Belief System

oleh Erwin Parengkuan

Dalam sebuah pelatihan dengan 30 peserta yang semuanya adalah generasi Zillenials selama 2 hari penuh, saya berkesempatan mengenal mereka lebih dekat lagi. Menyelami pikiran dan ketakutan-ketakutan mereka, tepatnya ketika nanti akan ditempatkan di area kerja yang baru, bertemu dengan para senior level serta kekhawatiran tentang nasib karir mereka.

Ketika sesi terakhir, kami meminta mereka satu persatu untuk tampil presentasi tanpa slides dan menyampaikan materinya selama maksimal 2 menit. Ini adalah waktu yang paling saya nantikan karena saya akan melihat bagaimana mereka telah menerima materi dengan baik, adakah diantara mereka yang memiliki kemampuan komunikasi yang terbaik.

Seorang anak maju ke depan dan mulai menceritakan tentang pengalaman mengambil double degree di luar negeri. “Mulanya saya sangat ragu, apakah saya dapat berdikari tanpa dampingan keluarga di negara orang? Perasaan cemas itu semakin meningkat menjelang keberangkatan saya. Saya sangat risau, karena saya adalah satu-satunya anak perempuan di keluarga. Selama bersekolah saya selalu diantar jemput oleh orang tua. Mereka sangat melindungi saya dan sayapun nyaman dibuatnya. Tetapi ketika sampai kepada keputusan mengambil sekolah di LN, mereka membebaskan saya. Di sisi lain, ada perasaan penasaran, apakah saya betul bisa lepas dari keluarga saya? Bagaimana nanti kalau saya sakit, siapa yang akan merawat saya? Kalau ada yang tidak beres di tempat saya tinggal, kepada siapa saya meminta bantuan?” Demikian celoteh si anak Z ini kepada kami di kelas. Saya sangat menikmati ceritanya dengan alur yang baik, dan tentu penasaran akan bagaimana kelanjutan kisahnya.

“Akhirnya, ketika saya sudah sampai di negara itu, sudah masuk ke universitas yang saya impikan, sudah mendapatkan tempat tinggal yang tidak jauh dari kampus, ternyata semua yang saya takutkan tidak terjadi. Ini seperti kata hati saya ketika saya memutuskan untuk meninggalkan keluarga. Dalam hati saya bilang, kalau “ujian kecil” ini saja saya tidak bisa melewati, bagaimana dengan karir saya selanjutnya?”

Ternyata memang betul, sebuah keyakinan memang harus kita yang menciptakannya. Harus kita yang meyakininya. Kita harus memiliki kemampuan untuk memvisualisasikan bayangan itu dalam sebuah gambaran yang jelas, semakin jelas kita bayangkan, akan semakin mudah kita meraihnya! Ketika kita yakin, semua tindakan akan berjalan dengan baik. Bila kita percaya, semua akan terjadi seperti apa yang kita bayangkan. Belief System adalah suatu sikap yang ditunjukkan saat seseorang merasa mampu dan yakin. Ketika perasaan ini dipupuk maka akan menghasilkan sebuah kebenaran. Ketika kita berpikir negatif tentu hasilnya akan sama, begitupun sebaliknya. Ketika muncul perasaan ragu hendaknya kita langsung menganalisanya, apakah hal tersebut memiliki fakta yang kuat atau itu hanya sebuah ketakutan belaka/asumsi. Ketika proses ini kita jalankan terus, kita juga akan memiliki kemampuan untuk mengubah sebuah ketakutan menjadi sebuah usaha yang akan memberikan sebuah hasil. Bila hasilnya belum sesuai tentu kita akan mencari jalan keluar terbaik dan akan berjalan seperti apa yang sudah kita dipercayai, dan apa yang kita akan raih akan semakin jelas wujudnya.

Memaksimalkan Belief System sebagai modal keyakinan untuk menjadi terbaik dari diri kita menurut saya mutlak 100%. Berbagi faktor akan terus bermunculan, seperti pengaruh pola asuh, kemudian melihat figur yang dapat kita jadikan sebuah contoh, seberapa besar informasi akurat yang kita peroleh, termasuk lingkungan sosial akan memberikan kontribusi penting. Ketika proses ini tidak mendukung atas pembentukan yang akan kita yakini, hendaknya kita pandai-pandai menilainya dengan segera membuang yang buruk dan kembali mencari jalan terbaik, termasuk dalam mencari lingkungan yang lebih sehat yang dapat mempertebal system kepercayaan kita. Jangan lupa untuk terus memasukkan sugesti positif ke dalam diri secara terus menerus dengan melakukan self talk, self reflection, self control, self evaluation, dan self motivation. Seperti cerita manarik dari salah satu peserta di kelas saya. Oh ya satu lagi jangan lupa, bahwa kita adalah tuan untuk diri kita sendiri dan hanya kitalah yang dapat membuat diri kita sukses ataupun gagal dan semua ini berasal dari Belief System kita. Seperti kata sebuah tagline “Nothing is impossible!”

