Phasellus nec mauris sit amet dolor interdum molestie

Phasellus nec mauris sit amet dolor interdum molestie

Duis pharetra ligula vel ipsum faucibus, id rhoncus lectus vestibulum. Nunc tempus, odio vel ornare congue, risus lectus adipiscing metus, sit amet tempus justo nulla in ligula. Nullam commodo pretium convallis. Donec id quam arcu. Fusce et tortor non est eleifend tristique ac in est. Vivamus vel neque vitae odio imperdiet dapibus. Integer et tincidunt tortor, id malesuada massa.

Fusce lorem libero, imperdiet in metus at, facilisis lacinia felis. Duis egestas mauris nec nisl euismod, vel laoreet massa commodo. Etiam vehicula eros in ipsum cursus, sed commodo arcu mollis. Suspendisse lacinia, justo non gravida ornare, est enim interdum nunc, quis gravida dolor dolor eget nisl. Donec varius nibh nisi, ut fringilla nisi tempor quis. Suspendisse tempus lacinia risus, nec congue felis luctus nec. Ut in porta mauris. Donec scelerisque ante erat, id ullamcorper erat semper at. Nulla ornare, velit nec sagittis sagittis, massa dolor dictum risus, in tempor arcu est non purus. Aliquam eu rutrum lacus. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas. Nulla vel cursus lorem, at porttitor nibh. Etiam at consequat arcu, nec mollis enim. Maecenas a pharetra eros. In sodales, augue gravida vehicula viverra, purus leo ultricies arcu, a lacinia libero ipsum vitae mauris. Quisque facilisis, mauris vel elementum lobortis, felis magna hendrerit nisl, quis bibendum nunc erat in metus.

Etiam tincidunt, augue non hendrerit vehicula, leo dui ornare odio, in dapibus sapien nisl id eros. Sed posuere est et neque accumsan vulputate. Integer tincidunt dui metus, sit amet interdum magna adipiscing ac. Pellentesque sapien odio, venenatis in rhoncus vel, lacinia quis diam. Proin non neque ac nisl tempus accumsan non ac mi. Fusce est sem, imperdiet eget libero non, cursus imperdiet ligula. Duis faucibus urna quis porta ultrices.

Pellentesque facilisis feugiat lorem, nec interdum neque iaculis id. Vestibulum non lacus nec nisi molestie convallis ut sit amet ante. In lobortis nunc id erat tincidunt, ut pulvinar tortor interdum. Phasellus eu pellentesque massa, et cursus ante. Aenean venenatis non felis id porta. Duis sed imperdiet sapien, at placerat nisl. Integer sollicitudin ac ipsum at blandit.

Public Speaking Bukan Sebuah Retorika

Oleh Erwin Parengkuan

Dalam sebuah sesi webinar saya diminta oleh sebuah universitas di Jakarta baru-baru ini untuk berbagi tentang materi public speaking. Banyak sekali audiens saya ratusan mahasiswa dari berbagai jurusan dan semester, menunjukkan ketertarikan mereka untuk mengetahui rahasia berbicara menarik di depan publik. Saya membuka sharing saya seperti judul ini. Mendengar kalimat pembuka saya, banyak mata yang terbelalak dan penasaran akan penjelasan saya selanjutnya. Sebelum saya jabarkan lebih lanjut, kenapa mereka terkejut? Karena dunia sekarang yang penuh retorika yang diamini oleh para generasi muda ( generasi Z) dimana mereka kerap bicara dengan lantang dan kalau kita perhatikan minim makna dan sering juga kita membaca caption yang mereka tampilkan di timeline begitu tegas tapi bila kita berjumpa dengan mereka ternyata pribadinya sangat pendiam. Betul bahwa komunikasi itu memerlukan konten yang berbobot tidak hanya berani bicara.

Habisnya kata-kata dalam ucapan sama saja seperti kendaraan tanpa bensin, roda tidak bisa berputar dan tujuan kita tidak akan kita sampai. Sayangnya banyak orang hanya berkoar-koar tanpa bobot. Dan sekarang semakin banyak kita jumpai baik secara langsung maupun bertembaran di media sosial. Kemana konten yang berkualitas yang dapat memberikan pengaruh besar dalam menciptakan perspektif baru, membuat audiens berpikir dan bertindak? Dalam kami membuka setiap sesi tentang komunikasi terdapat 5 hal penting yang harus dikuasai para komunikator kalau mau dibilang ulung. Pertama mereka harus dapat memberikan manfaat, kedua bicara harus runut, ketiga harus jelas tujuannya, keempat tidak boleh terburu-buru dan yang terakhir harus tidak boleh kepanjangan apalagi bertele-tele. Apakah anda sudah menguasai konten anda dengan baik?

Ketika saya memulai sesi pertama kelas online public speaking, alasan pertama soal memberikan manfaat dalam berkomunikasi saya sampaikan dan jelaskan secara terperinci kepada para peserta dan saya berhenti di alasan pertama itu serta meminta mereka mempersiapkan materi bicara dalam waktu 2 menit, sesi kemudian berlangsung dengan memberikan waktu 15 menit untuk mereka mempersiapkan konten apa yang akan mereka sampaikan hingga dapat memberikan manfaat. Apa yang terjadi selanjutnya? Semua peserta dapat tampil dengan memberikan manfaat kepada pendengarnya. Artinya, bila sebuah komunikasi dapat dipersiapkan dengan matang, tentu semua orang dapat bicara dengan bobot yang tepat. Persiapan adalah mutlak, sama seperti kalau kita akan pergi berlibur, semakin matang persiapan kita akan semakin baik perjalanan dan tempat yang akan kita kunjungi. Bila persiapan tidak matang baik, jangan harap perjalanan liburan akan menyenangkan.

Bicara yang baik juga mewakili jati diri kita, mewakili kultur, budaya kita, termasuk keluarga kita, tempat dimana kita bekerja dan tentu mewakili jati diri kita sebagai bangsa Indonesia. Saya masih ingat sebuah kasus komunikasi yang “asal bunyi” tanpa dipikirkan dampaknya terjadi beberapa tahun silam. Ketika seorang mahasiswa di sebuah kota di pulau Jawa yang mengumpat dengan kata-kata kasar karena pelayanan di pom bensin tidak membuatnya senang, lantas anak ini mencaci maki ditimelinenya. Dan warganet langsung murka untuk mencari siapa anak ini. Mulai dari siapa dia, kuliah dimana, suku apa dll. Kesadaran dalam berkomunikasi juga menjadi landasan penting yang selalu harus dipahami oleh setiap orang. Bila kita asal bicara di jagat maya, tentu masyarakat dunia akan mencari juga siapa pemilik akun tersebut dan dari negara mana ia berasal.

Mulai sekarang marilah kita tingkatkan kesadaran diri tentang peran kita di lingkungan juga menjaga reputasi bangsa, lakukan riset akan data yang tepat dan berbobot tidak lupa menyampaikannya dengan menarik dengan menggunakan pilihan bahasa yang baik dan santun. Ketika hal ini terus kita lakukan tentu akan meningkatkan reputasi diri dan citra yang positif diantara begitu banyaknya orang-orang yang asal bicara tanpa bobot.

