiannya?

Salah satu kompetensi yang disebutkan selain menjadi pribadi yang otentik yaitu juga ternyata adalah kemampuan berkomunikasi kepada semua pihak dengan baik. Wah, ini menjadi “makanan” menarik buat saya dalam perbincangan tersebut. Walaupun sering kita dengar bahwa setiap orang harus mampu mengartikulasikan pemikirannya apalagi sebagai seorang pemimpin, kendati yang sering saya jumpai dalam pekerjaan saya, masih banyak pemimpin yang gagap dalam berkomunikasi. Terbayang kendala besar akan mengancam mereka bila memiliki ketidakmampuan berbicara kepada semua stakeholders-nya. Saya jadi ingat seorang pemimpin yang saya coaching tidak diizinkan berbicara kepada pihak luar karena kerap menyampaikan informasi yang salah dan tidak tepat, padahal ia memiliki kompetensi yang sangat baik dalam hal managerial dan semua pengetahuannya telah membuatnya sampai ke jenjang tertinggi di sebuah organisasi besar itu. Namun, iapun ternyata bukan tipe pemimpin yang dimaksud oleh direktur yang saya wawancarai.

Jadi mulai sekarang, mari kita terus meningkatkan kapasitas diri, supaya kita tidak tergerus oleh persaingan yang makin meruncing, apalagi dunia yang kita alami sudah berbeda “aturan mainnya”. Menjadi lentur kepada semua orang yang kita ajak berbicara dan menganggap mereka istimewa adalah jurus utama dalam berkomunikasi, selain tentu kemampuan dalam menyusun kalimat yang jelas selalu harus dikuasai termasuk oleh siapapun. Ketika kita mendengarkan seseorang berbicara, mau itu seorang pemimpin atau bukan kita akan menilai 3 hal dari kata-kata yang ia ucapkan yaitu: tingkat kematangan diri, tingkat pengetahuan dan tingkat intelektualitasnya. Jadi, mari kita menjadi lebih berbobot, lebih mahir memilih kata juga dalam mengambil keputusan dan menjadi pribadi yang menghargai setiap lawan bicara tanpa terkecuali.

Crack Under Pressure

Oleh: Erwin Parengkuan

Pernah membaca judul topik artikel ini? Sounds familiar? Yes, salah satu tagline brand jam terkenal dari Swiss dengan menambahkan kata “don’t” di depannya. Topik ini menjadi menarik melihat banyak sekali anak-anak muda ( Generasi Y dan Z ) yang gampang menyerah, mereka mudah retak dalam tekanan. Memang kondisi di mana generasi sekarang yang sangat instant menginginkan segala sesuatu bisa didapatkan dengan cepat, budaya instant menjadi sangat lekat dengan mereka. Seorang rekan yang menjadi pemimpin di sebuah media besar di Indonesia menegor generasi muda ini akan perilakunya yang dianggap tidak santun mewakili image perusahaan, apa yang terjadi? Anak ini tidak terima dikritisi dan besok Ia pun langsung resign tanpa pemberitahuan. Memang kita tidak bisa menyeragamkan semua anak muda dengan mental seperti ini, akan tetapi dari banyak wawancara saya di podcast dengan banyak pemimpin mereka kerap menyampaikan issue yang sama. Sehingga membuat saya tergerak untuk menulis artikel ini, sebagai mengingat dan ingin mengajak semua dari kita untuk mempunyai ketahanan mental seperti baja.

Untuk menghasilkan kualitas wine yang bagus, tentu anggur pilihan itu harus proses, airnya harus dikeluarkan, kalau dulu proses pembuatan wine harus diinjak-injak oleh manusia, dan akhirnya menghasilkan kualitas terbaik. Atau ketika seseorang mencapai kesuksesan, dibalik itu sangat panjang proses yang tidak menyenangkan mereka lalui. Sebut saja JK Roling penulis fiksi terkenal Harry Porter yang harus mendapatkan penolakan dari 11 publishing house karena dianggap novel ini tidak berbobot, atau Kolonel Sanders yang harus menerima penolakan dari 1009 restoran untuk membeli resep ayam goreng peninggalan neneknya akhirnya dengan proses yang panjang, tanpa henti, dan sekarang brand ini telah tersebar di lebih dari 118 negara dengan 18.000 cabang atau lebih.

