TALKINC Outbound Program

Outbound Program

Dalam pengalaman kami menjadi training provider kepada banyak perusahaan baik private maupun BUMN, maupun Pemerintah, 2 hari pelatihan adalah waktu yang paling tepat untuk membuat seseorang terbuka pikirannya dan bergerak menuju sebuah perbaikan. Sebut saja modul training kami tentang Public Speaking yang selalu menjadi primadona, dapat merubah minset seseorang di hari pertama pelatihan tentang pentingnya menguasai tehnik komunikasi modern saat ini, dihari kedua dimana peserta kemudian diminta untuk melakukan individual presentation ,mereka terlihat lebih baik dalam menyampaikan pesan.

Ketika sebuah divisi terlihat lebih cakap berkomunikasi pasca pelatihan, maka tujuan dari pelatihan kemudian menjadi tercapai. Sejalan dengan besarnya tuntutan para profesional untuk melakukan presentasi saat ini, besar juga tuntutan lain yang timbul yaitu melakukan kolaborasi antar divisi. Banyak perusahaan besar dengan banyaknya team dan kompleksitas didalamnya membuat kerjasama antar divisi menjadi rumit, silo effect, adalah salah satu “penyakit” yang harus dibasmi. Menyikapi tantangan yang muncul, lantas mulai tahun lalu, kami membuat program khusus outbond kepada para mitra usaha kami. Berbagai perangkat komunikasi yang harus mereka kuasai diberikan dihari pertama, termasuk kemampuan untuk bonding dengan antar divisi, mempererat team work dan mempertajam core values organisasi.

Rupanya, banyak outbond dilakukan oleh banyak perusahaan hanya sekedar outbond yang tujuannya hanya membangun hubungan tapi tidak menyelipkan unsur cara berkomunikasi didalamnya. Sehingga program baru ini kami luncurkan langsung menjadi salah satu primadona baru yang dinantikan oleh banyak perusahaan .

Kenapa demikian ? ada 5 alasan utama yaitu:
1. Fokus karena dilakukan tidak diarea kantor, peserta tidak terganggu dengan tugas harian
2. Suasana yang berbeda menciptakan “peace of mind” peserta
3. Kegiatan belajar di luar ruang, banyak bermain, belajar dan mencerna, lebih mudah diterima oleh peserta
4. Aktivitas bonding dengan games yang impactful memberikan sudut pandang baru kepada peserta tentang pentingnya mengenal sisi lain dari team mereka dengan pendekatan personal, seseorang yang biasanya terkesan galak di kantor begitu terpapar pelatihan outbond ini, ternyata orangnya tidak segalak itu, dst.
5. Kolaborasi mudah tercipta setelah terjadi pendekatan pribadi.

Dari feedback yang kami dapatkan, istilah “susah move on”, “kena banget” oleh masing-masing peserta selama 2 hari ini menjadi momentum yang tepat untuk perubahan yang ingin dicapai oleh perusahaan, sehingga outbond inipun menjadi wajib diberlakukan ke divisi lainnya.

Beberapa outbond kami sertakan kegiatan rafting (tergantung lokasi dan fasilitas rekreasi tiap hotel/daerah), games individu dan perkelompok, menjadikan belajar menjadi fun sambil bermain. Belum lagi kontes yang berlangsung dari hari pertama dan menyebutkan team terbaik, peserta terbaik pada saat makan malam di hari kedua sambil melihat masing-masing kelompok tampil memberikan suguhan hiburan yang berbeda. “Ini benar-benar pengalaman outbond terbaik yang impactful, mengena di saya dan semua team saya. Kami menjadi fresh kembali, keluar dari rutinitas dan lebih mengenal pribadi setiap orang” ujar salah seorang Group Head kepada kami belum lama ini.

