by admin | Jan 24, 2022 | Information, News, Uncategorized
Oleh Erwin Parengkuan
Bisingnya dunia saat ini dengan distraksi yang begitu masif membuat banyak orang semakin sulit berkomunikasi dengan baik. Sejujurnya semakin mereka sulit berbicara, semakin laku keras bisnis bicara seperti yang kami jalankan di Talkinc. Sedangkan kebutuhan bicara yang jelas dan terstruktur merupakan fondasi interaksi manusia semenjak beradab-adab yang lalu.
Ketika kami terjun langsung dalam setiap training, saya melihat dan menyimpulkan ada 2 masalah besar yang kerap dialami antara atasan dan bawahan dalam komunikasi dan jurang ini yang makin besar dari waktu ke waktu, khususnya kepada para pekerja di dunia profesional. Dari frontliners hingga para pucuk pimpinan mengalami kesulitan dalam berkomunikasi. Para bawahan lebih kepada masalah tingkat kepercayaan diri yang rendah (takut salah, takut menyinggung perasaan dengan pemilihan kata yang tidak tepat). Sedangkan sang bos rata-rata urusan ego yang terlalu besar dalam berkomunikasi sehingga mereka masih terkesan otoriter dan tendensi hanya mau didengar saja. Belum lagi birokrasi yang berkepanjangan, semakin kusutnya komunikasi dalam setiap organisasi. Sikap apatis dan pasrah makin banyak terlihat dimana-mana. Bayangkan setiap orang berjalan sendiri-sendiri tanpa adanya kerjasama yang baik.
Beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan melakukan sesi group coaching kepada 4 orang pemimpin di perusahaan BUMN. Kontras sekali terlihat gaya kepemimpinan dan gaya berbicara yang berbeda antara mereka yang masuk kategori millennials dan kolonial. Kita tahu, perbedaan generasipun memberikan kontribusi yang besar terhadap kekusutan komunikasi. Salah satu pemimpin di kelas terlihat kaku dan otoriter. Bicaranya tegas, suaranya kencang dan sangat mahir memberikan instruksi. Sedangkan satu pemimpin yang datang dari generasi millennials, terlihat tidak PD dan takut salah. Padahal, seorang pemimpin masa kini dituntut harus lentur dan cekatan dalam melihat perubahan yang makin cepat. Mereka harus dapat membangun “jembatan” yang baik dengan para bawahannya dan memberikan dampak yang besar dalam setiap kesempatan berbicara dan saling menghargai sehingga organisasi yang dipimpinnya terus bertumbuh. Sebuah organisasi yang membidik target market anak muda, mutlak dapat berkomunikasi dengan “gaya” mereka, bukan yang kuno apalagi arogan. Tidak heran bisnis jalan di tempat karena tidak adanya kolaborasi dan rasa saling percaya yang baik satu sama lain.
Dalam kesempatan yang berbeda pada saat makan siang, seorang leader mengeluhkan kepada saya bahwa sulitnya menggerakkan team di bawahnya. Rupanya ketika kami makan, ia sedang menikmati tempe mendoan dan saya luput mengambilnya. Saya bilang “oh ada ya tempe mendoan?”
Sedangkan generasi yang lebih muda, tentu akan takut kepada atasan macam itu. Apalagi mereka maunya serba cepat, ringkas, bicara apa-adanya (dengan pemilihan kata yang apa adanya), belum lagi urusan tingkat kepercayaan diri yang merosot bila bertemu atasan yang kaku dan bossy. Jujur kondisi ini makin sering kami temui dalam setiap pelatihan. Wah, bagaimana kita bisa makin maju kalau urusan dasar berkomunikasi saja tidak dikuasai?
Kualitas manusiapun sekarang makin menurun, jabatan tidak melulu setara dengan kompetensi yang dimiliki. Terkadang materi yang kami berikan harus diturunkan levelnya berkenaan dengan hal tersebut. Menyedihkan! Pengalaman dan cerita ini, adalah bagian dari banyak pelatihan dimana dalam setiap training, rata-rata 80% peserta kami berdomisili di Jakarta. Ibukota negara dengan potensi manusia yang makin merosot. Bagaimana dengan mereka yang ada di daerah? Kota kecamatan? dll? Seperti juga yang saya alami mengajar keluar kota dengan para pemimpin di daerah yang memiliki gelar S2, ternyata tidak semua mampu berbahasa Inggris. Akhirnya kami harus mengganti materi semua dengan Bahasa Indonesia. Coba anda bayangkan 10 tahun kedepan seperti apa wajah organisasi bila setiap orang didalamnya masih berkutat masalah komunikasi?
Kesadaran untuk bertumbuh dan berkembang menjadi milik pribadi setiap orang, bila ini disadari penuh dan dilakukan terus menerus dengan analisa diri, dan belajar dari banyak konten bicara, melihat cara figur keren tampil, hendaknya dapat menjadi sebuah inspirasi yang nyata. Bila dicari sendiripun sangat banyak tutorial dan role model yang inspiratif, sehingga kita tahu akan hal-hal yang harus dimiliki untuk bicara menarik dan tentunya akan membuat kita menjadi lebih sukses. Jadi sangat tidak ada alasan untuk tetap berdiam diri dan bertahan kemampuan komunikasi yang saat ini dimiliki saja.
by admin | May 25, 2021 | Information, News
Oleh Erwin Parengkuan
Pengalaman bertemu banyak individu yang sukses akan menambah
“jam terbang” kita agar lebih berpengetahuan lagi yang tentunya akan membuat
kita lebih percaya diri. Kemarin saya menjalankan sesi training dengan sebuah direktorat
di Kementerian RI, dalam sesi lunch break, seorang pejabat yang membuka sesi
pagi tadi, menghampiri dan duduk menemeni kami makan siang. Beliau bercerita
tentang pengalamannya belum lama ini dalam sebuah penilaian untuk naik jabatan,
dimana harus mengikuti sesi interview akan inovasi apa yang akan dilakukan agar
“lolos” naik jabatan. Si bapak kemudian bertanya kepada anaknya di rumah yang
sedang menempuh pendidikan akhir di sebuah Universitas Negeri bergengsi di
negeri ini, Ia bertanya tentang ide apa yang harus disampaikan pada wawancara
nanti berhubungan dengan inovasi. Seperti yang kita ketahui generasi Millenial
sangat kaya akan informasi dan mereka sangat peka teknologi. Kemudian si anak
menyarankan “fokus ke inovasi digital karena semua bisnis apapun harus pro
digital karena sesuai dengan tuntutan zaman.” Sang ayah kemudian mengangguk dan setuju akan
usulan sang anak.