The Fundamental of Public Speaking

oleh Erwin Parengkuan

Menekuni profesi sebagai pengajar Public Speaking tanpa saya sadari sudah menginjak tahun ke 19, sama halnya dengan organisasi TALKINC ini. Dari begitu panjangnya perjalanan yang sudah saya lalui, berbagai tantangan berbagi di kelas sudah saya lewati. Peserta yang memiliki antusiasme yang tinggi, minat belajar yang muncul dari kebutuhan, atau karena diminta atasan atau orangtua, membuat saya merekam berbagai macam cara mereka mengutarakan pikiran, perasaannya, dan pendapatnya di depan kelas. Disitulah dinamika berbicara di depan publik dengan individu yang berbeda-beda, isi kepala, audiens yang juga berbeda-beda dengan tujuan pesan yang ingin kita sampaikan diterima 100% dengan baik, tanpa adanya distorsi apapun. Apakah semuanya berhasil menyampaikan pendapat dengan tepat?

Public Speaking atau cara berkomunikasi adalah sebuah landasan utama yang terpenting bagi kita umat manusia, tanpanya kita akan kesulitan untuk menyampaikan pesan apapun yang ada di kepala. Jadi Public Speaking adalah sebuah cara bagaimana seseorang mengutarakan/mengartikulasikan sebuah pesan agar jelas dan runut. Disinilah letak sebuah seni yang dulu kita banyak ketahui tentang 3 faktor yang harus dimiliki seseorang dalam berkomunikasi yaitu bahasa tubuh, suara dan kata-kata, seperti penelitian yang dilakukan oleh seorang professor Albert Mehrabian pada era sebelum digital datang. Saya tidak akan membahas itu karena memerlukan begitu banyak komponen pendukung didalamnya yang harus diasah terus menerus. Kali ini saya justru akan mengajak anda melihat sebuah hal utama dibalik itu yang perlu dimiliki.

Saya menyimpulkan bahwa Public Speaking sejatinya adalah kemampuan seseorang dalam mengendalikan dirinya. Bagaimana kita dapat mengatur ego kita dalam berkomunikasi, tidak dominan, tidak merasa paling benar, dan tidak otoriter. Dalam sebuah buku yang saya baca di tulis oleh pemenang Nobel Daniel Kahneman, ia menuliskan sebuah kesimpulan tentang “thinking fast and slow” bagaimana otak kita berpikir secara cepat dan lambat dalam mengambil sebuah keputusan yang memengaruhi cara kita dalam menentukan hal apapun. Begitupun halnya dalam seni berbicara, kita harus dapat mengendalikan diri kita, hanya kita yang dapat mengendalikannya.

Kemampuan seseorang dalam mengendalikan dirinya adalah sebuah fundamental dalam Public Speaking. Kita tentu tahu bahwa kecakapan seseorang dalam membawakan dirinya akan menciptakan sebuah relasi yang sangat indah. Saling menghargai, saling melindungi, saling menyayangi, dan peduli terhadap sesama. Hal inilah yang harus terlebih dahulu kita pahami, kuasai dan miliki dalam diri kita. Jadi akan jelas terlihat, mulai dari pemilihan kata-kata yang diucapkan seseorang, jelas terasa bagaimana ia memandang dirinya dan memandang orang lain. Kalau kata-kata, suara, bahasa tubuh bahkan cara berpenampilan yang kita lihat, dengar dan rasakan itu tidak mengena dihati kita, maka akan terlihat bagaimana hubungan yang akan terjadi selanjutnya.

Semua kata-kata yang kita ucapkan akan jadi pengukur yang jelas, bagaimana tingkat kepahaman dari apa yang kita ucapkan, akan terasa juga dan membekas di hati. Kata-kata seperti “masak gitu aja kamu enggak tahu!” melambangkan seseorang yang menganggap dirinya lebih baik dari orang lain, yang berimbas lawan bicara merasa direndahkan. Kemudian, dampak selanjutnya tidak akan terjadi sebuah komunikasi yang baik bila kalimat-kalimat seperti ini terus dikumandangkan, belum lagi intonasi dan bahasa tubuh yang mengiringinya memperkuat pesan tersebut.

