Phasellus nec mauris sit amet dolor interdum molestie

Phasellus nec mauris sit amet dolor interdum molestie

Duis pharetra ligula vel ipsum faucibus, id rhoncus lectus vestibulum. Nunc tempus, odio vel ornare congue, risus lectus adipiscing metus, sit amet tempus justo nulla in ligula. Nullam commodo pretium convallis. Donec id quam arcu. Fusce et tortor non est eleifend tristique ac in est. Vivamus vel neque vitae odio imperdiet dapibus. Integer et tincidunt tortor, id malesuada massa.

Fusce lorem libero, imperdiet in metus at, facilisis lacinia felis. Duis egestas mauris nec nisl euismod, vel laoreet massa commodo. Etiam vehicula eros in ipsum cursus, sed commodo arcu mollis. Suspendisse lacinia, justo non gravida ornare, est enim interdum nunc, quis gravida dolor dolor eget nisl. Donec varius nibh nisi, ut fringilla nisi tempor quis. Suspendisse tempus lacinia risus, nec congue felis luctus nec. Ut in porta mauris. Donec scelerisque ante erat, id ullamcorper erat semper at. Nulla ornare, velit nec sagittis sagittis, massa dolor dictum risus, in tempor arcu est non purus. Aliquam eu rutrum lacus. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas. Nulla vel cursus lorem, at porttitor nibh. Etiam at consequat arcu, nec mollis enim. Maecenas a pharetra eros. In sodales, augue gravida vehicula viverra, purus leo ultricies arcu, a lacinia libero ipsum vitae mauris. Quisque facilisis, mauris vel elementum lobortis, felis magna hendrerit nisl, quis bibendum nunc erat in metus.

Etiam tincidunt, augue non hendrerit vehicula, leo dui ornare odio, in dapibus sapien nisl id eros. Sed posuere est et neque accumsan vulputate. Integer tincidunt dui metus, sit amet interdum magna adipiscing ac. Pellentesque sapien odio, venenatis in rhoncus vel, lacinia quis diam. Proin non neque ac nisl tempus accumsan non ac mi. Fusce est sem, imperdiet eget libero non, cursus imperdiet ligula. Duis faucibus urna quis porta ultrices.

Pellentesque facilisis feugiat lorem, nec interdum neque iaculis id. Vestibulum non lacus nec nisi molestie convallis ut sit amet ante. In lobortis nunc id erat tincidunt, ut pulvinar tortor interdum. Phasellus eu pellentesque massa, et cursus ante. Aenean venenatis non felis id porta. Duis sed imperdiet sapien, at placerat nisl. Integer sollicitudin ac ipsum at blandit.

Confidence is a must

Oleh Erwin Parengkuan

Pengalaman bertemu banyak individu yang sukses akan menambah “jam terbang” kita agar lebih berpengetahuan lagi yang tentunya akan membuat kita lebih percaya diri. Kemarin saya menjalankan sesi training dengan sebuah direktorat di Kementerian RI, dalam sesi lunch break, seorang pejabat yang membuka sesi pagi tadi, menghampiri dan duduk menemeni kami makan siang. Beliau bercerita tentang pengalamannya belum lama ini dalam sebuah penilaian untuk naik jabatan, dimana harus mengikuti sesi interview akan inovasi apa yang akan dilakukan agar “lolos” naik jabatan. Si bapak kemudian bertanya kepada anaknya di rumah yang sedang menempuh pendidikan akhir di sebuah Universitas Negeri bergengsi di negeri ini, Ia bertanya tentang ide apa yang harus disampaikan pada wawancara nanti berhubungan dengan inovasi. Seperti yang kita ketahui generasi Millenial sangat kaya akan informasi dan mereka sangat peka teknologi. Kemudian si anak menyarankan “fokus ke inovasi digital karena semua bisnis apapun harus pro digital karena sesuai dengan tuntutan zaman.”  Sang ayah kemudian mengangguk dan setuju akan usulan sang anak.

Ketika si bapak meneruskan cerita ini kepada kami, dengan cara bercerita yang berapi-api menguraikan momen ketika beliau di interview. Gagasan dari si anak kemudian dielaborasi sesuai dengan kemampuannya yang PD. Si bapak bercerita bahwa pihak penilai adalah mereka yang masih minim pengalaman dan tidak tahu tentang pengetahuan dan bidang yang mereka tanyakan kepada pihak yang lebih senior. Mereka hanya bertanya dari ide awal dan kembali menggali ide tersebut. Si bapak meyampaikan jurus rahasianya yaitu fokus kepada konten yang Ia sampaikan dan percaya diri, sehingga ketika pertanyaan berputar kepada penjelasan yang sudah diucapkan, Ia tidak “blunder” dan tetap fokus dan teguh dengan penjelasannya. Karena dalam setiap teknik interview, atau investigasi, ketika kita mulai mengarang, pertanyaan incaran pasti membidik kata-kata anda yang “mengambang” dan menjadi sasaran empuk. Mereka akan menyimpulkan bahwa anda mengarang dan tidak konsisten dengan jawaban dan tentu penilaian akan menjadi buruk, akhirnya kita tidak akan lulus dalam sesi interview/investigasi yang berlangsung.

Pengalaman cerita di atas dapat disimpulkan bahwa percaya diri adalah kunci dari semua aspek dalam kehidupan ini. Bayangkan kalau si bapak tidak PD, apa jadinya dengan kenaikan jabatan beliau yang nanti sejak lama? Hasil interview lolos dan si bapak naik jabatan, sedangkan beberapa rekannya harus kembali mengulang proses interview sampai beberapa kali karena ketidakyakinan mereka dalam berkomunikasi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari pihak penyelidik.