Ketika si bapak meneruskan cerita ini kepada kami, dengan
cara bercerita yang berapi-api menguraikan momen ketika beliau di interview.
Gagasan dari si anak kemudian dielaborasi sesuai dengan kemampuannya yang PD.
Si bapak bercerita bahwa pihak penilai adalah mereka yang masih minim pengalaman
dan tidak tahu tentang pengetahuan dan bidang yang mereka tanyakan kepada pihak
yang lebih senior. Mereka hanya bertanya dari ide awal dan kembali menggali ide
tersebut. Si bapak meyampaikan jurus rahasianya yaitu fokus kepada konten yang
Ia sampaikan dan percaya diri, sehingga ketika pertanyaan berputar kepada
penjelasan yang sudah diucapkan, Ia tidak “blunder” dan tetap fokus dan teguh
dengan penjelasannya. Karena dalam setiap teknik interview, atau investigasi,
ketika kita mulai mengarang, pertanyaan incaran pasti membidik kata-kata anda
yang “mengambang” dan menjadi sasaran empuk. Mereka akan menyimpulkan bahwa anda
mengarang dan tidak konsisten dengan jawaban dan tentu penilaian akan menjadi
buruk, akhirnya kita tidak akan lulus dalam sesi interview/investigasi yang
berlangsung.
Pengalaman cerita di atas dapat disimpulkan bahwa percaya
diri adalah kunci dari semua aspek dalam kehidupan ini. Bayangkan kalau si
bapak tidak PD, apa jadinya dengan kenaikan jabatan beliau yang nanti sejak
lama? Hasil interview lolos dan si bapak naik jabatan, sedangkan beberapa
rekannya harus kembali mengulang proses interview sampai beberapa kali karena
ketidakyakinan mereka dalam berkomunikasi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan
dari pihak penyelidik.
Persis dengan banyak tips yang sering kami sampaikan dalam
setiap training bahwa “mapping” peta lawan bicara menjadi esensial, kepada
siapa kita harus bicara, siapa mereka, bagaimana pengalaman mereka apakah
setara dengan kita atau di bawah kita. Tentu mengambil cerita di atas, si bapak
sudah melakukan PR-nya dengan baik, bahwa yang mewawancarainya tidak menguasai
bidang yang dilakukan, mereka hanya menggali dan kembali “memutar” pertanyaan
untuk mengetahui apakah jawaban betul dikuasai. Berbeda dengan kalau kita harus
menaklukkan lawan bicara, apalagi dengan jumlah orang yang “isi kepala” dan pengetahuannya berbeda-beda. Sehingga,
pengetahuan anda mutlak harus di atas mereka. Jadi, pastikan sudah ada
pemahaman yang dalam, data yang dan pengetahuan terbaru yang harus kita berikan
kepada mereka. Kalau tidak anda harus bersiap diremahkan oleh audiens anda.
Kemarin juga dalam sesi online dengan para “agen perubahan”
di sebuah Kementerian yang berbeda, seseorang bertanya kepada saya “bagaimana
kita bisa menguasai sebuah materi yang baru kita terima, sementara waktunya
sangat terbatas?” saya menjawab tidak ada cara lain selain memang harus
mempelajari dengan melakukan riset, walaupun waktu kita terbatas. Untuk itu,
kita dapat terlebih dahulu bertanya tentang konteks/tujuan pembicaraan yang akan
dibahas. Dari info minim itu, walau kita belum mendapatkan pokok detail
pembicaraannya apa, tapi kita harus “nyolong start” dengan segera mencarinya secara
general. Misalnya topik tentang perubahan iklim, nah, dari situ anda bisa
segera mencari isu-isu yang terjadi saat ini secara general, ambil fokus utama
yang menjadi problem, dan mengkurasi info yang ada dengan data terbaru serta
mencari alternatif solusi dari isu yang ada, sehingga ketika waktu datang, info
yang sudah kita miliki kemudian akan memperkaya wawasan, walau dengan limitasi
waktu, tapi kita sudah tahu dari hasil observasi yang sudah kita lakukan jauh
hari sebelumnya. Intinya inisiatif untuk bergerak duluan. Kita memang harus
lebih cerdas dari audiens kita, itu harga mati yang akan menaikkan “bobot” kita
sebagai juru bicara. Kalau kita anda malas, tidak ada inisiatif tentu akan “mati kutu” menghadapi audiens yang lebih
berpengetahuan dari anda.
by admin | May 7, 2021 | Uncategorized
Oleh Erwin Parengkuan
Kalau dihitung, ini adalah jam dalam satu minggu dimiliki
oleh semua orang. Mulai dari anak kecil dengan waktu bermain yang lebih banyak,
beranjak dewasa dan meniti karir. Dimana waktu bermain kita lantas menjadi sedikit
karena kita mengejar kehidupan yang baik. Semua itu kita jalani hingga detik
ini, baik secara sadar maupun tidak sadar. Saya terkadang kagum dengan mereka
yang dapat membagi waktunya dengan sangat amat efisien. Sebut saja orang-orang
dengan jabatan yang tinggi. Seperti Presiden, seperti para pemimpin itu dengan
jadwal yang padat detik demi detik, terkadang meeting dilakukan sambil berjalan
kesuatu tempat, untuk pindah ke lokasi lain. Tiba-tiba ada disatu tempat,
kemudian berpindah lagi, bertemu masyarakat, dan masih punya waktu dengan
dirinya, keluarga dan -bersenang-senang
dengan teman inti mereka.
Sebagian dari anda mungkin tahu juga kalau saya memiliki
saluran berbagi tidak hanya di website ini, tapi juga secara audio di podcast
yang sudah saya jalankan rutin selama 2 tahun ini. Saya terkadang berniat untuk
menghentikan podcast saya, tapi dari kegiatan yang saya lakukan, ada saja
cerita baru yang muncul kemudian saya bagikan serentak secara audio, tulisan
termasuk berbagi ke kelas online maupun offline.
Kita semua memiliki waktu yang sama, tapi terkadang tidak
pandai membaginya. Orang yang sibuk tentu pandai akan hal ini, tapi orang yang
banyak waktu luang, sepertinya tidak pandai dalam membagi waktu. Kegiatan rutin
yang dilakukan setiap orang hendaknya membantu mereka untuk punya management
waktu yang baik. Karena kegiatan yang kita lakukan akan terus berulang sampai
kapanpun, tapi rupanya tidak semua orang bisa efesien soal waktu, termasuk
ketika seseorang berbicara terkadang banyak sekali pemilihan kata yang
berulang, atau salah dalam menempatkan/memilih kata, sehingga pesan kemudian
menjadi bias.
