Jika lewat artikel sebelumnya sudah latihan dan memilih kata yang baik dan benar. sekarang waktunya untuk menggambarkan setiap kalimat melalui suara yang keluar dari rongga mulut anda. Ya , “nyanyikanlah seperti anda seorang penyanyi”. Berikanlah nada rendah, sedang dan tinggi pada saat anda sedang berbicara. Gunakan perasaan atau hati anda layaknya anda sedang menyanyikan sebuah lagu. Maka dari itu, mengerti akan hal yang disampaikan sangatlah penting, Jangan asal baca tanpa tahu maksudnya apa biar anda terhindar dari suara seperti AI (artificial Intelligent) di google translate. Bukan berarti anda harus bisa menyanyi untuk menjadi seorang professional public speaker. Pun penulis juga tidak pandai menyanyi dan sampai saat ini masih latihan di ruang karaoke..hehehe. Sebelumnya saya juga sudah membagikan tips bahwa senyum pada saat anda berbicara dapat mengubah suara anda menjadi enak didengar. Berikutnya saya akan melengkapi, agar anda dapat melatih suara anda dimanapun.
Tanda Baca Titik & Koma adalah hal yang kita pelajari sewaktu kita belajar membaca. Namun, masih banyak orang menghiraukan tanda baca ini dan menggunakannya hanya pada saat tertentu seperti membuat makalah, menulis dan sebagainya. Gunakanlah tanda baca ini pada saat anda berbicara dan buatlah JEDA. Koma adalah signal bahwa anda dapat jeda selama 1 detik untuk menarik satu kali nafas sedangkan Titik adalah jeda untuk memberikan pikiran anda istirahat selama 2-3 detik. Sayangnya masih banyak peserta di setiap kelas TALKINC berpikir kalau menjadi pembicara sebisa mungkin tidak boleh diam selama beberapa detik takut disangka sedang blank. Public Speaker yang keren seperti Jack Ma, Oprah Winfrey, Steve Jobs justru memanfaatkan Titik dan koma untuk membangun suasana yang diinginkan. Mereka memberikan kesempatan kepada audience untuk mencerna apa yang disampaikan. Selain itu, Jeda juga dapat membantu orang yang terbiasa berbicara cepat menjadi lebih santai dan terdengar percaya diri. Kuasai dan ingat akan JEDA setiap berbicara baru anda bisa ke tahap berikutnya.
Yang Kedua, adalah ARTIKULASI. jika tempo dan kecepatannya sudah cukup, lanjutkan dengan memperhatikan dan mendengar setiap kata . Usahakan Huruf vocal (AIUEO) harus terdengar jelas dengan membuka rongga mulut sedikit lebih besar (jangan lebay). Rekamlah diri anda di HP, berbicaralah 4-5 kalimat. Lalu anda lihat kembali video tersebut dengan audio di mute. Kalau anda bisa membaca bibir anda sendiri artinya saatnya ke tahap berikutnya.
Sebuah bentuk komunikasi yang baik harus melibatkan rasa baik si pembicara atau pendengar. Nah, PENEKANAN adalah “jurus untuk menaruh” perasaan kita di setiap kata yang kita bicarakan. Contoh Sudah DUA MINGGU, Saya tidak keluar rumah rasanya BOSEN BANGET kalau dibaca dengan penekanan di setiap kata-kata yang berhuruf besar, pasti lebih terdengar orang itu sedang marah banget cenderung depresi. Tapi kalau diucapkan tanpa ada penekanan, seperti hanya sebuah informasi tanpa ada rasa di dalamnya.
Selain SMILE (Sudah ada di artikel sebelumnya) juga dibutuhkan rasa SEMANGAT. Saya teringat pelatihan di Semarang dengan peserta Kepala Cabang dari sebuah bank yang rata-rata umurnya sudah mendekati pensiun. Saya memberikan kesempatan masing-masing peserta untuk berbicara dengan topik bebas. Peserta pertama memilih topik mengenai pekerjaannya dan pada saat berbicara terdengar monoton, Saat itu saya langsung bertanya “jika bapak pensiun nanti, apa rencana bapak?” Seketika suara yang dihasilkan terdengar lebih dinamis. Hal itu sudah saya terapkan di setiap kelas dengan peserta berbeda. Begitu peserta berbicara dengan topik yang ia sukai (Topicnya Gue Banget!) pasti lebih terdengar meyakinkan. Ya, itu semua karena menggunakan rasa SEMANGAT. di poin ini ada kaitannya dengan quotes yang saya sukai, Do What You love and let the dream come true. Taruh “Hati” di setiap pembicaraan untuk mencapai tujuan anda.