Persis dengan banyak tips yang sering kami sampaikan dalam setiap training bahwa “mapping” peta lawan bicara menjadi esensial, kepada siapa kita harus bicara, siapa mereka, bagaimana pengalaman mereka apakah setara dengan kita atau di bawah kita. Tentu mengambil cerita di atas, si bapak sudah melakukan PR-nya dengan baik, bahwa yang mewawancarainya tidak menguasai bidang yang dilakukan, mereka hanya menggali dan kembali “memutar” pertanyaan untuk mengetahui apakah jawaban betul dikuasai. Berbeda dengan kalau kita harus menaklukkan lawan bicara, apalagi dengan jumlah orang yang  “isi kepala” dan pengetahuannya berbeda-beda. Sehingga, pengetahuan anda mutlak harus di atas mereka. Jadi, pastikan sudah ada pemahaman yang dalam, data yang dan pengetahuan terbaru yang harus kita berikan kepada mereka. Kalau tidak anda harus bersiap diremahkan oleh audiens anda.

Kemarin juga dalam sesi online dengan para “agen perubahan” di sebuah Kementerian yang berbeda, seseorang bertanya kepada saya “bagaimana kita bisa menguasai sebuah materi yang baru kita terima, sementara waktunya sangat terbatas?” saya menjawab tidak ada cara lain selain memang harus mempelajari dengan melakukan riset, walaupun waktu kita terbatas. Untuk itu, kita dapat terlebih dahulu bertanya tentang konteks/tujuan pembicaraan yang akan dibahas. Dari info minim itu, walau kita belum mendapatkan pokok detail pembicaraannya apa, tapi kita harus “nyolong start” dengan segera mencarinya secara general. Misalnya topik tentang perubahan iklim, nah, dari situ anda bisa segera mencari isu-isu yang terjadi saat ini secara general, ambil fokus utama yang menjadi problem, dan mengkurasi info yang ada dengan data terbaru serta mencari alternatif solusi dari isu yang ada, sehingga ketika waktu datang, info yang sudah kita miliki kemudian akan memperkaya wawasan, walau dengan limitasi waktu, tapi kita sudah tahu dari hasil observasi yang sudah kita lakukan jauh hari sebelumnya. Intinya inisiatif untuk bergerak duluan. Kita memang harus lebih cerdas dari audiens kita, itu harga mati yang akan menaikkan “bobot” kita sebagai juru bicara. Kalau kita anda malas, tidak ada inisiatif tentu  akan “mati kutu” menghadapi audiens yang lebih berpengetahuan dari anda.  

Your 168 Hours

Oleh Erwin Parengkuan

Kalau dihitung, ini adalah jam dalam satu minggu dimiliki oleh semua orang. Mulai dari anak kecil dengan waktu bermain yang lebih banyak, beranjak dewasa dan meniti karir. Dimana waktu bermain kita lantas menjadi sedikit karena kita mengejar kehidupan yang baik. Semua itu kita jalani hingga detik ini, baik secara sadar maupun tidak sadar. Saya terkadang kagum dengan mereka yang dapat membagi waktunya dengan sangat amat efisien. Sebut saja orang-orang dengan jabatan yang tinggi. Seperti Presiden, seperti para pemimpin itu dengan jadwal yang padat detik demi detik, terkadang meeting dilakukan sambil berjalan kesuatu tempat, untuk pindah ke lokasi lain. Tiba-tiba ada disatu tempat, kemudian berpindah lagi, bertemu masyarakat, dan masih punya waktu dengan dirinya, keluarga dan  -bersenang-senang dengan teman inti mereka.

Sebagian dari anda mungkin tahu juga kalau saya memiliki saluran berbagi tidak hanya di website ini, tapi juga secara audio di podcast yang sudah saya jalankan rutin selama 2 tahun ini. Saya terkadang berniat untuk menghentikan podcast saya, tapi dari kegiatan yang saya lakukan, ada saja cerita baru yang muncul kemudian saya bagikan serentak secara audio, tulisan termasuk berbagi ke kelas online maupun offline.

Kita semua memiliki waktu yang sama, tapi terkadang tidak pandai membaginya. Orang yang sibuk tentu pandai akan hal ini, tapi orang yang banyak waktu luang, sepertinya tidak pandai dalam membagi waktu. Kegiatan rutin yang dilakukan setiap orang hendaknya membantu mereka untuk punya management waktu yang baik. Karena kegiatan yang kita lakukan akan terus berulang sampai kapanpun, tapi rupanya tidak semua orang bisa efesien soal waktu, termasuk ketika seseorang berbicara terkadang banyak sekali pemilihan kata yang berulang, atau salah dalam menempatkan/memilih kata, sehingga pesan kemudian menjadi bias.

Buku yang belum lama saya baca, bercerita tentang waktu. Bagaimana kita bisa lebih disiplin dalam menjalankan dan memaknainya. Saya berharap tulisan ini dapat membantu anda untuk lebih pandai dalam membagi waktu yang kita miliki.

Ada 5 hal penting yang disampaikan dalam buku yang ditulis oleh Harry M. Jesen Kraemer, Jr dalam bukunya “From Values to Action” berikut pembagian waktu yang ia sampaikan:

Career : 50 jam (30%)

Family : 28 jam (17%)

Spirituality : 11 jam (7%)

Health/sleep : 55 jam (32%)

Fun/recreation/reading : 14 jam (8%)

Social responsibility/making difference : 10 jam (6%)

Ketika membaca buku ini saya lantas merefleksikan diri terhadap waktu yang saya jalani, apakah semua uraian tersebut sudah saya jalani. Soal berapa jumlah waktu/prosentase-nya tentu berpulang kepada setiap orang akan fungsi dan tujuan hidupnya. Saya sangat sependapat dengan penulis yang mengatakan bahwa hidup ini harus life balance, bukan work life balance, karena 6 faktor ini bila kita jalankan akan membuat kita berdaya, berdampak kepada diri dan orang lain. Tidak hanya sibuk mengejar karir.

Setiap kita memang mempunyai prioritas yang berbeda-beda, tapi sejatinya setiap orang harus memaksimalkan dirinya seperti yang kita tahu tentang teori dari Abraham Maslow “The Hierarchy of Needs.” Semakin tinggi tingkat kedewasaan seseorang dalam menjalankan karirnya harus dapat hidup seimbang. Tidak ada karir tentu tidak ada pendapatan, terlalu sibuk bekerja tentu akan tidak ada interaksi sosial dengan lingkungan luar, tidak membaca buku, tentu tidak ada wawasan baru, tidak tidur dan olah raga tentu fungsi tubuh akan melemah sejalan dengan bertambahnya usia dan sulit berkonsentrasi. Tidak punya waktu dengan keluarga tentu tidak ada support system yang akan memotivasi kita dan membuat kita bahagia.