Bagaimana ribuan success story tidak pernah lahir dengan mudah, memang perlu perjuangan dan kegigihan. Kepercayaan diri dan ketahanan mental adalah kuncinya. Hidup memang tidak ada yang mudah, dan sejatinya kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan di hidup ini asalkan kita percaya. Tentu perjalanan panjang yang terjal dan berkerikil akan kita lewati, keringat, air mata bahkan sampai darah! menjadi 3 komponen utama untuk punya ketahanan mental. Termasuk ketika kita sudah membuat sebuah target, harus fokus dan mengesampingkan hal-hal yang dapat membuat kita menjadi gagal fokus/distorsi. Banyak juga anak muda yang sekarang sukses berkat kegigihannya. Seperti Malala Yusafzay, seorang murid sekolah yang menjadi duta PBB termuda sepanjang sejarah, mendapatkan penghargaan bergengsi Nobel untuk perdamaian, mendali kebebasan, Order of The Smile dll, harus melewati masa kecil yang suram di negaranya di Pakistan dan dikejar-kejar dan akan di bunuh oleh teroris/Taliban, terbayang anak yang masih dibawah umur harus melewati tekanan hidup yang tidak sangat sulit. Ia bahkan menyamarkan namanya agar dapat menyebarkan cerita hidupnya di banyak artikel dan sosial media agar kebebasan memiliki hak bersuara dan mendapatkan pendidikan yang layak untuk setiap anak di negaranya. Sebuah pejuangan yang gigih, tanpa henti, dengan keringat, air mata dan darah yang harus Ia lewatkan, Malala tidak Crack Under Pressure!

Kita diberikan karunia yang luar biasa oleh Tuhan, kita diberikan otak kiri dengan limbik kiri yang akan membuat kita untuk rajin dan tekun, kita juga diberikan otak tengah untuk intuisi dan naluri serba bisa. Kenapa Malala bisa, kenapa Kolonel Sander yang usianya 65 tahun juga bisa, sedangkan kita tidak?

Kesuksesan adalah sebuah pilihan hidup, termasuk ketahanan mental. Bila kita telaah lagi, bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama, tua, muda, dan umur yang kita miliki terbagi atas 3 hal, umur kronologis yaitu umur di mana seseorang lahir, umur biologis sesuai dengan bentuk tubuh tinggi atau kecil seseorang, dan umur mental yang merupakan sebuah pilihan (sekali lagi). Jadi untuk berhasil dibidang yang anda kuasai, marilah jangan pernah berpikir untuk Crack Under Pressure berapapun usia kita.

In Communication, which one is better : Introvert, Extrovert or Ambivert?

Oleh : Erwin Parengkuan

Dalam sebuah sesi coaching, seorang leader menyambut saya dengan sangat terbuka, begitu sesi pertama kami mulai, betapa menyenangkannya Ia sangat terbuka dengan materi tentang komunikasi yang kami hadirkan. Ia lantas bercerita tentang pengalaman hidupnya, tidak hanya menjadi pemimpin di organisasinya, tapi juga didaulat menjadi ketua dari organisasi keagamaan yang Ia anut. Ketika seseorang “haus” mereka akan seperti sponge yang akan menerima semua masukan dan informasi dengan baik. Ketika saya memintanya untuk menyampaikan materi presentasi, sifat keterbukaannya kemudian berubah 160 derajat. Bicaranya kaku, pendek dan tidak ada gesture yang terbuka.

Kita memang kompleks, ketika kita nyaman dengan situasi yang dihadapi akan sangat menyenangkan dalam menyampaikan sebuah pesan. Tapi bila kita takut melihat jumlah peserta, semakin banyak peserta yang hadir, akan semakin takut seseorang untuk bicara di depan publik. Bagaimana seorang yang extrovert bisa mendadak menjadi introvert, begitupun sebaliknya seseorang yang introvert ketika bicara akan menjadi sangat kaku, tapi ketika berjumpa dengan teman sepergaulannya mendadak berubah menjadi pribadi yang extrovert?

Bagaimana dengan seseorang yang berada di dua kubu extroversion dan introversion? Mereka akan sangat lentur membawakan diri. Pertanyaannya, siapa yang akan lebih sukses dari ketiganya dalam mengendalikan diri, membangun hubungan dalam berkomunikasi? Apa betul orang extrovert akan selalu menjadi sales yang baik dalam menjual idenya, dibanding yang introvert? Dari data yang data yang saya dapatkan, orang introvert maupun extrovert tidak akan bertahan lama dalam membangun hubungan dalam komunikasi, karena satu sangat pendiam dan satu dangan tidak bisa berhenti bicara. Dan Ini sebuah kegagalan besar yang sering terjadi.