Jadi ada 5 “JURUS” dasar bagaimana suara anda terdengar lebih baik saat berbicara. Kalau disingkat menjadi J-A-P-S-S. tentunya jurus ini harus terus dilatih hingga menjadi kebiasaan baru untuk anda. Jika point diatas sudah menjadi kebiasaan anda artinya anda sudah siap menjadi “penyanyi” di sesi presentasi anda.
Dulu kita mengenal istilah Conference Call atau Video Call, sebuah istilah yang populer di awal tahun 2000an. Tidak semua orang di dunia ini yang memaksimalkan Teknologi ini dalam kehidupan kita, khususnya mereka yang menjalankan bisnis atau sebagai seorang profesional. Banyak orang dalam kehidupan dan berbisnis masih memilih ritual komunikasi gaya klasik yaitu dengan bertemu langsung, memang secara hakiki menunjukkan kita adalah mahluk sosial. Sedangkan dalam perkembangan tehnologi yang semakin mumpungi, terlebih saat pandemi Covid-19 ini melanda seluruh dunia, kita kemudian menjadi lebih melek teknologi, beradaptasi terhadap perubahan yang super cepat . Sejalan dengan tuntutan tersebut, para pelaksana aplikasipun mulai menyuguhkan fitur-fitur yang bisa mengirimkan slides, video seperti kita bertemu langsung. Batasan-batasan itu kini menipis sejalan dengan makin berkembangnya Teknologi.
Apa yang terjadi sekarang terhadap banyaknya permintaan klien akan training yang tadinya harus diadakan, tapi dengan adanya peraturan pemerintah tentang Social Distancing sebagian besar dari kitapun sekarang melakukan semua perkerjaan kantor di rumah saja. Banyaknya permintaan training sekarang perlahan-lahan mulai mengalami pergeseran yaitu dengan virtual learning atau online learning. Di awal ketika pandemi ini terjadi, kami menerima informasi bahwa semua training ditangguhkan sampai kondisi membaik. Tetapi perusahan harus tetap mempunyai kewajiban untuk tetap memberikan pelatihan kepada semua pekerjanya tanpa terkecuali, sehingga mulailah perusahaan yang tadinya memangguhkan jadwal pelatihan perlahan mulai membeli program online learning kami.
Sebagai facilitator yang biasa menjalankan kegiatan di kelas dan sekarang harus berpindah ke Digital tentu harus merubah metode pembelajaran lebih interaktif dengan alur materi yang kami sesuaikan sehubungan dengan limitasi perhatian dari setiap peserta yang berbeda-beda. Strategi ini yang menjadi penting sejalan dengan perubahan yang ada.
Buat saya sesi Online lebih menantang karena kami harus memperhatikan para peserta lebih jeli lagi. Dari proses Online Learning yang kami lakukan entah untuk jumlah peserta dibawah 30 orang atau sampai 400 orang lebih yang sudah kami jalani selama ini, tantangan lainnya juga muncul dari sisi para peserta untuk fokus 100% di dalam setiap sesi. Agar dapat menyerap semua masukan dan materi yang di diberikan, justru menurut saya tantangan untuk tetap fokus dan melupakan kegalauan hidup yang harus dikesampingkan terlebih dahulu oleh para peserta Online, seperti mengutip salah satu komentar dari seorang Head Of Human Resources kepada saya waktu itu” mau yang ngajar jagoan atau tidak tapi kalau kita masih sulit fokus, percuma saja ikut online learning “. Bagaimana dengan anda?