When Preparation Meet Opportunity To Get A Job As MC

Kalau ada orang tanya apakah memang cita-cita dari lama ingin jadi MC? Jujur, dari kecil saya lebih suka disuruh ngitung daripada disuruh ngomong. Dan sampai 5 tahun lalu, tidak pernah terbayang oleh saya untuk memandu sebuah acara, apalagi sampai mendalami bidang tersebut. Sejak 2013, saya bekerja sebagai bankir di salah satu bank BUMN. Pertama kali ditugaskan sebagai MC salah satu acara di kantor itupun karena budaya kantor yang selalu mengkaryakan anak-anak baru di setiap acara kantor.

Dan saya dapat bagian jadi MC. Bingung? Jelas. Tapi akhirnya nekad menyanggupi. Dan setelah acara tersebut, ternyata malah ketagihan buat ngemsi acara-acara lain di kantor dengan tema yang bermacam-macam (akhirnya jadi suka ngomong daripada ngitung hehhe). Waktu itu cuma dengan modal nekat dan belajar dari senior-senior di kantor yang sering jadi MC juga ditambah dengan belajar dari kekurangan-kekurangan yang dirasakan selama menjadi MC di setiap eventnya.

Sampai pada satu titik kepikiran untuk “lebih niat” mendalami bidang ini dan belajar dengan “ahlinya”. Akhirnya saya memutuskan untuk (sekali lagi nekat) keluar dari comfort zone saya dan belajar hal baru dengan mengambil kelas Professional MC-TV Presenter di Talkinc. Awal masuk kelas deg-degan karena pengetahuan saya tentang bidang ini sangat minim tapi juga sangat excited untuk mendapatkan ilmu baru.

Sejak kelas pertama, saya ngerasa aura di kelas selalu hidup dan positif. Terutama dari fasilitatornya (karena yang ngajar MC Professional jadi pasti sudah sangat ahli dalam membangun suasana yaa hehhe), jadi temen-temen dikelas pun jadi selalu semangat dan termotivasi untuk belajar dan memberikan yang lebih baik di setiap pertemuannya. Aura itu saya rasakan sampai pertemuan terakhir.

Jadi kalau disuruh milih kelas mana yang paling disuka, agak susah milihnya, karena suka semua kelas dan semua fasilitatornya pasti selalu memotivasi kita semua untuk berani ambil tawaran ngemsi atau bahkan menawarkan diri sendiri untuk ngemsi di acara kantor atau keluarga, sebagai tempat mempraktekan apa yang udah dipelajari di kelas.

Tapi kalau emang dipaksa untuk milih, hehe, mungkin yang paling membuat saya amaze adalah Encounter ke 4 tentang How to Create Your Script. Selama ini merasa selalu kesulitan untuk membuat bridging saat ngemsi, selalu merasa bingung apa lagi ya yang bisa dibahas pas diatas panggung. Sampai pas disuruh praktek di Encounter ini, ketika fasilitator melempar 1 kata saja, ternyata bisa tercipta 10 cerita dari banyak sudut pandang yang berbeda-beda dari 10 orang yang ada di kelas. Mind blown! Jadi harusnya ga ada alasan lagi buat saya bilang kehabisan bahan ngomong.

Dan akhirnya ketika saya dapat job MC setelahnya, yang saya lakukan adalah men-challenge diri saya sendiri untuk menggali banyak perspektif untuk 1 tema acara. Kalau ga ikut Talkinc, pasti sampai sekarang saya masih dengan alasan bingung mau bahas apalagi saat diatas panggung.

And the last, I’d like to say thank you to Talkinc and all of my facilitators, and also mba Nicky dan mas Taufik (yang sudah banyak membantu dan memberikan info-info penting untuk kami), berkat kalian, saya berani mencoba mengambil job MC dengan tema diluar comfort zone saya (paling nyaman sebenernya jadi MC Corporate).

Dimana di pertengahan November 2018 kemarin, untuk pertama kalinya saya menjadi MC Wedding (dengan mengaplikasikan hal-hal yang selama ini saya pelajari di TALKINC.
Sukses terus untuk Talkinc! Doakan saya mendapatkan banyak keberuntungan untuk jadi MC Professional di masa mendatang. Saya percaya, keberuntungan itu ada ketika kita siap saat kesempatan itu datang. Dan di Talkinc ini adalah salah satu langkah saya dalam mempersiapkan diri.