Komunikasi adalah sebuah seni dalam membangun hubungan. Sepatutnya pemahaman fundamental ini dulu. Dan mulai sekarang, mari kita mengenal diri lebih baik, menguasai diri ,menghargai diri dan menghargai lawan bicara. Mulailah melihat kedalam diri sebelum kita melakukan komunikasi atau Public Speaking, agar terjadi hubungan yang selaras dan saling menghargai karena semua orang ingin diperlakukan dan diperhatikan dengan baik. Baru setelah itu kita latih intonasi dengan tepat, cocokan dengan bahasa tubuh, tekanan suara serta berpenampilan yang sesuai.

The Power of Words

Seorang profesor bernama Mehrabian di akhir tahun 1970 melakukan penelitian terhadap dampak dalam berkomunikasi yang kemudian menjadi acuan dasar manusia untuk menyampaikan sebuah pesan. Dari penelitian yang melibatkan 1000 responden itu, kata-kata yang kita ucapkan memberikan dampak hanya 7%, sisanya 38% adalah tekanan suara dan selebihnya adalah bahasa tubuh.

Penelitian ini sampai sekarang masih kita gunakan, walaupun sudah sedikit berubah seiring datangnya era digital. Sehingga saya menambahkan porsi gaya penampilan seseorang di dalam komponen-komponen tersebut. Menjadi kata-kata 10%, suara 20%, penampilan 10% dan bahasa tubuh 60%, seperti yang saya tuangkan dalam buku saya “Strategi Sukses Berkomunikasi Secara Efektif” terbitan Gramedia Pustaka Utama, 2019. Mengacu dari teori sang profesor, tetap kata-kata memberikan dampak yang kecil. Pun demikian, kata-kata adalah senjata kita dalam menyampaikan sebuah pesan. Kata-kata yang tepat dapat membuat seseorang suka ataupun benci kepada kita. Membuat seseorang mengingat apa yang kita ucapkan atau mengabaikannya.

Pada artikel sebelumnya, saya juga telah membahas tentang pentingnya kita memiliki kemampuan kosa kata yang kaya dan beragam. Sayangnya kesadaran ini masih rendah pada masyarakat kita. Kita terlalu minim perbendaraan kata sehingga dengan hadirnya era digital yang kebanyakan mengumbar kata, akhirnya kata-kata yang sering kita gunakan terinspirasi dari jargon-jargon di sosmed, membuat kata-kata yang kita ambil, terdengar menjadi umum dan tidak berdampak.

Untuk itu pentingnya kita harus memiliki kepandaian memilih kata yang tepat agar dapat diingat dan dapat memberikan pengaruh kuat dalam menghasilkan sebuah tindakan yang kita harapkan dari sebuah tujuan komunikasi. Mulailah membiasakan diri dengan kemahiran merangkai kata yang tepat. Menggabungkan kata yang umum dengan kata yang jarang digunakan orang tetapi dapat di mengerti.

Sebuah kata-kata yang powerful banyak mengandung emosi. Bukan kata-kata seperti ketika kita akan memotivasi lawan bicara dengan berucap “kamu pasti bisa” melainkan memikirkan sekiranya lawan bicara kita akan tergerak bila kita masuk ke sisi emosinya terlebih dahulu kemudian menggabungkan dengan kata yang memotivasi. Contoh “saya paham kesulitan yang kamu hadapi dalam menjalankan tugas baru ini, seperti dalam setiap proses pembelajaran, tentu proses ini akan panjang dan berliku, akan tetapi kami percaya kamu dapat memberikan yang terbaik agar kinerja kamu dapat membawamu kepada jenjang karir yang lebih tinggi!”

Ada narasi yang kita persiapkan melalui tabungan kata-kata yang sudah tersimpan di memori kita. Kata-kata yang terlalu pendek, apalagi umum, terdengar biasa dan hanya lewat di telinga lawan bicara. Miliki waktu setiap hari untuk membaca banyak tulisan/narasi yang beragam adalah sebuah obat mujarab.

Mulai aktif menulis juga akan mengasah kemampuan merangkai kata. Saya sendiri melakukannya secara rutin, dan bila melihat sebuah jargon atau sepenggal kata yang saya temukan, saya kemudian akan membuat kalimat yang berbeda dan mencatat pada notes saya. Ketika kita terus mengasah dan mencatatnya, kita akan semakin mahir dalam menyusun kata-kata yang powerful dan jangan lupa untuk membaca kemampuan isi kepala lawan bicara kita. Agar tepat dan membantu mereka berpikir dan tergerak.

