by admin | Feb 26, 2020 | Information, News
Mungkin anda asing dengan istilah yang sering di sebut-sebut oleh mereka yang ada di area Sales ataupun Marketing. Istilah “pick up lines” adalah ketika kita bertemu dengan orang baru, kita dapat memulai sebuah kalimat yang akan menjadi pengantar kita dalam berkumunikasi dengan mereka. Istilah basa-basi adalah analogi yang sering disebutkan mengganti istilah ini. Jujur saya keberatan dengan istilah ini, karena menurut saya kata basa-basi sangat tidak relevan, cenderung berkonotasi negatif. Padahal, kata pertama yang keluar dari mulut kita kepada orang yang kita jumpai menjadi penentu untuk sebuah kelancaran dalam berinteraksi.
Beberapa waktu lalu, ketika berada di dalam kelas, seseorang dari team Human Resources mengatakan kepada saya bahwa ia akan duduk di kelas sebagai observer berhubungan dengan proposal yang sudah kami kirim dan ia ingin mengamati jalannya pelatihan seperti apa. Wanita ini menginformasikan bahwa teamnya banyak terdiri dari kaum Millenial sangat sulit membuka pembicaraan, mereka terlihat sangat kaku, too the point, maunya langsung menjelaskan produk yang akan mereka tawarkan tanpa “building raport” yang baik dengan calon nasabah. Saya bilang memang itu tantangan yang sering saya jumpai di kelas, seseorang yang sangat menggunakan logika, merasa sulit membangun hubungan, apalagi untuk mereka para millennial yang tendensi bicara pendek-pendek.
Pernahkah ada ingat, dalam sebuah percakapan yang intens, dimana anda bicara sangat mengalir dengan seseorang yang baru anda kenal? Kenapa bisa demikian? karena tentu orang tersebut ketika memulai pembicaraan telah membuat anda tertarik karena ia begitu peduli dengan anda. Menyapa anda dengan hati, membuat anda menjadi berharga. Masih ingat? Nah, kita kadang lupa, bahwa komunikasi adalah merajut satu hati dengan hati yang lain, sehingga kata “Pick Up Lines” harus jadi perhatian setiap orang. Dan ini menjadi krusial bila kita tidak dapat “mapping” lawan bicara, apakah pendekatan dengan hati dari kalimat pertama harus lebih banyak atau cukup saja sebagai pembuka karena lawan bicara kita tidak terlalu “feeling” karena mereka sangat “thinking.”
Beberapa tips berikut ini dapat membantu anda untuk memulai pembicaraan yang menarik. Pertama yang harus di ingat bahwa setiap orang merasa dirinya lebih penting dari orang lain. Sehingga dengan pertanyaan sesederhana “Apa kabar pak/ibu hari ini?”. Setelah “a simple how are you?” baru kita bisa melanjutkan dengan memilih pertanyaan berikut yang bisa menjadi jalan panjang “building raport” anda seperti, bagaimana kabar keluarga anda? ( harus berhati-hati dengan pertanyaan ini, liat apakah mereka nyaman atau tidak? Dari mana asalnya? Bila berasal dari orang Amerika biasanya mereka menghindari pertanyaan yang bersifat pribadi). Tanyalah soal pekerjaan mereka? Ini akan memancing diskusi yang menarik, atau carilah kesamaan soal tempat hiburan yang ia suka, makanan, tempat wisata, dll. Jangan lupa bila bertanya selipkan kata-kata seperti “boleh tahu?”. Selamat mencoba, remember only a prefect practise will makes perfect.
Erwin Parengkuan
TALKINC Founder
by admin | Feb 21, 2020 | Information, News
Tak perlu dipungkiri bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia tidak terlalu suka berbicara di depan umum dan menjadi pusat perhatian. Hal ini dipengaruhi oleh kultur masyarakat yang sejak kecil tidak banyak memberikan kesempatan berbicara dan mengemukakan pendapatnya, terutama anak-anak kepada orang dewasa. Padahal di sisi lain, sudah jelas bahwa kemampuan berkomunikasi baik one-on-one maupun public speaking sangat dibutuhkan untuk tujuan memberi informasi, meyakinkan orang-orang, ataupun mempengaruhi orang lain.