Buku yang belum lama saya baca, bercerita tentang waktu.
Bagaimana kita bisa lebih disiplin dalam menjalankan dan memaknainya. Saya
berharap tulisan ini dapat membantu anda untuk lebih pandai dalam membagi waktu
yang kita miliki.
Ada 5 hal penting yang disampaikan dalam buku yang ditulis
oleh Harry M. Jesen Kraemer, Jr dalam bukunya “From Values to Action” berikut
pembagian waktu yang ia sampaikan:
Career : 50 jam (30%)
Family : 28 jam (17%)
Spirituality : 11 jam (7%)
Health/sleep : 55 jam (32%)
Fun/recreation/reading : 14 jam (8%)
Social responsibility/making difference : 10 jam (6%)
Ketika membaca buku ini saya lantas merefleksikan diri
terhadap waktu yang saya jalani, apakah semua uraian tersebut sudah saya
jalani. Soal berapa jumlah waktu/prosentase-nya tentu berpulang kepada setiap
orang akan fungsi dan tujuan hidupnya. Saya sangat sependapat dengan penulis
yang mengatakan bahwa hidup ini harus life balance, bukan work life balance,
karena 6 faktor ini bila kita jalankan akan membuat kita berdaya, berdampak
kepada diri dan orang lain. Tidak hanya sibuk mengejar karir.
Setiap kita memang mempunyai prioritas yang berbeda-beda,
tapi sejatinya setiap orang harus memaksimalkan dirinya seperti yang kita tahu
tentang teori dari Abraham Maslow “The Hierarchy of Needs.” Semakin tinggi
tingkat kedewasaan seseorang dalam menjalankan karirnya harus dapat hidup
seimbang. Tidak ada karir tentu tidak ada pendapatan, terlalu sibuk bekerja
tentu akan tidak ada interaksi sosial dengan lingkungan luar, tidak membaca
buku, tentu tidak ada wawasan baru, tidak tidur dan olah raga tentu fungsi
tubuh akan melemah sejalan dengan bertambahnya usia dan sulit berkonsentrasi.
Tidak punya waktu dengan keluarga tentu tidak ada support system yang akan
memotivasi kita dan membuat kita bahagia.
Kalau pengalaman saya, selalu memaksakan diri untuk terus
bertumbuh dengan 6 komponen diatas. Saya merasakan bahwa semakin hari semakin baik
dalam membagi waktu saya. Ini adalah tantangan yang harus kita jalankan, walau
kebayakan orang memang punya tendensi malas dan penunda. Itu tidak ada dalam
kamus saya. Seperti contoh, bila satu hari tidak ada kegiatan dalam bekerja.
Saya akan tetap membuat jadwal harian, crowd my calender! Pagi hari buat saya
jam 5 adalah waktu terbaik saya untuk menjalankan rutinitas berolah raga dan
baca buku. Mungkin 1 hal yang perlu saya tambahkan dari 6 komponen diatas
adalah makan sehat. Cheating day hanya weekend. Menjadi lengkap bila semua hal
ini kita jalankan dengan kesadaran diri tinggi untuk terus bertumbuh dan
kemudian memberikan dampak positif bagi orang lain/lingkungan. Seperti yang
dilakukan oleh orang-orang sukses mereka kemudian peduli kepada orang lain,
menjadi dermawan dan merasakan hidup ini menjadi berguna dan juga bermanfaat. Life
balance adalah kata yang tepat untuk kita saat ini dan di waktu mendatang.
by admin | Apr 22, 2021 | Information, News
Oleh Erwin Parengkuan
Apa yang telah terjadi dalam satu dekade ternyata bisa memberikan dampak sangat signifikan dalam kehidupan kita khususnya dalam dunia komunikasi. Tahun 1999, ketika handphone berubah fungsi menjadi smartphone dari penemuan muktahir Blackberry (BB), ternyata telah membuat kebiasaan baru manusia untuk lebih mobile dan sangat “attached.” Waktu itu, kita melihat banyak orang yang tidak bisa lepas dengan HP mereka, ketika “demam BB” menjangkiti para penggunanya, terutama mereka yang sudah bekerja, semua orang sangat sibuk BB-an. Ada yang terbentur kaca lobby kantor karena terlalu fokus dengan gawai mereka, bahkan ketika meeting mereka malah tidak terkoneksi dengan peserta meeting, dan muncul anekdot tentang BB “mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.” Teknologi kemudian semakin berkembang, seiring dengan munculnya media sosial/beragam pertemanan virtual, mulai dari friendster, FB, IG, Path, Linkedin, dll telah mengakibatkan perubahan sangat besar dalam interaksi manusia dulu dan sekarang, termasuk menurunnya “attention spending” dari setiap individu.
1 dekade kemudian, seorang figur pemimpin baru dengan gaya
komunikasi yang terbuka, lentur, dan fasih yaitu Presiden ke 44 Amerika Serikat
Barrack Obama hadir. Sangat kontras dengan gaya pemimpin zaman Orde Baru yang
kaku dan otoriter. Telah membuat semua pemimpin (di dunia ini) termasuk para
bos di dunia korporasi ingin meniru gaya komunikasi seperti Obama. Semua orang menginginkan
gaya komunikasi yang lebih terbuka seperti-nya, apalagi kedekatan secara emosi
antara masyarakat Indonesia dengan Obama yang pernah melewati masa kecil di
Jakarta, suka t bakso, sate dan nasi goreng membuat kita kemudian secara sadar
mengindolakannya.
Tentu tidak mudah untuk merubah kebiasaan setiap orang,
perlu kesadaran tinggi dan perlu “effort” yang besar. Merubah mental, sudut
pandang, intonasi suara, pilihan kata-kata yang lebih “sejuk” dan bahasa tubuh
yang terbuka dll adalah rentetan pekerjaan rumah yang harus dilakukan. Apalagi
dalam seni berbicara, seseorang dituntut untuk dapat mengendalikan dirinya,
agar menyelaraskan gaya komunikasi yang inginkan banyak orang, bukan
sebaliknya.
10 tahun adalah rentan waktu yang telah merubah gaya komunikasi
dunia modern saat ini. Dulu tidak ada warganet/netizen, dulu tidak ada
orang-orang yang nyinyir, tapi sekarang dengan tekanan yang begitu besar dari
media sosial membuat kita melihat banyak perkataan yang tidak pantas bersliweran
di banyak timeline. Seseorang yang lebih muda bisa berkomentar buruk kepada
mereka yang lebih tua, walaupun tidak saling kenal. Semua orang seperti lantas
sangat ringan berceloteh, mengeluarkan isi perutnya. Sedangkan, contoh figur
terbaik komunikator yang ulung macam Obama, hanya menjadi sebuah figur yang
ideal.