Kalau pengalaman saya, selalu memaksakan diri untuk terus bertumbuh dengan 6 komponen diatas. Saya merasakan bahwa semakin hari semakin baik dalam membagi waktu saya. Ini adalah tantangan yang harus kita jalankan, walau kebayakan orang memang punya tendensi malas dan penunda. Itu tidak ada dalam kamus saya. Seperti contoh, bila satu hari tidak ada kegiatan dalam bekerja. Saya akan tetap membuat jadwal harian, crowd my calender! Pagi hari buat saya jam 5 adalah waktu terbaik saya untuk menjalankan rutinitas berolah raga dan baca buku. Mungkin 1 hal yang perlu saya tambahkan dari 6 komponen diatas adalah makan sehat. Cheating day hanya weekend. Menjadi lengkap bila semua hal ini kita jalankan dengan kesadaran diri tinggi untuk terus bertumbuh dan kemudian memberikan dampak positif bagi orang lain/lingkungan. Seperti yang dilakukan oleh orang-orang sukses mereka kemudian peduli kepada orang lain, menjadi dermawan dan merasakan hidup ini menjadi berguna dan juga bermanfaat. Life balance adalah kata yang tepat untuk kita saat ini dan di waktu mendatang.

Tahun 1999 & Tahun 2009 Dalam konteks Komunikasi

Oleh Erwin Parengkuan

Apa yang telah terjadi dalam satu dekade ternyata bisa memberikan dampak sangat signifikan dalam kehidupan kita khususnya dalam dunia komunikasi. Tahun 1999, ketika handphone berubah fungsi menjadi smartphone dari penemuan muktahir Blackberry (BB), ternyata telah membuat kebiasaan baru manusia untuk lebih mobile dan sangat “attached.” Waktu itu, kita melihat banyak orang yang tidak bisa lepas dengan HP mereka, ketika “demam BB” menjangkiti para penggunanya, terutama mereka yang sudah bekerja, semua orang sangat sibuk BB-an. Ada yang terbentur kaca lobby kantor karena terlalu fokus dengan gawai mereka, bahkan ketika meeting mereka malah tidak terkoneksi dengan peserta meeting, dan muncul anekdot tentang BB “mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.” Teknologi kemudian semakin berkembang, seiring dengan munculnya media sosial/beragam pertemanan virtual, mulai dari friendster, FB, IG, Path, Linkedin, dll telah mengakibatkan perubahan sangat besar dalam interaksi manusia dulu dan sekarang, termasuk menurunnya “attention spending” dari setiap individu.

1 dekade kemudian, seorang figur pemimpin baru dengan gaya komunikasi yang terbuka, lentur, dan fasih yaitu Presiden ke 44 Amerika Serikat Barrack Obama hadir. Sangat kontras dengan gaya pemimpin zaman Orde Baru yang kaku dan otoriter. Telah membuat semua pemimpin (di dunia ini) termasuk para bos di dunia korporasi ingin meniru gaya komunikasi seperti Obama. Semua orang menginginkan gaya komunikasi yang lebih terbuka seperti-nya, apalagi kedekatan secara emosi antara masyarakat Indonesia dengan Obama yang pernah melewati masa kecil di Jakarta, suka t bakso, sate dan nasi goreng membuat kita kemudian secara sadar mengindolakannya.

Tentu tidak mudah untuk merubah kebiasaan setiap orang, perlu kesadaran tinggi dan perlu “effort” yang besar. Merubah mental, sudut pandang, intonasi suara, pilihan kata-kata yang lebih “sejuk” dan bahasa tubuh yang terbuka dll adalah rentetan pekerjaan rumah yang harus dilakukan. Apalagi dalam seni berbicara, seseorang dituntut untuk dapat mengendalikan dirinya, agar menyelaraskan gaya komunikasi yang inginkan banyak orang, bukan sebaliknya.

10 tahun adalah rentan waktu yang telah merubah gaya komunikasi dunia modern saat ini. Dulu tidak ada warganet/netizen, dulu tidak ada orang-orang yang nyinyir, tapi sekarang dengan tekanan yang begitu besar dari media sosial membuat kita melihat banyak perkataan yang tidak pantas bersliweran di banyak timeline. Seseorang yang lebih muda bisa berkomentar buruk kepada mereka yang lebih tua, walaupun tidak saling kenal. Semua orang seperti lantas sangat ringan berceloteh, mengeluarkan isi perutnya. Sedangkan, contoh figur terbaik komunikator yang ulung macam Obama, hanya menjadi sebuah figur yang ideal.

Dulu, ketika Charles Darwin di abad 18 mengemukan tentang teori evolusi manusia dan menyebutkan tentang survival of the fittest, bahwa hanya mereka yang adaptif yang dapat bertahan hidup. Teori ini menjadi nyata dan sangat relevan setelah Covid-19 memporak-porandakan tatanan ekonomi dunia saat ini. Kita yang bertahan hingga saat ini adalah yang adaptif. Sehingga untuk semua orang, dituntut untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman, lebih terbuka akan input, terus bertumbuh dan bertumbuh.

>Pada awal bulan Maret 2021, perusahaan raksasa Microsoft membeberkan sebuah fakta bahwa negara kita memiliki tingkat komunikasi yang sangat buruk di media sosial. Dulu kita dikenal sebagai bangsa besar yang ramah, tapi sekarang yang paling julid (nyiyir/kasar). Dalam rentan waktu 10 tahun-pun, jati diri kita sebagai bangsa yang baik perlahan mulai runtuh, diikuti dengan komentar yang julid di situs media sosial Microsoft membuat perusahaan ini harus menutup aksesnya untuk sementara atas derasnya komen yang negatif atas fakta yang mereka sampaikan. Mendengar berita ini, saya pribadi sangat malu dan miris. Kemana masyarakat Indonesia yang ramah itu?