-Fitria Darwin, Professional MC – TV Presenter batch 97

TALKINC MENUA DALAM KIPRAHNYA

 

Eh, belum tua denk… Baru belasan…
Kalau orang, umur segini, dibilang lagi masa akil balig, lagi genit-genitnya.
TALKINC juga sama, lagi ganjen banget. Hari ini fasilitatornya ada yang harus kasih materi training di Bogor, besoknya ada yang ke Bandung, lalu ada juga yang ke Surabaya… Eh, minggu berikutnya ada yang nyebrang pulau.. ke Bali, Kalimantan, Irian Jaya… Ih, ngapain, kantor TALKINC kan ada di Jakarta? Memang. Aktivitas di Jakarta tetap jalan, tapi pelatihan yang dipercayakan kepada Talkinc di daerah juga berlangsung dengan gencar. Kliennya ada di mana-mana. Sombong sedikit dilengkapi fakta boleh ya. Fakta yang tidak perlu lagi diuji kebenarannya 😀 (silakan intip barang bukti dokumentasinya di akun instagram @talkincorps).

TALKINC menua, meski baru hitungan belasan.
Untuk manusia, bisa hidup sampai tua itu takdir. Orang sehat belum tentu panjang umur, orang muda belum tentu bisa sampe tua. Tapi untuk sebuah lembaga, supaya bisa menua dan panjang umur, hanya perlu sehat. Sehat fisik dan mental orang-orang yang berada di dalamnya, sehat gaya kepemimpinan pendirinya, sehat budaya komunikasi organisasinya, sehat pengelolaan keuangannya, sehat program-programnya, sehat hubungan dengan ‘stake holder’-nya, sehat lingkungan fisik kerjanya.

Jika sehat menjadi kunci, pertanyaannya adalah bagaimana untuk menjadi sehat. Tentu perlu usaha. Usaha yang perlu keringat, kadang bercampur darah dan air mata (dalam dimensi vertikal, doa juga menjadi unsur utama yang tidak boleh ditinggalkan). Ahaa… kedengarannya agak hiperbola ya, tapi untuk orang yang sudah terjun ke dunia bisnis (apapun jenis bisnisnya), pasti tau betul bahwa kalimat tadi sungguh mendekati kebenaran. Dalam sebuah acara kumpul-kumpul dengan keluarga besarTALKINC, Erwin Parengkuan dan Becky Tumewu selaku pendiri lembaga pendidikan ini, sempat menceritakan jumpalitannya mereka berdua dalam membesarkan Talkinc.

“Win, kamu kayaknya mending balik aja ke dunia entertainment. Enggak cocok kamu ngurusin beginian (dunia pendidikan)…” Itu kalimat seorang klien TALKINC, yang merasa kurang puas atas apa yang diberikan Talkinc pada program inhouse training looong time ago.

“Waktu itu, rasanya gue mau udahan aja ngajar. Mau gue bubarin TALKINC. Gila! Makjleb banget itu omongan,” kisah Erwin.

Becky, juga mengalami rintangan-rintangan yang tak kalah seru.
“Aaahh… sampe nangis-nangis, deh…,” kenangnya.

Ya, itu semua kenangan. Kenangan dari jungkir-baliknya bagaimana TALKINC dikembangkan.

Tidak ada usaha yang menghianati hasil. Lho, bertahan sebelas tahun, memang sudah bisa dianggap berhasil? Ya, berhasil mengatasi kendala dan melompati rintangan di tahun sebelumnya. Tapi berhasil sampai di tujuan, tentu belum… Kenapa? Karena tujuannya selalu berubah, bertambah dan bertumbuh. Dream higher and wider.

TALKINC masih akan terus menua…Menua dalam geliat jasa pendidikan pengembangan keahlian berkomunikasi. Nanti bukan hanya sekedar “ganjen” mempesona di mana-mana, tetapi juga akan jadi “biang keladi” kenapa individu-individu di dunia entertain bisa tampil sangat percaya diri, kian terasah gaya komunikasinya; Kenapa sumber daya di banyak perusahaan jadi lebih berkualitas presentasinya, lebih handal kemampuan public speakingnya, lebih piawai keahlian menulisnya; Kenapa banyak ‘leader’ yang lebih terarah dan mumpuni dalam berkomunikasi.