Zillenials dan Dunia Kerja Kita

Oleh Erwin Parengkuan

Founder, CEO of TALKINC, Writer, Certified Prof

“Ini kalau tidak diurusin bisa gawat sih mereka, lepas tanpa bimbingan, 70% pekerja kita isinya mereka semua!”
“Kami tuh banyak tahu, semua hal! saking banyaknya tahu kami sering bingung sendiri, mau mulai dari mana? Terlalu banyak pilihan!”
“Mas, saya perlu healing, boleh yaa?”

Tentu anda bisa tebak, 3 ucapan di atas siapa yang bicara dan kepada siapa? Sedihnya, kita terlalu banyak menuntut ke mereka, lupa kalau ngomong harus satu pesan dulu, tanya mereka kenapa itu penting, baru lanjutkan lagi diskusi itu, dst. Bukan membombardir mereka dengan pesan yang bertubi-tubi dan membuat mereka kabur dan minta langsung healing.

Saya sangat sering berjumpa mereka di kelas, berbagi jurus jitu cara komunikasi yang tepat dan ngobrol sama mereka. Bilangin mereka kenapa ini dan kenapa itu penting buat dilakukan dalam meningkatkan karir dan tentu untuk memiliki kemampuan berkomunikasi yang lebih mudah diterima lawan bicara, apalagi dengan yang lebih senior yang masih arogan dan (makin) mudah baper.

Pernah dalam sebuah sesi dengan mereka, para zillenial yang jumlahnya 24 orang, para management trainee yang terpilih untuk menjadi penerus perusahaan besar itu. Saya melontarkan pertanyaan terbuka untuk menerima tantangan mencocokkan penjelasan dari 4 terminologi yang sudah saya tulis di flipchart. Anak ini bergegas menyambut tantangan saya, sampai di depan kelas, dia lantas menggaruk-garuk kepalanya, dan bilang ke saya “Aduh saya lupa pak ini yang mana aja ya?” saya bilang “Loh saya kan tidak memintamu, kamu sendiri yang berinisiatif untuk maju ke depan, coba ingat-ingat apa yang tadi sudah ada dibenakmu?” ujar saya santai. Saya kemudian membalikkan pertanyaannya “Nah, kalau kamu mau tahu tidak pagi ini saya bangun jam berapa?” Dengan cepat ia menjawab “Enggak nanya!” Aduhhhhh!!!!!

Contoh yang sering terjadi, gesekan makin nyaring bunyinya. Wahai para senior dan orang tua, mari kita belajar pahami dunia mereka yang sangat berbeda dengan kita. Mereka sangat mudah rentan, bicara tanpa dipikir, pendek-pendek pula, tata bahasa yang salah macam anak Jaksel dll. Mereka mutlak kita bimbing, kita yang memang harus lebih bersabar untuk menuntun mereka. Dengan contoh tadi, memang kalau saya pikirkan lagi, bisa jadi anak ini memang tidak bermaksud berlaku seperti ini kepada saya yang notabene lebih tua seperti umur orang tua mereka dan facilitator di kelas. Sudah jelas anak ini hilang dari bimbingan dan tenggelam dengan derasnya timeline dan cepatnya internet connection.

Lantas apa yang harus kita lakukan agar dapat menjembatani jurang jauh ini agar semakin dekat? Saya punya 4 jurus yang dapat membantu anda wahai para pemimpin:

1.Speak with respect

Sadari bahwa tanpa mereka organisasi tidak akan terus berjalan dan berkesinambungan. Untuk itu kita perlu menurunkan ego, sing sabar sing ikhlas untuk bicara dengan mereka. Walaupun dalam konteks organisasi kita merasa semua orang harus dapat berbicara secara dewasa, tetapi alangkah baiknya kalau berinteraksi dan berkomunikasi dengan mereka, ‘kacamata’ kita mutlak dirubah yaitu sebagai kakak mereka bukan sebagai bos otoriter. Kita harus menyelami dunia mereka, menghargai apapun pendapat mereka. Dalam setiap sesi dengan mereka ada baiknya, emosi kita harus tetap netral dan bangkitkan minat penasaran ingin tahu apa yang ada dalam mindset mereka. Ingat semua masalah timbul karena kesalahan dalam membangun relasi dan berinteraksi.