Kembali kepada si bapak yang saya coaching, lantas materi saya hentikan, karena ternyata masih banyak “unfinished business” yang belum tuntas. Sehingga kami perlu mendiskusikan bagaimana seseorang dapat memiliki kesadaran penuh dalam diri dan berdamai dengan masa lalunya. Ketika kita bertemu dengan orang yang penuh dengan masalah, sudah pasti orang tersebut akan menjadi gagal dalam membangun hubungan. Dan orang yang kita jumpai tentu tidak ingin tahu masalah yang kita alami, sehingga kita harus dengan taktis dalam melupakannya sejenak, agar dapat fokus memperhatikan lawan bicara. Kita tahu bahwa orang yang bahagia akan menjadi orang yang menyenangkan di lingkungannya dan selalu dicari kemana mereka pergi. Bisakah kita bahagia? Tentu, karena bahagia itupun adalah pilihan. Kita bisa kok memilih untuk bahagia atau tidak. Yang perlu diingat adalah komunikasi yang berdampak akan datang dari hati yang bahagia, dan kita akan dengan sendirinya menjadi bersemangat ketika berkomunikasi dan apalagi memberikan data terbaru yang bermanfaat buat audiens kita.

Ambivert adalah mereka yang terbuka, bisa menikmati proses dan menghargai lawan bicara, dan di satu sisi mempunyai kemampuan analisa yang baik. Istilah ini ditemukan pada tahun 1920an oleh seorang psikolog Amerika dari Pennsylvania University bernama Dr Grant. Ambivert adalah orang-orang yang lebih sukses dalam menjalankan kehidupan ini dibanding orang introvert maupun extrovert. Mereka mudah beradaptasi, dapat mengendalikan diri menjadi extrovert maupun introvert di saat yang bersamaan, senang bersosialisasi juga nyaman hidup menyendiri. Bagaimana caranya kita bisa menjadi seperti mereka? Jawabannya mudah yaitu dengan melatih diri. Mulai menyapa lawan bicara terlebih dahulu. Tahukan anda, bila kita yang memulai pembicaraan terlebih dahulu, kita yang akan mengendalikan situasi. Buat yang extrovert terlalu banyak bicara, coba tahan diri, gunakan jeda lebih banyak untuk memberikan kesempatan lawan bicara lebih kita dengar pendapatnya.

Semua adalah bagian dari sebuah proses panjang yang selalu kita jalankan dalam keseharian kita. Mulailah membuat list mengatur kebiasaan baru, buatlah check list, monitoring akan merubah kepribadian kita menjadi ambivert. Ketika kita punya tujuan, tentu keseharian kita akan penuh dengan hal-hal yang membuat kita bertumbuh, dan pastinya akan membuat kita selalu tertantang. Yang akhirnya membuat semua orang dapat mahir berbicara dan membangun hubungan. Jangan lupa untuk bahagia dan berdamai dengan masa lalu, karena tidak ada satu manusia di dunia ini yang bebas masalah. Selama kita masih membuka mata, masalah selalu ada, kritikan selalu ada, tapi kita sekali lagi dapat melihatnya dari “kacamata” yang positif bahwa ini adalah tantangan bukan sebuah malapetaka. Toh, semua yang kita alami dan dapatkan di dunia ini, selalunya sifatnya sementara. Ada saat senang, sedih, kontemplasi, untuk maju dan terus berjuang.

Have a Strong Knowledge or Use Your Imagination

Oleh : Erwin Parengkuan

Tidak bisa dipungkiri, ketika kita mempunyai wawasan yang luas kita akan mampu menghasilkan sebuah gagasan dan jalan keluar yang terbaik dalam melakukan sebuah keputusan dan mengendalikan hidup dan karir yang kita bangun serta jalankan saat ini. Bayangkan, seseorang yang minim info, tidak dapat memperbaiki hidupnya. Contoh, belum lama ini saya berada di Lembang dan berhenti membeli beberapa buah kelapa untuk di minum. Saya bilang kepada pemilik warung untuk tidak menggunakan kantong plastik, lantas ia bertanya kenapa? Saya bilang plastik itu merusak lingkungan dan mencermari lautan kita. Ia pun tertawa sambil menatap saya penuh heran. Ada sepasang suami istripun yang menikmati es kelapa muda di warung itupun tertawa kecil melihat penjelasan saya.