Dulu, ketika Charles Darwin di abad 18 mengemukan tentang teori
evolusi manusia dan menyebutkan tentang survival of the fittest, bahwa hanya
mereka yang adaptif yang dapat bertahan hidup. Teori ini menjadi nyata dan
sangat relevan setelah Covid-19 memporak-porandakan tatanan ekonomi dunia saat
ini. Kita yang bertahan hingga saat ini adalah yang adaptif. Sehingga untuk
semua orang, dituntut untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman, lebih
terbuka akan input, terus bertumbuh dan bertumbuh.
>Pada awal bulan Maret 2021, perusahaan raksasa Microsoft
membeberkan sebuah fakta bahwa negara kita memiliki tingkat komunikasi yang
sangat buruk di media sosial. Dulu kita dikenal sebagai bangsa besar yang ramah,
tapi sekarang yang paling julid (nyiyir/kasar). Dalam rentan waktu 10 tahun-pun,
jati diri kita sebagai bangsa yang baik perlahan mulai runtuh, diikuti dengan
komentar yang julid di situs media sosial Microsoft membuat perusahaan ini
harus menutup aksesnya untuk sementara atas derasnya komen yang negatif atas
fakta yang mereka sampaikan. Mendengar berita ini, saya pribadi sangat malu dan
miris. Kemana masyarakat Indonesia yang ramah itu?
Mari kita bentuk (lagi) gaya komunikasi yang santun, ramah
dan meyenangkan. Termasuk bagi para pemimpin di perusahaan agar dapat meninggalkan
gaya otoriter mereka dan menciptakan garis yang horizontal bukan vertikal, agar
setara dan selaras dengan siapapun. Mari kita juga tinggalkan ego dalam
berkomunikasi, tinggalkan juga masalah kita ketika berbicara kepada siapapun. Agar
dengan mudah kita bisa fokus kepada mereka yang kita ajak bicara. Ketika semua
orang mempunyai kesadaran yang baik, tentu ini akan mengembalikan reputasi kita
sebagai bangsa yang santun dan ramah. Mudah kok dijalankan.
by admin | Mar 29, 2021 | Information, News
Tidak ada satu manusia di dunia ini yang tidak suka
dilayani. Ketika kita melayani lawan bicara kita, mereka merasa diistimewakan oleh
kita dan kemudian relasi menjadi lebih erat. Dalam sebuah buku berjudul “Five
Love Languages” karya Garry Chapman bahwa kita manusia mempunyai 5 bahasa cinta
yang berbeda-beda. Salah satunya adalah Bahasa Pelayanan (acts of service).
Buku ini sangat populer dan akan membantu setiap pembaca mengetahui bentuk
cinta seperti apa yang diharapkan oleh lawan bicara kita/pasangan/anak/lawan
bicara. Adapun 4 bahasa cinta lainnya adalah sentuhan, penghargaan, waktu dan
hadiah. Buku ini diterbitkan di awal tahun 1992 dan sampai sekarang masih
releven.
Saya akan fokus kepada judul tulisan ini, karena kita semua
mempunyai tujuan yang sama untuk membangun sebuah hubungan yang harmonis,
terlepas dari penjelasan 5 bahasa cinta diatas, tetap setiap orang ingin
dilayani. Apalagi budaya Jawa yang sangat kental di Indonesia, dimana para
leader yang masih bercokol di jajaran tinggi sebuah organisasi masih mengusung
peninggalan budaya ini. Saya mengambil contoh dalam pekerjaan saya ketika salah
seorang rekan yang merupakan pemimpin perusahaan berencana untuk menggunakan
jasa kami untuk melatih para karyawannya, saya tidak serta merta memberikan
tanggung jawab ini kepada team marketing di kantor. Karena saya yakin, rekan
saya ini mempunyai ekspektasi keterlibatan saya dalam rencana kerjasama ini.
Kerap kali kita dihadapkan dengan situasi seperti ini, kapan
kita harus melayani lawan bicara dll? Apakah lebih baik kita delegasikan kepada
sekertaris, team atau orang lain? Ketika sebuah hubungan sudah terjalin baik
seperti antara saya dengan rekan tersebut, sejatikan saya-lah orang yang paling
tepat untuk melayani mereka. Ketika akhirnya pelatihan sudah berakhir-pun
karena saya yang diminta untuk mengajarkan teamnya, saya langsung melakukan
kontak dan menyampaikan penilaian saya atas proses belajar mengajar di kelas
online tersebut. Rekan saya sangat puas dan team saya segera akan mengirimkan
report hasil pelatihan tersebut. Jadi ada proporsi kapan bagian saya melayani,
dibagian yang mana? Kapan team yang melakukan pelayanan sesuai dengan fungsi
masing-masing.
Kita tentu tahu, banyak leader yang sukses mereka memiliki
values yang sangat banyak. Values adalah nilai teguh/prinsip yang dipegang oleh
seseorang dalam menjalankan kehidupan dan pekerjaannya. Dari dulu saya sangat
disiplin, ini adalah contoh sebuah values, bila ada janji atau ucapan kepada
orang lain saya selalu akan berusaha semaksimal mungkin untuk menepatinya dan
bila ada hal yang tidak sesuai, sayapun orang pertama yang akan mengabarkan
mereka. Begitupun mungkin hal ini dilakukan oleh anda. Semakin disiplin kita,
semakin baik performa diri seseorang. Saya jadi ingat perkataan seseorang
kepada saya ketika saya baru memulai karir “apapun yang kamu lakukan pasti akan
sukses asalkan kamu turun tangan langsung.” Perkataan ini sangat menancap dalam
ingatan saya dan menjadi salah satu values yang saya pegang erat-erat hingga
saat ini. Tantangan dan godaan/distraksi yang saat ini kita hadapi memang
begitu banyak, sehingga terkadang kita luput melakukan pelayanan. Seperti
banyak orang berjanji ingin mengabarkan kita, tapi mereka tidak melakukannya.
Atau yang paling mudah ketika kita berkomunikasi via tulisan ketika mereka
membacanya, mereka tidak merespon kita. Ini adalah contoh kecil dari sebuah
respon/pelayanan yang krusial menurut saya. Bila kita fokus kepada hal utama
yang harus dijalankan, kita pasti akan bekerja lebih efektif. Sejatinya
kita-lah yang paling bertanggung jawab untuk membuat diri kita lebih baik dari
waktu ke waktu. Bila kita gagal, tidak ada (juga) satu orangpun yang akan lebih
baik memotivasi diri kita selain kita sendiri. Kita memang dituntut untuk
semakin hari semakin matang dan bijaksana. Kapan saatnya kita melakukan
pelayanan yang tepat kepada orang lain, juga pelayanan kepada diri sendiri.
