Good Presentation Skill di dalam public speaking

Banyak hal yang harus di perhatikan sebelum melakukan presentasi, dari mulai kesiapan dari slide Power Point yang akan di sampaikan dan penguasaan materi. Penguasaan materi sangatlah penting, agar pesan bisa tersampaikan dengan jelas dan agar bisa meyakinkan audience akan materi yang di sampaikan. Penggunaan Que Card di bolehkan, akan tetapi Que Card bisa membuat anda menjadi “kaku” dan menghilangkan konsentrasi.

Slide presentasi yang menarik juga dapat membuat audience menjadi tertarik akan presentasi anda dan akan memperhatikan presentasi secara menyeluruh. Terlalu banyak text dalam setiap slide akan membuat audience bosan dan terkesan monoton, buat slide menjadi se-simple mungkin dan hindari pemakaian template.

Body Language atau Bahasa Tubuh juga salah satu komponen penting pada saat melakukan presentasi, gerakan tubuh yang monoton akan menyebabkan penonton menjadi terganggu dan hilang konsentrasi nya, contoh : terlalu banyak gerakan tangan, geser badan kiri – kanan atau gerakan lain yang bisa menganggu audience.

Story Telling kekuatan dalam Seni Berbicara “Erwin Parengkuan”

Di awal tahun 2017, saya dan semua team kantor, melakukan outing ke Bali, lagi lagi tentang Bali yang tidak pernah membuat kita bosan. Singkat cerita kami pergi ke Nusa Lembongan, pagi hari, team kami yang berjumlah 14 orang sudah siap sebelum jam 8 pagi di Sanur untuk menantikan kapal yang akan mengantarkan kami ke Nusa Lembongan. Perjalanan yang tidak lama hanya 40 menit dan kami tiba disana tepat pada waktunya. Hari itu kami akan menghabiskan waktu seharian penuh, bermain di pantai , snorkeling dan tentunya makan enak. Ketika mendarat di dermaga kami saya melihat beberapa toko souvenir kerajianan Bali, dengan berjalan cepat saya mulai untuk mengamati barang apa saja yang cocok untuk di beli, termasuk oleh-oleh dan hiasan yang cocok untuk kantor baru kami yang akan pindah sebentar lagi.

Memasuki sebuah art shop adalah salah satu kenikmatan tersendiri buat saya. Mengamati cara pembuatan, finishing maupun materialnya. Beberapa barang sudah ada yang saya taksir, dan saya mengatakan kepada ibu penjual untuk menyimpannya. Hari itu, udara sangat bersahabat, tidak hujan seperti yang diramalkan, membuat trip hari itu terasa lengkap.

Setelah seharian menjelajah Nusa Lembongan, kami kembali ke dermaga untuk menunggu kapal datang, ada waktu satu jam, tentunya ini adalah waktu yang cukup untuk mengambil barang-barang yang sudah saya reserved, si Ibu penjual dengan senyumnya menyambut saya di depan tokonya. Sayapun mengamati lagi mungkin ada barang lain yang bagus untuk saya beli, hingga mata saya tertuju kepada 3 buah kerang seukuran telapak tangan saya. Warnanya silver dan bentuknya jarang saya lihat. “itu kakek saya yang ambil kerang ini, menyelam tanpa alat bantu, dan mengumpulkan kerang-kerang ini, jaman dulu tahun 1970an memang begitu…sekarang kerang-kerang ini sudah tidak ada lagi”. sambar si Ibu begitu melihat saya mengamati barang tersebut. “oh ya, bu?” ujar saya. “Ya, kerang-kerang ini tadinya koleksi kami, hanya karena saya perlu uang, akhirnya terpaksa kami jual, tadinya kakek saya punya ini 60 buah, sekarang tinggal 6 buah, dan tidak ada lagi yang jual di pulau ini, saya sebenarnya sayang juga mau jual!”.