Sayangnya kondisi di atas terjadi kepada saya, sedangkan di sisi lain era dewasa ini saya sangat membutuhkan keterampilan ini untuk berkolaborasi dengan orang lain. Beruntungnya, ada sekumpulan orang-orang berpengalaman yang tergabung di TALKINC yang telah menstruktur metode belajar yang cepat tepat dari dasar. Hal mendasar yang menurut saya revolusioner bagi diri saya adalah pengertian bahwa Communication is an attitude, a behavior, tidak ada benar dan salah di sebuah skill komunikasi, komunikasi adalah seni. Untuk mempelajari secara maksimal, para trainer di TALKINC mengajarkan pertama-tama adalah perubahan mind-set. “Buatlah dirimu nyaman ketika berbicara seperti halnya makan, minum, bernapas atau hal-hal lainnya. Hal-hal teknis lainnya bisa dipelajari”, kata mentor-mentor tersebut.

Banyak hal yang saya dapat dari belajar selama 9x pertemuan ini mulai dari teknik pembukaan yang memukau dengan metode: G-I-S(tory Telling)-I. Meracik content juga tak kalah menariknya, yaitu dengan metode Flow-of-Mind (bisa disusun secara kronologis, didukung bukti/data, dan menyelesaikan masalah). Dari hal-hal penting ini, saya berlatih untuk merancang struktur dan content berbicara di depan umum dalam waktu yang singkat berbatas waktu, namun tetap mengenai sasaran., dan menyampaikannya dengan cara yang elegan.
Terima kasih Talk-inc, sungguh sangat bermanfaat semua materi pembelajaran yang didapat selama belajar di sana. Terutama diajarkan oleh mentor-mentor yang memang berkecimpung di ranah komunikasi selama bertahun-tahun. Di media, radio, tv, mc, dan lain-lain.
Oleh: Muryuwono Dewanto
Batch 74
by admin | Feb 17, 2020 | Information, News
Suka lihat bila seseorang berkelahi di jalan dan saling mengeluarkan kata-kata tidak enak di dengar? Nah itulah yang saya maksud dengan bad communication. Bila seseorang dalam kondisi mental yang tidak baik biasanya kata-kata negatif yang akan terlontarkan. Jadi bila banyak peserta yang bertanya kepada saya, bagaimana caranya kita dapat berkomunikasi dengan baik, ya jawaban saya adalah mental kita harus baik dulu baru kita dapat menyampaikan kata-kata yang baik yang dapat kemudian menjadi “pintu pembuka” dalam membangun hubungan dengan setiap pribadi yang kita jumpai.
Komunikasi memang memerlukan kemampuan kosa kata yang banyak agar dapat memilih kata yang paling tepat untuk disampaikan selaras dengan kalimat yang terucap, itupun hingga saat ini tidak semua orang mempunyai kemampuan mengolah kata yang baik. Seperti yang kita dengar penyebutan : kita yang harusnya kami, atau sebaliknya, atau penyebutan kata kalian kepada audiens yang lebih tua. Buat saya itu masalah tehnis yang dapat dipelajari oleh seseorang dengan cepat dengan membaca banyak buku dan peka terhadap definisi setiap kata. Sedangkan bila kita dalam keadaan mood yang sedang tidak baik, cenderung kata yang di pilih menjadi tidak enak di dengar, atau disampaikan dengan nada yang tinggi sehingga terkesan marah.
Bagaimana caranya agar kita dapat mengendalikan diri ketika berkomunikasi? Berikut ini adalah 3 tips yang dapat anda praktikkan:
-
Sadar akan peran kita
Setiap orang mempunyai peran, seperti saya adalah seorang ayah, saya adalah seorang profesional ketika kita sedang bekerja, atau ketika kita keluar negeri, atribut siapa kita akan terlepas karena kita menjadi pribadi yang mewakili negara, ya kita warga Indonesia. Itu contoh sederhana ketika kita dasar akan peran kita, siapa kita, tentu kita akan membuat kita lebih sadar tentang peran yang harus dijalankan dimanapun kita berada.