Kita tidak pernah membayangkan Pandemi ini terjadi dalam kehidupan kita saat ini. Siapa yang pernah menyangka? Dunia yang tadinya begitu cepat berputar, sangat bising termasuk gaya komunikasi yang “rusuh” datang dari 6 generasi yang ada saat ini, apalagi komunikasi dunia digital. The Baby Boomers, X Generation, The Millennials, Z Generation dan Generasi Alfa yang usianya masih beranjak remaja. Terbayang “cuitan” masing-masing generasi ini dengan “style” yang berbeda satu dan lainnya, bahkan bertolak belakang. Misalnya The Baby Boomers yang usianya tidak muda lagi, di atas 55 tahun, minim bicara dan cenderung gaptek, hanya sedikit di antara mereka yang aktif di sosial media. Sedangkan generasi di bawahnya yaitu The X Generation terbiasa berkomunikasi baik online maupun offline dengan terbuka dan aktif. Ceruk yang lebih besar ada di bawah pengaruh The Millennials yang saat ini menduduki posisi lebih dari 50% dalam dunia pekerjaan, mereka sangat aktif di sosial media, berbicara apa adanya, langsung dan lugas. Lebih memilih platforms digital daripada berbicara secara langsung. Ini yang sering menjadi masalah antara minim bicara dan generasi Boomers yang butuh penjelasan panjang. Sedangkan Generasi Z, yang baru masuk dunia kerja, lebih senang seperti kakaknya The Millennials yang juga sibuk di dunia digital dan game online. Sedangkan generasi Alfa adalah generasi yang saat ini lebih menjadi pengamat.
Mengacu kepada kondisi saat ini, dunia seperti berhenti mendadak dari laju yang tadinya begitu massive dan rapid sekarang seperti “bungkam.” Banyak analisa yang muncul apa yang akan terjadi pada kita pasca Covid 19 ini. Apakah dunia kembali berputar cepat atau berubah?
Saya sendiri mengamati kondisi yang akan terjadi nanti terhadap gaya komunikasi masing-masing generasi akan mengalami perubahan yang besar. Seperti (apapun generasi mereka) akan lebih pendek-pendek berbicara, assertive dan tidak ingin berlama-lama mendengarkan sesuatu yang tidak memberikan faedah kepada mereka. Manusiapun akan beradaptasi dengan keadaan saat ini dan menjadi lebih efektif termasuk terhadap konsumsi produk yang mereka beli, perlu atau tidak, daur ulang, dan go green lifestyle.
Untuk itu, kita semua harus lebih cerdas dalam berkomunikasi yang bertujuan untuk memberikan benefit kepada siapapun generasi yang diajak bicara. Kita menginginkan gaya komunikasi yang low profile dan membumi. Tidak bertele-tele dan mengacu kepada gaya hidup Minimalism. Artinya simple, sederhana tidak berlebihan alias lebay. Dalam hal berpenampilanpun kita akan semakin dress down. Let’s we all be more humble and respect to others as well as respect to our mother nature.
Do not let Coronavirus stopping you from learning! We are
here to help your team to learn and develop in this Work From Home situation!
#stayathome can be productive!
One-Week E-Workshop Public Speaking Program is our virtual
workshop to get your team and employees trained to be an excellent public
speaker and communicator. With interactive and engaging training completed with
extensive report covering aspects of communication and 3 levels of courses to
choose (Elementary, Intermediate and Advanced)
Access this link for our One-Week E-Workshop Public Speaking
catalog:
Contact us for this special offer and more info at Ella:
0815 8385276 / Kevin: 0878 86067401
#NEVERSTOPLEARNING #STAYATHOME #LEARNATHOME
Banyak di antara kita yang takut memulai hal baru. Takut gagal, takut malu, takut takut dan takut. Albert Einstein mengatakan bila setiap hari kita melakukan 15 menit hal baru, dalam 1 tahun kita akan menjadi ahli. Bila kita melakukannya selama 5 tahun kita akan menjadi National Champion. Nah, lantas kapan anda akan memulai sesuatu yang baru?
Saya pernah mendapatkan sebuah matra yang memberikan pengaruh besar dalam kehidupan saya, mantra ini secara tidak langsung disampaikan oleh seorang senior, katanya: “Erwin, never missing something when you grow old” kata-kata itu mengejutkan saya, sekaligus membuat mata saya berbinar-binar untuk segera melakukan apa yang ingin saya jalankan dalam kehidupan saya. Semacam “api” yang membara dan membakar diri saya sejak itu.
Saya tahu saya adalah anak yang biasa saja, dari sisi nilai di kelas tidak ada yang menonjol. Tapi saya tahu kalau saya lebih rajin dari orang kebanyakan saya akan sukses. Sehingga saya terus belajar, menjadi “murid yang baik” dan melakukan semua yang ingin saya kerjakan sehingga tidak ada penyesalan ketika tua nanti. Man! Kata-kata powerful tersebut telah benar-benar hidup di diri saya hingga saat ini. Dan kata-kata itulah yang membuat saya keluar dari Zona Nyaman.