Mari, kita tunggu TALKINC menua.
Tua-tua keladi, makin tua makin menjadi-jadi.
Happy Anniversary 11th

Lia Halim
—————
Fasilitator

Step yang terkadang terlupakan untuk menjadi Seorang MC – Presenter

Selama saya mengikuti Training Mc – TV Presenter ini yang paling berkesan adalah pada saat encounter 1 leading by Mas Wahyu Wiwoho.

Step 1 :
First Impression ini sangat penting bagi saya pribadi karena menentukan seberapa excited saya untuk meneruskan kelas ini (haha – kegalauan seorang anak didik baru)
Kesan dihari pertama training saja sudah sangat luar biasa, jauh dari kesan monoton, dan materi materi nya pun disampaikan secara fun tapi berisi.

Step 2 :
Menjadi seorang MC Profesional harus memahami betul Do’s & Don’ts serta kode etik yang berlaku di dunia per MC an ataupun Presenter, di Encounter 1 ini semua detail yang dibutuhkan ada, kalau selama ini saya pribadi hanya membawakan sebuah acara berdasarkan rundown dan inti materi saja, dengan mengikuti kelas ini saya sangat terbantu bahwa seorang MC tidak hanya mengandalkan Product Knowledge serta berani berbicara di depan public saja melainkan ada step step yang harus dilakukan dan dipahami salah satunya :

Mengedukasi, Tidak hanya serta merta menyampaikan apa yang tertulis di rundown saja melainkan harus mengambil kesimpulan positif yang bisa di share kepada audience.

Memiliki Sense of Humor, Penyampaian materi atau pada saat membawakan acara tidak terkesan membosankan, sehingga audience bisa mengikuti step by step acara tersebut dengan fun namun tetap serius pada inti acara (tergantung jenis acara).

Inti dari materi yang disampaikan adalah, Seorang MC / Presenter tidak hanya harus berpenampilan menarik melainkan harus menjadi seorang yang professional yang bisa menyampaikan materi sesuai dengan kebutuhan dengan kalimat yang baik, mengedukasi dan bisa membawa Image Postive bagi dirinya sendiri maupun Brand yang sudah menggunakan jasa kita.

Regards,
Feranica Prilly – MC TV Presenter Batch 96

Professional Public Speaking Evening Class – Batch 1

Setelah sekian lama menunggu kuota peserta yang memadai, akhirnya saya bisa attend utk kelas Professional  Public Speaking – Evening Class untuk Batch yang pertama, yayyyy!! Kelas pertama dibuka oleh Mas Erwin, sang Founder TALKINC. dan juga dedengkot nya di bidang ini. Feeling so happy to meet him in person and listen to his session.

To be honest, susah untuk memilih materi mana yang menjadi favorit karena semua materi menarik dan bermanfaat. Seluruh session dibawakan dengan cara yang segar dan dengan keunikan masing – masing pengajar. Mulai dari Mas Erwin Parengkuan, Mbak Becky Tumewu, Mbak Lala Tangkudung, Mas Aurelio, Mas Bona Sardo sampai sang legend Mbak Poetri Soehendro! I am so blessed to be taught by these amazing people. You may see those happy faces in the pictures.

So to cut the story short, dari segi materi, saya akhirnya memilih “Creating Impressive Presentation Slides” untuk menjadi materi yang paling menarik. Karena di sini saya diajarkan tips dan trik nya untuk membuat slides yang singkat, padat dan mengena pada sasaran. Kekuatan sebuah gambar/ visual itu ternyata sangat penting. “Selling you Big Idea with Visual” – ini motto yang sangat menempel di benak saya! Kadang kita hanya perlu menampilkan satu gambar yang sudah bisa ‘berbicara’ kepada audience.

Ok that’s all dari saya! Bravo dan Salute utk TALKINC.