-
Pikirkan tujuan komunikasi
Ketika keluar dari rumah, menuju tempat aktifitas, pikirkan kalimat-kalimat yang akan diucapkan adalah hanya yang positif. Bila anda akan menegur seseorang gunakan tehnik “sandwich” yaitu puji hal yang positif dari mereka, baru berikan input, dan di tutup dengan harapan agar orang tersebut melakukan yang anda harapkan dan jangan lupa, berikan kata-kata pendukung. Jadi bila terpikir akan menyebutkan kata negatif, lebih baik tidak diucapkan.
-
Teruslah membuka wawasan
Banyak sekali sumber bacaan, referensi yang dapat membuka wawasan anda, selain buku, ada www.tedx.com, pinterest, bahkan berlangganan master class untuk melihat orang-orang hebat berbagi banyak pengalaman dan pengetahuan kepada kita.
Mari kita terus bertumbuh, menjadi pribadi yang terbuka, menyenangkan, karena kita akan lebih senang dekat dengan orang-orang yang positif, and if you have nothing to say, say nothing!
Erwin Parengkuan
TALKINC Founder
by admin | Feb 1, 2020 | Information, News
Terdengar “sangar” macam ingin perang. Mungkin analogi ini tepat juga sebagai judul karena mengambil kesan sebuah situasi pertempuran, ya memang kita saat ini tengah bertempur melawan diri dan keadaan yang terjadi dan terus datang di dalam kehidupan kita. Sebuah istilah lain yaitu : “Everyone has their own battles” sangat tepat mengambarkan kondisi kita dalam kehidupan di dunia yangserba cepat dan penuh tantangan. Sebuah dunia baru atau yang di sebut The New Norms yang membuat derasnya arus perubahan yang masif membuat kita/orang lain semakin tidak sabaran, self-centered, prejudis, dan individualistis.
Jadi apa yang kita hadapi saat ini, kalau dikaitkan dengan kemampuan berkomunikasi, tidak lepas dari kemampuan seseorang mengenal dirinya, mengendalikannya, dapat membaca mood dan kepribadian lawan bicara, belum lagi tantangan dalam diri yang makin berkecamuk, tekanan sosial media, membuat kemampuan membangun relasi saat ini (dari yang saya amati ketika mengajar atau bertemu banyak orang) semakin menjadi-jadi.
Ada dua kata yang perlu diperhatikan dalam mensiasati keadaan ini, yaitu: Self Accaptance. Nah ketika kita sadar akan adanya pengaruh internal maupun eksternal yang mempengaruhi seseorang dalam berkomunikasi, tentu kita dapat membuat banyak strategi untuk mengantisipasinya. Sehingga kalau kita atau lawan bicara tidak dalam situasi yang baik, kita dapat mengetahuinya.
Asahlah pengetahuanmu, asahlah sikapmu, asahlah kemahiranmu dalam membaca situasi dan lawan bicara. 3 hal di atas menjadi acuan kita untuk sukses dalam karir dan kehidupan ini. Menjadi pribadi yang terbuka, selalu menjadi “murid” dalam setiap kesempatan akan memberikan keuntungan positif yang berlimpah kepada kita. Dalam kelas saya suka menyampaikan istilah pisau kampung vs pisau buatan Swiss. Pisau dengan kualitas terbaik buatan Swiss akan merasa tidak perlu mengasahnya setiap hari karena sudah terbuat dari bahan berkualitas terbaik, sedang pisau kampung yang di beli dengan harga di bawah Rp 10.000,- akan berpikir kalau setiap hari tidak diasah akan karatan dan tidak bisa digunakan.
Erwin Parengkuan
TALKINC Founder
by admin | Jan 16, 2020 | Information, News
Mari kita bicara soal kolaborasi. Sebuah kata yang mengandung banyak pekerjaan di sana. Bila kata ini dikaitkan dengan apa yang kami lakukan dalam setiap training, terutama outbound program activity di mana makin banyaknya permintaan organisasi untuk “merapihkan” setiap individu yang bernaung dibawahnya.