Nah, disinilah saya semakin tertarik dengan cerita si ibu, membuat saya “melihat” kerang tersebut dengan nilai yang sudah berbeda dibanding pertama kali saya melihatnya. “ini cuma tiga, mana yang 3 lagi bu?” kemudian si ibu masuk kedalam dan membawa 3 kerang lainnya yang bermotif, kali ini saya justru belum pernah melihat motif kerang seperti ini. Saya semakin tertarik, Setelah negosiasi, singkat cerita sayapun memborong ke enam kerang tersebut , sambil membungkus kerang-kerang tersebut si ibu melanjutkan ceritanya kepada saya: “kalau masih mau lagi saya masih punya 6 lagi kok”. “loh, ibu masih ada lagi, katanya itu kolesi terakhir???” jawab saya dengan nada kaget :). “Iya, memang masih ada 6 pesanan orang, kalau mas mau, saya jual saja sekarang…” Dan sayapun terdiam.

Nah, bisa anda bayangkan, bagaimana kekuatan story telling dapat mempengaruhi kita dalam mendengarkan sebuah cerita. Coba bayangkan cerita saya diatas, bila tanpa sebuah “story telling” tentu tidak akan membuat saya memborong ke 6 kerang tersebut. Saya membeli karena terpengaruh dengan cerita si ibu.

Kalau kita perhatikan, memang story telling adalah salah satu daya pikat utama dalam seni berbicara, khususnya untuk public speaking. Akan mudah dicerna oleh audience bila cerita anda nyambung dengan materi yang akan disampaikan. Tidak hanya itu, cerita yang disampaikan harus mengandung emosi, sehingga membuat kita yang mendengarkannya menjadi antusias ingin mendengarkan kelanjutan dari setiap sequences yang anda sampaikan. Audience akan dengan seksama mengikuti alur anda. Buatlah story telling anda menjadi relevant dan mempunyai ending yang baik . Pastikan ada “value” yang anda tawarkan melalui cerita anda.

Kapan baiknya story telling dilakukan, ada baiknya di awal pada saat anda selesai greetings dan introduction. Anda bisa memulainya dengan kata-kata positif seperti ini; “ saya punya pengalaman yang menarik tentang topik hari ini, waktu itu saya……..” Selamat membuat cerita yang menarik!

Understanding People “Erwin Parengkuan”

Setelah menulis buku keenam saya yang bulan lalu saya release dengan judul: Understand-inc People, Strategi Taktis Berkomunikasi dengan Berbagai Kepribadian, terbitan PT Gramedia Pustaka Utama, ada catatan penting yang perlu saya sampaikan melalui tulisan saya ini. Tentunya saya berharap anda sudah mengerti atau membaca isi tentang buku tersebut.

Ketika menuliskan buku itu, saya teringat tentang pertama kali 18 tahun yang lalu, saya membaca buku dengan judul Personality Plus karangan Florence Littauer, yang mengadopsi terminology dari Filsuf Romawi Kuno, Socrates. Dikatakan dalam buku itu tentang 4 Kepribadian Manusia dengan penjabaran : Sanguine, Choleric, Pragmatic, dan Melancholy dimana terminologi ini menurut saya sangat sulit dicerna maknanya oleh masyarakat Indonesia. Saya sendiri perlu 2x untuk membaca buku ini dan memahami maknanya. Apa yang terjadi setelah membaca buku ini, saya kemudian mengamati orang-orang di sekeliling saya, bahwa dari hasil observasi saya bahwa masing-masing kepribadian ternyata memiliki pola komunikasi yang sama. Untuk itu ada semacam dorongan dari dalam diri saya untuk menuliskan ulang buku tersebut berdasarkan apa yang saya amati. Kemudian saya mengganti istilah-istilah rumit tersebut dengan yang lebih sederhana dan mudah dipahami, yaitu: Si Kuat, Si Gesit, Si Rinci dan Si Damai.