Living with Conscious & Unconscious Mind

Dalam sebuah sesi dengan para leader di perusahaan telekomunikasi dimana mereka mendapat tekanan dari kantor pusat untuk segera melakukan perubahan yang cepat agar dapat bersaing dengan para kompetitornya, terlihat wajah mereka yang sangat tidak relax, stress dan bahkan bingung. Sedangkan sesi yang akan berlangsung seharian ini merupakan sesi kelanjutan dari sesi 3 bulan sebelumnya. Tentu akan sulit buat saya ketika memulai sesi tanpa melakukan “interaksi” tentang apa yang mereka rasakan dimana ini sangat berbeda dengan kondisi 3 bulan yang lalu. Head of HR mereka kemudian membuka dengan kalimat “kita harus segera transformasi besar-besaran.” Pesan kuat ini mengkonfirmasi wajah-wajah mereka yang tegang itu.

Setelah melakukan interaksi dan menemukan fakta yang mereka hadapi, saya kemudian menyampaikan tentang bagaimana manusia beraksi dan bertindak dari semua tantangan yang mereka hadapi. Semua tentu bermula dari sebuah kesadaran (conscious) atau ketidaksadaran seseorang (unconscious) akan apa yang dialami. Termasuk dapat segera bertindak agat dapat dengan cepat keluar dari situasi yang dialami dan melakukan perubahan yang cepat agar kondisi yang ada dapat diatasi.

Kesadaran atau ketidaksadaran kita tentu berawal dari bagaimana seseorang dapat mengendalikan pikirannya dan mengetahui dengan jelas fungsi otak bekerja dan memaksimalkannya dengan frekuensi yang baik secara sadar maupun tidak sadar. Untuk hal-hal yang berhubungan dengan kesadaran diri seseorang meliputi 3 komponen penting frekuensi otak yaitu: Gamma (a-ha moment), Bheta (work) dan Alfa (relaxing). Ketiga komponen ini akan membantu seseorang untuk dapat menganalisa dan mengaktifasi hal mendasar apa yang harus mereka lakukan. Contoh ketika seseorang bicara dengan menarik, cara penyampaiannya, emosinya, datanya tentu akan menciptakan a-ha moment yang membuat lawan bicara tertarik dan memperhatikannya dengan seksama. Bheta adalah hasil upaya yang dilakukan oleh setiap orang untuk kinerja yang datang dari frekuensi Gamma (a-ha moment). Sedangkan untuk menghasilkan Gamma dan Bheta kita perlu Alfa yaitu perasaan yang tenang tanpa tekanan.

Ketika saya menyampaikan 3 komponen ini terlihat ekspresi para leader di kelas berubah, lebih sadar dan seperti mendapatkan “pencerahan.” Beberapa yang saya dekati terlihat pupil mata mereka membesar. Saya mengatakan bahwa kendali diri tentu akan menciptakan kesadaran kita dengan waktu yang kita punya saat itu (right here right now) atas langkah-langkah yang harus dilakukan seseorang. Apakah solusi yang mereka lakukan sesuai dengan analisa yang tepat, dari hasil yang tepat tanpa terburu-buru untuk menghasilkan kinerja yang mengagumkan? Tidak semua orang mempunyai kemampuan yang sama dalam mengendalikan dirinya yang datang dari masing-masing frekuansi itu. Apalagi dalam kita berkomunikasi karena kita selalu dituntut untuk tidak hanya menyampaikan sebuah materi yang menarik (a-ha moment) tapi juga dapat menyampaikan pesan yang lengkap mulai dari suara, kata-kata, cara berpenampilan sampai bahasa tubuh. Sehingga dapat memberikan manfaat kepada lawan bicara. Dalam hal ini, para leader dikelas (memang) dituntut untuk menghasilkan hasil kerja yang berbeda dari yang pernah mereka lakukan sebelumnya sehingga bisa keluar dari tantangan besar yang mereka hadapi.

Frekuensi otak lainnya juga sangat besar pengaruhnya yang datang dari alam bawah sadar kita. Yaitu Theta (dreaming) dan Delta (dreamless sleep). Artinya hal apa yang diyakini oleh seseorang sebelum  bertindak merupakan “buah” dari alam bawah sadar mereka. Kalau kita menyakini hal yang akan kita lakukan itu sulit tentu halnya akan sama sulitnya. Lain bila kita menyakini ini mudah, tentu hasilnya akan berjalan dengan mulus. Kemampuan menggabungkan kelima frekuensi ini harus seimbang, dipakai dengan tepat tidak boleh hanya 1 atau 2 saja karena tidak akan menghasilkan hasil yang maksimal.

Seseorang yang hanya fokus ke frekuensi Theta (dreaming) dan Alfa (relaxing) akan membuatnya tidak bisa fokus karena tidak ada Bheta (work) yang mereka lakukan. Seseorang yang berbicara dengan tubuh yang bergerak-gerak, pandangan mata yang tidak menyapu audiens secara menyeluruh tentu juga menjadi contoh konkrit bila seseorang tidak sadar. Di semua kelas yang selalu kami adakan ketidaksadaran dalam mengendalikan bahasa tubuh memang sangat terlihat. Ketika ditanya “kamu sadar tidak ketika bicara tangan kamu menunjuk ke audiens? Kamu sadar tidak kaki kiri kamu tadi bergerak tanda kamu gugup?” Semua jawaban dari peserta mengatakan mereka memang tidak sadar. Nah ketidaksadaran ini kalau kita lihat dari pikiran manusia terjadi atas frekuensi-frekuensi yang dikeluarkan oleh Theta maupun Delta. 2 frekuensi ini yang ada dipikiran manusia membuat kita tidak sadar. Lebih parahnya ketika frekuensi Delta terlalu besar, tentu tidak akan dapat berbicara dengan menarik. Misalnya karena kita punya mental yang negatif, mental yang tertutup (mental block) dalam diri kita, apa yang kita katakan dalam diri kita (self talk) akan mempengaruhi kesadaran kita, apa yang kita katakan dalam diri itu akan langsung membentuk fodasi yang semakin membesar, mengakar dan semakin sulit dilepaskan.

Kita perlu teknik khusus yaitu mulai memandang semua hal yang kita alami adalah baik, untuk sebuah kebaikan, semua hal positif, mengganti kata masalah dengan tantangan dll adalah sebuah teknik sederhana untuk mengantikan kata negatif menjadi kata positif. Semua bisa kita lakukan kalau kita mau, mau artinya berpikiran terbuka melihat sebuah perubahan yang begitu cepat menjadi sebuah rencana kerja yang harus dilakukan dengan terus menerus dengan mengaktifkan frekuensi Alfa, Bheta dan menghasilkan Gamma. Ketika berbicara dengan lawan bicara yang negatif kita akan melihat ekspresi wajah yang tidak menyenangkan, tekanan suara yang mengintimidasi, apalagi mendengar pilihan katanya. Bila semua orang frustasi dan stress tentu siapapun tidak akan dapat berkomunikasi dengan menarik. Boro-boro akan membuat orang bertindak, melihatnya saja kita tidak selera.