Kita tentu tahu beberapa organisasi besar, baik di dalam maupun di luar negeri yang dulu nama mereka sangat besar kemudian sekarang hilang tanpa bekas, sebut saja, perusahaan jamu raksasa Nyonya Meneer, Asuransi Jiwasraya, Nokia, Kodak, dan masih banyak lagi, dan nama-nama lain yang tidak saya sebutkan, satu persatu bila tidak dapat menyatukan semua individu didalamnya akan bernasib sama.
Dari apa yang kami amati beberapa tahun ke belakang berhubungan dengan perusahaan besar, swasta, pemerintah maupun asing, bahwa banyaknya generasi yang berbeda dan kontras memberikan tantangan tersendiri bagi para pemimpin untuk dapat menyatukan semua orang dalam satu tujuan yang sama. Sayangnya perbedaan itu makin hari membuat “jurang” yang makin besar. Sikap yang apatis, individualistis dengan pengaruh besar dari gadget, kemudian mereka mudah baper, atasan cenderung memaksakan pendapat, generasi Millenials bahkan Z yang acuh dan mudah menyerah membuat gap yang semakin besar dan tentunya mempengaruhi jalannya “roda” perusahaan.
Dalam sebuah outbound di mana waktu itu saya bertugas sebagai facilitator selama 3 hari untuk membantu sebuah divisi dari perusahaan jasa keuangan agar dapat mendekatkan “jurang” yang terasa semakin lama semakin jauh, yang pada akhirnya semua orang sadar pentingnya kolaborasi. Dari sekian banyak pelatihan yang kami lakukan, contoh pada tahun lalu ratusan pelatihan dari lebih 20 program yang kami miliki, ada sekitar 20 persen permintaan akan program outbound bermunculan, sedangkan tahun sebelumnya (2018) belum ada permintaan tentang program ini. Sebuah pertanda bahwa jurang yang makin besar memerlukan usaha yang besar dari organisasi untuk segera membereskan PR ini.
Berbeda dengan program inhouse training yang selalu kami lakukan, dampak akan perubahan dalam setiap orang bisa di sebut tidak banyak, hanya di bawah 10%, sedangkan bila program ini digabungkan dengan outbound activity, dari pengalaman selama ini, sekitar 30% dampak positif yang di terima dan membuka kesadaran tiap peserta bahwa kita tidak bisa sukses sendirian apalagi dalam karir. Artinya ini sudah dapat mendekatkan pribadi yang tadinya saling tidak peduli, berjauhan, untuk lebih mengenal satu sama lain dan tidak mempunyai mental Silo. Jujur kesuksesan dari sebuah kolaborasi tentunya mengikuti garis vertikal maupun horizontal, antara atasan dan bawahan maupun dengan setiap divisi yang ada.
Bahwa zaman telah berubah, di mana jiwa gotong royong yang semakin memudar dan self centered yang makin besar terlihat dalam setiap roda kehidupan ini. Dan apabila pemimpin tidak peka, maka cepat atau lambat “kapal” yang dikemudikannya akan segera “tenggelam.” Perlu segera dilakukan banyak program yang dapat membuat semua individu berani dan terbuka. Berani bicara, terbuka pikirannya dan membuang jauh rasa EGO yang selama ini ada. Karena ketika semua urusan ini dapat segera dilakukan, maka semua orang akan mempunyai kemampuan membawakan diri yang lebih baik, positif dan tentunya berkomunikasi dengan asertif. Nah, bagaimana dengan perusahaan anda?
“Erwin Parengkuan – TALKINC Founder”
by admin | Nov 11, 2019 | Information, News
Didasari dengan keinginan yang kuat untuk mengembangkan serta mengasah kemampuan berbicara di depan umum, Saya memutuskan untuk mengikuti program professional public speaking yang diadakan oleh TALKINC. Saya juga memiliki ekspektasi dimana saya berharap agar pengajar dari TALKINC dapat membantu saya untuk meningkatkan dan mengasah kemampuan berkomunikasi yang telah saya miliki.
Diawali dengan encounter pertama dengan materi public speaking – the overview, saya mendapatkan valuable insight mengenai pentingnya peran seorang public speaker. Berangkat dari hal – hal yang telah saya pelajari di encounter pertama, saya semakin semangat untuk mengasah kemampuan saya lebih dalam lagi dan selalu menunggu untuk diberikan feedbacks dari pengajar setelah saya melakukan presentasi atau aktivitas lainnya.