Kapan kita harus lebih fokus kepada orang lain dan mengukur mana perhatian
kecil,sedang dan besar yang penting harus dilakukan. Analisa ini menjadi mutlak
menurut pendapat saya, agar hubungan harmonis dengan siapapun terbangun dengan
perhatian dan pelayanan yang kita berikan menjadi berharga buat semua pihak,
dan tidak berat sebelah. Disamping itu kita juga harus pandai dalam melihat
hal-hal mikro maupun makro, agar kita tidak terjebak melayani hal yang kecil
tapi ternyata itu tidak memberikan dampak yang signifikan dalam membangun
relasi kita dengan siapapun.
by admin | Feb 22, 2021 | Information, News
Oleh Fernando Edo
Bad PR. Iya, belakangan kata-kata ini menjadi alasan salah satu merk lokal menjadi viral. Namun kalau diperhatikan, bukan kali ini saja sebuah perusahaan mengambil Langkah yang kurang tepat dalam berkomunikasi entah itu untuk internal atau pesan tersebut untuk dikonsumsi orang banyak. Padahal mungkin maksud dan tujuan perusahaan adalah untuk menjaga kredibilitas suatu perusahaan, tapi sayangnya itu menjadi boomerang.
Di era sosial media ini, istilah pembeli adalah raja harus direvisi karena menurut saya selain kita layani pembeli dengan maksimal, kita juga harus bisa membina hubungan dengan mereka. Jadi saya ganti dengan Pembeli adalah Teman Baik. Layani mereka dengan tulus, jujurlah jika ada kendala dalam sebuah proses bisnis kita. Persaingan di semua industri bisnis semakin ketat, semua menawarkan harga yang terjangkau dan produk atau jasa yang terpercaya. Namun,menurut penulis ada satu kata kunci dalam berbisnis, Bagaimana anda sebagai penjual berkomunikasi dengan pembeli.
Beberapa waktu lalu, saya membeli earphone di toko online dan cukup terkejut Ketika membuka kemasan ada secarik kertas dengan bunyi seperti ini :
Dear Kakak, terimakasih sudah berbelanja di toko aku semoga barang yang kakak beli awet ya. Oh Ya, adik sangat berharap kakak dapat memberikan bintang 5 jika barang yang kakak pesan sesuai dengan pesanan ya. Salam hangat, adik tercinta.
Wow, sebuah cara dalam mencari pelanggan setia bisa dilakukan dalam hal yang sederhana.
Saya juga teringat, beberapa tahun lalu makan di hotel bintang 5 dengan konsep “fine dining”.
Pada saat meminta waiters untuk menaburkan lada di potongan daging saya, ternyata yang ditaburkan adalah garam dan itu memang cukup merusak rasa dari makanan saya. Saya kembali memanggil waitersnya dan ia meminta maaf lalu diganti dengan yang baru. Selang beberapa menit, datang Manager Restaurant Kembali meminta maaf dan memberikan potongan harga atas kesalahan tim nya sambil menanyakan apakah ada yang kurang dari segi pelayanan dan makanan?. Jika memang ada sebuah kesalahan, akui dan minta maaf lah dengan tulus. Pembeli pasti akan dengan senang hati memaafkan dan melupakan kesalahan penjual apalagi disertai dengan potongan harga.
Berkaca dari pengalaman itu, sebuah masukan atau saran adalah hal sangat berharga dari sebuah bisnis. Karena sebagai penjual, harus memiliki cara pandang seorang pembeli dan bukan mempertahankan sudut pandang lalu seakan sebuah saran menjadi citra buruk bagi suatu bisnis. Sebuah bisnis dapat berdiri dan bertahan karena pelanggan yang selalu datang dan sudah memiliki ikatan emosi dengan sebuah layanan yang prima. Apakah anda sudah memiliki cara berkomunikasi yang baik dalam berbisnis ? apakah anda sudah melayani pelanggan anda layaknya “one of your best friend” ?
by admin | Jan 21, 2021 | Information, News
Oleh Erwin Parengkuan
Setiap lini kehidupan ini adalah sebuah pembelajaran dan memudahkan seseorang untuk terus belajar, tidak heran sebutan pengalaman adalah guru terbaik selalu menjadi pengingat kita. Dalam buku yang sedang saya baca, mengikuti anjuran untuk terus bertumbuh, buku dengan judul sama dengan artikel ini, dimana saya baru membaca 1 bab yang panjang dengan berbagai macam teori pembelajaran akan saya sampaikan dan tentunya menambahkan dengan apa yang saya pahami dan pelajari dari kehidupan ini, dengan deretan tugas dan pekerjaan yang saya lakoni hingga saat ini.
Beberapa teori yang ada dalam buku yang ditulis dengan
sempurna oleh David A. Kolb, seorang pendidik, cendikiawan dan peneliti yang
sudah memiliki 50 tahun pengalaman, menjabarkan dalam buku ini bahwa 3 point
penting tentang sebuah experiential learning mulai dari: pendidikan, pekerjaan
dan pengembangan pribadi. Ketika kita memiliki 3 fundamental diatas, kita akan
mudah menjalankan proses pembelajaran ini. Banyak sekali teori dengan
pendekatan yang berbeda yang dipaparkan dalam buku ini oleh para peneliti/pendidik
dari abad yang berbeda-beda. John Dewey mengatakan pendidikan adalah fondasi
terpenting: experiental education, William James mengatakan tentang the state
of mind, pure experience, yang terbebas dari pemahaman konseptual yang dimiliki
seseorang, Mary Parker menambahkan unsur kreativitas yang harus dimiliki
seseorang the law of relation, Kurt Lewin mengatakan unsur konsep perhitungan
topography, berdasarkan kebutuhan, tujuan, memori, lingkungan, hambatan dan
jalur hidup yang akan dilewati seseorang, termasuk Carl Jung dengan teori
modern dan radikal mengatakan bahwa proses yang dilewati seseorang sesuai
impian dan ketidaksadaran melihat simbol-simbol yang ada, individu yang
terintegasi untuk sebuah imaginasi yang aktif, self talk, untuk proses yang
diinginkan, dan beberapa peneliti yang lahir di abad 18, termasuk salah satu peneliti
terakhir di tahun 1960-an Carl Roger mengatakan tentang self worth.