Mengendalikan alam bawah sadar, subconscious adalah mandatory, semua orang mempunyai kekuatan yang sama dalam dirinya, siapapun mereka untuk menjadi versi terbaik dari dirinya. Kita harus membereskan alam bawah sadar kita untuk mempunyai  a positive fixed mindset sehingga dengan membereskan Delta, kita bisa memperbesar dreaming (Theta) dalam melihat hal positif yang akan kita dapatkan di hari ini dan esok. Asalkan diimbangi dengan perasaan relax (Alfa) dan terus bekerja (bheta) sehingga kita dapat menjadi pribadi yang menarik (Gamma) membuat orang suka dengan kita.

Bayangkan betapa menyenangkan perjalanan yang akan kita lewati ini. Uraian yang saya sampaikan, juga saya bagikan kepada para leader di kelas itu. Mereka bisa lebih sadar untuk mengaktifkan frekuansi yang mana dalam membuat kemampuan komunikasi menjadi lebih tepat. Karena kita semua memiliki hak dan kompetensi yang sama untuk bahagia dan memaksimalkan kesadaran dan ketidaksadaran kita untuk terus menjadi yang terbaik dengan tombol-tombol frekuensi Gamma, Bheta, Alfa, Theta dan juga Delta.

Kemampuan menulis meningkatkan cara berpikir kritis

Oleh Erwin Parengkuan

Dalam sebuah tulisan di surat kabar kemarin, seorang pengamat politik mengungkapkan pendapat dan analisanya tentang pernyataan Presiden atas kedua Menterinya yang kedapatan telah melakukan praktik korupsi. Dalam tulisan tersebut dibahas oleh sang penulis, kalimat yang telah diucapkan Presiden dan uraian tentang maknanya. Bahwa sebuah pernyataan yang disampaikan oleh seorang pemimpin negara atau kita sebagai seorang komunikator akan menjadi penilaian publik terhadap pesan yang disampaikan, mulai dari ; maknanya, tekanan dalam pesan tersebut, serta peran seseorang dalam menyampaikan sebuah pesan. Terlepas dari penyataan Presiden, bahwa pesan tersebut dinilai kuat atau tidak berdasarkan jabatan seseorang, bahwa saya telah menangkap sebuah pemaparan yang jelas tentang komunikasi publik harus disampaikan selaras dengan fungsi kerja seseorang. Seperti judul artikel ini bahwa kemampuan seseorang berkomunikasi tentu tidak terlepas dari seberapa Ia mahir  berbicara berdasarkan jumlah kosa kata, wawasan yang dimiliki dan peran yang diembannya.

Layaknya sebuah bahan baku yang banyak, itulah analogi yang dapat dipakai untuk memperjelas kemampuan seseorang dalam berbicara. Semakin banyak kosa kata yang dimiliki seseorang tentu akan meningkatkan kemampuan berbicara yang lebih lancar, dan harusnya hal itu juga diikuti dengan berkembangnya pengetahuan dan wawasan yang terus ditingkatkan. Latihan, latihan dan latihan menulis adalah kuncinya yang akan meningkatkan bobot dari tulisan kita dan semua itu berasal dari kemampuan berpikir secara kritis yang telah dimiliki seseorang. Ketika paragraf pertama dari tulisan ini anda baca, anda juga telah mendapatkan sebuah pandangan tentang sebuah makna dari sebuah tulisan.

Bagaimana cara kita untuk dapat terus meningkatkan kemampuan menulis yang berdampak kepada kemampuan otak berpikir secara kritis? Tentu perlu kecepatan berpikir dan kreativitas, dimana semua yang kita miliki terdapat dalam sebuah mesin kecerdasan yaitu otak kiri, otak kanan, limbik kiri dan limbik kanan. Untuk itu, mulailah sekarang meningkatkan kemampuan menulis anda, dari apa yang kita pikirkan dalam menjawab pertanyaan atau penyampaikan gagasan melalui email, WA, dll. Pikirkan terlebih dahulu tujuan yang akan kita sampaikan, apakah sifatnya hanya sebagai pengingat, atau mempertajam kata/pesan kepada seseorang melalui tulisan yang kita buat dan apa peran kita dalam menuliskan pernyataan tersebut? Analisa lagi apakah tulisan yang telah anda buat sesuai dengan gaya kita? Sesuai dengan tugas/jabatan kita?

Beberapa panduan berikut ini bisa membantu anda menyelaraskan bobot tulisan anda. 5 tahap yang dapat anda lakukan:

1. Observing

Amati tulisan yang sudah anda buat, lihat beberapa gaya penulisan yang bertebaran dimana-mana dan tentukan gaya tulisan anda. Serius, jenaka? Monoton? Carilah contoh sebuah gaya tulisan yang paling anda suka. Pilih beberapa penulis favorit anda.

2. Habits of mind

Cerna cara pola pikir anda sehari-hari. Apakah selalu mudah menerima sebuah pesan? kritis? Skeptis?

3. Questioning strategies of writing

Setelah anda mulai menulis, tanyakan apakah ini yang memang benar ingin anda paparkan dalam tulisan anda? Apa “irama” dalam tulisan itu.

4. Use evidence

Tentu menggunakan data terbaru yang valid untuk memperkuat bobot tulisan anda. Jangan biarkan asumsi mempengaruhi tulisan anda.

5. Evaluate thinking and writing goals

Setelah selesai anda membuat tulisan itu, baca kembali, cerna apakah sudah benar-benar tepat.

Sayapun terus menganalisa tulisan-tulisan yang telah saya buat, dengan kelima proses diatas. Dengan banyaknya buku yang saya baca dari berbagai macam disiplin ilmu, saya akan kembali mencerna semua kata yang saya dapatkan kemudian saya biarkan “mengambang” di kepala saya untuk beberapa saat, baru kemudian saya buat plotnya untuk siap menulis. Semakin rutin saya menulis, semakin cepat jari-jari saya menari-nari di tuts Ipad saya. Proses ini terus mengalir dari apa yang ada dalam pikiran dan gagasan ke gaya tulisan saya. Biasanya, artikel seperti ini membutuhkan waktu penulisan selama 30 menit, kalau dulu saya memerlukan waktu sampai 2 jam lebih. Buat saya ketika artikel telah selesai, cukup 3x membaca ulang sebelum dipublikasi. Proses yang saya lewati ini, telah menciptakan sebuah formula yang menjadi panduan saya tidak hanya dalam menulis tapi juga dalam berbicara di depan publik.

