Phasellus nec mauris sit amet dolor interdum molestie

Phasellus nec mauris sit amet dolor interdum molestie

Duis pharetra ligula vel ipsum faucibus, id rhoncus lectus vestibulum. Nunc tempus, odio vel ornare congue, risus lectus adipiscing metus, sit amet tempus justo nulla in ligula. Nullam commodo pretium convallis. Donec id quam arcu. Fusce et tortor non est eleifend tristique ac in est. Vivamus vel neque vitae odio imperdiet dapibus. Integer et tincidunt tortor, id malesuada massa.

Fusce lorem libero, imperdiet in metus at, facilisis lacinia felis. Duis egestas mauris nec nisl euismod, vel laoreet massa commodo. Etiam vehicula eros in ipsum cursus, sed commodo arcu mollis. Suspendisse lacinia, justo non gravida ornare, est enim interdum nunc, quis gravida dolor dolor eget nisl. Donec varius nibh nisi, ut fringilla nisi tempor quis. Suspendisse tempus lacinia risus, nec congue felis luctus nec. Ut in porta mauris. Donec scelerisque ante erat, id ullamcorper erat semper at. Nulla ornare, velit nec sagittis sagittis, massa dolor dictum risus, in tempor arcu est non purus. Aliquam eu rutrum lacus. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas. Nulla vel cursus lorem, at porttitor nibh. Etiam at consequat arcu, nec mollis enim. Maecenas a pharetra eros. In sodales, augue gravida vehicula viverra, purus leo ultricies arcu, a lacinia libero ipsum vitae mauris. Quisque facilisis, mauris vel elementum lobortis, felis magna hendrerit nisl, quis bibendum nunc erat in metus.

Etiam tincidunt, augue non hendrerit vehicula, leo dui ornare odio, in dapibus sapien nisl id eros. Sed posuere est et neque accumsan vulputate. Integer tincidunt dui metus, sit amet interdum magna adipiscing ac. Pellentesque sapien odio, venenatis in rhoncus vel, lacinia quis diam. Proin non neque ac nisl tempus accumsan non ac mi. Fusce est sem, imperdiet eget libero non, cursus imperdiet ligula. Duis faucibus urna quis porta ultrices.

Pellentesque facilisis feugiat lorem, nec interdum neque iaculis id. Vestibulum non lacus nec nisi molestie convallis ut sit amet ante. In lobortis nunc id erat tincidunt, ut pulvinar tortor interdum. Phasellus eu pellentesque massa, et cursus ante. Aenean venenatis non felis id porta. Duis sed imperdiet sapien, at placerat nisl. Integer sollicitudin ac ipsum at blandit.

Who Said That The Boss Is Always Right?

Oleh Erwin Parengkuan

Dalam sebuah sesi training dengan C minus 1, sebutan untuk para leader yang menjalankan tugasnya dan melakukan report langsung kepada para jajaran direksi di sebuah perusahaan multi nasional, saya sangat terkejut dengan pertanyaan sebagian besar peserta “Bagaimana menjawab sebuah pertanyaan yang amazing?”. Contoh ketika mereka selesai melakukan pemaparan tentang rencana kerja, misalnya, sekonyong-konyong ada pertanyaan muncul dari bos mereka “ Bagaimana pendapatmu tentang inovasi ini dibanding negera lain?”

Saya kemudian mencatat semua pertanyaan mereka di flip chart tentang tantangan yang biasa dihadapi dalam berkomunikasi termasuk pertanyaan amazing itu. untuk menjawabnya di antara sesi berlangsung ataupun mereka akan menemukannya jawabannya sendiri dari materi yang kami sampaikan. Pada saat sesi pertama break, seorang leader menghampiri saya dan curhat tentang kondisi para atasan yang tidak boleh dibantah pertanyaannya dan mereka harus menjawab pertanyaan amazing itu dengan segera. Kalau tidak menjawab mereka dianggap tidak capable.

Saya merespon dengan memberikan ilustrasi menjawabnya menggunakan analogi atau kembali melakukan kelarifikasi dengan bertanya “Yang bapak/ibu maksud dengan pertanyaan seperti itu apa ya?” sang leader dengan cepat mengatakan “Kami tidak dizinkan untuk kembali bertanya maksud pertanyaan yang telah mereka lontarkan!”

Ketika tahun 2000 baru dimulai, ada satu jokes tentang aturan main di kantor, bos dan anak buahnya, yaitu: Rule no: 1. Boss is always right, rule no:2 If there is any mistakes, please go back to the rule no:1. Dulu anekdot ini sangat populer, menandakan hubungan yang vertikal antara atasan dan bawahan, macam penjajahan atau feodalisme yang terjadi pada hirarki perkantoran, dimana para anak buah dilarang keras untuk memiliki hak bersuara.

Bagaimana dengan sekarang? Apakah kondisi tersebut masih relevan di zaman yang sudah kolaboratif ini? Seperti, Ketika dikantor, saya ingin membuat sebuah acara outing, saya mempunyai pilihan lokasi tersendiri yang belum tentu cocok dengan anak-anak kantor saya yang rata-rata Z-ners dan Millenials (Y). Lalu, apa keputusan saya tidak boleh dibantah? Kami tetap melakukan voting untuk memilih tempat berdasarkan suara terbanyak. Kondisi seperti ini adalah kondisi yang diinginkan oleh para generasi Millenials dan Z yang vocal berbicara dan ingin didengar suaranya. menurut saya contoh kecil ini harus jadi budaya baru disetiap perusahaan tanpa terkecuali. Zaman sudah berganti, istilah asal bapak senang (juga) sudah tidak relevan lagi.