2.Mingle with them

Beruntungnya para generasi X seperti saya yang masih baca koran dan aktif di media sosial sehingga lebih lentur untuk paham apa yang terjadi pada dunia digital saat ini. Kita harus mengerahkan effort untuk dapat nyambung dengan mereka, tidak mengunci akun instagram, pakai sneakers bukan oxford shoes, ikutan juga sesekali posting di insta story, nongkrong bareng dengan mereka. Seperti yang sering saya lakukan dengan anak-anak kantor yang semua millennials dan zillenials. Saya menempatkan diri bukan sebagai atasan, tetapi sebagai bapak mereka. Bila kami ingin hang-out, saya meminta mereka untuk menentukan tempat nongkrong yang asik dan tentu instagramable. Banyak sekali organisasi besar di seluruh dunia sekarang sudah tidak memberlakukan jam kantor, membuka sekat-sekat kantor menjadi co-working place, membuat “playground” bagi mereka di kantor, seperti menyediakan bean-bag untuk mereka istirahat,dll. Harus selalu ingat bahwa motto mereka “you only live once, working and pleasure at the same time.”

3.Building Raport and Finding Similarities

Effort berikutnya adalah membangun kanal-kanal pribadi dengan setiap orang di kantor, terutama mereka yang akan menjadi the next future leader, cari tahu sisi pribadi mereka, keluarganya, pacarnya dll dan temukan kesamaan yang akan membuat hubungan menjadi meaningful. Jadilah seorang mentor buat mereka, itu mutlak! Luangkan waktu khusus secara berkala dengan mereka, memonitor progress mereka.

4.Mutual respect for building a culture of trust

Sebagai leader tentu kita harus terus bertumbuh dan akhirnya menjadi role model mereka, jangan buat mereka takut karena jabatan kita. Pemimpin harus walk the talk, bukan cuma ngomong doang apalagi hanya memerintah. Seorang leader yang terpercaya adalah yang memiliki sifat hangat, menyenangkan dan memiliki keahlian serta wawasan luas dan dapat memberikan solusi terbaik. Sehingga mereka menghargai kita dan nyaman dengan kita.

4. jurus Ini 100% akan membuat produktifitas usaha semakin meningkat, tidak hanya untuk setiap pribadi didalamnya tapi tentu organisasi akan terus bertumbuh sesuai dengan tuntutan zaman, sejalan dengan core values, corporate culture and most importantly everybody happy!

Fixed Mindset dan Growth Mindset

Oleh Erwin Parengkuan

Dalam banyak peristiwa, beberapa komentar yang sering kita dengar “pokoknya gue enggak mau tahu…harus ini dan harus itu” atau kalimat seperti ini “saya enggak mengerti, kenapa mereka malah diam saja tidak bilang saya langsung? Dan kenapa selalu saya yang disalahkan!”

Pernahkah kita mencerna kalimat di atas itu, menunjukkan sikap mental seseorang ketika mengalami gesekan dalam interaksi mereka. Memang setiap kita memiliki ego yang kadarnya berbeda-beda. Semakin besar ego seseorang, kata-kata diatas akan sering terucap. Setiap orang akan memiliki tendensi untuk membela dirinya dan membuat sebuah benteng yang kuat agar pribadi mereka terlindungi dan tidak terusik bila terjadi gesekan dalam berkomunikasi. Mereka yang kerap menuntut, merasa benar dan tidak melakukan instrospeksi diri dan bertanya “Kenapa hal ini bisa terjadi dan dimana letak kesalahan saya?” adalah contoh kalimat dengan orang yang memiliki fixed mindset. Sedangkan orang dengan growth mindset akan berpikir seperti ini “Apa yang harusnya saya lakukan agar hal tersebut tidak terjadi lagi?”

Penjelasan diatas menunjukkan ketika seseorang memiliki fixed mindset, mereka tidak mau menerima pendapat atau keberadaan orang lain. mereka yang memiliki growth mindset selalu melihat dari sudut pandang yang luas dan mencari jalan keluar terbaik.

Setiap interaksi dan berkomunikasi kita memerlukan sebuah hubungan yang terbuka, sebuah hubungan yang dilandasi saling menghormati dan menghargai. Setiap pendapat dari lawan bicara kita harus dapat kita pahami dan mengerti. Sehingga hubungan yang terjalin dengan landasan menghargai pendapat orang akan membuat hubungan tersebut harmonis dan memiliki hubungan jangka panjang. Kita tentu sadar bahwa mustahil bisa membuat seseorang berubah. Memiliki pemikiran yang terbuka/growth mindset akan membuat kita menjadi pribadi yang lebih bahagia, tidak menuntut dan menyalahkan siapapun.