Mari kita bentuk (lagi) gaya komunikasi yang santun, ramah dan meyenangkan. Termasuk bagi para pemimpin di perusahaan agar dapat meninggalkan gaya otoriter mereka dan menciptakan garis yang horizontal bukan vertikal, agar setara dan selaras dengan siapapun. Mari kita juga tinggalkan ego dalam berkomunikasi, tinggalkan juga masalah kita ketika berbicara kepada siapapun. Agar dengan mudah kita bisa fokus kepada mereka yang kita ajak bicara. Ketika semua orang mempunyai kesadaran yang baik, tentu ini akan mengembalikan reputasi kita sebagai bangsa yang santun dan ramah. Mudah kok dijalankan.   

Acts of Service

Tidak ada satu manusia di dunia ini yang tidak suka dilayani. Ketika kita melayani lawan bicara kita, mereka merasa diistimewakan oleh kita dan kemudian relasi menjadi lebih erat. Dalam sebuah buku berjudul “Five Love Languages” karya Garry Chapman bahwa kita manusia mempunyai 5 bahasa cinta yang berbeda-beda. Salah satunya adalah Bahasa Pelayanan (acts of service). Buku ini sangat populer dan akan membantu setiap pembaca mengetahui bentuk cinta seperti apa yang diharapkan oleh lawan bicara kita/pasangan/anak/lawan bicara. Adapun 4 bahasa cinta lainnya adalah sentuhan, penghargaan, waktu dan hadiah. Buku ini diterbitkan di awal tahun 1992 dan sampai sekarang masih releven.

Saya akan fokus kepada judul tulisan ini, karena kita semua mempunyai tujuan yang sama untuk membangun sebuah hubungan yang harmonis, terlepas dari penjelasan 5 bahasa cinta diatas, tetap setiap orang ingin dilayani. Apalagi budaya Jawa yang sangat kental di Indonesia, dimana para leader yang masih bercokol di jajaran tinggi sebuah organisasi masih mengusung peninggalan budaya ini. Saya mengambil contoh dalam pekerjaan saya ketika salah seorang rekan yang merupakan pemimpin perusahaan berencana untuk menggunakan jasa kami untuk melatih para karyawannya, saya tidak serta merta memberikan tanggung jawab ini kepada team marketing di kantor. Karena saya yakin, rekan saya ini mempunyai ekspektasi keterlibatan saya dalam rencana kerjasama ini.

Kerap kali kita dihadapkan dengan situasi seperti ini, kapan kita harus melayani lawan bicara dll? Apakah lebih baik kita delegasikan kepada sekertaris, team atau orang lain? Ketika sebuah hubungan sudah terjalin baik seperti antara saya dengan rekan tersebut, sejatikan saya-lah orang yang paling tepat untuk melayani mereka. Ketika akhirnya pelatihan sudah berakhir-pun karena saya yang diminta untuk mengajarkan teamnya, saya langsung melakukan kontak dan menyampaikan penilaian saya atas proses belajar mengajar di kelas online tersebut. Rekan saya sangat puas dan team saya segera akan mengirimkan report hasil pelatihan tersebut. Jadi ada proporsi kapan bagian saya melayani, dibagian yang mana? Kapan team yang melakukan pelayanan sesuai dengan fungsi masing-masing.

Kita tentu tahu, banyak leader yang sukses mereka memiliki values yang sangat banyak. Values adalah nilai teguh/prinsip yang dipegang oleh seseorang dalam menjalankan kehidupan dan pekerjaannya. Dari dulu saya sangat disiplin, ini adalah contoh sebuah values, bila ada janji atau ucapan kepada orang lain saya selalu akan berusaha semaksimal mungkin untuk menepatinya dan bila ada hal yang tidak sesuai, sayapun orang pertama yang akan mengabarkan mereka. Begitupun mungkin hal ini dilakukan oleh anda. Semakin disiplin kita, semakin baik performa diri seseorang. Saya jadi ingat perkataan seseorang kepada saya ketika saya baru memulai karir “apapun yang kamu lakukan pasti akan sukses asalkan kamu turun tangan langsung.” Perkataan ini sangat menancap dalam ingatan saya dan menjadi salah satu values yang saya pegang erat-erat hingga saat ini. Tantangan dan godaan/distraksi yang saat ini kita hadapi memang begitu banyak, sehingga terkadang kita luput melakukan pelayanan. Seperti banyak orang berjanji ingin mengabarkan kita, tapi mereka tidak melakukannya. Atau yang paling mudah ketika kita berkomunikasi via tulisan ketika mereka membacanya, mereka tidak merespon kita. Ini adalah contoh kecil dari sebuah respon/pelayanan yang krusial menurut saya. Bila kita fokus kepada hal utama yang harus dijalankan, kita pasti akan bekerja lebih efektif. Sejatinya kita-lah yang paling bertanggung jawab untuk membuat diri kita lebih baik dari waktu ke waktu. Bila kita gagal, tidak ada (juga) satu orangpun yang akan lebih baik memotivasi diri kita selain kita sendiri. Kita memang dituntut untuk semakin hari semakin matang dan bijaksana. Kapan saatnya kita melakukan pelayanan yang tepat kepada orang lain, juga pelayanan kepada diri sendiri. Kapan kita harus lebih fokus kepada orang lain dan mengukur mana perhatian kecil,sedang dan besar yang penting harus dilakukan. Analisa ini menjadi mutlak menurut pendapat saya, agar hubungan harmonis dengan siapapun terbangun dengan perhatian dan pelayanan yang kita berikan menjadi berharga buat semua pihak, dan tidak berat sebelah. Disamping itu kita juga harus pandai dalam melihat hal-hal mikro maupun makro, agar kita tidak terjebak melayani hal yang kecil tapi ternyata itu tidak memberikan dampak yang signifikan dalam membangun relasi kita dengan siapapun.  

The impactful engagement through business

Oleh Fernando Edo


Bad PR. Iya, belakangan kata-kata ini menjadi alasan salah satu merk lokal menjadi viral. Namun kalau diperhatikan, bukan kali ini saja sebuah perusahaan mengambil Langkah yang kurang tepat dalam berkomunikasi entah itu untuk internal atau pesan tersebut untuk dikonsumsi orang banyak. Padahal mungkin maksud dan tujuan perusahaan adalah untuk menjaga kredibilitas suatu perusahaan, tapi sayangnya itu menjadi boomerang.