Jadi bagaimana caranya supaya anda bisa lebih berani keluar dari Zona Nyaman? 4 tips berikut ini dapat membantu anda:
Buat target kecil, sedang dan besar yang spesifik, atur strategi dan jangan lupa beri reward diri sendiri.
Hukum probabilitas berlaku, 10 kali langkah, 1 yang akan sukses..lakukan terus menerus jangan berhenti.
Lakukan self evaluation setiap saat.
Selalu berada di lingkungan yang positif dan menghargai anda. Artinya kita harus berani meninggalkan semua yang Toxic di kehidupan kita, termasuk teman dan bacaan yang tidak penting.
Bayangkan kehidupan anda mendatang, bayangkan diri anda menjadi pribadi yang lebih berani, berani memulai pembicaraan, berani menyampaikan pendapat, berani di kritik untuk terus maju. Dan tentu berani keluar dari Zona Nyaman, don’t quite untiil you proud!
Oleh Erwin Parengkuan – TALKINC Founder & Main Facilitator
Tulisan
saya kali ini mengacu pada 5 indera kita. Tentu indera pengelihatan memberikan
dampak besar dalam komunikasi, selanjutnya indera pendengaran yang juga
memberikan dampak terhadap suara yang kita dengar. Indera penciuman menjadi
relatif karena tidak tidak akan mencium bau seseorang selain terlalu ekstrim (
terlalu wangi atau sebaliknya), sedangkan indera pengecap tentu tidak akan kita
gunakan. Ada satu lagi yaitu indera perasa ( kinesthetic ) yang akan memberikan
pengaruh besar dan bertahan paling lama dalam kesan yang kita tampilkan ketika
berbicara.
Tentu
ketika telah melakukan pembicaraan dengan lawan bicara, kedua indera kita baik
pengelihatan dan auditory atau pendengaran akan memberikan pengaruh paling
besar. Kita akan mengamati penampilan dan memperhatikan bahasa tubuhnya, selain
tentu mendengarkan tone suara. Nah, kedua indera ini kemudian akan memberikan
informasi kepada kita tentang sebuah kesimpulan yang kita tangkap. Yang pertama
tentu apa yang kita rasakan dari lawan bicara? Apakah termasuk pribadi yang
terbuka atau tertutup? Atau terasa sangat “dingin” dengan banyak
“benteng” sehingga kita merasa orang tersebut berjarak dengan kita.
Artinya orang tersebut bukan temasuk pribadi yang terbuka. Sehingga kita
akan menyimpulkan orang tersebut sulit membangun hubungan dengan lawan
bicara. Lantas, kesimpulannya kita menjadi tidak nyaman bila lawan bicara
kaku dan tertutup.
Padahal,
menjadi pribadi terbuka dan hangat selalu yang dinginkan oleh setiap orang,
mengapa? Karena ketika kita terbuka dan hangat, kita menjadi tidak membangun
“benteng” dan membuat kesan ramah akan membawa anda kedalam sebuah
hubungan yang menyenangkan. Ingat, kita adalah mahluk sosial yang tidak bisa
hidup sendiri, kita selalu memerlukan orang lain di hidup ini, dan di zaman
diserupsi seperti sekarang, kita tidak bisa sukses tanpa orang lain. Kata
“one man show” adalah istilah untuk para kolonial yang sudah tidak
eksis lagi di dunia komunikasi modern saat ini. Dengan kita mengaktivasi
hubungan yang akan kita jalin, tentu “rasa” yang muncul akan membuat
kehadiran anda selalu dinantikan mereka.
Begitu
kita terbuka dan tidak memiliki agenda lain, di luar tujuan pembicaraan kita,
tentu kita akan membawakan diri kita sebaik mungkin. Biasanya mereka yang masuk
kategori pribadi yang ekstrovert dapat dengan mudah membawakan dirinya apa
adanya. Sedangkan buat mereka yang introvert kebanyakan menemui kesulitan dalam
menampilkan citra dirinya. Tips dari saya buat anda adalah jangan pernah
memandang orang yang baru kita jumpai sebagai orang asing. Anggaplah mereka
seperti teman dekat anda, sehingga anda dapat memberikan kesan hangat kepada
lawan bicara dan membuat anda tetap menjadi apa adanya. Karena sekali lagi,
indera perasa kita akan bertahan paling lama dalam diri kita. Dan ini akan
berpengaruh kepada hubungan jangka panjang anda. So be real, be authentic!