Cheers,
Mia
Jakarta, 13 Sept 2018

Berkomunikasi yang baik di dalam Public Speaking

Berkomunikasi yang baik di dalam Public Speaking tidak hanya mengenai proses pengiriman dan penerimaan pesan, tapi lebih kepada pesan yang dikirimkan sesuai dengan apa yang diinginkan. Dalam berkomunikasi selalu mempunyai tujuan yang diinginkan, baik untuk persuasi, provokasi, informasi, negosiasi, klarifikasi maupun membangun hubungan. Good communication is building engage with people. Komunikasi yang baik adalah dengan membangun hubungan dengan komunikan.

Dengan membangun hubungan dengan komunikan, dapat membuat audiens merasa terikat dengan public speaker. Membangun hubungan dengan audiens penting dilakukan supaya audiens mau mendengar dan memberikan perhatian. Komunikasi yang baik harus memberikan manfaat bagi audiensnya, jelas alur dan tujuannya (alur disini dapat dikatakan sebagai flow of mind) dan harus interaktif. Interaktif dengan audiens menjadi salah satu cara dalam membangun engage with audiens.

Masalah yang kemudian muncul adalah bagaimana cara kita menyampaikan suatu pesan dengan tidak terburu-buru, terlalu panjang dan terlalu banyak. Lebih baik jika penyampaian pesan dilakukan dengan analogi supaya lebih praktis. Penyampaian pesan yang baik dapat dilakukan dengan analogi seperti pendekatan storytelling. Komunikasi yang modern menggunakan teknik bercerita. Diharapkan dengan tips ini, dapat membuat skills komunikasi anda menjadi lebih baik daripada sebelumnya.

Materi Practice Makes Perfect sangat menarik di kelas Public Speaking

Memiliki kegiatan rutin di Hari Sabtu selama 9 (Sembilan) kali dibutuhkan komitmen bagi saya. Bayangin aja, yang biasanya tiap weekend bisa bangun siang, weekend gateaway, pulang kampung ke Jogja, setelah daftar Kelas Public Speaking berarti jauh-jauh tuh mimpi liburan atau bangun siang di Hari Sabtu. So, it’s quite challenging for me! Decision has been made, so let’s go to TALKINC every Saturday!

Berbicara memang sangatlah mudah bagi orang-orang yang cerewet, tetapi cerewet belum tentu menandakan bahwa Ia memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik. Dengan seringnya diminta untuk presentasi di hadapan Direksi dan stakeholders, maka menata cara penyampaian pesan juga harus diperhatikan.  Apalagi kalau sudah nervous, buyar semua tuh tadi yang mau diomongin.

Perubahan teknik berkomunikasi, di dukungnya kemajuan teknologi, dan keberadaan sosial media terkadang membatasi kita dalam mengungkapkan pendapat. Menyampaikan pesan secara tidak langsung (melalui whatsapp, email atau artikel) juga tidak mudah, karena dituntut untuk memiliki kemampuan menulis dengan baik.

4 (empat) jam Sesi “Practice Makes Perfect” di kelas Public Speaking yang dibawakan oleh Mas Erwin Parengkuan, kami ditantang untuk role play presentasi. Materi ini menurut saya merupakan summary dari kelas-kelas sebelumnya yang tidak kalah menariknya. Kelebihan dan kekurangan setiap peserta dicatat secara detail. Pemaparan materi dijelaskan secara terstruktur dan lugas. Bagaimana menggunakan tools saat presentasi, sikap saat Greetings, pentingnya profiling dan mapping saat persiapan, tujuan presentasi mempengaruhi context dan content materi yang akan dibawakan.

Di akhir sesi, Mas Erwin Parengkuan membacakan satu artikel tentang pemain sepakbola, dan kami ditantang untuk menceritakan kembali secara bergantian dan melanjutkan apa yang sudah disampaikan peserta sebelumnya. Tentunya harus dalam konteks Preparation, Structure (GISI, 3W, and SuReP) serta Impact nya. Hal seperti ini menyenangkan, dituntut untuk berpikir cepat dan tepat. Nah, lagi-lagi mau ngomong aja musti mikir, but it was super fun! 