Strategi 4 Tipe Kepribadian dengan 5 Indra Manusia di dalam komunikasi

Oleh Erwin Parengkuan

Seperti yang saya tulis dalam buku Understandinc People, Strategi Taktis Berkomunikasi Berbagai Kepribadian-2017, Gramedia Pustaka Utama, di dalam komunikasi bahwa ada 4 tipe kepribadian manusia berdasarkan teori Hippocrates dengan 4 istilah yang saya rubah menjadi: Gesit, Kuat, Rinci dan Damai. Gesit adalah pribadi yang terbuka, extrovert feeling, ceplas-ceplos dan menyukai tren terbaru, sedangkan si Kuat adalah extrovert thinking, yang pemberani, pantang mundur dan to the point cenderung kaku. Si Rinci adalah introvert thinking yang sangat cinta keindahan dan detail, berbicara sangat terstruktur dan cenderung panjang, dan yang terakhir, si Damai yang cinta ketenangan, hidupnya sangat normatif, anti konfrontasi dan introvert feeling.

Keempat kepribadian ini, pada dasarnya ada dalam diri setiap orang, tergantung urutannya. Contohnya saya urutan kepribadian adalah: Gesit, Rinci, Damai dan Kuat. Dalam kurun waktu tertentu, berdasarkan pekerjaan dan lingkungan urutan ini bisa berubah dan tentu berdampak dalam kemampuan seseorang berinteraksi. Sesuai judul tulisan saya di atas bahwa ke empat tipe kepribadian ini sangat berhubungan dengan 5 indera kita, pengelihatan, pendengaran, rasa/kinestetik, penciuman dan pengecap. Contoh dalam memilih makanan, si Gesit akan tertarik oleh sesuatu dengan tampilan menarik, unik dan kekinian, sedangkan si Rinci akan sangat memilih berdasarkan rasa yang tepat dan penyajian yang sempurna, si Kuat tidak mementingkan semua yang diminati oleh si Gesit dan si Rinci, buatnya makanan yang penting mengenyangkan, sudah cukup. Dan si Damai, apapun makanannya rasa menurut mereka hanya ada 2 yaitu enak dan enak banget. Itu baru urusan makanan, belum yang lain.

Bagaimana dengan Indera pengelihatan yang memberikan dampak besar pada kesan pertama yang bekerja di bawah 8 detik? Si Kuat menginginkan seseorang yang dijumpainya meyakinkan, cara berdiri yang PD, suara yang lantang. Bila si Rinci menginginkan penampilan seseorang harus rapih, profesional, sepatu bersih, dan dokumen lengkap. Bila di Gesit menginginkan gaya komunikasi yang terbuka, penampilan harus trendy, suara berirama, dan sangat dinamis. Sedangkan si Damai tidak menginginkan sesuatu yang berlebihan, penampilan sesuai sudah cukup, suara tidak berlebihan, suasana yang tenang itu yang akan membuat mereka nyaman. Sedangkan untuk si Gesit dan Damai, yang feeling, menginginkan semua yang anda sampaikan berdasarkan feeling bukan logika berpikir. Kebalikannya buat yang thinking seperti si kuat dan rinci, sangat mengutamakan logika berpikir, analisa, dan data yang kuat dan jelas.

Dari penjelasan saya di atas, sudah sangat jelas, bahwa kita dengan tendensi kepribadian yang dimiliki akan menggunakan pengukuran kepribadian ini dengan Indera yang paling besar pengaruhnya untuk kita. Bila orang yang kita jumpai masuk kategori Feeling, maka yang tepat adalah memasukkan unsur yang sama feeling/rasa juga kepada mereka, dengan pilihan makanan yang sesuai, tempat pertemuan yang sesuai, gaya yang sesuai dengan yang mereka minati. Akan sangat bermasalah bagi mereka yang tidak memperdulikan analisa/mapping seperti ini, seseorang dipastikan akan gagal dalam membangun relasi bila kita lalai melakukan mapping dan profiling dengan lawan bicara. Contoh lainnya, Indera penciuman buat si Kuat menjadi tidak penting, juga buat si damai, tapi bagi si Gesit ruangan harus punya aroma tertentu, begitupun dengan si Rinci yang akan memikirkan aroma terapi yang di sesuaikan dengan suasana siang atau malam.  

Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan melakukan sesi coaching dengan CEO perusahaan yang usia beliau mirip-mirip dengan saya, sangat thinking, campuran di Kuat, Rinci, Gesit dan Damai. Saya sudah investigasi profilenya dan mendengarkan banyak informasi dari pihak internal perusahaan tersebut. Ketika sesi di mulai saya memintanya untuk mengisi form assessment test kepribadian. Ketika beliau mengisi, saya pun sudah mengukur urutan kepribadiannya, yang kemudian hasilnya tepat seperti analisa saya. Sesi berjalan banyak diskusi dan semua memang merujuk pada analisa berpikir beliau yang sangat kuat dan detail, terkadang terjadi argumentasi dan saya menjawabnya dengan data terbaru yang saya miliki. Bila saya tidak melakukan maping yang benar dengan investigasi, bisa dipastikan saya akan mengalami kegagalan dalam sesi tersebut. Ketika terjadi argumentasi, saya tahu, tidak boleh menggunakan feeling/kinestetik ketika berhubungan dengan figur seperti ini. Suara lebih saya naikkan, bahasa tubuh harus tegak dan meyakinkan untuk dapat “di beli” olehnya. Jadi tulisan saya kali ini, ingin mengingatkan anda bahwa ketika kita menjadi relasi dengan siapapun, pentingnya juga mempelajari peta lawan bicara, tidak hanya kepribadiannya semata, urutan kepribadiannya, termasuk mengetahui indera mana yang paling utama menjadi perhatian mereka, sehingga interaksi kita dengan mereka menjadi sejalan, selaras dan dapat memberikan dampak positif seperti yang kita harapkan, ini adalah jurus kunci sebuah strategi sukses berkomunikasi. Sayapun setelah sesi coaching berakhir sangat senang karena merasa sukses “menaklukkan” coachee saya yang kaku nan penuh wawasan, ketika sesi berakhir beliau bertanya kepada saya “sudah berapa buku yang kamu baca?”   

Confidence is a must

Oleh Erwin Parengkuan

Pengalaman bertemu banyak individu yang sukses akan menambah “jam terbang” kita agar lebih berpengetahuan lagi yang tentunya akan membuat kita lebih percaya diri. Kemarin saya menjalankan sesi training dengan sebuah direktorat di Kementerian RI, dalam sesi lunch break, seorang pejabat yang membuka sesi pagi tadi, menghampiri dan duduk menemeni kami makan siang. Beliau bercerita tentang pengalamannya belum lama ini dalam sebuah penilaian untuk naik jabatan, dimana harus mengikuti sesi interview akan inovasi apa yang akan dilakukan agar “lolos” naik jabatan. Si bapak kemudian bertanya kepada anaknya di rumah yang sedang menempuh pendidikan akhir di sebuah Universitas Negeri bergengsi di negeri ini, Ia bertanya tentang ide apa yang harus disampaikan pada wawancara nanti berhubungan dengan inovasi. Seperti yang kita ketahui generasi Millenial sangat kaya akan informasi dan mereka sangat peka teknologi. Kemudian si anak menyarankan “fokus ke inovasi digital karena semua bisnis apapun harus pro digital karena sesuai dengan tuntutan zaman.”  Sang ayah kemudian mengangguk dan setuju akan usulan sang anak.