Bruce
Lee pernah menyebutkan istilah “be water my friend.” Artinya jadilah
seperti air yang mengalir. Hal ini juga yang selalu diinginkan siapapun dalam
setiap kita melakukan percakapan. Kita menginginkan pembicaraan yang mengalir
dengan sebuah tujuan yang jelas, alur yang jelas. Seperti air yang mengalir
dari hulu ke hilir.
Bagaimana
caranya agar kita dapat seperti air? Tentu strategi-lah yang akan membuat
pembicaraan kita mengalir. Pembicaraan yang mengalir memberikan manfaat yang
sangat banyak, selain respect kepada lawan bicara, kita dapat mengali semua
kebutuhan yang kita harapkan diutarakan oleh lawan bicara, sesuai dengan
strategi yang kita persiapkan.
Hal
apa yang dapat kita persiapkan? Berikut ini 6 tips yang dapat anda lakukan:
1.Mapping
dan Profiling
Ketahui
terlebih dahulu siapa lawan bicara kita, kultur budaya, jabatan, sampai
kepribadian lawan bicara anda. Ini adalah langkah pertama yang mutlak
dilakukan. Semacam navigator yang akan menentukan titik langkah mengenal siapa
mereka.
2.Set
the Goal with Plan A-B
Tentukan
tujuan pembicaraan, apakah hanya ingin mendapatkan sebuah informasi, ingin
melakukan klarifikasi, ingin menginspirasi atau memberikan motivasi kepada
lawan bicara. Buatlah plan A dan B, seadainya pembicaraan tidak sesuai yang
kita harapkan, misalnya pembicaraan terhenti karena satu dan lain hal, atau
lawan bicara tidak “in the mood” bahkan mendadak mengganti topik
pembicaraan. Alangkah baiknya sebelum pertemuan dilakukan, informasikan
terlebih dahulu tujuan pertemuan.
3.No
Interaption
Jangan
sesekali melakukan interupsi atas apa yang mereka sampaikan, bersabarlah
menjadi pendengar yang baik.
4.Be
Present
Fokuslah
kepada waktu saat bicara, perhatian gerak-gerik wajahnya, bahasa
tubuhnya, dengarkan dengan seksama intonasi suara, naik turunnya ataupun
tekanan pada kata kunci tertentu yang disampaikan. Lupakan problem hidup anda
sejenak untuk dapat hadir penuh 100%.
5.Active
Listening
Berikan
persetujuan dengan mengangguk, berkata “setuju” akan kata-kata yang
disampaikan. Beberapa kali ulangi kata kunci yang mereka telah sampaikan dengan
tujuan anda mendengarkannya 100%. Itu akan memberikan reponse positif
kepadanya, dan akan membuat lawan bicara akan terus bercerita menyampaikan
semua yang ada dalam pikirannya. Carilah kesamaan, bisa ucapan tersebut anda
setujui, seperti kata-kata ” ya sayapun seperti anda, atau ya saya juga
melakukan hal yang sama. Bila pembicara sudah mendapatkan banyak kesamaan,
tentu alur bicara akan semakin mengalir.
6.Using
Magic Words
Tidak
bisa dipungkiri, terkadang kita tidak sabar dan lantas memotong pembicaraannya.
Untuk itu lupa ucapkan kata “maaf saya potong” dan jangan lupa
berikan penghargaan seperti terima kasih atas waktu yang diberikan, senang
bertemu dengan anda dll.
Ada 3 komponen penting dalam komunikasi yang wajib dikuasai oleh setiap generasi dalam penyampaikan sebuah pesan. Yang pertama adalah penguasaan konten. Hal ini tidak bisa di tawar karana tanpa persiapan dan kemampuan mengetahui konten akan sangat sulit bagi setiap generasi dalam menaklukan audiensnya. Bila mengambil analogi ketika memasak komponen ini adalah bahan dan ingredients yang segar dan dengan kualitas terbaik. Bila penguasaan materi cara berkomunikasi sangat di kuasai maka semua generasi akan tertarik mendengarkannya, hanya perlu mengetahui masing-masing karakter dari generasi, seperti Baby Boomers (BB) memerlukan pemaparan data yang lebih dalam, info yang detail, sedang untuk generasi X, sepanjang datanya dapat dipertanggung-jawabkan mereka dapat menerima. Untuk generasi Millenial (Y) menilai hal ini tidak terlalu mendasar, asal aplikatif buat mereka, karena mereka akan dapat mencari sendiri data tersebut melalui search engine.