Secara umum materi – materi yang telah disampaikan oleh tim pengajar sangat bermanfaat dan berguna untuk mengembangkan kemampuan berbicara saya. Ibaratnya, seluruh materi merupakan satu kesatuan yang saling terhubung membentuk sebuah integrated system. Singkatnya, dengan mengkombinasikan seluruh materi – materi yang telah disampaikan oleh para pengajar, saya bisa menjadi public speaker yang terstruktur dengan baik dan siap bicara didepan umum.
Materi yang membuat saya makin semangat untuk belajar lagi adalah The Opening Speech. Alasan utamanya adalah, pada saat materi ini saya bisa belajar banyak untuk membuat pembukaan yang simple, dan menarik. Dan hal ini menjawab keingintahuan bagaimana berhasil memerankan peran penting dari seorang public speaker yang diantaranya adalah pemberi informasi, dan terlebih informasi tersebut sampai ke audience kita dengan baik dan benar.
Sukses selalu untuk TALKINC, dan terimakasih untuk semua pengajar yang telah menyampaikan materinya dengan sangat baik dan menarik, salam sukses.
by admin | Oct 25, 2019 | Information, News
Dari semua topik yang disampaikan dalam Pelatihan Public Speaking ini saya menyoroti Encounter 7 , yakni tentang When Thing Gone bad & How to handle Audience , dimana pembahasannya sangat menarik (tidak mengecilkan encounter lainya) yakni tentang permasalahan yang muncul pada saat presentasi atau melakukan public speaking didepan umum , adapun Fasilitator training yang menyampaikan pada saat itu adalah Aurellio Kaunang. (thanks buat bro rio untuk penyampaian dan saran teknisnya semoga bermanfaat bagi saya dan peserta lainnya).
Adapun masalah-masalah yang muncul dari presentasi / public speaking yang dikumpulkan oleh para peserta (dilihat dari faktor internal dan eksternal) adalah sebagai Berikut :

Selama mengikuti training tersebut peserta dibagi menjadi dua kelompok besar dan dituntut menyampaikan public speaking berdasarkan topik terkait Macet atau Hoax (Peserta ada yang menjadi Public Speaking dan peserta lainya menjadi Audience yang ngeyel, nyebelin, pura-pura tidur , mati lampu dan lain-lain yang sifatnya menggangu konsentrasi. Dari hasil presentasi public speaking tersebut dapat diambil kesimpulan yakni perlunya persiapan dari sisi data, informasi, waktu , survei lokasi, pengecekan tools dan pendekatan yang diperlukan dari sisi pembicara untuk bisa menghindari atau menghidupkan suasana yang tidak bersahabat.
Selalu ingat untuk melakukan beberapa hal yang pernah disampaikan pada encounter-encounter sebelumnya yakni : Story Telling, Creating, Similiarity, 3H(Head,Heart dan Hand) , questioning dll. Serta perlunya mengenali kemampuan diri sendiri untuk mengadopsi hal-hal tersebut diatas, setelah diperhatikan didalam kelas ternyata tiap orang mempunyai kemampuan individu yang berbeda untuk mengeksekusi presentasi / public speaking sehingga menjadi lebih menarik. serta bersyukur diberikan pencerahan dari para trainer untuk bisa melihat kekurangan serta kelebihan dalam individu masing-masing peserta.
Seperti yang pernah disampaikan bro Rio tidak ada benar atau salah dalam berpublic speaking tapi persiapan-persiapan yang matang yang membuat anda tampil percaya diri dan menguasai panggung.
by admin | Sep 30, 2019 | Information, News
Hai…saya Emma,
Saya merasa beruntung bisa bergabung mengikuti kelas MC-TV Presenter di TALKINC, rasanya seperti “My dream came true” banget! Sebetulnya sudah lama, saya kepingin belajar ilmu komunikasi, tapi ga mau ambil kuliah lagi, karena pasti perlu waktu yang cukup lama. Nah, saya merasa berjodoh bisa nemu TALKINC dan langsung saya daftar untuk ikut kelas ini. Selain para fasilitatornya sangat berkualitas, TALKINC juga mempunyai silabus yang menurut saya sangat efektif dan efisien. Kita bisa sangat tepat memilih kelas mana yang kita butuhkan.