Di era sosial media ini, istilah pembeli adalah raja harus direvisi karena menurut saya selain kita layani pembeli dengan maksimal, kita juga harus bisa membina hubungan dengan mereka. Jadi saya ganti dengan Pembeli adalah Teman Baik. Layani mereka dengan tulus, jujurlah jika ada kendala dalam sebuah proses bisnis kita. Persaingan di semua industri bisnis semakin ketat, semua menawarkan harga yang terjangkau dan produk atau jasa yang terpercaya. Namun,menurut penulis ada satu kata kunci dalam berbisnis, Bagaimana anda sebagai penjual berkomunikasi dengan pembeli.

Beberapa waktu lalu, saya membeli earphone di toko online dan cukup terkejut Ketika membuka kemasan ada secarik kertas dengan bunyi seperti ini :


Dear Kakak, terimakasih sudah berbelanja di toko aku semoga barang yang kakak beli awet ya. Oh Ya, adik sangat berharap kakak dapat memberikan bintang 5 jika barang yang kakak pesan sesuai dengan pesanan ya. Salam hangat, adik tercinta.


Wow, sebuah cara dalam mencari pelanggan setia bisa dilakukan dalam hal yang sederhana.

Saya juga teringat, beberapa tahun lalu makan di hotel bintang 5 dengan konsep “fine dining”.

Pada saat meminta waiters untuk menaburkan lada di potongan daging saya, ternyata yang ditaburkan adalah garam dan itu memang cukup merusak rasa dari makanan saya. Saya kembali memanggil waitersnya dan ia meminta maaf lalu diganti dengan yang baru. Selang beberapa menit, datang Manager Restaurant Kembali meminta maaf dan memberikan potongan harga atas kesalahan tim nya sambil menanyakan apakah ada yang kurang dari segi pelayanan dan makanan?. Jika memang ada sebuah kesalahan, akui dan minta maaf lah dengan tulus. Pembeli pasti akan dengan senang hati memaafkan dan melupakan kesalahan penjual apalagi disertai dengan potongan harga.


Berkaca dari pengalaman itu, sebuah masukan atau saran adalah hal sangat berharga dari sebuah bisnis. Karena sebagai penjual, harus memiliki cara pandang seorang pembeli dan bukan mempertahankan sudut pandang lalu seakan sebuah saran menjadi citra buruk bagi suatu bisnis. Sebuah bisnis dapat berdiri dan bertahan karena pelanggan yang selalu datang dan sudah memiliki ikatan emosi dengan sebuah layanan yang prima. Apakah anda sudah memiliki cara berkomunikasi yang baik dalam berbisnis ? apakah anda sudah melayani pelanggan anda layaknya “one of your best friend” ?

Experiential Learning for a Life

Oleh Erwin Parengkuan

Setiap lini kehidupan ini adalah sebuah pembelajaran dan memudahkan seseorang untuk terus belajar, tidak heran sebutan pengalaman adalah guru terbaik selalu menjadi pengingat kita. Dalam buku yang sedang saya baca, mengikuti anjuran untuk terus bertumbuh, buku dengan judul sama dengan artikel ini, dimana saya baru membaca 1 bab yang panjang dengan berbagai macam teori pembelajaran akan saya sampaikan dan tentunya menambahkan dengan apa yang saya pahami dan pelajari dari kehidupan ini, dengan deretan tugas dan pekerjaan yang saya lakoni hingga saat ini.

Beberapa teori yang ada dalam buku yang ditulis dengan sempurna oleh David A. Kolb, seorang pendidik, cendikiawan dan peneliti yang sudah memiliki 50 tahun pengalaman, menjabarkan dalam buku ini bahwa 3 point penting tentang sebuah experiential learning mulai dari: pendidikan, pekerjaan dan pengembangan pribadi. Ketika kita memiliki 3 fundamental diatas, kita akan mudah menjalankan proses pembelajaran ini. Banyak sekali teori dengan pendekatan yang berbeda yang dipaparkan dalam buku ini oleh para peneliti/pendidik dari abad yang berbeda-beda. John Dewey mengatakan pendidikan adalah fondasi terpenting: experiental education, William James mengatakan tentang the state of mind, pure experience, yang terbebas dari pemahaman konseptual yang dimiliki seseorang, Mary Parker menambahkan unsur kreativitas yang harus dimiliki seseorang the law of relation, Kurt Lewin mengatakan unsur konsep perhitungan topography, berdasarkan kebutuhan, tujuan, memori, lingkungan, hambatan dan jalur hidup yang akan dilewati seseorang, termasuk Carl Jung dengan teori modern dan radikal mengatakan bahwa proses yang dilewati seseorang sesuai impian dan ketidaksadaran melihat simbol-simbol yang ada, individu yang terintegasi untuk sebuah imaginasi yang aktif, self talk, untuk proses yang diinginkan, dan beberapa peneliti yang lahir di abad 18, termasuk salah satu peneliti terakhir di tahun 1960-an Carl Roger mengatakan tentang self worth.

Begitu banyak pemaparan dan info yang dapat kita ambil untuk tujuan memanfaatkan kehidupan ini menjadi menguntungkan kita. Tenggoklah ke belakang, saat ini dan lihatlah jauh kedepan yang sudah kita lewati bersama, dapatkan, maknai, dan mengambil keuntungan dari semua peristiwa dalam hidup ini. Dalam salah satu pemaparan diatas, disebutkan bagaimana kita mengaktivasi rasa dan logika. Saya sangat sependapat akan hal itu. Membuat semua teori yang sangat logis dan masuk akal (di era teori tersebut) pada akhirnya kita harus pandai-pandai menyimpulkan dengan konteks relevansi, alias mana yang akan kita ambil adalah hanya yang paling relevan untuk dijalankan di saat ini. Semudah membagi teori/penelitian tersebut menjadi 2 bagian besar tentang RASA dan LOGIKA. Atau dalam salah satu buku yang saya tulis tentang komunikasi bahwa kata-kata yang kita utarakan harus mengandung 2 unsur feeling dan thinking secara berkesinambungan.