Ketika kita selalu fokus kepada pemikiran fixed mindset, tentu kita sulit menerima pendapat orang lain yang berbeda dengan kita. Kita akan memiliki kecederungan menjadi pribadi yang sulit untuk berkomunikasi dengan terbuka dengan siapapun, cenderung memaksakan pendapat dan tidak mau menghargai pendapat dan keberadaan orang lain. Sedangkan komunikasi adalah sebuah seni yang memerlukan kemahiran dalam membaca situasi, menavigasi diri dan membangun hubungan dan membinanya terus menerus.

Bila kita berada dalam lingkungan orang-orang yang memiliki fixed mindset tentu kita sama dengan mereka. Dalam setiap jurnal tentang personal development, seseorang yang sukses secara karir dan kehidupan adalah mereka yang memiliki growth mindset. Mereka selalu melihat dengan sudut pandang 360 derajat, luas! Tidak hanya melihat apa yang dirasakan atau dimiliki, akan tetapi terus menggali potensi diri dan memiliki ketertarikan dalam mengembangkan dirinya dan terus membangun relasi jangka panjang yang baik dengan setiap orang. Mereka selalu terbuka akan input orang lain bahkan kritik sekalipun. Kritik bersifat spontan dan jujur, bila kita tela’ah substansi yang mereka sampaikan kepada kita. Tinggal pandai-pandailah kita memilah-milahnya, mana yang bermanfaat untuk personal development kita atau kritik tersebut sengaja untuk menjatuhkan mental kita.

Ketika seseorang memiliki self esteem yang baik, memiliki penghargaan diri dan terus mengevaluasi diri tentu setiap orang akan memiliki growth mindset yang akan membuat mereka terus bertumbuh.

Intergritas Pilar Komunikasi

Oleh Erwin Parengkuan

Apa yang membuat kita merasa sungkan dengan seseorang? Sungkan artinya kita segan dan tidak berbuat sesukanya, misalnya kita diajak makan oleh figur yang kita hormati, maka kita akan menjaga sikap maupun perkataan kita kepada mereka.
Masifnya informasi yang wara-wiri di timeline kita, dengan kebisingan yang ada, kita seperti kesulitan untuk mencerna lagi mana yang penting karena memang bobotnya insipiratif atau hanya sekedar lewat karena sangat umum dibahas dimana-mana. Termasuk para figur yang membawakannya.
Waktu itu saya sempat dikirimkan sebuah link dari salah satu KOL dan figur ini berbicara dengan seseorang harus memiliki sikap yang rendah hati agar dapat sukses, akan tetapi ia berbicara di dalam pesawat pribadinya. Saya tertawa geli melihat isi konten tersebut yang bertolak belakang dengan yang membawakannya.

Salah satu faktor kegagalan dalam sebuah hubungan terjadi karena kita tidak melihat figur tersebut sebagai seseorang yang dapat kita hormati, orang tersebut tidak menjalankan seperti apa yang ia ucapkan kepada kita, istilahnya walk the talk! Hanya hanya bicara saja tapi tidak diikuti oleh perbuatan seperti yang diucapkan. Misalnya di kantor atau lingkungan terdekat, kita sering mendengar seseorang mengatakan harus terbuka dan jujur, tapi yang bersangkutan kerap berkata bohong dan manipulatif.

Ketika kita bicara tentang komunikasi, kita juga ingin apa yang kita ucapkan menjadi bermakna dan berdampak atas apa yang kita ucapkan karena apa yang kita sampaikan sangat sesuai dengan apa yang kita lakukan juga, walk the talk, bukan omong doang. Sayangnya semakin banyak orang yang ingin tampil menarik dan sempurna tetapi melupakan soal nilai integritas yang harus dimilikinya sebagai sebuah nilai utama yang sangat penting dimiliki seseorang sebelum ia dapat memberikan pengaruh positif kepada lawan bicara.

Lalu bagiamana kalau kita tidak mengenal mereka, kita baru berjumpa dan bicara dengan mereka, dapatkan kita mengetahui apakah seseorang memiliki integritas atau tidak? Jawabannya bisa saja walaupun tidak 100%, akan tetapi dapat memberikan gambaran sedikit tentang orang tersebut. lihatlah sikap yang ia berikan kepada kita apakah terasa jujur atau malah dibuat-buat? Ketika ia berbicara kepada kita, apakah ia lebih banyak menceritakan tentang dirinya atau juga memiliki ketertarikan untuk mengenal kita lebih jauh. Mungkin dua indikator ini bisa jadi deteksi dini untuk kita rasakan ketulusan dan kejujurannya dalam berkomunikasi. Lihat juga ketika ia datang terlambat apakah ia mengucapkan permintaan maaf kepada kita karena telah menunggunya?