Ternyata, menantang diri sendiri untuk 9x Hari Sabtu bangun lebih pagi dan mengikuti Kelas Public Speaking ini berdampak positif untuk saya; bertemu dengan teman-teman baru, belajar memperbaiki kemampuan komunikasi, belajar introspeksi diri tidak hanya saran dan kritikan yang diungkapkan oleh para fasilitator untuk diri sendiri tetapi juga belajar dari teman-teman serta belajar bagaimana mengkontrol nervous sebelum presentasi.

Write The Way You Talk As MC TV Presenter

Menulis.
Hmm… Bagi sebagian orang, ini ‘pekerjaan’ berat. Begitu juga bagi banyak siswa reguler class PROFESSIONAL MC TV PRSENTER TALKINC.

 

Mau jadi MC, kok malah disuruh nulis?”
“Liat rundown, langsung ngomong aja bisa, kok…”
“Aku sih mending disuruh ngomong berjam-jam deh, daripada disuruh nulis satu paragraf.”
“Helooooww… kerjaan dua kali kaleee kalo mau ngemsi harus bikin naskah dulu…”
“Nulis naskah? Uh lalaaa… gubraxxx!!! “

Kalemmm Mas Brooo, Mbak Sis…. Tarik nafas, buang nafas…. Sudah tenang?
Ok… Jadi begini…

 

Kemampuan berbicara, memang sudah Tuhan kasih lebih dulu sejak usia kita masih bulanan; sedangkan kemampuan menulis, baru bisa kita miliki setelah sekolah. Wajar, kalau kita lebih pandai ngomong dari pada nulis. Tapiii… Ngomong dalam kaitannya dengan public speaking, enggak gampang juga. Itulah sebabnya kenapa Talkinc juga menyelenggarakan kelas Public Speaking. Jadi intinya, untuk menjadi MC atau host atau presenter, atau pembicara, harus memiliki keahlian berbicara yang tidak hanya mengandalkan talenta. Karena “berbicara”nya seorang pembawa acara, bukan sekedar berbicara layaknya ngobrol dengan teman.

“Berbicara”nya MC adalah “berbicara” yang berkaidah, harus memperhatikan berbagai aspek: Materi pesan yang akan disampaikan, khalayak yang dituju, gaya bahasa penyampaian, pilihan kata, intonasi, durasi , speed, dan penampilan.

Nah, dengan batasan kaidah yang banyak itu, bisakah kita bicara tanpa naskah?
Jawabannya, bisa. Tapiii.. rasanya hanya orang-orang pilihan yang diberkahi ‘gift’ dari Tuhan yang akan mampu, ataaaauu… mereka yang sudah lama malang melintang (memiliki jam terbang yang banyak) di bidang per-MC-an. Kalau kita bukan dari dua kelompok di atas dan tetap mau ngemsi tanpa naskah, ya monggo… Silakan bandingkan hasilnya dengan mereka yang menyiapkan pekerjaan MC-nya dengan membuat naskah terlebih dahulu.

Pertanyaan selanjutnya adalah: Memangnya pihak stasiun televisi atau event organizer penyelenggara acara tidak menyediakan naskah untuk MC? Jawabnya: Tidak semua.

Oke, jadi, harus belajar membuat naskah, ya? Iya. Sekali lagi, iya. Percayalah, belajar membuat naskah di kelas HOW TO CREATE YOUR SCRIPT, tidak sehoror yang dibayangkan (kalau tidak percaya, boleh tanya tetangga sebelah, hahaa….). Materi utamanya adalah membuka kotak pandora tempat ide-ide berkeliaran; membuka simpul kusut saat mau memulai kata pertama; dan selanjutnya adalah merangkai kalimat-kalimat ujaran sesuai prinsip “Write The Way You Talk”.