Dari uraian diatas, kita dapat memaknai artinya, bahwa si Kuat (Choleric) adalah orang-orang yang tegas, berkeinginan kuat dan selalui mencapai apa yang diinginkannya. Si Gesit ( Sanguine) adalah orang-orang yang penggembira, walaupun sangat tergantung pada mood mereka saat itu, mereka spontan berbicara (ini yang sering menjadi masalah dalam berkomunikasi), tanpa berpikir terlebih dahulu dan mencintai trend terbaru saat ini. Kedua Kepribadian diatas adalah orang-orang yang Extrovert. Sedangkan lainnya, yaitu: Si Rinci ( Melancholy ) adalah mereka yang berbicara terstruktur, rapih dalam berpenampilan, mencintai keindahan, dan terlalu sibuk memikirkan apa kata orang lain. Meraka adalah tipe analitis , berpikir terlebih dahulu, walau jarang juga diutarakan. Sedangkan tipe yang terakhir adalah si Damai ( Pragmatic ) adalah yang pendiam, anti kontfrontasi dan cinta damai, selalu menjadi pendengar yang baik dan sangat humanis, dalam berpenampilan cenderung kuno. Lebih senang mendengar daripada brrbicara, senang di “comfort zone” mereka. Kedua Kepribadian diatas adalah Tipe yang Introvert.

Kendati kita manusia memiliki keempat unsur diatas , tentu ada yang lebih dominan, untuk itu dalam buku saya terdapat test yang dapat mendeteksi tipe Kepribadian anda. Saya melakukan riset terhadap puluhan responden secara kualitatif dan melibatkan beberapa team Psikolog untuk membuat formula ini, termasuk cara berkomunikasi dengan masing-masing Kepribadian dan pekerjaan-pekerjaan yang cocok untuk mereka.

Saya, adalah di Gesit yang Rinci, dulu ketika remaja saya sering bersinggungan dengan teman saya karena tidak dapat me-rem perkataan saya, di sisi lain, saya juga di Rinci yang pemikir, sehingga ketika ada rekan yang bergunjing tentang saya, kemudian saya menjadi baper dan kesal. Lama-lama saya sadar, bahwa yang bergunjing adalah tipe si Gesit yang kemudian lupa apa yang telah dikatakannnya, tetapi dampaknya buat saya perkataannya selalu membekas di saya, kemudian saya berpikir, ini tidak fair, mereka lupa tapi kenapa saya mengingatnya?

Pekerjaaan saya dilapangan sebagai orang yang sering tampil dan dituntut mengambil keputusan cepat juga ternyata berpengaruh terhadap meningkatnya prosentasi Kepribadian saya yang Kuat, ditambah tugas sebagai pemimpin perusahaan. Jadilah saya yang sekarang…
Melalui proses perjalanan panjang, kita kemudian berkembang penjadi pribadi yang sesuai dengan tugas dan tanggung jawab kita. Bila itu dilakukan secara “sadar”, maka kita akan berproses kerarah yang lebih baik. Komponen penting untuk semua pribadi yang ingin maju, adalah meningkatkan sisi Rinci dan Kuat. Dan semua ini bisa dipelajari. Tentunya juga diperlukan kedua unsur lain yaitu Damai agar kita tetap tenang dan Gesit untuk dapat menikmati hidup. Semua ini telah saya tulis secara lengkap dalam buku saya yang terbaru…selamat meneruskan membaca.

Tips presentation skills di dalam dunia kerja

Presentasi tentu nya sudah tidak asing lagi di dalam dunia kerja, pada saat ingin melakukan weekly report kepada atasan, pada saat ingin menawarkan sebuah produk terhadap klien, dan lain – lain. Tentunya, agar pesan dan tujuan dari presentasi tersebut bisa tersampaikan dengan efektif, slide presentasi dan cara kita membawakan presentasi tersebut harus di kemas dengan baik.

Banyak kendala yang bisa di temukan pada saat membuat slide presentasi dan pada saat membawakan presentasi, masalah yang sering di temukan adalah bagaimana membuat slide presentasi tersebut menarik dan tidak membosankan, hindari penggunaan template dan terlalu banyak tulisan di dalam slide tersebut, hal tersebut akan membuat audience bosan dan terlihat monoton.