Integritas penilaian kita kepada seseorang yang harus teruji oleh waktu, sebuah kumpulan dari nilai-nilai yang kita dapatkan dari didikan di rumah. Semakin fondasi didikan di rumah kuat, semakin besar potensi seseorang memiliki integritas. Sebuah nilai penting, misalnya tentang menghargai sesama manusia, menghargai pendapat orang, tidak menyakiti dan menipu orang lain, dll. Bagaimana kalau ternyata di rumah kita tidak mendapatkannya? Sangat banyak contoh nilai-nilai penting yang bisa juga kita dapatkan dari orang lain, ketika kita mengamati mereka dan berbicara dengan mereka, adakah makna yang kita dapatkan dan bisa kita bawa dalam kehidupan kita? Bisa juga ketika kita menonton fiim, membaca buku, atau bicara/melihat figur yang inspiratif tersebut.

Dari semua set of skills yang ada seperti keahlian seseorang, sikap yang positif, kemampuan komunikasi, pikiran yang terbuka dan lainnya, integritas menurut saya memiliki nilai paling utama untuk seseorang agar dapat dihargai oleh lawan bicaranya.

Mulailah dari sekarang kita memupuk nilai-nilai penting itu, agar kita dapat menjadi figur yang tangguh, dan menjadi inspirasi buat orang-orang di sekitar kita.

4 tips Ice Breaking

Oleh Erwin Parengkuan

Tenyata begitu banyak pencarian di jagat maya yang bertanya tentang bagaimana caranya kita dalam melakukan ice breaking untuk memecah kebekuan dalam memulai pembicaraan, terutama dengan orang baru?

Saya kali ini akan membantu anda agar paham dulu tujuan ice breaking bukan semata-mata membuat jokes agar kebekuan itu mencair, melainkan kita harus dengan jeli melihat dan membaca peta lawan bicara ketika ingin mulai berkomunikasi.

Ada 4 tips yang harus kita perhatikan:

1. Amati Penampilan dan Bahasa Tubuh
Ini yang terkadang kita lupakan, karena kita terlalu didoktrin untuk sesumbar mengucapkan sesuatu dengan terburu-buru atas nama pemecah kebekuan tanpa melihat bagaimana cara sesorang berpenampilan dan bahasa tubuhnya. Kenapa demikian? karena dalam cara seseorang berpenampilan ada indikator yang terlihat dan dapat kita perhatikan dengan seksama, termasuk ketika bertemu mereka, amati gestur tubuhnya. Apakah orang tersebut dalam kodisi baik, sedih, senang dll. Kita harus jeli terlebih dahulu untuk pandai membaca keadaan sebelum berucap.

2. Gunakan Intuisi
Setiap orang memiliki kadar intuisi yang berbeda-beda. Tahukah anda pada bahwa otak tengah kita ada tombol intuisi yang dapat kita tekan dan ini akan memberikan banyak informasi tentang hal apa yang sepatutnya kita lakukan dan tidak lakukan. Entah dalam pengambilan keputusan atau apapun. Bila kita memiliki kesadaran utuh dalam hening dan mendengarkan intuisi kita, tentu kita akan lebih cermat untuk memilih kata-kata yang harus diucapkan.

3. Pilih Kata-kata yang Positif
Setelah kita menavigasi pengamatan pada dua point di atas dari indera pengelihatan dan indera perasa, barulah kita pilih kata-kata yang positif dan membangun. Ingat! Komunikasi adalah seni membangun hubungan. Sebuah seni yang harus ada pelajari hanya dengan kata-kata yang bermakna positif dan membangun. Termasuk mengatur tekanan suara yang menyejukkan, dan bahasa tubuh yang terbuka.

4. Berikan Apresiasi yang tulus
“Anda terlihat sangat segar?” atau apapun kata-kata yang dapat membuat orang mengatakan anda adalah pribadi yang menyenangkan. Karena sejujurnya kita hanya ingin berhubungan dengan orang-orang yang dapat membuat kita menjadi bahagia. Kelilingilah diri kita dengan lingkungan dan orang-orang yang positif, karena mereka memberikan dampak positif yang besar dalam kehidupan kita berikutnya. Dan belajarlah dari mereka, bagaimana mereka selalu apresiatif terhadap lawan bicara. Seperti kebanyakan orang-orang dibelahan barat sana yang begitu generous. Kita harus ringan memberikan penghargaan itu kepada siapapun orang yang kita jumpai.
Jadi, teknik ice breaking yang sudah kita pelajari itu bukan sekedar basa-basi yang sepihak atau tanpa tedeng aling-aling melemparkan jokes guna memecah kebekuan, karena jokes yang kita berikan belum tentu tepat, dan bahkan bisa meruntuhkan sebuah “jembatan” penghubung kita dalam membangun sebuah relasi yang berarti.