Begitu banyak pemaparan dan info yang dapat kita ambil untuk
tujuan memanfaatkan kehidupan ini menjadi menguntungkan kita. Tenggoklah ke belakang,
saat ini dan lihatlah jauh kedepan yang sudah kita lewati bersama, dapatkan,
maknai, dan mengambil keuntungan dari semua peristiwa dalam hidup ini. Dalam
salah satu pemaparan diatas, disebutkan bagaimana kita mengaktivasi rasa dan
logika. Saya sangat sependapat akan hal itu. Membuat semua teori yang sangat
logis dan masuk akal (di era teori tersebut) pada akhirnya kita harus
pandai-pandai menyimpulkan dengan konteks relevansi, alias mana yang akan kita
ambil adalah hanya yang paling relevan untuk dijalankan di saat ini. Semudah
membagi teori/penelitian tersebut menjadi 2 bagian besar tentang RASA dan
LOGIKA. Atau dalam salah satu buku yang saya tulis tentang komunikasi bahwa
kata-kata yang kita utarakan harus mengandung 2 unsur feeling dan thinking
secara berkesinambungan.
Saya sendiri sekarang lebih mendisiplikan diri untuk menambah
durasi waktu dalam membaca buku yang sudah saya beli dan menunggu giliran untuk
dibaca. Dan seperti yang disampaikan oleh David A. Kolb, 3 komponen yang diatas
sudah saya sampaikan akan memberikan banyak manfaat dari pembelajaran yang kita
lewati dalam kehidupan ini. Memaknai hidup dengan terus belajar akan otomatis
membuat kita terus semangat menyambut pagi. Deretan kegiatan yang sudah
direncanakan juga merupakan jalur tujuan hidup yang sudah kita rancang, kalau
belum ada, saatnya untuk dibuat. Kapan waktu berekspresimen dengan tugas dan
pekerjaan kita, tentang personal development kita, menghargai diri, bobot apa
yang akan kita terus tingkatkan untuk terus mengasah otak dan diintegrasikan
dengan lingkungan terdekat, keluarga, pasangan, anak, rekan kerja, dan sosial
adalah sebuah kesadaran utama yang harus terus kita bangun.
Kapan waktu terbaik menggunakan feeling, thinking dan
menggabungkan keduanya dalam kehidupan yang kita jalani, menghargai waktu yang
kita miliki dan membuatnya menjadi bermakna. Buat saya itu adalah sebuah
keharusan. Seperti sebuah kutipan dalam buku tersebut yang mengatakan: No
pleasure, no learning. No learning, no pleasure.
by admin | Jan 8, 2021 | Information, News
Oleh Erwin Parengkuan
Ini judulnya ringan tapi bermakna dalam, kenapa karena
tulisan saya ini akan bercerita tentang kita, tentang saya dan anda dan kita,
tentu sebagai manusia dengan kelima indera yang kita miliki menjadi bagian
penting dalam membangun sebuah hubungan. Indera Pengelihatan, Indera Pendengaran,
Indera Perasa, Indera Penciuman dan Indera Pengecap. Kelima Indera ini saya
sudah urutkan berdasarkan bagaimana kita berinterkasi dalam berkomunikasi. Dari
kelima Indera ini, hanya 1 yang tidak kita gunakan, yaitu Indera Pengecap.
Mari kita mulai membahasnya, bicara soal Indera
Pengelihatan, atau dalam komunikasi adalah Visual, cara manusia melihat tentu
banyak berpengaruh dari mata, apa yang kita lihat dengan Indera yang memberikan
dampak terbesar ini? bila kita melihat seseorang, tentu penampilan terlebih
dahulu yang kita lihat sekaligus mengamati gerak-gerik tubuhnya. Bila
penampilan kita umum, tentu kita tidak menonjol. Sekedar berpenampilan yang
pantas dan sesuai buat saya itu sudah lebih dari cukup. Sedangkan bahasa tubuh
seseorang yang kita amati akan membuat seseorang terlihat terbuka atau
tertutup. Gerakan tubuh yang “sedikit” akan memberikan kesan yang berbeda
dengan tubuh yang “ringan” dan rileks. Indera ini sekali lagi memberikan dampak
terbesar dalam berkomunikasi. Seperti kita ketahui, kalau mengambil sebuah
perumpamaan, film adalah sebuah contoh yang tepat. kenikmatan visual untuk mata
kita sangat dimanjakan. Semakin jelas warna yang ditampilkan, akan menimbulkan
kesan yang berbeda. Film dengan gambar yang tidak menarik, akan membuat mata
kitapun lelah. Akhirnya menjadi tidak menarik mata.
Begitupun dengan Indera Pendengaran/auditory, dimana intonasi, tekanan suara yang kita dengar atau pancarkan akan memperkuat/memperlemah kesan seseorang. Telinga kita akan menangkap dengan jerih sebuah pesan. Apakah terdengar sesuai dengan yang terlihat? dan Indra Pengelihatan dan Indera
Pendengaran akan senantiasa terus bersingungan. Lagi-lagi, layaknya sebuah film dengan scoring music yang tepat menghasilkan efek sempurna dalam sebuah gambar. Indera Pendengaran
berperan tidak terlalu besar dibandingkan dengan Indera Pengelihatan, dan kedua
Indera ini menjadi penentu dalam dampaknya, akan tetapi paling mudah dilupakan.
Misalnya tahun berlalu, kita tidak akan ingat visual dan auditory seseorang
dibandingkan dengan Indera berikut ini.
Indera Perasa, kinesthetic begitu disebut, adalah Indera
yang paling lama bertahan dalam ingatan kita. Artinya bila kita bicara? Apa
yang kita rasakan? Takut? Senang? Gelisah? Tidak fokus? Terlalu bersemangat?
Atau berlebihan? Indera Perasa ini yang akan tersimpan jauh lebih lama dalam
diri setiap orang. Inipun termasuk strategi dalam membangun hubungan. Bagaimana
kesan kita terhadap orang yang kita jumpai? Membangun hubungan memerlukan
kemahiran dan keluwesan. Seperti memperlakukan siapapun yang kita jumpai
seperti kawan kita, tentu kita akan tampil apa adanya tanpa dibuat-buat atau
terpaksa, tentu kita akan sangat mudah membangunnya dan dengan sendirinya
membuat sebuah relasi berjalan dengan natural. Kitapun sangat senang bertemu
orang yang apa adanya “seperti warna asli-nya.” Buat saya, indera ini justru
memegang peranan penting dalam interaksi/komunikasi umat di dunia ini apapun situasi
maupun kondisi yang ada dalam hidup seseorang. Indera ini adalah “jitu” yang
menjadi penentu kita dalam memilih perkawanan, dalam memilih hubungan. Bila
kita sudah tidak “klop” lagi, tentu akan sangat sulit situasinya, dan seseorang
akan memilih menghindar dari seseorang yang dianggap tidak membuat nyaman
dirinya.