Akan lebih baik jika presentasi di buat se-simple mungkin, tetapi padat dan jelas apa tujuan dari presentasi tersebut. Penggunaan slide presentasi yang modern dan banyak visual nya juga akan membantu menarik perhatian audiens. Penting juga agar pada saat presentasi kita bisa menguasai materi dengan baik, sehingga tidak terpaku dengan slide atau Que Card.

Komponen public speaking yang harus dimiliki public speaker

public speaking, seperti namanya, berarti “berbicara di depan publik”, public speaking mencakup semua aktivitas verbal, seperti yang dilakukan pada saat rapat, menjadi pembawa acara, presentasi, mengajar, dan lain lain. Tentu nya seorang public speaker harus mempunyai kemahiran agar pesan dan tujuan dari pesan tersebut bisa tersampaikan secara baik, benar dan efektif.

Salah satu komponen yang harus dimiliki oleh seorang public speaker adalah rasa Percaya Diri. Rasa Percaya Diri tentunya harus dimiliki seorang public speaker agar bisa meyakini audience akan pesan yang ingin di sampaikan. Body language juga tidak kalah penting, misalnya terlalu banyak bergerak dan berubah – ubah posisi, hal tersebut bisa menyebabkan fokus audience hilang. Intonasi suara juga merupakan faktor penting dalam public speaking, contohnya, suara harus tegas dan tidak berbicara terlalu cepat agar audience bisa mengerti apa yang akan di sampaikan.

Seorang public speaker juga harus memperhatikan 5 W + 1 H, yaitu who, what, when, why, where dan How?, What adalah apa yang ingin disampaikan, contohnya “Pilkada Jakarta 2017 memacu kontroversi”, Who adalah tokoh utama dalam What, When adalah kapan itu terjadi, Where adalah dimana kejadian tersebut terjadi, Why adalah apa penyebab dari What dan How sendiri adalah bagaimana proses dari kejadian tersebut.

TALKINC sekolah yang bagus untuk public speaking

Mengapa saya memilih sekolah public speaking TALKINC sebagai tempat saya menimba ilmu professional public speaking? Karena awalnya saya suka sekali dengan gaya Mba Becky dan Mas Erwin yang adalah founder dari sekolah public speaking TALKINC itu sendiri.

Materi yang paling favorit? From Opening Encounter to Slide Presentation Encounter! Sorry, I Can’t choose one of them. Since I grabbed all of them tightly with me from now on, they all are very super powerful useful to me!

Saya benar-benar merasakan manfaat yang super keren dan dahsyat dari kelas professional public speaking di TALKINC ! Menambah pengetahuan saya, kepercayaan diri tampil berbicara di depan publik (sekarang sudah tidak nervous lagi, cenderung mati rasa hahaaha…..), berbicara lebih terstruktur dan terarah mulai opening, content sampai closing.

professional public speaking class at TALKINC is so Powerful and Impactful!! I definitely will recommend TALKINC to everyone, and I already did actually to some of my families and friends!! Love TALKINC so much!!!!!

How To Create Your Script MC TV Presenter

Saya, Karina Novi Vriesiana adalah seseorang yang sangat menyukai dunia Public Speaking. Bagi saya, Public Speaking adalah my main selling point. Ketertarikan saya akan dunia ini bermula dari zaman saya duduk ditingkat sekolah menengah pertama. Dimana, saya pernah ditunjuk sebagai wakil dari sekolah saya untuk mengikuti lomba pidato untuk tingkat kota dan diluar dugaan saya keluar sebagai juara kedua. Dari saat itu lah saya menyenangi hal-hal yang berkaitan dengan “berbicara didepan orang banyak”. Hal ini pula lah yang menjadikan saya pernah terjun kedunia jurnalistik.