Ketika si bapak meneruskan cerita ini kepada kami, dengan cara bercerita yang berapi-api menguraikan momen ketika beliau di interview. Gagasan dari si anak kemudian dielaborasi sesuai dengan kemampuannya yang PD. Si bapak bercerita bahwa pihak penilai adalah mereka yang masih minim pengalaman dan tidak tahu tentang pengetahuan dan bidang yang mereka tanyakan kepada pihak yang lebih senior. Mereka hanya bertanya dari ide awal dan kembali menggali ide tersebut. Si bapak meyampaikan jurus rahasianya yaitu fokus kepada konten yang Ia sampaikan dan percaya diri, sehingga ketika pertanyaan berputar kepada penjelasan yang sudah diucapkan, Ia tidak “blunder” dan tetap fokus dan teguh dengan penjelasannya. Karena dalam setiap teknik interview, atau investigasi, ketika kita mulai mengarang, pertanyaan incaran pasti membidik kata-kata anda yang “mengambang” dan menjadi sasaran empuk. Mereka akan menyimpulkan bahwa anda mengarang dan tidak konsisten dengan jawaban dan tentu penilaian akan menjadi buruk, akhirnya kita tidak akan lulus dalam sesi interview/investigasi yang berlangsung.

Pengalaman cerita di atas dapat disimpulkan bahwa percaya diri adalah kunci dari semua aspek dalam kehidupan ini. Bayangkan kalau si bapak tidak PD, apa jadinya dengan kenaikan jabatan beliau yang nanti sejak lama? Hasil interview lolos dan si bapak naik jabatan, sedangkan beberapa rekannya harus kembali mengulang proses interview sampai beberapa kali karena ketidakyakinan mereka dalam berkomunikasi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari pihak penyelidik.

Persis dengan banyak tips yang sering kami sampaikan dalam setiap training bahwa “mapping” peta lawan bicara menjadi esensial, kepada siapa kita harus bicara, siapa mereka, bagaimana pengalaman mereka apakah setara dengan kita atau di bawah kita. Tentu mengambil cerita di atas, si bapak sudah melakukan PR-nya dengan baik, bahwa yang mewawancarainya tidak menguasai bidang yang dilakukan, mereka hanya menggali dan kembali “memutar” pertanyaan untuk mengetahui apakah jawaban betul dikuasai. Berbeda dengan kalau kita harus menaklukkan lawan bicara, apalagi dengan jumlah orang yang  “isi kepala” dan pengetahuannya berbeda-beda. Sehingga, pengetahuan anda mutlak harus di atas mereka. Jadi, pastikan sudah ada pemahaman yang dalam, data yang dan pengetahuan terbaru yang harus kita berikan kepada mereka. Kalau tidak anda harus bersiap diremahkan oleh audiens anda.

Kemarin juga dalam sesi online dengan para “agen perubahan” di sebuah Kementerian yang berbeda, seseorang bertanya kepada saya “bagaimana kita bisa menguasai sebuah materi yang baru kita terima, sementara waktunya sangat terbatas?” saya menjawab tidak ada cara lain selain memang harus mempelajari dengan melakukan riset, walaupun waktu kita terbatas. Untuk itu, kita dapat terlebih dahulu bertanya tentang konteks/tujuan pembicaraan yang akan dibahas. Dari info minim itu, walau kita belum mendapatkan pokok detail pembicaraannya apa, tapi kita harus “nyolong start” dengan segera mencarinya secara general. Misalnya topik tentang perubahan iklim, nah, dari situ anda bisa segera mencari isu-isu yang terjadi saat ini secara general, ambil fokus utama yang menjadi problem, dan mengkurasi info yang ada dengan data terbaru serta mencari alternatif solusi dari isu yang ada, sehingga ketika waktu datang, info yang sudah kita miliki kemudian akan memperkaya wawasan, walau dengan limitasi waktu, tapi kita sudah tahu dari hasil observasi yang sudah kita lakukan jauh hari sebelumnya. Intinya inisiatif untuk bergerak duluan. Kita memang harus lebih cerdas dari audiens kita, itu harga mati yang akan menaikkan “bobot” kita sebagai juru bicara. Kalau kita anda malas, tidak ada inisiatif tentu  akan “mati kutu” menghadapi audiens yang lebih berpengetahuan dari anda.  

Your 168 Hours

Oleh Erwin Parengkuan

Kalau dihitung, ini adalah jam dalam satu minggu dimiliki oleh semua orang. Mulai dari anak kecil dengan waktu bermain yang lebih banyak, beranjak dewasa dan meniti karir. Dimana waktu bermain kita lantas menjadi sedikit karena kita mengejar kehidupan yang baik. Semua itu kita jalani hingga detik ini, baik secara sadar maupun tidak sadar. Saya terkadang kagum dengan mereka yang dapat membagi waktunya dengan sangat amat efisien. Sebut saja orang-orang dengan jabatan yang tinggi. Seperti Presiden, seperti para pemimpin itu dengan jadwal yang padat detik demi detik, terkadang meeting dilakukan sambil berjalan kesuatu tempat, untuk pindah ke lokasi lain. Tiba-tiba ada disatu tempat, kemudian berpindah lagi, bertemu masyarakat, dan masih punya waktu dengan dirinya, keluarga dan  -bersenang-senang dengan teman inti mereka.

Sebagian dari anda mungkin tahu juga kalau saya memiliki saluran berbagi tidak hanya di website ini, tapi juga secara audio di podcast yang sudah saya jalankan rutin selama 2 tahun ini. Saya terkadang berniat untuk menghentikan podcast saya, tapi dari kegiatan yang saya lakukan, ada saja cerita baru yang muncul kemudian saya bagikan serentak secara audio, tulisan termasuk berbagi ke kelas online maupun offline.

Kita semua memiliki waktu yang sama, tapi terkadang tidak pandai membaginya. Orang yang sibuk tentu pandai akan hal ini, tapi orang yang banyak waktu luang, sepertinya tidak pandai dalam membagi waktu. Kegiatan rutin yang dilakukan setiap orang hendaknya membantu mereka untuk punya management waktu yang baik. Karena kegiatan yang kita lakukan akan terus berulang sampai kapanpun, tapi rupanya tidak semua orang bisa efesien soal waktu, termasuk ketika seseorang berbicara terkadang banyak sekali pemilihan kata yang berulang, atau salah dalam menempatkan/memilih kata, sehingga pesan kemudian menjadi bias.

Buku yang belum lama saya baca, bercerita tentang waktu. Bagaimana kita bisa lebih disiplin dalam menjalankan dan memaknainya. Saya berharap tulisan ini dapat membantu anda untuk lebih pandai dalam membagi waktu yang kita miliki.