Ketika kami ingin membuat buku tentang pergesekkan budaya dan komunikasi antar generasi, terlihat banyak sekali values yang tidak sama antara satu generasi dengan yang lainnya. Contoh generasi Baby Boomers yang lahir antara tahun 1946-1964 dimana mereka sangat ingin terlibat dalam proses bisnis, menjadi berbeda dengan generasi X (1965-1979) yang pendobrak dan tidak suka sesuatu yang monoton. Sedangkan generasi Millenials (1980-1994) dan Z (1995-2015) yang saat ini menjadi sangat besar populasinya sekitar 50-70% menginginkan transparansi dalam dunia kerja dengan moto: bekerja sambil bermain. Tentu menjadi kontras bila kita liat bahwa para bos yang rata-rata datang dari generasi Boomers dengan moto hidup : work hard and harder, generasi X yaitu : work hard and play hard, dan yang muda (Y dan Z) adalah YOLO you only live once. Bayangkan kondisi “curhat” para leader ini dengan core values yang modern tetap saja masih mengadopsi gaya komunikasi gaya kolonial. Sangat tidak tepat.

Public Speaking “Mulai aja dulu!”

Oleh Fernanfo Edo

Di Masa pandemic, semua berlomba untuk hidup sehat dengan cara berolahraga dan mengkonsumsi makanan sehat. Saya termasuk yang ingin hidup sehat dengan berolahraga rutin. Karena saat PPKM tidak diperbolehkan keluar, saya menggantinya dengan olahraga di dalam rumah saya yang sangat strategis (wc, meja makan, kamar berdekatan) jadi saya mencoba untuk melakukan push-up. Hari pertama target saya adalah 30x pushup dalam 5 menit dan berhasil walaupun dengan muka biru. Hari Kedua saya merasa sakit di bagian dada dan tangan sehingga memutuskan untuk “break” sampai hari kelima. Lalu saya berpikir untuk me – “reset” intensitas push up dimulai dari 20 dan naik tiap minggunya secara konsisten. Di akhir bulan Agustus, Saya sudah berhasil Push-up sebanyak 140x dalam waktu 7 Menit tanpa “break”. Dan saya sadar ketika push-up ini menjadi satu kebiasaan, alam bawah sadar akan memerintahkan otak untuk harus melakukannya tanpa ada rasa beban.

Seperti Judul tulisan ini yang saya ambil dari tagline marketplace adalah mulai saja dulu dengan usaha yang sangat kecil. Seringkali setiap peserta di kelas selalu bertanya bagaimana untuk mahir dalam  Public Speaking atau ingin menjadi seorang pembawa acara di kantor. Itu semua bisa dimulai dari hal sederhana. Misal, Ajukan satu pertanyaan di setiap meeting jika anda terbiasa hanya menjadi “follower”.  Speak up and express your idea. Lalu mengajukan diri menjadi pembawa acara di acara internal kantor. Kebiasaan lah yang akan membuat anda menjadi mahir dalam satu spesifik keahlian yang anda inginkan.

Keluar dari Zona nyaman memang hal yang paling menantang. Tapi percaya, itu akan membuat anda menjadi pribadi yang Tangguh dan bisa beradaptasi di era yang penuh dengan ketidakpastian.

Yuk , Mulai aja dulu!

Kenali Dirimu Dalam Berbicara di Publik

Oleh Erwin Parengkuan

Sering kali kita melihat seseorang berbicara tidak menarik. Dari data dan pengamatan saya di kelas, 80% peserta baik tua, muda, berjabatan atau new bee (pendatang baru) di organisasinya, terjebak dengan gaya bicara yang umum/normatif. Mulai dari penampilan yang biasa saja artinya tidak rapi, rambut berantakan, baju kusut, bahasa tubuh yang tertutup, wajah yang takut bicara, belum lagi susunan kata-kata yang tidak berurutan dan tidak memberikan manfaat/informasi baru yang mereka sampaikan yang berakibat semua yang disampaikan kepada kita tidak menarik dan tidak ada yang baru. Belum lagi pemilihan kata yang tidak jelas/ambigu seperti penggunaan kata “saya mungkin ingin bercerita tentang pengalaman saya, yaitu…” Pengunaan kata “mungkin” adalah sebuah kata yang berarti belum pasti, sedangkan menyelipkan kata “mungkin” dikalimat di atas tadi tidak tepat karena ia justru akan menceritakan pengalamannya. Terkadang di kelas sayapun menghitung berapa kata “mungkin” yang terucap? Belum lagi banyak “ehmmm” “apa namanya-apa namanya” hal-hal seperti ini sangat banyak terjadi ketika seseorang berbicara dan belum menemukan kata-kata yang tepat untuk disampaikan.

Penjelasan saya barusan adalah deretan “pekerjaan rumah” yang harus mereka benahi sebelum seseorang siap berbicara; soal penampilan, bahasa tubuh, suara,dan kata-kata. Sedangkan, kalau dihitung dalam satu hari dimana waktu 24 jam setelah dipotong jam tidur, mandi, makan dst kita masih punya lebih dari 8 jam untuk berkomunikasi bahkan lebih. Berkomunikasi yang kita lakukan, entah itu secara langsung, melalui media social (tertulis), atau berkomunikasi dengan diri sendiri. Layaknya seorang atlet yang memiliki waktu 8 jam latihan setiap hari, harusnya ia akan menjadi atlet yang tangguh dan mahir. Tapi kenapa kita Ketika berkomunikasi tidak dapat mahir juga walaupun latihan sehari-hari melebihi 8 jam seperti seorang atlet dalam berlatih? Terlepas seorang atlet yang memiliki pelatih atau tidak, kita sehari-hari harusnya dapat memanfaatkan waktu itu dengan latihan dengan serius, bukan “take it for granted.” Jadi ciptakan kesempatan untuk berlatih yang menyenangkan setiap hari.