Saya sendiri sekarang lebih mendisiplikan diri untuk menambah durasi waktu dalam membaca buku yang sudah saya beli dan menunggu giliran untuk dibaca. Dan seperti yang disampaikan oleh David A. Kolb, 3 komponen yang diatas sudah saya sampaikan akan memberikan banyak manfaat dari pembelajaran yang kita lewati dalam kehidupan ini. Memaknai hidup dengan terus belajar akan otomatis membuat kita terus semangat menyambut pagi. Deretan kegiatan yang sudah direncanakan juga merupakan jalur tujuan hidup yang sudah kita rancang, kalau belum ada, saatnya untuk dibuat. Kapan waktu berekspresimen dengan tugas dan pekerjaan kita, tentang personal development kita, menghargai diri, bobot apa yang akan kita terus tingkatkan untuk terus mengasah otak dan diintegrasikan dengan lingkungan terdekat, keluarga, pasangan, anak, rekan kerja, dan sosial adalah sebuah kesadaran utama yang harus terus kita bangun.

Kapan waktu terbaik menggunakan feeling, thinking dan menggabungkan keduanya dalam kehidupan yang kita jalani, menghargai waktu yang kita miliki dan membuatnya menjadi bermakna. Buat saya itu adalah sebuah keharusan. Seperti sebuah kutipan dalam buku tersebut yang mengatakan: No pleasure, no learning. No learning, no pleasure.

Coming to our senses

Oleh Erwin Parengkuan

Ini judulnya ringan tapi bermakna dalam, kenapa karena tulisan saya ini akan bercerita tentang kita, tentang saya dan anda dan kita, tentu sebagai manusia dengan kelima indera yang kita miliki menjadi bagian penting dalam membangun sebuah hubungan. Indera Pengelihatan, Indera Pendengaran, Indera Perasa, Indera Penciuman dan Indera Pengecap. Kelima Indera ini saya sudah urutkan berdasarkan bagaimana kita berinterkasi dalam berkomunikasi. Dari kelima Indera ini, hanya 1 yang tidak kita gunakan, yaitu Indera Pengecap.

Mari kita mulai membahasnya, bicara soal Indera Pengelihatan, atau dalam komunikasi adalah Visual, cara manusia melihat tentu banyak berpengaruh dari mata, apa yang kita lihat dengan Indera yang memberikan dampak terbesar ini? bila kita melihat seseorang, tentu penampilan terlebih dahulu yang kita lihat sekaligus mengamati gerak-gerik tubuhnya. Bila penampilan kita umum, tentu kita tidak menonjol. Sekedar berpenampilan yang pantas dan sesuai buat saya itu sudah lebih dari cukup. Sedangkan bahasa tubuh seseorang yang kita amati akan membuat seseorang terlihat terbuka atau tertutup. Gerakan tubuh yang “sedikit” akan memberikan kesan yang berbeda dengan tubuh yang “ringan” dan rileks. Indera ini sekali lagi memberikan dampak terbesar dalam berkomunikasi. Seperti kita ketahui, kalau mengambil sebuah perumpamaan, film adalah sebuah contoh yang tepat. kenikmatan visual untuk mata kita sangat dimanjakan. Semakin jelas warna yang ditampilkan, akan menimbulkan kesan yang berbeda. Film dengan gambar yang tidak menarik, akan membuat mata kitapun lelah. Akhirnya menjadi tidak menarik mata.

Begitupun dengan Indera Pendengaran/auditory, dimana intonasi, tekanan suara yang kita dengar atau pancarkan akan memperkuat/memperlemah kesan seseorang. Telinga kita akan menangkap dengan jerih sebuah pesan. Apakah terdengar sesuai dengan yang terlihat? dan Indra Pengelihatan dan Indera Pendengaran akan senantiasa terus bersingungan. Lagi-lagi,  layaknya sebuah film dengan scoring music yang tepat menghasilkan efek sempurna dalam sebuah gambar. Indera Pendengaran berperan tidak terlalu besar dibandingkan dengan Indera Pengelihatan, dan kedua Indera ini menjadi penentu dalam dampaknya, akan tetapi paling mudah dilupakan. Misalnya tahun berlalu, kita tidak akan ingat visual dan auditory seseorang dibandingkan dengan Indera berikut ini.

Indera Perasa, kinesthetic begitu disebut, adalah Indera yang paling lama bertahan dalam ingatan kita. Artinya bila kita bicara? Apa yang kita rasakan? Takut? Senang? Gelisah? Tidak fokus? Terlalu bersemangat? Atau berlebihan? Indera Perasa ini yang akan tersimpan jauh lebih lama dalam diri setiap orang. Inipun termasuk strategi dalam membangun hubungan. Bagaimana kesan kita terhadap orang yang kita jumpai? Membangun hubungan memerlukan kemahiran dan keluwesan. Seperti memperlakukan siapapun yang kita jumpai seperti kawan kita, tentu kita akan tampil apa adanya tanpa dibuat-buat atau terpaksa, tentu kita akan sangat mudah membangunnya dan dengan sendirinya membuat sebuah relasi berjalan dengan natural. Kitapun sangat senang bertemu orang yang apa adanya “seperti warna asli-nya.” Buat saya, indera ini justru memegang peranan penting dalam interaksi/komunikasi umat di dunia ini apapun situasi maupun kondisi yang ada dalam hidup seseorang. Indera ini adalah “jitu” yang menjadi penentu kita dalam memilih perkawanan, dalam memilih hubungan. Bila kita sudah tidak “klop” lagi, tentu akan sangat sulit situasinya, dan seseorang akan memilih menghindar dari seseorang yang dianggap tidak membuat nyaman dirinya.

Sedangkan, Indera penciuman, menurut saya memegang peranan paling kecil dalam dampak berkomunikasi karena ini hanya melengkapi ketiga Indera yang baru kita dibahas. Bila kita wangi, atau tidak mengeluarkan bau menyengat dalam tubuh atau parfume yang kita kenakan, semua hubungan akan tepat dalam kondisinya.