Sedangkan, Indera penciuman, menurut saya memegang peranan
paling kecil dalam dampak berkomunikasi karena ini hanya melengkapi ketiga
Indera yang baru kita dibahas. Bila kita wangi, atau tidak mengeluarkan bau
menyengat dalam tubuh atau parfume yang kita kenakan, semua hubungan akan tepat
dalam kondisinya.
by admin | Jan 8, 2021 | Information, News
Sadar atau tidak sadar seseorang dalam
berinteraksi/berkomunikasi memerlukan fondasi ini. Kemampuan mengendalikan diri
yang sangat erat hubungannya dengan kata “Awareness.” Seberapa sadar kita
ketika berbicara? Mengamati perubahan tekanan suara? Bahasa tubuh? Menangkap
pesan dari lawan bicara? Yang akan menciptakan kemampuan membangun hubungan
jangka panjang yang harmonis.
Ketika mencari bahan untuk tulisan ini, saya menemukan sebuah
1 bentuk piramida dengan 7 level kesadaran manusia, yang saya kembangkan dan
terjemahkan dengan pengalaman saya:
- Flight of Fight
Maksudnya adalah ketika kita menghadapi
sebuah situasi, tingkat kesadaran seperti apa yang akan anda lakukan? Flight
artinya ketika kita tidak tertarik, atau tidak berdaya, kecenderungannya akan
meninggalkan situasi tersebut. Bila kebalikannya anda akan “Fight” artinya melawan
dengan kondisi yang ada. Misalnya seseorang yang kita ajak bicara kemampuan dan
keahliannya diatas kita, maka kita akan mencoba melawan diri dengan berusaha
tetap memperhatikannya. Tapi ketika kita menyerah, itu artinya kita “Flight”
tidak memperdulikan apa yang ia ucapkan dan tentu tingkat kesadaran ini menjadi
paling rendah urutannya. Sama seperti insting hewan, melawan atau malah
meninggalkan/kabur dari kondisi yang dialami.
Kita pindah ke level berikutnya, yaitu
kesadaran yang dilakukan sesuai dengan norma yang berlaku. Mengikuti aturan
yang ada. Misalnya seseorang yang kita jumpai terlihat dominan, tapi kita tidak
nyaman, dan kita tetap santun dan tidak melakukan tindakan yang di luar aturan
main. Atau kata yang tepat yaitu “normatif” kita ikuti saja sikapnya, alias
pasrah tanpa tindakan. Ini menurut saya sebuah kesadaran yang masih standart, belum
ada tindakan yang menonjol yang kita lakukan. Hidup berjalan seperti apa adanya
yang kita jalani. Tanpa perlawanan tanpa tindakan berarti.
Level selanjutnya, yaitu kita sudah
terpikir untuk melakukan sebuah tindakan,akan tetapi gagasan yang muncul dalam
pikiran kita, hanya sebuah aspirasi. Kok rasanya susah dilakukan. It’s good to
have, but I have no intention to take action. Nah level ini, mungkin cocok
dengan istilah “omdo” sudah sadar tapi hanya sebatas omongan (ngomong doang).
Menurut saya kebanyakan orangpun demikian, hanya berkomentar, berpikir tapi
hanya sampai di situ saja. Akhirnya orang-orang seperti ini hanya menjadi
pengamat/penonton dan tidak menghasilkan upaya apapun dalam kehidupannya termasuk
interaksinya dengan orang lain. Misalnya anda sadar harus memulai pembicaraan
terlebih dahulu dengan orang lain, tapi ketika situasi itu kita alami, kita
malah diam, walau dalam pikiran sudah sadar untuk menyapa terlebih dahulu, tapi
tidak ada kalimat yang keluar dari mulut anda, seperti “hallo pak/bu selamat
pagi? Bagaimana kabarnya hari ini? Kemarin saya lihat di IG baru pindah rumah
ya, bagaimana rumah barunya?”
Nah, kesadaran ini akan membuat anda
menjadi lebih menonjol dengan pemikiran yang sejalan dengan tindakan anda.
Setiap manusia memang unik dan berbeda, penduduk dunia ini yang jumlahnya 7
Milyar lebih tidak ada satupun manusia yang mempunyai DNA yang sama. Ketika
kita terkoneksi dengan lingkungan dan situasi, kita berani bicara dan menunjukkan
siapa diri kita. Kondisi ini tentu sifatnya sangat individual. Terlepas dari
ucapan dan tindakan kita apa tepat atau tidak, karena ini berpulang kepada
setiap individu. Bisa saja kalau anda termasuk orang yang spontan tentu anda
akan bicara bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan.
- Give Self a Command and Keep It
Kesadaran selanjutnya adalah sebuah
tindakan/ucapan yang terus menerus kita lakukan sehingga ini akan menciptakan
sebuah ritme/pola dari semua yang kita jalani. Akhirnya kita menjadi terbiasa
dengan ritme tersebut. Menjadi disiplin dengan apa yang kita jalani maupun
miliki. Tapi apakah tindakan/ucapan yang kita lakukan itu benar atau tidak? Belum
tentu jawabannya, karena kita harus meneruskan kesadaran kita sampai ke level
teratas.
Kita mengenal istilah pengalaman adalah
guru yang berharga dalam hidup ini. Dari pengalaman yang kita lalui, kesadaran
apa yang timbul? Adakah “lesson learned” yang didapatkan? Bila kita reaktif
dalam menjalani kehidupan ini? Apa hasil yang anda dapatkan?misalnya anda
selalu berbicara dengan cepat (Level 4 dan 5) apakah impact yang didapatkan
dengan berbicara cepat? Atau bertindak cepat? Adalah kesadaran itu timbul? Dan
apa yang akan anda lakukan lebih baik? Banyak juga kita yang jarang melakukan “self
evaluation.” Buat saya mengevaluasi diri harus dilakukan setiap saat, karena
ini akan membuat kita menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Kesadaran level 6
ini menjadi rangkuman yang baik sesuai urutannya. Bila anda sudah sampai
dititik ini, tentu referensi dan wawasan akan menuntun anda kearah yang jauh
lebih baik/bertumbuh.