Saya punya 1 langkah terbaik untuk anda agar menjadi menarik ketika berbicara, seperti judul artikel ini. Langkah utama yang harus anda tanyakan dalam diri adalah ; Siapa ya saya? Kesan apa yang ingin saya tampilkan? Kenapa saya harus tampil menarik ketika berbicara? Hal apa yang akan saya lakukan ? Setelah kita menjawab dengan rinci dan jelas, artinya anda sudah tahu dan mengenali dirimu! Coba uraikan dalam sebuah kertas, buatlah konsep diri anda, dan kalau atlet memiliki pelatih, anda cukup mencari tokoh-tokoh keren dalam berbicara yang dapat anda jadikan sebagai referensi, hanya referensi bukan meniru. Gabungkan diri yang ingin ditampilkan dengan gaya mereka. Pastikan konsep diri anda harus lebih besar porsinya. Artinya anda betul-betul harus mengenali diri, fokus kepada kekuatan anda dan teruslah dilatih dalam komunikasi sehari-hari, gunakan kesempatan untuk menganalisanya, merekam gaya bicara anda sesekali dan mengevaluasinya, sudah sesuai dengan yang anda inginkan atau belum? Bila anda lakukan latihan ini secara konsisten, anda akan menemukan gaya komunikasi yang baru, cara berpenampilan yang baru, gaya menggerakkan bahasa tubuh yang baru, bahkan sampai gaya intonasi suara yang baru. Dan menemukan diri anda yang baru yang akan membuat anda menjadi pribadi yang menarik.

Anda akan bersemangat setiap hari melihat perubahan diri anda, dan mulai memperhatikan orang-orang yang anda ajak bicara, bagaimana sikap mereka kepada anda. Menjadi pribadi yang baru adalah mutlak untuk berbicara menjadi menarik, artinya semua komponen yang saya sebutkan diatas akan menjadi kemampuan anda bila diasah setiap hari. Dan karena komunikasi sangat banyak tak-tiknya, semakin anda mempelajarinya, semakin anda akan tenggelam dalam keingintahuan yang besar, yang akan membuat anda terus berproses, setiap hari untuk menjadi baru. Good luck!

Testimoni Regular Class Online Professional Public Speaking TALKINC– Sakti H. Pramudya

Pada awalnya saya agak sedikit skeptis dengan metode training online yang dilaksanakan oleh Talkinc untuk program “professional public speaking”, karena Saya percaya materi akan diserap dengan lebih baik jika training dilaksanakan face-to-face. Namun demikian ternyata Saya salah, kualitas pelatihan yang diberikan oleh para fasilitator Talkinc ketika online training sama bagusnya dengan pengalaman offline training yang pernah saya ikuti.

Saya sangat enjoy mengikuti sesi-sesi training dari Talkinc yang secara signifikan mengupgrade kemampuan public speaking Saya. Rasa gugup dan kesulitan membuat narasi yang terstruktur dengan baik ketika berbicara di depan public dapat Saya atasi berkat saran dan masukan para fasilitator. Para fasilitator yang dihadirkan oleh Talkinc merupakan para “senior” di dunia public speaking Indonesia yang jam terbang dan kapabilitasnya tidak diragukan lagi. Fasilitator favorit Saya adalah Mbak Lala Tangkudung yang telah membantu Saya untuk menemukan permasalahan public speaking Saya di assessment awal (yang bahkan Saya tidak sadari), mengenali potensi dan kapabilitas Saya yang bisa ditingkatkan lebih lanjut, dan juga memberikan masukan yang sangat membekas di sesi favorit Saya “When Things go Bad” dimana saran-saran beliau mengenai cara menghandle “difficult audience” sangat membantu Saya ketika menghadapi situasi serupa.

Saya telah menyelesaikan kursus public speaking online ini dengan pengalaman yang sangat positif dan berkesan, terutama ketika ujian akhir dimana Saya dan rekan-rekan lainnya diuji langsung oleh Bu Becky Tumewu yang merupakan “senior” di industri entertainment yang juga merupakan fasilitator komunikasi ternama Indonesia. Terimakasih Talkinc atas pengalaman training yang sangat menyenangkan ini!

Public Speaking Di Era Digital

Oleh Erwin Parengkuan

Di era digital Public Speaking sangat dibutuhkan, dengan begitu banyaknya platform jejaring sosial di era digital mulai dari Facebook, Twitter, Instagram, Linkedin, Tiktok dll yang masing-masing mempunyai klasifikasi dan kegunaan yang tidak sama, contoh Facebook adalah jejaring pertemanan dan komunitas, sedangkan Linkedin khusus untuk dunia profesional/pekerjaan dll. Bahwa siapapun penggunanya harus paham betul akan fungsinya masing-masing, terlepas banyak banyak para pengguna yang tidak menyadari sepenuhnya kegunaan dari masing-masing platform ini, tetap saja setiap jam/menit/detik begitu banyak bahkan terlalu banyak informasi yang mengucur deras di timeline setiap orang. Apa efeknya? Terlalu banyak yang diketahui, sedikit yang diingat, atau semua yang menarik menjadi bisa saja karena semua orang telah meniru cara yang menarik itu dengan gaya masing-masing.

Dampaknya sesuatu yang kita sampaikan ke publik harus diperhitungkan sejeli mungkin, dengan memikirkan sebuah pesan disampaikan secara menarik, tepat, efektif, bukan meniru, tidak boleh terlalu lama dan apalagi bertele-tele karena akan membuat audiens menjadi mudah bosan. Ini adalah sebuah tantangan yang makin besar ceruknya dan semakin membuat setiap orang kesulitan menyampaikan topik mereka dikarenakan setiap orang “attention spending” mereka semakin sempit kisaran antara 1-8 detik pertama yang akan menjadi penentu akibat terlalu marak konten di era digital, belum lagi media konvensional yang masih terus berdengung hingga sekarang menambah kusutnya jalur informasi yang perlu dicerna oleh setiap orang. Anda sebagai pengirim pesan/informasi dan audiens sebagai penerima pesan yang saat ini harus dapat dengan jelas menyampaikannya/tidak ambigu sehingga proses pengiriman pesan menjadi momen kritis yang tersampaikan dengan tepat tanpa gangguan. Bila tidak, apa yang anda ucapkan berikutnya tidak akan didengarkan mereka dan menjadi sia-sia. Belum lagi era digital ini membuat mereka mudah lelah dan terdistraksi.