Ya, karir pertama saya setelah lulus kuliah adalah seorang Reporter disalah satu stasiun TV swasta terkenal, TRANS|7. Saya pun semakin tertarik dengan dunia Public Speaking. Sempat menekuni dunia tersebut selama kurang lebih 1 tahun, akhirnya dikarenakan alasan berkeluarga, saya terpaksa keluar dan mencari pekerjaan yang lebih banyak waktu di Jakarta. Kemudian saya bekerja sebagai seorang Corporate Communications di salah satu anak perusahaan Bank Mandiri. Ternyata pada posisi pekerjaan itu, saya kerap kali diminta bantuannya untuk menjadi seorang MC, baik untuk acara formal maupun non-formal, dengan audience pegawai hingga pejabat Kementerian.

Dengan beberapa pengalaman, hobi dan passion saya akan Public Speaking itulah yang mengarahkan saya untuk mendaftar di TALKINC. Setelah saya membaca sedikit track record TALKINC, ternyata TALKINC sebagai institusi pendidikan non-formal telah mencetak alumni-alumni MC-TV Presenter dengan kapabilitas dan kompetensi yang memumpuni dibidangnya. Hal inilah yang menjadi alasan utama saya masuk sebagai partisipan di TALKINC.

Kelaspun dimulai dengan modul-modul yang berbobot dan menambah pengetahuan. Tibalah saatnya Encounter 4 atau kelas keempat dengan isi materi How To Create Your Script. Jujur, dengan beberapa pengalaman yang saya punyai sebelumnya, saya sangat kurang sekali dibagian penulisan naskah. And yes, that time I thought “it is the time for me to equip myself”! Awalnya saya berpikir kelas ini akan boring tapi ternyata Mba Lia Halim mampu membawa kelas yang sounds so heavy menjadi kelas yang santai dan asyik.

Selain itu, pengetahuan Mba Lia tentang penulisan naskah pun sudah tidak perlu diragukan lagi. With her education and experiences, she is truly one of the best scripters, indeed! Kemampuannya untuk menyampaikan isi materi pun terkesan ringan namun berisi. And again, to be honest, that encounter was “a cling” for me. I got that knowledge. Thank you Mba Lia, it was a great time to learn about creating the script. My best encounter, so far.

Selain isi materi dan pengajar yang “berkelas”, disini juga saya semakin banyak berkenalan dengan orang-orang baru yang mempunyai passion dengan saya. Dan karena kesamaan passion inilah, kami menjadi cocok dan sering bertukar pendapat bahkan bertukar job (hahahaha). Yang pasti, saya tidak menyesal pernah menjadi bagian TALKINC. Saya berharap TALKINC dapat terus maju dan menjadi a diamond in this industry, mampu mencetak orang-orang dengan skill komunikasi yang terbaik.

Tempat yang menyenangkan belajar Public Speaking

Ketika awal saya disuruh untuk les di TALKINC, sebenarnya saya meng-underestimate untuk belajar disini. Saya memilih program public speaking dan awalnya saya rasa public speaking itu hanya masalah waktu juga jam terbang. Tidak perlu sampai harus datang les setiap hari sabtu untuk belajar presentasi di depan public.

Hari pertama saya memasuki kelas saya merasa salah ketika memandang sebelah mata mengenai TALKINC. Bagaimana saya presentasi dan kegugupan saya didepan public ternyata masih banyak yang harus diperbaiki. Selama Sembilan minggu, saya latihan lalu evaluasi, latihan lagi dan evaluasi begitu seterusnya. Di rumah pun saya tetap belajar di depan kaca sesuai yang diajarkan mentor.

Semua pelajaran di TALKINC itu menyenangkan dan mengesankan. Jika disurug memilih, ada satu materi favorit saya. Di counter 7 dengan module how to handle audience. Mentornya adalah psikolog. Jangan tanya nama karena saya juga lupa namanya siapa. Hahaha..

Materi itu menyenangkan sebenarnya karena mentornya. Beliau mengajarkan bagaimana menghandle audience baik secara teori dan laitihan. Disitu, beliau juga mengajarkan bagaimana memahami karakter dari lawan bicara atau publik yang akan saya ajak bicara.
Ketika dia bicara saya cuma bisa bilang “WOW”. Ini mentor benar-benar juara untuk memahami orang, untuk memainkan psikologi lawan.