Komponen
kedua adalah kemampuan menyampaikan pesan yang baik, lagi-lagi bila mengambil
contoh memasak, ini adalah tehnik masak yang harus dikuasai, seperti kapan
mulai menumis, memasukkan bumbu. Metode menguasai “timing” dan
mengetahui “tekstur” dari setiap bahan masakan menjadi bagian yang
terpenting. Artinya komunikasi adalah bukan apa yang ingin kita sampaikan tapi
bagaimana cara menyampaikannya. Misalnya komponen utama sudah dimiliki, tapi
cara atau tehnik penyampaiannya tidak sesuai tentu hasil masakkan bisa over
cooked atau tidak layak disajikan. Untuk komponen kedua ini semua generasi
mempunyai tingkat ketahanan menerima pesan yang bervariasi. Bila untuk generasi
BB tidak terlalu menantikan cara penyampaikan yang maksimal, seperti suara asal
terdengar jelas sudah baik, bahasa tubuh bisa statispun tidak masalah, dan penampilan
harus sopan. Bila generasi X, mulai memerlukan tehnik yang berbeda, harus lebih
pandai dalam meracik unsur suara, bahasa tubuh dan penampilan sejauh tidak
terlihat kotor, kamipun dapat menerima. Sedangkan untuk generasi Y, diperlukan
kemahiran dalam menciptakan engagement dengan mereka. Ingat generasi ini sangat
tech savvy, artinya attention spending mereka pendek. Arus informasi dan
tehnologi yang deras ketika mereka remaja membuat generasi ini sulit fokus.
Millenial hanya bertahan selama 8 detik, dibanding ikan mas koki yang 10 detik.
Artinya bila tehnik menyampaikan tidak menarik mereka langsung akan
“escape” dan berpindah ke gadget mereka.
Komponen ketiga menjadi perekat dari 2 komponen di atas yaitu creativity. Lagi-lagi seperti masakan ini adalah kemahiran membuat garnish yang menarik dan unik. Dengan penguasaan komponen kedua, ditambah “approach” yang berbeda, komunikasi yang akan anda sampaikan langsung menarik untuk semua generasi di atas. Kenapa demikian? Karena saat ini generasi X maupun BB sudah tertular virus phubbing dimana semua dari mereka sangat “attach” dengan smartphone tanpa terkecuali. Sehingga bila anda kreatif anda dapat dengan mudah dapat membuat sebuah komunikasi maupun presentasi dengan menggunakan alat menjadi memorable. Di tambah kemampuan komponen kedua yaitu how to deliver, sehingga anda tahu kapan harus berpindah dari satu posisi ke tempat yang lain, begitupun dengan intonasi suara yang perlu di tekan atau diam (jeda), penampilan yang tepat dengan aksen tertentu akan membuat anda terlihat berbeda serta memaksimalkan slides presentation kapan harus membahasnya. Melakukan interaksi, diskusi dll. Artinya flow ini harus anda pikirkan, dan hanya dengan kreativitaslah akan membuat penampilan anda berbeda dari yang lain.
Artinya komunikasi menjadi sangat fluid, cair dan tidak baku. Selalu saja ada “approach” yang berbeda yang diharapkan oleh setiap generasi yang berbeda. Anda hanya perlu “alert” and “aware” terhadap ekspektasi dengan mempelajari profile mereka.
Membuka diri menjadi nilai yang absolute! Mari kita terus belajar dan menambahkan bobot dalam setiap kalimat dengan cara yang kekian dan tidak jadul. Mengapa demikian? Karena populasi jumlah millenials semakin tahun semakin banyak, lihat saja di banyak perusahaan, jumlah mereka menembus angka diatas 50%. Artinya tidak pernah ada kata terlambat untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi dalam bersikap dan berkumunikasi agar di terima oleh semua generasi yang ada dalam kehidupan kita.