Adakah resep terbaik untuk menjadi public speaker yang menarik diantara tantangan yang semakin besar? Tentunya setiap tantangan pasti ada jalan keluarnya bila dipikirkan dan dibuat dengan sebuah strategi yang tepat. Berikut ini adalah 6 langkah jitu yang dapat anda lakukan:

1. Kenali Diri

Siapa anda, kultur dan budaya anda, gaya bicara anda, kepribadian anda dan semua hal-hal positif yang menjadi kekuatan diri yang harus ditampilkan di depan publik. Buatlah penyusunan kekuatan dan potensi/minat diri yang dapat menjadi modal utama dalam “menjual” image anda di publik. Pastikan image yang ditampilkan adalah otentik, tidak meniru gaya seseorang yang anda sukai karena ini akan menjadi sangat tidak menarik.

2. Kenali Tujuan Bicara

Pikirkan matang-matang bobot materi apa yang akan anda sampaikan, jangan sampai anda tidak membuat alur yang jelas dan tujuan bicara anda. 4 tujuan bicara mulai dari memberikan informasi, melakukan klarifikasi, menginspirasi atau memotivasi harus anda persiapkan dan rancang dengan matang. Bisa jadi keempat tujuan komunikasi anda disampaikan secara berkesinambungan, atau hanya memilih beberapa saja. Misalnya hanya ingin memberikan informasi dan memotivasi saja itu sudah cukup.

3. Kenali Profile Audiens

Lakukan riset pasar, akan siapa audiens anda. Profile mereka, kultur, bahasa populer/daerah yang mereka gunakan, cara menyapa mereka, kebiasaan mereka, nilai mereka, sampai hal-hal tabu/etika yang mereka gemari harus anda cari tahu, jadi bicara betul-betul sesuai dengan profil mereka, anda akan berada di “kolam” yang sama dengan mereka.

4. Kuasai Materi

Setelah membuat dan mempersiapkan point 1 sampai 3, saatnya anda melakukan latihan di depan kamera HP, dan nilai, apakah sudah sesuai dengan bobot yang anda harapkan? Carilah beberapa referensi sebagai bahan pertimbangan dan acuan dalam alur anda berbicara, tapi tidak meniru cara mereka berbicara.

5. Gunakan Kreativitas Menyusun Script

Setelah anda melihat hasil rekaman tersebut, coba bongkar lagi script dalam bentuk pointers yang sudah anda buat, saran saya jangan pernah membuat menjadi sebuah narasi (kata-kata yang panjang) karena anda akan terjebak membaca dan membuat anda menjadi sangat kaku. Bayangkan audiens adalah teman-teman terdekat anda, sehingga gaya penyampaian akan bersemangat,terbuka dan terkoneksi dengan mereka. Lihatlah beberapa ide baru dalam script yang anda buat, mau ditambah dengan story telling, gaya tertentu, alat bantu (visual element) yang akan membuat daya tarik tersendiri sehingga audiens akan terus memperhatikan anda. Jangan lupa bahasa tubuh anda harus terbuka, intonasi harus bersemangat, harus memberikan kesan hangat, menyenangkan dan berbobot dari sisi konten.

6. Pikirkan waktu bicara

Jangan sampai anda terjebak dengan kalimat atau penjelasan yang terlalu panjang. Ingat daya ingat masyarakat modern yang semakin pendek, mereka mudah bosan sehingga anda hanya menyampaikan poin terpenting dengan konten yang terbaru yang akan membuat mereka tidak jenuh. Kalau perlu berhentilah bicara ketika audiens masih ingin mendengarkan anda.
Semoga keenam point penting diatas dapat membuat anda menjadi seseorang yang tampil bicara manarik di depan publik, menjadi otentik adalah modal utama, melakukan riset adalah bobot yang akan menjadi plus poin untuk pendengar anda, menjadi teman yang menyenangkan akan membuat anda menjadi public speaker yang selalu dicari orang. Good luck!

Menjadi Otentik

Oleh Erwin Parengkuan

Dalam sebuah wawancara dengan seorang direktur di sebuah universitas, kami membahas tentang kriteria seorang pemimpin masa depan, dalam satu penjelasannya sang direktur menyebutkan bahwa pemimpin itu harus otentik. Saya kembali bertanya “Bagaimana caranya menjadi otentik?” Ia membeberkan bahwa yang dimaksud dengan menjadi otentik adalah seseorang yang selalu meningkatkan pengetahuan dan kompetensinya. Ia-pun menjelaskan bila pemimpin tidak memiliki kapasitas dari kompetensinya yang terus ditingkatkan tentu akan sulit menyelesaikan berbagai masalah. Selain itu, seorang leader juga tidak boleh berfokus kepada sesuatu untuk menjadikannya pemimpin yang populer, apalagi semata-mata hanya memikirkan image pribadi.

Bila ditela’ah penjelasan diatas, tentu sangat mengacu kepada sebuah keahlian yang terus dikembangkan atau harus dikembangkan oleh setiap orang. Leader yang baik juga menurut saya harus memiliki wawasan dan landasan teori yang kuat yang dapat membantunya dalam pengambilan sebuah keputusan penting untuk membantu organisasinya berkembang lebih baik lagi dalam menjawab tantangan masa depan yang sangat kompleks. Saat ini, kita tengah menghadapi dunia yang sudah tidak sama lagi. Adanya VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity) adalah dimana semua serba tidak pasti apalagi dunia usaha yang tidak bisa diukur, terus berubah dan ambigu. Bagaimana seseorang bisa menjadi pribadi yang tangguh dalam menghadapi dunia dengan ketidakpastiannya?