Hahaha sayapun kembali menjelaskan dampak plastik sekali pakai kepada mereka, tapi rupanya hal ini tidak dimengerti oleh mereka dengan pendidikan yang terbatas. Sayapun ingat cerita ketika saya berkunjung ke sebuah daerah di So’e di Timor Tengah Selatan, NTT, dalam kunjungan saya bertemu dengan masyarakat sekitar melihat kehidupan yang sulit, dan mereka tidak percaya bahwa suhu yang terik disana dapat diusahakan untuk membuat ladang sayur, tapi karena kondisi tanah yang kering dan tidak ada pupuk yang dapat membuat ladang mereka tumbuh subur. Lantas, organisasi yang mengundang saya menginformasikan kepada penduduk disana untuk membuat pupuk buatan yang organik dengan memanfaatkan sisa bahan makan, termasuk sayur yang sudah tidak terpakai berikut kulit buah untuk dijadikan pupuk organik. Sayangnya informasi ini tidak dipercaya oleh mereka, lalu organisasi ini mengutus seorang ahli pupuk organik datang dan mengajarkan mereka, mencontohkannya, mereka melihat pupuk ini jadi dibuat dan menamburkannya di lahan tersebut, selang berapa lama, kebun merekapun tumbuh subur.

Dari dua cerita saya diatas, jelas terlihat, betapa wawasan atau pengetahuan yang kita miliki yang kita dapati dimana saja, akan membuat hidup kita menjadi lebih mudah. Contoh kecil diatas, adalah sekelumit dari perjalanan seseorang dalam membangun kehidupan dan karir yang lebih baik. Sayangnya di zaman yang serba penuh informasi ini, kita justru menjadi lebih “keder” bahkan malas untuk memburunya, di tambah banyak informasi negatif/hoax membuat kita bertambah cemas dan tentu malas. Bila kita mencari di dunia digital, sebut saja seperti yang ada di www.tedx.com, pinterest, master class atau laman-laman yang bermutu, anda akan menyadari bahwa terlalu banyak hal yang tidak kita ketahui banyak tersebar dimana-mana, kita tinggal mencarinya dan menelusurinya, menganalisa dan mempraktikannya yang akan membuat kita untuk terus mengasah kemampuan diri dari waktu ke waktu dan akan meningkatkan kualitas diri menjadi lebih baik lagi dengan pengetahuan baru yang akan membukakan cakrawala kita. Bayangkan dalam konteks komunikasi kalau kita minim info, bagaimana kita dapat menyusun sebuah kalimat kepada lawan bicara kita dan “menaklukkan” mereka. Kosa kata yang terbatas akan membuat seseorang sulit menterjemahkan apa yang ada di benaknya.

Kita sudah tidak hidup di zaman batu dimana kita menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi. Dunia yang luas juga sempit, karena informasi begitu cepat menyebar, dan kita mutlak menyaringnya sebelum “meminumnya” membuat kita dapat mengimbangi diskusi atau komunikasi kita menjadi setara dengan mereka-mereka yang berwawasan luas. Tapi apakah seseorang dengan wawasan yang terbatas tidak dapat menciptakan sebuah gagasan atau prestasi? Bagaimana dengan zaman dulu kala, ketika tidak ada informasi seperti sekarang? Apakah artinya tidak ada informasi sama dengan tidak ada proses penciptaan? Tapi kenapa ada Piramida? Kenapa ada Spinks, kenapa ada banyak monumen bersejarah yang dibuat manusia dengan sangat iconic tercipta dari zaman dahulu kala? Sedangkan di zaman itu tidak ada informasi? Tidak ada tedx.com? Pinterest atau Master Class? Kenapa juga ada candi Buddha terbesar di dunia ada di negara kita dengan 1.460 relief dan 504 stupa Buddha? Darimana bangsa Sayilendra dapat membuat bentuk-bentuk yang monumental? Jawabannya bukan informasi atau surat dari surga, melainkan dari sebuah kata imaginasi. Kita manusia memiliki imaginasi yang sangat kaya. Sepeti Steve Jobs yang melihat bentuk apel dan menjadikannya logo perusahaan yang sangat powerful. Imaginasi dapat kita peroleh dari mengamati alam dan bentuk-bentuk alamiah di sekeliling kita.

Bagaimana banyak hasil karya dari para inventor dan seniman besar di dunia ini yang sukses dengan imaginasi yang mereka miliki? Bayangkan, Bila imaginasi ditambah dengan informasi yang tersedia saat ini betapa ini akan menjadikan kekuatan yang sangat mumpuni. Mari kita cari hanya informasi yang penting dengan sumber yang terpercaya yang akan membuat diri kita tumbuh subur seperti ladang sayur di So’e sana. Dengan catatan, imaginasi yang kita miliki harus dibuat dengan hati yang gembira tanpa beban. Karena kalau seseorang penuh derita tentu tidak akan dapat menghasilkan sebuah imaginasi yang berbobot seperti Candi Borobudur kita.

WhatsApp Online Chat Support