Ada 5 hal penting yang disampaikan dalam buku yang ditulis oleh Harry M. Jesen Kraemer, Jr dalam bukunya “From Values to Action” berikut pembagian waktu yang ia sampaikan:

Career : 50 jam (30%)

Family : 28 jam (17%)

Spirituality : 11 jam (7%)

Health/sleep : 55 jam (32%)

Fun/recreation/reading : 14 jam (8%)

Social responsibility/making difference : 10 jam (6%)

Ketika membaca buku ini saya lantas merefleksikan diri terhadap waktu yang saya jalani, apakah semua uraian tersebut sudah saya jalani. Soal berapa jumlah waktu/prosentase-nya tentu berpulang kepada setiap orang akan fungsi dan tujuan hidupnya. Saya sangat sependapat dengan penulis yang mengatakan bahwa hidup ini harus life balance, bukan work life balance, karena 6 faktor ini bila kita jalankan akan membuat kita berdaya, berdampak kepada diri dan orang lain. Tidak hanya sibuk mengejar karir.

Setiap kita memang mempunyai prioritas yang berbeda-beda, tapi sejatinya setiap orang harus memaksimalkan dirinya seperti yang kita tahu tentang teori dari Abraham Maslow “The Hierarchy of Needs.” Semakin tinggi tingkat kedewasaan seseorang dalam menjalankan karirnya harus dapat hidup seimbang. Tidak ada karir tentu tidak ada pendapatan, terlalu sibuk bekerja tentu akan tidak ada interaksi sosial dengan lingkungan luar, tidak membaca buku, tentu tidak ada wawasan baru, tidak tidur dan olah raga tentu fungsi tubuh akan melemah sejalan dengan bertambahnya usia dan sulit berkonsentrasi. Tidak punya waktu dengan keluarga tentu tidak ada support system yang akan memotivasi kita dan membuat kita bahagia.

Kalau pengalaman saya, selalu memaksakan diri untuk terus bertumbuh dengan 6 komponen diatas. Saya merasakan bahwa semakin hari semakin baik dalam membagi waktu saya. Ini adalah tantangan yang harus kita jalankan, walau kebayakan orang memang punya tendensi malas dan penunda. Itu tidak ada dalam kamus saya. Seperti contoh, bila satu hari tidak ada kegiatan dalam bekerja. Saya akan tetap membuat jadwal harian, crowd my calender! Pagi hari buat saya jam 5 adalah waktu terbaik saya untuk menjalankan rutinitas berolah raga dan baca buku. Mungkin 1 hal yang perlu saya tambahkan dari 6 komponen diatas adalah makan sehat. Cheating day hanya weekend. Menjadi lengkap bila semua hal ini kita jalankan dengan kesadaran diri tinggi untuk terus bertumbuh dan kemudian memberikan dampak positif bagi orang lain/lingkungan. Seperti yang dilakukan oleh orang-orang sukses mereka kemudian peduli kepada orang lain, menjadi dermawan dan merasakan hidup ini menjadi berguna dan juga bermanfaat. Life balance adalah kata yang tepat untuk kita saat ini dan di waktu mendatang.

Tahun 1999 & Tahun 2009 Dalam konteks Komunikasi

Oleh Erwin Parengkuan

Apa yang telah terjadi dalam satu dekade ternyata bisa memberikan dampak sangat signifikan dalam kehidupan kita khususnya dalam dunia komunikasi. Tahun 1999, ketika handphone berubah fungsi menjadi smartphone dari penemuan muktahir Blackberry (BB), ternyata telah membuat kebiasaan baru manusia untuk lebih mobile dan sangat “attached.” Waktu itu, kita melihat banyak orang yang tidak bisa lepas dengan HP mereka, ketika “demam BB” menjangkiti para penggunanya, terutama mereka yang sudah bekerja, semua orang sangat sibuk BB-an. Ada yang terbentur kaca lobby kantor karena terlalu fokus dengan gawai mereka, bahkan ketika meeting mereka malah tidak terkoneksi dengan peserta meeting, dan muncul anekdot tentang BB “mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.” Teknologi kemudian semakin berkembang, seiring dengan munculnya media sosial/beragam pertemanan virtual, mulai dari friendster, FB, IG, Path, Linkedin, dll telah mengakibatkan perubahan sangat besar dalam interaksi manusia dulu dan sekarang, termasuk menurunnya “attention spending” dari setiap individu.

1 dekade kemudian, seorang figur pemimpin baru dengan gaya komunikasi yang terbuka, lentur, dan fasih yaitu Presiden ke 44 Amerika Serikat Barrack Obama hadir. Sangat kontras dengan gaya pemimpin zaman Orde Baru yang kaku dan otoriter. Telah membuat semua pemimpin (di dunia ini) termasuk para bos di dunia korporasi ingin meniru gaya komunikasi seperti Obama. Semua orang menginginkan gaya komunikasi yang lebih terbuka seperti-nya, apalagi kedekatan secara emosi antara masyarakat Indonesia dengan Obama yang pernah melewati masa kecil di Jakarta, suka t bakso, sate dan nasi goreng membuat kita kemudian secara sadar mengindolakannya.

Tentu tidak mudah untuk merubah kebiasaan setiap orang, perlu kesadaran tinggi dan perlu “effort” yang besar. Merubah mental, sudut pandang, intonasi suara, pilihan kata-kata yang lebih “sejuk” dan bahasa tubuh yang terbuka dll adalah rentetan pekerjaan rumah yang harus dilakukan. Apalagi dalam seni berbicara, seseorang dituntut untuk dapat mengendalikan dirinya, agar menyelaraskan gaya komunikasi yang inginkan banyak orang, bukan sebaliknya.

10 tahun adalah rentan waktu yang telah merubah gaya komunikasi dunia modern saat ini. Dulu tidak ada warganet/netizen, dulu tidak ada orang-orang yang nyinyir, tapi sekarang dengan tekanan yang begitu besar dari media sosial membuat kita melihat banyak perkataan yang tidak pantas bersliweran di banyak timeline. Seseorang yang lebih muda bisa berkomentar buruk kepada mereka yang lebih tua, walaupun tidak saling kenal. Semua orang seperti lantas sangat ringan berceloteh, mengeluarkan isi perutnya. Sedangkan, contoh figur terbaik komunikator yang ulung macam Obama, hanya menjadi sebuah figur yang ideal.

Dulu, ketika Charles Darwin di abad 18 mengemukan tentang teori evolusi manusia dan menyebutkan tentang survival of the fittest, bahwa hanya mereka yang adaptif yang dapat bertahan hidup. Teori ini menjadi nyata dan sangat relevan setelah Covid-19 memporak-porandakan tatanan ekonomi dunia saat ini. Kita yang bertahan hingga saat ini adalah yang adaptif. Sehingga untuk semua orang, dituntut untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman, lebih terbuka akan input, terus bertumbuh dan bertumbuh.

>Pada awal bulan Maret 2021, perusahaan raksasa Microsoft membeberkan sebuah fakta bahwa negara kita memiliki tingkat komunikasi yang sangat buruk di media sosial. Dulu kita dikenal sebagai bangsa besar yang ramah, tapi sekarang yang paling julid (nyiyir/kasar). Dalam rentan waktu 10 tahun-pun, jati diri kita sebagai bangsa yang baik perlahan mulai runtuh, diikuti dengan komentar yang julid di situs media sosial Microsoft membuat perusahaan ini harus menutup aksesnya untuk sementara atas derasnya komen yang negatif atas fakta yang mereka sampaikan. Mendengar berita ini, saya pribadi sangat malu dan miris. Kemana masyarakat Indonesia yang ramah itu?