Salah satu kompetensi yang disebutkan selain menjadi pribadi yang otentik yaitu juga ternyata adalah kemampuan berkomunikasi kepada semua pihak dengan baik. Wah, ini menjadi “makanan” menarik buat saya dalam perbincangan tersebut. Walaupun sering kita dengar bahwa setiap orang harus mampu mengartikulasikan pemikirannya apalagi sebagai seorang pemimpin, kendati yang sering saya jumpai dalam pekerjaan saya, masih banyak pemimpin yang gagap dalam berkomunikasi. Terbayang kendala besar akan mengancam mereka bila memiliki ketidakmampuan berbicara kepada semua stakeholders-nya. Saya jadi ingat seorang pemimpin yang saya coaching tidak diizinkan berbicara kepada pihak luar karena kerap menyampaikan informasi yang salah dan tidak tepat, padahal ia memiliki kompetensi yang sangat baik dalam hal managerial dan semua pengetahuannya telah membuatnya sampai ke jenjang tertinggi di sebuah organisasi besar itu. Namun, iapun ternyata bukan tipe pemimpin yang dimaksud oleh direktur yang saya wawancarai.

Jadi mulai sekarang, mari kita terus meningkatkan kapasitas diri, supaya kita tidak tergerus oleh persaingan yang makin meruncing, apalagi dunia yang kita alami sudah berbeda “aturan mainnya”. Menjadi lentur kepada semua orang yang kita ajak berbicara dan menganggap mereka istimewa adalah jurus utama dalam berkomunikasi, selain tentu kemampuan dalam menyusun kalimat yang jelas selalu harus dikuasai termasuk oleh siapapun. Ketika kita mendengarkan seseorang berbicara, mau itu seorang pemimpin atau bukan kita akan menilai 3 hal dari kata-kata yang ia ucapkan yaitu: tingkat kematangan diri, tingkat pengetahuan dan tingkat intelektualitasnya. Jadi, mari kita menjadi lebih berbobot, lebih mahir memilih kata juga dalam mengambil keputusan dan menjadi pribadi yang menghargai setiap lawan bicara tanpa terkecuali.

Crack Under Pressure

Oleh: Erwin Parengkuan

Pernah membaca judul topik artikel ini? Sounds familiar? Yes, salah satu tagline brand jam terkenal dari Swiss dengan menambahkan kata “don’t” di depannya. Topik ini menjadi menarik melihat banyak sekali anak-anak muda ( Generasi Y dan Z ) yang gampang menyerah, mereka mudah retak dalam tekanan. Memang kondisi di mana generasi sekarang yang sangat instant menginginkan segala sesuatu bisa didapatkan dengan cepat, budaya instant menjadi sangat lekat dengan mereka. Seorang rekan yang menjadi pemimpin di sebuah media besar di Indonesia menegor generasi muda ini akan perilakunya yang dianggap tidak santun mewakili image perusahaan, apa yang terjadi? Anak ini tidak terima dikritisi dan besok Ia pun langsung resign tanpa pemberitahuan. Memang kita tidak bisa menyeragamkan semua anak muda dengan mental seperti ini, akan tetapi dari banyak wawancara saya di podcast dengan banyak pemimpin mereka kerap menyampaikan issue yang sama. Sehingga membuat saya tergerak untuk menulis artikel ini, sebagai mengingat dan ingin mengajak semua dari kita untuk mempunyai ketahanan mental seperti baja.

Untuk menghasilkan kualitas wine yang bagus, tentu anggur pilihan itu harus proses, airnya harus dikeluarkan, kalau dulu proses pembuatan wine harus diinjak-injak oleh manusia, dan akhirnya menghasilkan kualitas terbaik. Atau ketika seseorang mencapai kesuksesan, dibalik itu sangat panjang proses yang tidak menyenangkan mereka lalui. Sebut saja JK Roling penulis fiksi terkenal Harry Porter yang harus mendapatkan penolakan dari 11 publishing house karena dianggap novel ini tidak berbobot, atau Kolonel Sanders yang harus menerima penolakan dari 1009 restoran untuk membeli resep ayam goreng peninggalan neneknya akhirnya dengan proses yang panjang, tanpa henti, dan sekarang brand ini telah tersebar di lebih dari 118 negara dengan 18.000 cabang atau lebih.

Bagaimana ribuan success story tidak pernah lahir dengan mudah, memang perlu perjuangan dan kegigihan. Kepercayaan diri dan ketahanan mental adalah kuncinya. Hidup memang tidak ada yang mudah, dan sejatinya kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan di hidup ini asalkan kita percaya. Tentu perjalanan panjang yang terjal dan berkerikil akan kita lewati, keringat, air mata bahkan sampai darah! menjadi 3 komponen utama untuk punya ketahanan mental. Termasuk ketika kita sudah membuat sebuah target, harus fokus dan mengesampingkan hal-hal yang dapat membuat kita menjadi gagal fokus/distorsi. Banyak juga anak muda yang sekarang sukses berkat kegigihannya. Seperti Malala Yusafzay, seorang murid sekolah yang menjadi duta PBB termuda sepanjang sejarah, mendapatkan penghargaan bergengsi Nobel untuk perdamaian, mendali kebebasan, Order of The Smile dll, harus melewati masa kecil yang suram di negaranya di Pakistan dan dikejar-kejar dan akan di bunuh oleh teroris/Taliban, terbayang anak yang masih dibawah umur harus melewati tekanan hidup yang tidak sangat sulit. Ia bahkan menyamarkan namanya agar dapat menyebarkan cerita hidupnya di banyak artikel dan sosial media agar kebebasan memiliki hak bersuara dan mendapatkan pendidikan yang layak untuk setiap anak di negaranya. Sebuah pejuangan yang gigih, tanpa henti, dengan keringat, air mata dan darah yang harus Ia lewatkan, Malala tidak Crack Under Pressure!