Berkomunikasi dengan hati

Dalam sebuah sesi training selama dua hari dengan para leader dari sebuah brand lokal, seorang bos mengeluh kepada saya tentang salah satu leadernya yang selalu menonjol dalam setiap training, akan tetapi ketika kembali bekerja, ia tidak seperti apa yang ditampilkan di dalam kelas. Anak buahnya sering kebingungan dengan sikap dan keputusan yang diambilnya.

Saya bertemu dengan anak ini selama dua hari, saya mencoba untuk netral agar dapat melakukan observasi apa yang terjadi. Memang anak ini menonjol di kelas, perawakannya yang menarik, rapih dan aktif di dalam kelas. Ketika sesi tampil ia pun menunjukkan keterampilannya dalam presentasi. Saya mengamati dengan seksama, ternyata ada bahasa tubuh yang terlihat dipaksakan. Terutama dari gestur tangan ketika ia mulai berbicara, sebuah hentakan yang tidak alami dan juga tekanan suara yang terdengar dipaksakan dari beberapa penggalan kata yang ia ucapkan sehingga kesannya saya seperti melihat seorang orator berbicara dengan meletup-letup.

Cerita saya diatas tadi menunjukkan tentang bagaimana setiap orang harus memiliki kesadaran yang utuh dalam membawakan dirinya termasuk dalam presentasi. Apalagi saya sudah mendapatkan insight dari atasannya. Ketika kita memiliki kesadaran yang utuh dalam setiap interaksi dengan siapapun, kita akan dapat mengetahui apakah hubungan yang sudah kita lakukan sudah sesuai datang dari hati, atau kita justru memilih untuk tidak alami/berpura-pura?

Kalau kita bahas tentang kelima indera manusia, indera perasa merupakan bagian terpenting dalam komunikasi yang dapat tersimpan begitu lama tentang kesan apa yang ditimbulkan seseorang dalam keseharian mereka, termasuk ketika kita bekerja dan beraktivitas. Kita juga sejatinya dapat merasakan keberadaan seseorang apakah yang ia lakukan itu tulus datang dari hatinya atau dibuat-buat. Apalagi untuk para pemimpin yang memiliki kesempatan sangat besar untuk selalu diamati oleh anak buahnya. Berkomunikasi dengan hati tentu akan terasa di hati dan dapat membuat organisasi yang dipimpinnya menjadi lebih produktif dan memperluas target market.

Begitulah makna mendalam tentang komunikasi yang sesungguhnya. Karena ketika kita memulainya dengan hati, akan ada empati dan semua orang akan merasa dihargai sehingga akan membuat suasana keterbukaan yang baik dan kondusif dalam setiap organisasi.

Ketika hari kedua berlangsung, anak ini bertanya kepada saya tentang apakah kita harus bersikap sama dalam setiap kesempatan, sama yang dimaksud adalah menampilkan diri kita yang jujur dan terbuka, tanpa ada tendensi apapun kepada siapapun? Saya menjawab tentu apa yang kita tampilkan dalam keseharian, di pekerjaan harus menggambarkan diri kita sesungguhnya, sehingga kita tidak akan lelah mengatur diri kita dan selalu menjadi versi terbaik dalam diri kita setiap hari. Bayangkan kalau kita memiliki lebih dari 3 lingkungan, di keluarga, kantor dan pertemanan, kita memiliki “wajah” yang berbeda-beda maka akan sangat repotnya kita menempatkan diri yang pada akhirnya akan membuat diri kita jauh dari apa yang sesungguhnya ada dalam diri kita.

Saatnya belajar mengenal diri lebih baik, terbuka akan evaluasi diri, melakukan self check setiap saat setelah kita berbicara dan melihat dengan jernih bagaimana sikap dan cara kita berkomunikasi dengan siapapun tanpa terkecuali. Karena setiap orang akan senang berjumpa dengan orang yang tulus, jujur dan terbuka, disitulah indahnya sebuah hubungan yang akan terjalin dan semua orang akan berbicara dengan menghargai dirinya dan juga orang lain.