Mari kita bentuk (lagi) gaya komunikasi yang santun, ramah dan meyenangkan. Termasuk bagi para pemimpin di perusahaan agar dapat meninggalkan gaya otoriter mereka dan menciptakan garis yang horizontal bukan vertikal, agar setara dan selaras dengan siapapun. Mari kita juga tinggalkan ego dalam berkomunikasi, tinggalkan juga masalah kita ketika berbicara kepada siapapun. Agar dengan mudah kita bisa fokus kepada mereka yang kita ajak bicara. Ketika semua orang mempunyai kesadaran yang baik, tentu ini akan mengembalikan reputasi kita sebagai bangsa yang santun dan ramah. Mudah kok dijalankan.   

Acts of Service

Tidak ada satu manusia di dunia ini yang tidak suka dilayani. Ketika kita melayani lawan bicara kita, mereka merasa diistimewakan oleh kita dan kemudian relasi menjadi lebih erat. Dalam sebuah buku berjudul “Five Love Languages” karya Garry Chapman bahwa kita manusia mempunyai 5 bahasa cinta yang berbeda-beda. Salah satunya adalah Bahasa Pelayanan (acts of service). Buku ini sangat populer dan akan membantu setiap pembaca mengetahui bentuk cinta seperti apa yang diharapkan oleh lawan bicara kita/pasangan/anak/lawan bicara. Adapun 4 bahasa cinta lainnya adalah sentuhan, penghargaan, waktu dan hadiah. Buku ini diterbitkan di awal tahun 1992 dan sampai sekarang masih releven.

Saya akan fokus kepada judul tulisan ini, karena kita semua mempunyai tujuan yang sama untuk membangun sebuah hubungan yang harmonis, terlepas dari penjelasan 5 bahasa cinta diatas, tetap setiap orang ingin dilayani. Apalagi budaya Jawa yang sangat kental di Indonesia, dimana para leader yang masih bercokol di jajaran tinggi sebuah organisasi masih mengusung peninggalan budaya ini. Saya mengambil contoh dalam pekerjaan saya ketika salah seorang rekan yang merupakan pemimpin perusahaan berencana untuk menggunakan jasa kami untuk melatih para karyawannya, saya tidak serta merta memberikan tanggung jawab ini kepada team marketing di kantor. Karena saya yakin, rekan saya ini mempunyai ekspektasi keterlibatan saya dalam rencana kerjasama ini.

Kerap kali kita dihadapkan dengan situasi seperti ini, kapan kita harus melayani lawan bicara dll? Apakah lebih baik kita delegasikan kepada sekertaris, team atau orang lain? Ketika sebuah hubungan sudah terjalin baik seperti antara saya dengan rekan tersebut, sejatikan saya-lah orang yang paling tepat untuk melayani mereka. Ketika akhirnya pelatihan sudah berakhir-pun karena saya yang diminta untuk mengajarkan teamnya, saya langsung melakukan kontak dan menyampaikan penilaian saya atas proses belajar mengajar di kelas online tersebut. Rekan saya sangat puas dan team saya segera akan mengirimkan report hasil pelatihan tersebut. Jadi ada proporsi kapan bagian saya melayani, dibagian yang mana? Kapan team yang melakukan pelayanan sesuai dengan fungsi masing-masing.

Kita tentu tahu, banyak leader yang sukses mereka memiliki values yang sangat banyak. Values adalah nilai teguh/prinsip yang dipegang oleh seseorang dalam menjalankan kehidupan dan pekerjaannya. Dari dulu saya sangat disiplin, ini adalah contoh sebuah values, bila ada janji atau ucapan kepada orang lain saya selalu akan berusaha semaksimal mungkin untuk menepatinya dan bila ada hal yang tidak sesuai, sayapun orang pertama yang akan mengabarkan mereka. Begitupun mungkin hal ini dilakukan oleh anda. Semakin disiplin kita, semakin baik performa diri seseorang. Saya jadi ingat perkataan seseorang kepada saya ketika saya baru memulai karir “apapun yang kamu lakukan pasti akan sukses asalkan kamu turun tangan langsung.” Perkataan ini sangat menancap dalam ingatan saya dan menjadi salah satu values yang saya pegang erat-erat hingga saat ini. Tantangan dan godaan/distraksi yang saat ini kita hadapi memang begitu banyak, sehingga terkadang kita luput melakukan pelayanan. Seperti banyak orang berjanji ingin mengabarkan kita, tapi mereka tidak melakukannya. Atau yang paling mudah ketika kita berkomunikasi via tulisan ketika mereka membacanya, mereka tidak merespon kita. Ini adalah contoh kecil dari sebuah respon/pelayanan yang krusial menurut saya. Bila kita fokus kepada hal utama yang harus dijalankan, kita pasti akan bekerja lebih efektif. Sejatinya kita-lah yang paling bertanggung jawab untuk membuat diri kita lebih baik dari waktu ke waktu. Bila kita gagal, tidak ada (juga) satu orangpun yang akan lebih baik memotivasi diri kita selain kita sendiri. Kita memang dituntut untuk semakin hari semakin matang dan bijaksana. Kapan saatnya kita melakukan pelayanan yang tepat kepada orang lain, juga pelayanan kepada diri sendiri. Kapan kita harus lebih fokus kepada orang lain dan mengukur mana perhatian kecil,sedang dan besar yang penting harus dilakukan. Analisa ini menjadi mutlak menurut pendapat saya, agar hubungan harmonis dengan siapapun terbangun dengan perhatian dan pelayanan yang kita berikan menjadi berharga buat semua pihak, dan tidak berat sebelah. Disamping itu kita juga harus pandai dalam melihat hal-hal mikro maupun makro, agar kita tidak terjebak melayani hal yang kecil tapi ternyata itu tidak memberikan dampak yang signifikan dalam membangun relasi kita dengan siapapun.  

The impactful engagement through business

Oleh Fernando Edo


Bad PR. Iya, belakangan kata-kata ini menjadi alasan salah satu merk lokal menjadi viral. Namun kalau diperhatikan, bukan kali ini saja sebuah perusahaan mengambil Langkah yang kurang tepat dalam berkomunikasi entah itu untuk internal atau pesan tersebut untuk dikonsumsi orang banyak. Padahal mungkin maksud dan tujuan perusahaan adalah untuk menjaga kredibilitas suatu perusahaan, tapi sayangnya itu menjadi boomerang.


Di era sosial media ini, istilah pembeli adalah raja harus direvisi karena menurut saya selain kita layani pembeli dengan maksimal, kita juga harus bisa membina hubungan dengan mereka. Jadi saya ganti dengan Pembeli adalah Teman Baik. Layani mereka dengan tulus, jujurlah jika ada kendala dalam sebuah proses bisnis kita. Persaingan di semua industri bisnis semakin ketat, semua menawarkan harga yang terjangkau dan produk atau jasa yang terpercaya. Namun,menurut penulis ada satu kata kunci dalam berbisnis, Bagaimana anda sebagai penjual berkomunikasi dengan pembeli.