Kita diberikan karunia yang luar biasa oleh Tuhan, kita diberikan otak kiri dengan limbik kiri yang akan membuat kita untuk rajin dan tekun, kita juga diberikan otak tengah untuk intuisi dan naluri serba bisa. Kenapa Malala bisa, kenapa Kolonel Sander yang usianya 65 tahun juga bisa, sedangkan kita tidak?

Kesuksesan adalah sebuah pilihan hidup, termasuk ketahanan mental. Bila kita telaah lagi, bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama, tua, muda, dan umur yang kita miliki terbagi atas 3 hal, umur kronologis yaitu umur di mana seseorang lahir, umur biologis sesuai dengan bentuk tubuh tinggi atau kecil seseorang, dan umur mental yang merupakan sebuah pilihan (sekali lagi). Jadi untuk berhasil dibidang yang anda kuasai, marilah jangan pernah berpikir untuk Crack Under Pressure berapapun usia kita.

In Communication, which one is better : Introvert, Extrovert or Ambivert?

Oleh : Erwin Parengkuan

Dalam sebuah sesi coaching, seorang leader menyambut saya dengan sangat terbuka, begitu sesi pertama kami mulai, betapa menyenangkannya Ia sangat terbuka dengan materi tentang komunikasi yang kami hadirkan. Ia lantas bercerita tentang pengalaman hidupnya, tidak hanya menjadi pemimpin di organisasinya, tapi juga didaulat menjadi ketua dari organisasi keagamaan yang Ia anut. Ketika seseorang “haus” mereka akan seperti sponge yang akan menerima semua masukan dan informasi dengan baik. Ketika saya memintanya untuk menyampaikan materi presentasi, sifat keterbukaannya kemudian berubah 160 derajat. Bicaranya kaku, pendek dan tidak ada gesture yang terbuka.

Kita memang kompleks, ketika kita nyaman dengan situasi yang dihadapi akan sangat menyenangkan dalam menyampaikan sebuah pesan. Tapi bila kita takut melihat jumlah peserta, semakin banyak peserta yang hadir, akan semakin takut seseorang untuk bicara di depan publik. Bagaimana seorang yang extrovert bisa mendadak menjadi introvert, begitupun sebaliknya seseorang yang introvert ketika bicara akan menjadi sangat kaku, tapi ketika berjumpa dengan teman sepergaulannya mendadak berubah menjadi pribadi yang extrovert?

Bagaimana dengan seseorang yang berada di dua kubu extroversion dan introversion? Mereka akan sangat lentur membawakan diri. Pertanyaannya, siapa yang akan lebih sukses dari ketiganya dalam mengendalikan diri, membangun hubungan dalam berkomunikasi? Apa betul orang extrovert akan selalu menjadi sales yang baik dalam menjual idenya, dibanding yang introvert? Dari data yang data yang saya dapatkan, orang introvert maupun extrovert tidak akan bertahan lama dalam membangun hubungan dalam komunikasi, karena satu sangat pendiam dan satu dangan tidak bisa berhenti bicara. Dan Ini sebuah kegagalan besar yang sering terjadi.

Kembali kepada si bapak yang saya coaching, lantas materi saya hentikan, karena ternyata masih banyak “unfinished business” yang belum tuntas. Sehingga kami perlu mendiskusikan bagaimana seseorang dapat memiliki kesadaran penuh dalam diri dan berdamai dengan masa lalunya. Ketika kita bertemu dengan orang yang penuh dengan masalah, sudah pasti orang tersebut akan menjadi gagal dalam membangun hubungan. Dan orang yang kita jumpai tentu tidak ingin tahu masalah yang kita alami, sehingga kita harus dengan taktis dalam melupakannya sejenak, agar dapat fokus memperhatikan lawan bicara. Kita tahu bahwa orang yang bahagia akan menjadi orang yang menyenangkan di lingkungannya dan selalu dicari kemana mereka pergi. Bisakah kita bahagia? Tentu, karena bahagia itupun adalah pilihan. Kita bisa kok memilih untuk bahagia atau tidak. Yang perlu diingat adalah komunikasi yang berdampak akan datang dari hati yang bahagia, dan kita akan dengan sendirinya menjadi bersemangat ketika berkomunikasi dan apalagi memberikan data terbaru yang bermanfaat buat audiens kita.

Ambivert adalah mereka yang terbuka, bisa menikmati proses dan menghargai lawan bicara, dan di satu sisi mempunyai kemampuan analisa yang baik. Istilah ini ditemukan pada tahun 1920an oleh seorang psikolog Amerika dari Pennsylvania University bernama Dr Grant. Ambivert adalah orang-orang yang lebih sukses dalam menjalankan kehidupan ini dibanding orang introvert maupun extrovert. Mereka mudah beradaptasi, dapat mengendalikan diri menjadi extrovert maupun introvert di saat yang bersamaan, senang bersosialisasi juga nyaman hidup menyendiri. Bagaimana caranya kita bisa menjadi seperti mereka? Jawabannya mudah yaitu dengan melatih diri. Mulai menyapa lawan bicara terlebih dahulu. Tahukan anda, bila kita yang memulai pembicaraan terlebih dahulu, kita yang akan mengendalikan situasi. Buat yang extrovert terlalu banyak bicara, coba tahan diri, gunakan jeda lebih banyak untuk memberikan kesempatan lawan bicara lebih kita dengar pendapatnya.