7 Levels of Awareness

Sadar atau tidak sadar seseorang dalam berinteraksi/berkomunikasi memerlukan fondasi ini. Kemampuan mengendalikan diri yang sangat erat hubungannya dengan kata “Awareness.” Seberapa sadar kita ketika berbicara? Mengamati perubahan tekanan suara? Bahasa tubuh? Menangkap pesan dari lawan bicara? Yang akan menciptakan kemampuan membangun hubungan jangka panjang yang harmonis.  

Ketika mencari bahan untuk tulisan ini, saya menemukan sebuah 1 bentuk piramida dengan 7 level kesadaran manusia, yang saya kembangkan dan terjemahkan dengan pengalaman saya:

  1. Flight of Fight

Maksudnya adalah ketika kita menghadapi sebuah situasi, tingkat kesadaran seperti apa yang akan anda lakukan? Flight artinya ketika kita tidak tertarik, atau tidak berdaya, kecenderungannya akan meninggalkan situasi tersebut. Bila kebalikannya anda akan “Fight” artinya melawan dengan kondisi yang ada. Misalnya seseorang yang kita ajak bicara kemampuan dan keahliannya diatas kita, maka kita akan mencoba melawan diri dengan berusaha tetap memperhatikannya. Tapi ketika kita menyerah, itu artinya kita “Flight” tidak memperdulikan apa yang ia ucapkan dan tentu tingkat kesadaran ini menjadi paling rendah urutannya. Sama seperti insting hewan, melawan atau malah meninggalkan/kabur dari kondisi yang dialami.

  • Follow The Crowd

Kita pindah ke level berikutnya, yaitu kesadaran yang dilakukan sesuai dengan norma yang berlaku. Mengikuti aturan yang ada. Misalnya seseorang yang kita jumpai terlihat dominan, tapi kita tidak nyaman, dan kita tetap santun dan tidak melakukan tindakan yang di luar aturan main. Atau kata yang tepat yaitu “normatif” kita ikuti saja sikapnya, alias pasrah tanpa tindakan. Ini menurut saya sebuah kesadaran yang masih standart, belum ada tindakan yang menonjol yang kita lakukan. Hidup berjalan seperti apa adanya yang kita jalani. Tanpa perlawanan tanpa tindakan berarti.

  • Desire without Action

Level selanjutnya, yaitu kita sudah terpikir untuk melakukan sebuah tindakan,akan tetapi gagasan yang muncul dalam pikiran kita, hanya sebuah aspirasi. Kok rasanya susah dilakukan. It’s good to have, but I have no intention to take action. Nah level ini, mungkin cocok dengan istilah “omdo” sudah sadar tapi hanya sebatas omongan (ngomong doang). Menurut saya kebanyakan orangpun demikian, hanya berkomentar, berpikir tapi hanya sampai di situ saja. Akhirnya orang-orang seperti ini hanya menjadi pengamat/penonton dan tidak menghasilkan upaya apapun dalam kehidupannya termasuk interaksinya dengan orang lain. Misalnya anda sadar harus memulai pembicaraan terlebih dahulu dengan orang lain, tapi ketika situasi itu kita alami, kita malah diam, walau dalam pikiran sudah sadar untuk menyapa terlebih dahulu, tapi tidak ada kalimat yang keluar dari mulut anda, seperti “hallo pak/bu selamat pagi? Bagaimana kabarnya hari ini? Kemarin saya lihat di IG baru pindah rumah ya, bagaimana rumah barunya?”

  • Express Uniqueness

Nah, kesadaran ini akan membuat anda menjadi lebih menonjol dengan pemikiran yang sejalan dengan tindakan anda. Setiap manusia memang unik dan berbeda, penduduk dunia ini yang jumlahnya 7 Milyar lebih tidak ada satupun manusia yang mempunyai DNA yang sama. Ketika kita terkoneksi dengan lingkungan dan situasi, kita berani bicara dan menunjukkan siapa diri kita. Kondisi ini tentu sifatnya sangat individual. Terlepas dari ucapan dan tindakan kita apa tepat atau tidak, karena ini berpulang kepada setiap individu. Bisa saja kalau anda termasuk orang yang spontan tentu anda akan bicara bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan.

  • Give Self a Command and Keep It

Kesadaran selanjutnya adalah sebuah tindakan/ucapan yang terus menerus kita lakukan sehingga ini akan menciptakan sebuah ritme/pola dari semua yang kita jalani. Akhirnya kita menjadi terbiasa dengan ritme tersebut. Menjadi disiplin dengan apa yang kita jalani maupun miliki. Tapi apakah tindakan/ucapan yang kita lakukan itu benar atau tidak? Belum tentu jawabannya, karena kita harus meneruskan kesadaran kita sampai ke level teratas.

  • Real Learning

Kita mengenal istilah pengalaman adalah guru yang berharga dalam hidup ini. Dari pengalaman yang kita lalui, kesadaran apa yang timbul? Adakah “lesson learned” yang didapatkan? Bila kita reaktif dalam menjalani kehidupan ini? Apa hasil yang anda dapatkan?misalnya anda selalu berbicara dengan cepat (Level 4 dan 5) apakah impact yang didapatkan dengan berbicara cepat? Atau bertindak cepat? Adalah kesadaran itu timbul? Dan apa yang akan anda lakukan lebih baik? Banyak juga kita yang jarang melakukan “self evaluation.” Buat saya mengevaluasi diri harus dilakukan setiap saat, karena ini akan membuat kita menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Kesadaran level 6 ini menjadi rangkuman yang baik sesuai urutannya. Bila anda sudah sampai dititik ini, tentu referensi dan wawasan akan menuntun anda kearah yang jauh lebih baik/bertumbuh.

  • Respond vs React

Ini adalah level teratas di mana kita sudah bisa mengendalikan diri kita, kita sudah belajar dari pengalaman di level 6, kita sudah sadar mana dampak terbaik dari yang kita jalani, kita sudah melakukan analisa dan mengetahui lebih baik kita respond atau react? Misalnya ketika teman kita curhat dan bilang “aduh kenapa ya gue selalu gagal dalam percintaan?” Nah, kata apa yang akan anda sampaikan? Respon dengan kata yang bijak akan lebih baik daripada react. Karena react adalah hasil dari spontanitas yang muncul dan bisa menimbulkan kondisi yang tidak sesuai dengan harapan. Bila kita respon, kita akan mengambil napas sejenak, berpikir dan bertindak/berucap dari kesadaran penuh yang positif dan membangun hubungan yang harmonis dengan siapapun atau apapun yang kita jalani.