Jadi, kesimpulannya 9 kelas yang sebenarnya tidak ingin saya ikuti menjadi kelas yang menyenangkan saat ini. Saya menemui mentor dan teman-taman kelas saya yang hebat. Saya bisa mengurangi rasa gugup saya didepan publik. Bahkan saya ingin untuk daftar di kelas personal branding karena semenyenangkan dan seberguna itu.

Erwin Parengkuan “You are what you think”

Apa yang membuat manusia sirik dan benci?
Ketidakmampuan?
Selalu membandingkan kesuksesan dengan orang lain? Tanpa berpikir kenapa saya tidak bisa?
Menutup mata dan hati karena berserah kepada nasib?

Banyak orang yang tidak mampu, memulai dari O dan menuai sukses yang besar..bahkan mereka yang tidak sempurna seperti kita, seperti Pianist berjari empat asal Korea hee Ah Lee, motivator asal Australia tanpa kaki dan tangan Nick Vujicic. Mereka bisa, kenapa kita tidak? Mereka bersyukur dan menghargai hidup dan memperoleh potensi terbaik dalam hidupnya karena usaha dan membuka diri serta selalu sadar bahwa semua orang memiliki potensi yang sama. Mereka bisa kenapa kita tidak?

Hakikinya semua orang bisa dan mampu, hanya sebagian tidak mau, tidak mau berubah! Mari kita hancurkan tembok “mental block.”
Bukankah menyenangkan bila hidup diisi dengan hal-hal yang baik? Yang positif?
Stop menyalahkan diri, mari kita buka pikiran, stop membandingkan dengan orang lain, stop pikiran negatif.

Mari, mulailah dari hal terkecil, berbagi, mensyukuri hidup dan mulai mencintai diri kita..bahwa hidup ini indah kalau kita mengatakannya indah (begitupun sebaliknya), you are what you think!

Erwin Parengkuan “Self Image vs Social Image”

Ketika mengajar di salah satu Kementerian belum lama ini, seperti biasa salah satu yang harus dilakukan oleh peserta adalah “invidivual presentation,” biasanya materi ini menjadi menakutkan untuk mereka yang mengalami banyak tantangan dalam berkomunikasi. Bisa dibayangkan, setiap peserta di minta untuk mempraktikkan materi yang telah mereka dapatkan (mulai dari meningkatkan rasa percaya diri, struktur dalam berkomunikasi, total vocal hingga mengenal kepribadian kita dan lawan bicara/Understand-inc People) yang selama 2 hari ini mereka telah peroleh.

Ketika sedang breakout session, seorang bapak menghampiri saya dan berkata “mas Erwin boleh bicara dengan saya sebentar?” Singkat cerita, ia-pun memulai pembicaraannya, dikatakannya kenapa setiap bicara ia sering kali terbata-bata. Sayapun mendengar yang disampaikan, memang betul! Saya mengalami kesulitan untuk menangkap apa yang disampaikan. Artikulasi yang tidak jelas, ditambah bicara yang terlalu cepat, sehingga setiap kata tidak terdengar jelas, apalagi menangkap seluruh isi pesannya. Saya bilang : “coba bapak bicara lebih tenang, tidak perlu terburu-buru. Coba nikmati apa yang anda bicarakan. ” Kemudian ia kembali mengulang kalimatnya. Hasilnya lebih baik. Dan ini terjadi sampai 3 kali saya memintanya untuk tidak terburu-buru dan lebih tenang. Setelah itu, terdengar lebih baik lagi dan saya memberikan penghargaan atas perubahan yang telah dilakukannya. Ada senyum sedikit diwajahnya. Saya kembali berkata, “ayo pak teruskan kembali kalimatnya, tadi kan belum selesai.” Kemudian ia berhenti sejenak, wajahnya berubah gusar.