Semua adalah bagian dari sebuah proses panjang yang selalu kita jalankan dalam keseharian kita. Mulailah membuat list mengatur kebiasaan baru, buatlah check list, monitoring akan merubah kepribadian kita menjadi ambivert. Ketika kita punya tujuan, tentu keseharian kita akan penuh dengan hal-hal yang membuat kita bertumbuh, dan pastinya akan membuat kita selalu tertantang. Yang akhirnya membuat semua orang dapat mahir berbicara dan membangun hubungan. Jangan lupa untuk bahagia dan berdamai dengan masa lalu, karena tidak ada satu manusia di dunia ini yang bebas masalah. Selama kita masih membuka mata, masalah selalu ada, kritikan selalu ada, tapi kita sekali lagi dapat melihatnya dari “kacamata” yang positif bahwa ini adalah tantangan bukan sebuah malapetaka. Toh, semua yang kita alami dan dapatkan di dunia ini, selalunya sifatnya sementara. Ada saat senang, sedih, kontemplasi, untuk maju dan terus berjuang.

Have a Strong Knowledge or Use Your Imagination

Oleh : Erwin Parengkuan

Tidak bisa dipungkiri, ketika kita mempunyai wawasan yang luas kita akan mampu menghasilkan sebuah gagasan dan jalan keluar yang terbaik dalam melakukan sebuah keputusan dan mengendalikan hidup dan karir yang kita bangun serta jalankan saat ini. Bayangkan, seseorang yang minim info, tidak dapat memperbaiki hidupnya. Contoh, belum lama ini saya berada di Lembang dan berhenti membeli beberapa buah kelapa untuk di minum. Saya bilang kepada pemilik warung untuk tidak menggunakan kantong plastik, lantas ia bertanya kenapa? Saya bilang plastik itu merusak lingkungan dan mencermari lautan kita. Ia pun tertawa sambil menatap saya penuh heran. Ada sepasang suami istripun yang menikmati es kelapa muda di warung itupun tertawa kecil melihat penjelasan saya.

Hahaha sayapun kembali menjelaskan dampak plastik sekali pakai kepada mereka, tapi rupanya hal ini tidak dimengerti oleh mereka dengan pendidikan yang terbatas. Sayapun ingat cerita ketika saya berkunjung ke sebuah daerah di So’e di Timor Tengah Selatan, NTT, dalam kunjungan saya bertemu dengan masyarakat sekitar melihat kehidupan yang sulit, dan mereka tidak percaya bahwa suhu yang terik disana dapat diusahakan untuk membuat ladang sayur, tapi karena kondisi tanah yang kering dan tidak ada pupuk yang dapat membuat ladang mereka tumbuh subur. Lantas, organisasi yang mengundang saya menginformasikan kepada penduduk disana untuk membuat pupuk buatan yang organik dengan memanfaatkan sisa bahan makan, termasuk sayur yang sudah tidak terpakai berikut kulit buah untuk dijadikan pupuk organik. Sayangnya informasi ini tidak dipercaya oleh mereka, lalu organisasi ini mengutus seorang ahli pupuk organik datang dan mengajarkan mereka, mencontohkannya, mereka melihat pupuk ini jadi dibuat dan menamburkannya di lahan tersebut, selang berapa lama, kebun merekapun tumbuh subur.

Dari dua cerita saya diatas, jelas terlihat, betapa wawasan atau pengetahuan yang kita miliki yang kita dapati dimana saja, akan membuat hidup kita menjadi lebih mudah. Contoh kecil diatas, adalah sekelumit dari perjalanan seseorang dalam membangun kehidupan dan karir yang lebih baik. Sayangnya di zaman yang serba penuh informasi ini, kita justru menjadi lebih “keder” bahkan malas untuk memburunya, di tambah banyak informasi negatif/hoax membuat kita bertambah cemas dan tentu malas. Bila kita mencari di dunia digital, sebut saja seperti yang ada di www.tedx.com, pinterest, master class atau laman-laman yang bermutu, anda akan menyadari bahwa terlalu banyak hal yang tidak kita ketahui banyak tersebar dimana-mana, kita tinggal mencarinya dan menelusurinya, menganalisa dan mempraktikannya yang akan membuat kita untuk terus mengasah kemampuan diri dari waktu ke waktu dan akan meningkatkan kualitas diri menjadi lebih baik lagi dengan pengetahuan baru yang akan membukakan cakrawala kita. Bayangkan dalam konteks komunikasi kalau kita minim info, bagaimana kita dapat menyusun sebuah kalimat kepada lawan bicara kita dan “menaklukkan” mereka. Kosa kata yang terbatas akan membuat seseorang sulit menterjemahkan apa yang ada di benaknya.

Kita sudah tidak hidup di zaman batu dimana kita menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi. Dunia yang luas juga sempit, karena informasi begitu cepat menyebar, dan kita mutlak menyaringnya sebelum “meminumnya” membuat kita dapat mengimbangi diskusi atau komunikasi kita menjadi setara dengan mereka-mereka yang berwawasan luas. Tapi apakah seseorang dengan wawasan yang terbatas tidak dapat menciptakan sebuah gagasan atau prestasi? Bagaimana dengan zaman dulu kala, ketika tidak ada informasi seperti sekarang? Apakah artinya tidak ada informasi sama dengan tidak ada proses penciptaan? Tapi kenapa ada Piramida? Kenapa ada Spinks, kenapa ada banyak monumen bersejarah yang dibuat manusia dengan sangat iconic tercipta dari zaman dahulu kala? Sedangkan di zaman itu tidak ada informasi? Tidak ada tedx.com? Pinterest atau Master Class? Kenapa juga ada candi Buddha terbesar di dunia ada di negara kita dengan 1.460 relief dan 504 stupa Buddha? Darimana bangsa Sayilendra dapat membuat bentuk-bentuk yang monumental? Jawabannya bukan informasi atau surat dari surga, melainkan dari sebuah kata imaginasi. Kita manusia memiliki imaginasi yang sangat kaya. Sepeti Steve Jobs yang melihat bentuk apel dan menjadikannya logo perusahaan yang sangat powerful. Imaginasi dapat kita peroleh dari mengamati alam dan bentuk-bentuk alamiah di sekeliling kita.