Saatnya semua orang memiliki tingkat kesadaran yang lebih baik, lebih sadar bukan reaktif seperti menyaksikan debat kandidat Presiden Amerika antara Trump dan Bidan kemarin, dimana keduanya sangat reaktif bukan responsif. Oh ya, dari pengalaman saya termasuk melihat banyak hal di pekerjaan, umur seseorang tentu tidak ada hubungannya dengan tingkat kematangan emosi seseorang. Selain menyangkut soal kultur, budaya, karakter, dan kepribadian, ini semua harus diselaraskan dengan tujuan hidup kita, kepada siapa kita bicara dan untuk apa kita ada di dunia ini?  Sadar penuh dengan level 7 adalah mandatori, terlepas berapapun usia kita.    

3 Kualitas Utama Sebagai Seorang Komunikator Ulung

Oleh Erwin Parengkuan

Dalam sebuah sesi online dengan beberapa leader belum lama ini, salah seorang leader mengeluh kehilangan kepribadian yang ia telah miliki dulu karena setelah disadari ternyata “tekanan” di kantor telah membuatnya menjadi pribadi yang berbeda. Ia lantas merenung dan mengungkapkan ini di depan forum online. Sedih juga saya mendengarkan kejujuran ceritanya. Saya membandingkan dengan diri saya, yang kok ringan-ringan aja menjalankan hidup, dan tetap menjadi apa adanya. Bukan karena saya bebas masalah, karena tidak ada satupun manusia di dunia ini yang bebas masalah. Selama kita masih membuka mata, ya tentu masalah akan datang silih berganti. Saya bisa menjadi apa adanya karena selalu mengingat ucapan mendiang ayah saya “selama kamu tidak buat salah, tidak menyakiti lawan bicara, jangan pernah kau takut anak!”

Ketika seseorang terlalu didera dengan masalah hidup, masalah pekerjaan, kita kemudian menjadi seperti robot, alias template seperti slides presentasi yang dapat diambil bebas dimana-mana. Sayang sekali ketika seseorang tidak memiliki kesadaran akan pertumbuhan diri. Tidak mempunyai kendali atas dirinya dan mengaturnya (self management). Jujur, makin kesini saya melihat banyak orang makin bermasalah dengan dirinya, kalau anda berdalih karena Covid, bukanya 7 milyar lebih manusia di dunia ini juga mengalami hal yang sama dengan anda? cemas, kuatir akan masa depan, bagaimana kalau tertular? bagaimana dengan pekerjaan saya, keluarga saya? itu hanya salah satu contoh yang saya sampaikan untuk membuka tulisan ini. Jawaban terbaik adalah kita semua harus memiliki kesadaran penuh seperti tema ulang tahun Talkinc kali ini “AM I Fully Awake?” Apakah anda juga sadar? Akan tujuan hidup? Karena semua orang bila memiliki kesadaran akan menentukan/mendapatkan jawaban: untuk apa saya hidup di dunia ini? Apa tujuannya? Apa yang saya inginkan? Ketika semua pertanyaan dapat anda jawab, anda akan menjadi Otentik apa adanya. Itulah kualitas pertama dari judul tulisan saya. Bila kita tidak otentik, tentu sulit dalam menjalani kehidupan ini. Kalau terlalu jaim, kita akan terjebak dalam sesuatu yang sangat umum dalam berkomunikasi, tidak ada yang membedakan kita dengan kebanyakan orang. Dan lawan bicara menginginkan anda menjadi pribadi yang otentik, bukan palsu, apalagi ada agenda terselubung!

Kualitas kedua yang mutlak setelah seseorang kembali menemukan dirinya dengan proses kontemplasi, selftalk, meditasi, relaksasi. Me time dll. Kita dapat melihat diri kita lebih komperhensif lagi, yaitu membangun hubungan dengan kata Relevant! Relevan artinya adalah memenuhi ekspektasi lawan bicara,sesuai dengan harapan mereka, tidak keluar jalur, memberikan jawaban yang dibutuhkan dan mengikuti kaidah etika yang berlaku (common sense and common ground). Seorang kawan bercerita kepada saya, tante tertuanya dalam sebuah acara kedukaan di kuburan, diminta untuk memberikan pidato kepada semua keluarga dan relasi yang datang. Sayangnya sang tante justru bukan bicara tentang kepergian kehilangan yang dialami keluarga, eh malah bicara tentang betapa bersyukurnya ia memiliki support system di bisnis yang ia jalankan, kebetulan beberapa support system yang ia maksud berada juga pada acara penguburan itu. Bukti ketika kita bisa bicara di depan publik, tidak serta merta setiap orang dapat menjadi releven. Kuncinya adalah analisa berpikir, kemampuan untuk membaca situasi yang ada ( common sense) dan menyampaikan narasi yang sesuai dengan ekspektasi lawan bicara. Makin banyak saya amati dalam setiap kelas, keadaan seperti ini terus bermunculan. Seorang leader yang membuka acara webinar kemarin-pun, bicara panjang lebar, sangat normatif, tidak ada insight dan sangat tidak relevan, kasian! Orang ini seperti asik sendiri didunianya tanpa menyadari apa yang terjadi dilingkungan dimana ia berada.

Kualitas terakhir adalah Connection. Nah ini memerlukan banyak latihan, setelah kita fokus kepada 2 kualitas penting diatas, sekarang saatnya belajar melatih diri dengan melihat dari “kacamata” lawan bicara, bukan dari sudut pandang kita. Karena hal itu pasti akan menjadi subjektif dan tidak dapat connected dengan lawan bicara. Latihan menurunkan ego ketika bicara adalah kuncinya, melihat dari sudut pandang mereka, akan apa yang mereka butuhkan. Tidak mendominasi pembicaraan, mendengarkan dengan kedua telinga anda, itu yang disebut seni membangun hubungan dengan active listening. If we could always stay connected with our audience you definitely will win their hearts. And again, in communication one thing to be remember, it’s not about you, it’s about them!

Online Chat WhatsApp