Sejujurnya, punya impian menjadi MC – Presenter itu adalah salah satu kenekatan saya, karena pada dasarnya saya bukan orang yang pandai berbicara, jangankan jadi MC, kadang ngobrol sama temen aja sering krik krik (baca : garing hehe) sering juga saya bicara gak nyambung dan membosankan. Lalu kenapa saya nekat pingin jadi MC, dan keluarin uang buat belajar ilmu ini?? Hei….inilah yang namanya MIMPI, dan saya sangat tertantang untuk bisa menjadi apa yang saya mau, yaitu MC dan presenter.
Memang sih, impian jadi MC ini sangat out of the box buat saya, sebagai lulusan S1 Akuntansi, ga ada hubungan sama sekali dengan pelajaran atau impian menjadi MC, than I called…this is my PASSION!
Yes, sudah setahun belakangan ini saya resign dari kantor, saya benar-benar focus menjalani passion saya di bidang acting, dan Alhamdulillah dalam waktu setahun ini saya bisa membuktikan bahwa saya mampu mejalani dan mencapai passion saya sebagai entertainer.

Dalam satu tahun, banyak pengalaman berharga yang saya sendiri belum pernah memimpikan hal tersebut, contohnya…saya sudah pernah beradu akting dengan Chelsea Islan dan Pevita Pearce dalam film SEBELUM IBLIS MENJEMPUT, lalu menjadi bintang video klip D’Masiv dalam lagunya yang berjudul INGIN LEKAS MEMELUKMU LAGI, menjadi guru pembina pramuka dalam video opening Asean Games 2018, dimana Presiden RI bapak Jokowi menjadi bintang utamanya, dan beberapa iklan tv dan digital lainnya. Dan saya yakin saya juga mampu menjadi MC dan Presnter yang baik, aamiin.
Saya dari dulu sangat tertantang untuk melakukan hal yang menurut saya justru itulah kekurangan saya, saya dulu selalu kurang percaya diri, suka grogi kalo didepan kamera, dan saya sering gak jelas kalau berbicara, sampai kadang orang saja gak ngerti apa sih yang saya sedang jelaskan, oleh karena itu saya sangat mantap untuk belajar di TALKINC. Dan hasilnya, sangat memuaskan! Melebihi ekspetasi saya.
Dari delapan kali pertemuan, jujur saya selalu mendapat materi yang sangat berguna untuk mencapai impian saya, dan kesan dari para fasilitator juga sangat menyenangkan dan friendly banget, setiap di kelas pasti saya dan teman-teman selalu tertawa riang, bahagia banget karna para fasilitator yang ngajar selalu serius tapi nyantai dan teman-teman di kelas juga pada gokil dan seru banget deh pokoknya, huhuhu saya pun sedih sebenernya mesti berpisah dengan kalian batch 102.
Btw, kalau bicara paling gokil ya pastinya kelasnya Dave Hendrik mengenai Total Look. OMG, beliau sangat expert banget dibidang ini dan parah sih gokil banget orangnya, sangat seru!
Tapi tetap sih, ada salah satu materi yang buat saya pribadi sangat sangat LUAR BIASA.
Saya dapet “deep impression” dari materi Brand Image dengan fasilitator kak Fernando Edo. Dari beliau lah saya mulai menyadari betapa penting mengetahui dan mengakui apa saja kelebihan kita, mau jadi MC seperti apakah kita, dan yang akan selalu saya ingat adalah jargon “JUST BE EMMA” Kak Edo sangat membantu kami untuk selalu percaya dengan kemampuan kami, dan belajar membentuk BRAND Image seperti apa yang kita inginkan sebagai MC Professional. That’s why I really love brand image. Dan dari materi tersebut juga banyak yang saya pelajari, seperti teknik vocal, artikulasi, intonasi, senyum dan semangat, itu semua sangat penting untuk menambah skill komunikasi saya. Kak Edo juga dengan sangat humble memperlihatkan contoh Cue Card yang beliau buat sendiri, oh yaa…beliau juga satu-satunya fasilitator yang menanyakan dan meminta akun instagram kami dan memfollow kami, he is a very humble facilitator, thanks kak EDO! Dia layak lho dapat gelar Favorite coach hehe.