Saya merasakan ada hal lain yang ingin ia sampaikan, kemudian saya bertanya “bapak dalam kondisi baik hari ini?” dari raut wajahnya sangat jelas terlihat ia menyimpan kesusahan. Ia-pun hening..sayapun menunggu apa yang ingin dikatakannya. Selang berapa lama, ia kembali membuka mulut dengan artikulasi yang tidak jelas : “saya ada masalah rumah tangga, saya sering sekali ribut dengan pasangan saya, kami tidak akur. Juga antara saya dengan anak saya, mereka tinggal di Sumatra, saya di Jakarta dan saya selalu memikirkan masalah itu, saya selalu resah apalagi kalau harus bicara di depan orang banyak.

Saya minder, tidak percaya diri. Sepertinya orang-orang ini akan mentertawakan saya atas masalah yang saya hadapi !” Kemudian saya terdiam sejenak, berpikir untuk kalimat yang tepat harus diucapkan. “Saya mengerti apa yang bapak rasakan, kalau ingat masalah ini terus, tentu bapak akan sulit konsentrasi, sehingga apa yang akan bapak bicarakan kepada orang lain menjadi sulit dimengerti, bagaimana kalau tidak melulu lihat “kebelakang” pak, tapi apa yang dapat dilakukan untuk ke depannya, dan yakin Tuhan pasti akan campur tangan untuk masalah anda, minta padaNYA pak, pasti diberikan.” Si bapak kemudian mengulang kalimat saya: “iya minta kepadaNYA, pasti dibantu ya? masih dengan wajah yang gusar, dan kalimat yang terputus…

Dari cerita saya diatas, Si bapak sangat jujur/terbuka melihat dirinya, ia tidak dalam kondisi menyangkal, menerima dirinya apa adanya. Dan ini menjadi sangat penting sebelum kita berkomunikasi, bagaimana seseorang menyadari dirinya secara utuh, apa yang terjadi dan apa yang ditampilkan di muka umum, walau pengakuannya yang terbuka membuat saya shock.

Memang, apa yang kita rasakan, tidak luput dari kemampuan menilai diri kita, yang akan tergambar jelas di cara kita berkomunikasi khususnya bila kita memperhatikan dengan seksama ekspresi wajah seseorang dengan bahasa tubuhnya. Berdasarkan pengalaman saya, orang yang melihat dirinya rendah akan terlihat tidak percaya diri di depan umum, begitupun sebaliknya orang yang memandang dirinya lebih tinggi dari orang lain, akan terlihat juga dari caranya berkomunikasi.

Sehingga perlunya kita untuk menghargai apa yang sudah kita miliki, untuk ditingkatkan, tentunya fokus kepada kekuatan diri kita agar semua hal positif dalam diri terlihat dengan jelas di saat kita berkomunikasi.

Anda tentu sering mendengar motto “you are what you think,” seperti itulah otak kita bekerja, bila kita yakin melihat kemampuan diri kita, pasti semua tindakan akan mengarah ke hal yang kita yakini bisa, dan begitupun sebaliknya. Dan semua yang ditampilkan, mulai dari sikap tubuh, wajah, suara dan kata-kata akan jelas terlihat bagaimana seseorang memandang dirinya dan berkomunikasi dengan orang lain. Saatnya berpikir positif, dan melakukan penilaian yang relevan terhadap diri kita, terbuka, jujur, sehingga kita bisa menyesuaikan image kita yang sesuai dengan apa yang ingin ditampikan di muka umum.

Itu yang dapat saya bagikan dalam tulisan ini, diluar konteks komunikasi yang dimiliki manusia, ya memang ada kekuatan lain yaitu hubungan kita dengan Sang Pencipta, seberapa besar kepercayaan itu? Tentu akan membantu setiap orang untuk percaya akan kemampuan yang telah diberikanNYA, mari kita syukuri, mengasahnya, agar dengan semua “modal” yang kita miliki, meyakinkan dalam menampilkan citra diri kita yang sesuai di lingkungan, apa yang ingin ditampilkan mendapatkan penilaian yang sama dengan yang dilihat orang lain kepada kita. Sehingga antara self image dan social image terlihat sama.

Jakarta 7 Maret 2017