Ini adalah level teratas di mana kita sudah
bisa mengendalikan diri kita, kita sudah belajar dari pengalaman di level 6,
kita sudah sadar mana dampak terbaik dari yang kita jalani, kita sudah
melakukan analisa dan mengetahui lebih baik kita respond atau react? Misalnya
ketika teman kita curhat dan bilang “aduh kenapa ya gue selalu gagal dalam
percintaan?” Nah, kata apa yang akan anda sampaikan? Respon dengan kata yang
bijak akan lebih baik daripada react. Karena react adalah hasil dari
spontanitas yang muncul dan bisa menimbulkan kondisi yang tidak sesuai dengan
harapan. Bila kita respon, kita akan mengambil napas sejenak, berpikir dan
bertindak/berucap dari kesadaran penuh yang positif dan membangun hubungan yang
harmonis dengan siapapun atau apapun yang kita jalani.
Saatnya semua orang memiliki tingkat kesadaran yang lebih
baik, lebih sadar bukan reaktif seperti menyaksikan debat kandidat Presiden
Amerika antara Trump dan Bidan kemarin, dimana keduanya sangat reaktif bukan
responsif. Oh ya, dari pengalaman saya termasuk melihat banyak hal di
pekerjaan, umur seseorang tentu tidak ada hubungannya dengan tingkat kematangan
emosi seseorang. Selain menyangkut soal kultur, budaya, karakter, dan kepribadian,
ini semua harus diselaraskan dengan tujuan hidup kita, kepada siapa kita bicara
dan untuk apa kita ada di dunia ini? Sadar penuh dengan level 7 adalah mandatori,
terlepas berapapun usia kita.
by admin | Dec 5, 2020 | Information, News, Uncategorized
Oleh Erwin Parengkuan
Dalam sebuah sesi online dengan beberapa leader belum lama
ini, salah seorang leader mengeluh kehilangan kepribadian yang ia telah miliki
dulu karena setelah disadari ternyata “tekanan” di kantor telah membuatnya
menjadi pribadi yang berbeda. Ia lantas merenung dan mengungkapkan ini di depan
forum online. Sedih juga saya mendengarkan kejujuran ceritanya. Saya
membandingkan dengan diri saya, yang kok ringan-ringan aja menjalankan hidup,
dan tetap menjadi apa adanya. Bukan karena saya bebas masalah, karena tidak ada
satupun manusia di dunia ini yang bebas masalah. Selama kita masih membuka
mata, ya tentu masalah akan datang silih berganti. Saya bisa menjadi apa adanya
karena selalu mengingat ucapan mendiang ayah saya “selama kamu tidak buat
salah, tidak menyakiti lawan bicara, jangan pernah kau takut anak!”
Ketika seseorang terlalu didera dengan masalah hidup,
masalah pekerjaan, kita kemudian menjadi seperti robot, alias template seperti slides
presentasi yang dapat diambil bebas dimana-mana. Sayang sekali ketika seseorang
tidak memiliki kesadaran akan pertumbuhan diri. Tidak mempunyai kendali atas
dirinya dan mengaturnya (self management). Jujur, makin kesini saya melihat
banyak orang makin bermasalah dengan dirinya, kalau anda berdalih karena Covid,
bukanya 7 milyar lebih manusia di dunia ini juga mengalami hal yang sama dengan
anda? cemas, kuatir akan masa depan, bagaimana kalau tertular? bagaimana dengan
pekerjaan saya, keluarga saya? itu hanya salah satu contoh yang saya sampaikan
untuk membuka tulisan ini. Jawaban terbaik adalah kita semua harus memiliki
kesadaran penuh seperti tema ulang tahun Talkinc kali ini “AM I Fully Awake?”
Apakah anda juga sadar? Akan tujuan hidup? Karena semua orang bila memiliki
kesadaran akan menentukan/mendapatkan jawaban: untuk apa saya hidup di dunia
ini? Apa tujuannya? Apa yang saya inginkan? Ketika semua pertanyaan dapat anda
jawab, anda akan menjadi Otentik apa adanya. Itulah kualitas pertama dari judul
tulisan saya. Bila kita tidak otentik, tentu sulit dalam menjalani kehidupan
ini. Kalau terlalu jaim, kita akan terjebak dalam sesuatu yang sangat umum
dalam berkomunikasi, tidak ada yang membedakan kita dengan kebanyakan orang.
Dan lawan bicara menginginkan anda menjadi pribadi yang otentik, bukan palsu,
apalagi ada agenda terselubung!
Kualitas kedua yang mutlak setelah seseorang kembali
menemukan dirinya dengan proses kontemplasi, selftalk, meditasi, relaksasi. Me
time dll. Kita dapat melihat diri kita lebih komperhensif lagi, yaitu membangun
hubungan dengan kata Relevant! Relevan artinya adalah memenuhi ekspektasi lawan
bicara,sesuai dengan harapan mereka, tidak keluar jalur, memberikan jawaban
yang dibutuhkan dan mengikuti kaidah etika yang berlaku (common sense and
common ground). Seorang kawan bercerita kepada saya, tante tertuanya dalam
sebuah acara kedukaan di kuburan, diminta untuk memberikan pidato kepada semua
keluarga dan relasi yang datang. Sayangnya sang tante justru bukan bicara
tentang kepergian kehilangan yang dialami keluarga, eh malah bicara tentang
betapa bersyukurnya ia memiliki support system di bisnis yang ia jalankan,
kebetulan beberapa support system yang ia maksud berada juga pada acara
penguburan itu. Bukti ketika kita bisa bicara di depan publik, tidak serta
merta setiap orang dapat menjadi releven. Kuncinya adalah analisa berpikir,
kemampuan untuk membaca situasi yang ada ( common sense) dan menyampaikan
narasi yang sesuai dengan ekspektasi lawan bicara. Makin banyak saya amati
dalam setiap kelas, keadaan seperti ini terus bermunculan. Seorang leader yang
membuka acara webinar kemarin-pun, bicara panjang lebar, sangat normatif, tidak
ada insight dan sangat tidak relevan, kasian! Orang ini seperti asik sendiri
didunianya tanpa menyadari apa yang terjadi dilingkungan dimana ia berada.
Kualitas terakhir adalah Connection. Nah ini memerlukan
banyak latihan, setelah kita fokus kepada 2 kualitas penting diatas, sekarang
saatnya belajar melatih diri dengan melihat dari “kacamata” lawan bicara, bukan
dari sudut pandang kita. Karena hal itu pasti akan menjadi subjektif dan tidak
dapat connected dengan lawan bicara. Latihan menurunkan ego ketika bicara
adalah kuncinya, melihat dari sudut pandang mereka, akan apa yang mereka
butuhkan. Tidak mendominasi pembicaraan, mendengarkan dengan kedua telinga
anda, itu yang disebut seni membangun hubungan dengan active listening. If we
could always stay connected with our audience you definitely will win their
hearts. And again, in communication one thing to be remember, it’s not about
you, it’s about them!