InsyaAllah, meski agak senam otak, di akhir pembelajaran, siswa pasti bisa membuat naskah kata per kata. Hah??? Naskahnya harus kata per kata? Iya. Tapi, meski dibuat kata per kata, pada saat bertugas nanti, naskah di cue card tidak dibaca word by word . Fungsi naskah hanya sebagai primary supporting tool, yaitu sebagai alat pendukung utama, membantu kita saat ada bagian yang kita lupa. Lalu, kalau tidak dibaca, apakah harus dihapal? Tidak juga, karena ketika kita menyusun kata-kata sendiri di naskah, lalu membacanya, merevisinya, membacanya lagi, merevisinya lagi, secara tidak sengaja, kita sudah ‘menanam benih’ dalam memori. Ingat, menulis adalah menguatkan ingatan.

Dengan menyiapkan naskah terlebih dahulu, kita bisa membuat pemetaan di bagian mana (segmen berapa, slot ke berapa) pesan utama harus ditekankan, jokes harus dilontarkan, suasana khidmat harus dibangun, atmosfir ceria harus dibangkitkan. Dengan membuat naskah terlebih dahulu, kita bisa mencari pilihan kata yang lebih tepat, bridging sentence yang lebih nyambung, dan yang paling penting dari itu semua adalah kita bisa membuat acara yang kita bawakan memiliki jiwa (soul) dan penuh dengan nilai (value).

Jadilah MC yang mampu memberi “isi” pada acara, bukan hanya sekedar MC yang cuma bisa ngomong: “Demikian tadi…. Selanjutnya adalah….”.

Regards,
Lia Halim – Fasilitator TALKINC

Sharing fasilitator di kelas MC TV Presenter

Pengalaman menjadi Fasilitator Talkinc dr awal 2012 banyak memberi manfaat buat saya.Tidak hanya berbagi pengalaman,tapi juga mendapat banyak pengalaman baru. (Termasuk memberikan “nama panggung” untuk peserta).

Membimbing peserta untuk siap menjadi MC/Presenter professional.

8 module yg diberikan melalui teori & praktek dan diakhiri dengan ujian dengan sertifikasi,dari mulai persiapan menjadi seorang MC & Presenter,cara interview yg baik sampai cara berpenampilan dan bersikap selalu humble membuat peserta siap tampil secara professional.

Mengikuti kemajuan peserta sampai akhirnya beberapa diantaranya tampil di stasiun televisi dan tampil dalam panggung2 acara,sungguh kebanggaan yang luar biasa untuk saya.

Dian Eka Puspitasari MC TV Presenter Batch 91 : “Materi membuat script sangat membantu”

Selama saya mengikuti training MC dan Presenter ini, materi yang paling membantu saya adalah membuat script. Ibu Lia Halim mengajarkan bahwa sebagai “calon” MC Professional kita harus menulis sendiri scriptnya, untuk mempermudah kita menguasai materi acara. Dalam penulisan script juga harus dituliskan kata –kata seperti nah, ooh, masa., tidak hanya point-pointnya saja, sehingga kita sebagai MC pemula tidak akan mengalami momen “blank ” saat memandu sebuah acara.

Dalam penulisan skrip, ini juga dijelaskan tahap-tahapnya, dari pembukaan, ice breaking, bridging, sampai penutup. Hal yang selalu ditekankan adalah jangan jadi MC terima kasih dan acara selanjutnya, perkaya script dengan informasi tentang materi acara atau hal-hal yang personal pengundang acara, seperti: lagu kesukaan, makanan kesukaaan, dll.

Praktek membuat script juga cukup berkesan, saya juga dapat beberapa koreksi, salah satunya tidak nyambung, antara kalimat, sehingga membingungkan bagi yang mendengar, ini menjadi kelemahan saya yang harus diperbaiki. Ibu Lia juga menjelaskan, pembuatan script itu gampang gampang susah, semakin sering membuat script, semakin baik kemampuan kita menulis, semakin baik menyikapi situasi saat memandu acara.

Menjadi MC dan TV presenter tidak hanya memilki fisik yang menarik, tetapi juga mempunyai kemampuan yang mumpuni untuk memahami kliennya. Kata-kata yang dikeluarkan harus berisi disesuaikan dengan tema acara. Membuat script yang baik menjadi salah satu modal yang harus dimiliki MC professional.