Bagaimana banyak hasil karya dari para inventor dan seniman besar di dunia ini yang sukses dengan imaginasi yang mereka miliki? Bayangkan, Bila imaginasi ditambah dengan informasi yang tersedia saat ini betapa ini akan menjadikan kekuatan yang sangat mumpuni. Mari kita cari hanya informasi yang penting dengan sumber yang terpercaya yang akan membuat diri kita tumbuh subur seperti ladang sayur di So’e sana. Dengan catatan, imaginasi yang kita miliki harus dibuat dengan hati yang gembira tanpa beban. Karena kalau seseorang penuh derita tentu tidak akan dapat menghasilkan sebuah imaginasi yang berbobot seperti Candi Borobudur kita.

Find Your Missing Piece

Oleh Erwin Parengkuan

Dalam sebuah sesi online belum lama ini, seorang peserta bertanya kepada saya kenapa kok setiap bicara terlihat sangat bergairah? Ia lantas menyimpulkan bahwa saya sudah menemukan apa yang saya suka dalam menjalankan pekerjaan saya. Saya kemudian bercerita kepadanya bahwa untuk sampai ke titik ini, saya tidak pernah berhenti berproses. Tepat sekali dengan judul artikel kali ini untuk anda yang sedang galau menjalani pekerjaan anda. Kalau kita mencarinya terus menerus kita akan mendapatkan apa yang kita ingin lakukan dan sukai.

Saya kemudian flashback di akhir tahun 90’an, tepatnya ketika sudah menikah, perusahaan EO yang sudah dirintis 5 tahun akan membuat TV Cable di Belanda, sayangnya ketika perusahaan ini akan segera up and running, krisis moneter melanda negeri ini. Kalau saya ingat, di moment itu, saya juga sangat excited dengan kehidupan baru yang akan saya jalani. Bayangkan, ada di negeri 4 musim, mempunyai kegiatan yang bertolak belakang dengan apa yang selama ini saya jalani. Berada di balik layar, Sungguh menyenangkan! Tapi ternyata harapan tinggal harapan, ia pupus dan menguap sangat cepat. Saya kemudian kembali ke dunia broadcasting, siaran lagi, masuk TV lagi, dll. Sampai ketika 17 tahun yang lalu, ketika karir masih gemilang di panggung entertainment, saya melihat kesempatan lain untuk membuka sekolah komunikasi yang terus bertumbuh hingga sekarang. Berproses terus itu yang saya lakoni, tanpa lelah, terus dan terus.

Kemudian saya menjadi pengajar, coach, dan penulis buku. Waduh, ini juga sesungguhnya tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Saya hanya tidak pernah berhenti mencari, menggali, terus penasaran akan apa yang saya lihat dan ingin ketahui.

Kita manusia memiliki sifat dasar yang tidak pernah puas, kalau ini yang kita bina terus, dalam konteks pencarian the missing piece, saya percaya semua orang akan menemukannya. Perbanyaklah rasa penasaran akan hal baru yang belum kita ketahui, perbanyaklah waktu diskusi dengan diri sendiri, be truthful to yourself. Tanyakan apa ini yang menang benar kita suka? Adakah alternatif lain yang membuat kita lebih bergairah?
Salah satu “engine” lainnya yang perlu kita miliki adalah memperbanyak wawasan dengan membaca buku. Contoh ini selalu memberikan inspirasi yang sangat kaya kepada saya. Banyak orang bertanya bagaimana caranya mengetahui buku bagus yang akan kita baca? Kalau saya, mengandalkan Pinterest yang dapat kita unduh di google play, dan tinggal ketik New York Best Selling Book, disana bertebaran buku-buku terbaik dunia. Semua disiplin ilmu ada disana. Dan ketika kita membaca banyak judul yang menarik, buka juga nama-nama penulisnya direkam jejak digital mereka. Tentu ini akan membantu kita lebih kenal dan penasaran dengan sang penulis buku.

Manusia yang terus berproses tanpa henti akan menemukan jalan yang tepat. Kita tentu tidak ingin seperti Colonel Sanders yang baru menemukan passionnya setelah ia pensiun. Itu terlalu lama menurut saya, walaupun akhirnya sukses membuka resto cepat saji pertamanya setelah menawarkan resep ayam goreng sang nenek ke 1.000 pintu yang ia ketuk. Inipun membuktikan kepada kita tentang proses panjang dan tidak pernah mengenal kata terlambat untuk memulai sesuatu yang kita suka dan ingin tahu. Dan bila anda berpikir saat ini bukan waktu yang tepat, percaya deh, tidak ada waktu yang sempurna dalam setiap kesempatan.

Saatnya sekarang anda cari, sebelum terlambat, sebelum anda tua dan tidak memiliki gairah lagi. Jangan pernah berhenti melangkah, gali terus potensi diri, lihat trend kedepan akan seperti apa bentuk dunia nanti. Seorang teman pernah juga mengatakan kepada saya “kita tidak perlu membuat sesuatu yang belum pernah ada di dunia ini, cukup mengembangkan yang sudah ada, yang biasa menjadi luar biasa itupun sudah keren banget.” Dan saya sangat sependapat dengan kalimat yang ia ucapkan. Oh ya, satu lagi yang terpenting, tindakan akan mengalahkan sebuah ketakutan, so be true to yourself!

WhatsApp Online Chat Support