Beberapa waktu lalu, saya membeli earphone di toko online dan cukup terkejut Ketika membuka kemasan ada secarik kertas dengan bunyi seperti ini :


Dear Kakak, terimakasih sudah berbelanja di toko aku semoga barang yang kakak beli awet ya. Oh Ya, adik sangat berharap kakak dapat memberikan bintang 5 jika barang yang kakak pesan sesuai dengan pesanan ya. Salam hangat, adik tercinta.


Wow, sebuah cara dalam mencari pelanggan setia bisa dilakukan dalam hal yang sederhana.

Saya juga teringat, beberapa tahun lalu makan di hotel bintang 5 dengan konsep “fine dining”.

Pada saat meminta waiters untuk menaburkan lada di potongan daging saya, ternyata yang ditaburkan adalah garam dan itu memang cukup merusak rasa dari makanan saya. Saya kembali memanggil waitersnya dan ia meminta maaf lalu diganti dengan yang baru. Selang beberapa menit, datang Manager Restaurant Kembali meminta maaf dan memberikan potongan harga atas kesalahan tim nya sambil menanyakan apakah ada yang kurang dari segi pelayanan dan makanan?. Jika memang ada sebuah kesalahan, akui dan minta maaf lah dengan tulus. Pembeli pasti akan dengan senang hati memaafkan dan melupakan kesalahan penjual apalagi disertai dengan potongan harga.


Berkaca dari pengalaman itu, sebuah masukan atau saran adalah hal sangat berharga dari sebuah bisnis. Karena sebagai penjual, harus memiliki cara pandang seorang pembeli dan bukan mempertahankan sudut pandang lalu seakan sebuah saran menjadi citra buruk bagi suatu bisnis. Sebuah bisnis dapat berdiri dan bertahan karena pelanggan yang selalu datang dan sudah memiliki ikatan emosi dengan sebuah layanan yang prima. Apakah anda sudah memiliki cara berkomunikasi yang baik dalam berbisnis ? apakah anda sudah melayani pelanggan anda layaknya “one of your best friend” ?

Experiential Learning for a Life

Oleh Erwin Parengkuan

Setiap lini kehidupan ini adalah sebuah pembelajaran dan memudahkan seseorang untuk terus belajar, tidak heran sebutan pengalaman adalah guru terbaik selalu menjadi pengingat kita. Dalam buku yang sedang saya baca, mengikuti anjuran untuk terus bertumbuh, buku dengan judul sama dengan artikel ini, dimana saya baru membaca 1 bab yang panjang dengan berbagai macam teori pembelajaran akan saya sampaikan dan tentunya menambahkan dengan apa yang saya pahami dan pelajari dari kehidupan ini, dengan deretan tugas dan pekerjaan yang saya lakoni hingga saat ini.

Beberapa teori yang ada dalam buku yang ditulis dengan sempurna oleh David A. Kolb, seorang pendidik, cendikiawan dan peneliti yang sudah memiliki 50 tahun pengalaman, menjabarkan dalam buku ini bahwa 3 point penting tentang sebuah experiential learning mulai dari: pendidikan, pekerjaan dan pengembangan pribadi. Ketika kita memiliki 3 fundamental diatas, kita akan mudah menjalankan proses pembelajaran ini. Banyak sekali teori dengan pendekatan yang berbeda yang dipaparkan dalam buku ini oleh para peneliti/pendidik dari abad yang berbeda-beda. John Dewey mengatakan pendidikan adalah fondasi terpenting: experiental education, William James mengatakan tentang the state of mind, pure experience, yang terbebas dari pemahaman konseptual yang dimiliki seseorang, Mary Parker menambahkan unsur kreativitas yang harus dimiliki seseorang the law of relation, Kurt Lewin mengatakan unsur konsep perhitungan topography, berdasarkan kebutuhan, tujuan, memori, lingkungan, hambatan dan jalur hidup yang akan dilewati seseorang, termasuk Carl Jung dengan teori modern dan radikal mengatakan bahwa proses yang dilewati seseorang sesuai impian dan ketidaksadaran melihat simbol-simbol yang ada, individu yang terintegasi untuk sebuah imaginasi yang aktif, self talk, untuk proses yang diinginkan, dan beberapa peneliti yang lahir di abad 18, termasuk salah satu peneliti terakhir di tahun 1960-an Carl Roger mengatakan tentang self worth.

Begitu banyak pemaparan dan info yang dapat kita ambil untuk tujuan memanfaatkan kehidupan ini menjadi menguntungkan kita. Tenggoklah ke belakang, saat ini dan lihatlah jauh kedepan yang sudah kita lewati bersama, dapatkan, maknai, dan mengambil keuntungan dari semua peristiwa dalam hidup ini. Dalam salah satu pemaparan diatas, disebutkan bagaimana kita mengaktivasi rasa dan logika. Saya sangat sependapat akan hal itu. Membuat semua teori yang sangat logis dan masuk akal (di era teori tersebut) pada akhirnya kita harus pandai-pandai menyimpulkan dengan konteks relevansi, alias mana yang akan kita ambil adalah hanya yang paling relevan untuk dijalankan di saat ini. Semudah membagi teori/penelitian tersebut menjadi 2 bagian besar tentang RASA dan LOGIKA. Atau dalam salah satu buku yang saya tulis tentang komunikasi bahwa kata-kata yang kita utarakan harus mengandung 2 unsur feeling dan thinking secara berkesinambungan.

Saya sendiri sekarang lebih mendisiplikan diri untuk menambah durasi waktu dalam membaca buku yang sudah saya beli dan menunggu giliran untuk dibaca. Dan seperti yang disampaikan oleh David A. Kolb, 3 komponen yang diatas sudah saya sampaikan akan memberikan banyak manfaat dari pembelajaran yang kita lewati dalam kehidupan ini. Memaknai hidup dengan terus belajar akan otomatis membuat kita terus semangat menyambut pagi. Deretan kegiatan yang sudah direncanakan juga merupakan jalur tujuan hidup yang sudah kita rancang, kalau belum ada, saatnya untuk dibuat. Kapan waktu berekspresimen dengan tugas dan pekerjaan kita, tentang personal development kita, menghargai diri, bobot apa yang akan kita terus tingkatkan untuk terus mengasah otak dan diintegrasikan dengan lingkungan terdekat, keluarga, pasangan, anak, rekan kerja, dan sosial adalah sebuah kesadaran utama yang harus terus kita bangun.

Kapan waktu terbaik menggunakan feeling, thinking dan menggabungkan keduanya dalam kehidupan yang kita jalani, menghargai waktu yang kita miliki dan membuatnya menjadi bermakna. Buat saya itu adalah sebuah keharusan. Seperti sebuah kutipan dalam buku tersebut yang mengatakan: No pleasure, no learning. No learning, no pleasure.

WhatsApp Online Chat Support