The last but not least, I’d like to say thank you for all my facilitators (Roland L, Irina Dewi, Syahnaz, Lia Halim, Wahyu Wiwoho, Fernando Edo, Kamidia R, Dave Hendrik) dan buat mba Nicky yang selalu sigap dan sabar ketika ada beberapa teman saya yang jarang bawa modul hehe, thanks buat Visca juga yang selalu pasrah kalau saya becandain hehe sabar yaaah ;p dan pastinya mas Taufik yang bantuin saya pertama kalinya bisa foto bersama News Anchor idola saya, mas Wahyu Wiwoho (oh anyway, saya ambil kelas di TALKINC juga salah satunya karna fasilitator nya beliau ini hehehe). Dan terima kasih juga buat para valey Talkinc yang sigap membantu saya parkirin kendaraan.
Banyak kesan bahagia dari TALKINC, dan saya pasti akan ambil kelas lainnya, karena belajar di Talkinc bikin nagih loh ternyata, percaya deh! Selain dapat ilmu yang mumpuni, kita juga bisa bertemu dengan para fasilitator hebat yang sudah sangat professional dibidang ini, thanks a bunch TALKINC, doakan saya supaya jadi MC – Presenter yang membanggakan untuk Talkinc, aamiin.
I really LOVE you, TALKINC! See you in another class!
Emma Mikhael (Professional MC – TV Presenter batch 102)
by admin | Sep 16, 2019 | Information, News
Dalam buku yang pernah kami tulis 5 tahun lalu terbitan Gramedia Pustaka Utama dengan judul Personal Brand-inc terdapat 2 komponen: Utama dan Tambahan, komponen ini berhubungan satu dan lainnya. Ada yang harus dimiliki mutlak seperti sikap, keahlian dan nilai teguh yang membuat seseorang untuk terus maju dan bertumbuh dan ada yang dapat dibuat dan ini sangatlah manusiawi, kerena hakikatnya tidak ada satupun manusia di dunia ini yang mau terlihat jelek dimata publik.
Personal brand atau people brand menjadi garda utama untuk seseorang menampilkan citra dirinya diantara hutan belantara media yang makin tidak menentu, media dan awak media menghadapi dunia yang disruptif, kompetitif, harus cepat, persaingan lapak yang makin tinggi membuat makin menurun kualitas penulisan dan investigasi yang komperhensif, akhirnya suguhan berita menjadi bias antara yang benar terjadi dan yang sengaja dibuat oleh para individu yang berlomba-lomba untuk terlihat menonjol dipermukaan.
Melihat fenomena ini, lantas kata pencitraan menjadi bumbu penyedap utama di jaman now, pencitraan? Boleh ngak? Ya bolehlah itukan kebebasan setiap individu. Pencitraan dapat dilakukan dengan tidak boleh terlalu banyak bumbu, harus tetap menjaga keasliannya. Seperti melihat sebuah kue megah dengan hiasan sangat indah tapi ternyata itu hanya dummy yang tidak dapat disantap, dan menjadi tidak bisa dinikmati secara utuh, itu hanya pajangan, isinya tidak ada. Begitulah kita-kira analogi yang tepat menurut saya. Mari kita buat branding yang dapat dipertangungjawabkan. Kualitas menjadi mutlak, tidak bisa ditawar agar kita tidak salah branding dan akan memberikan dampak viral yang lebih rusak. Sekian, mari kita makan kue asli, bukan kue dummy.
Erwin Parengkuan
Agustus 2019
by admin | Sep 9, 2019 | Information
Dalam pembahasan sebelumnya saya telah membahas definisi negosiasi, pentingnya skill negosiasi dalam dunia profesional, hingga kaitan negosiasi dengan ilmu komunikasi. Dalam pembahasan kali ini, saya akan membahas mengenai 5 strategi dalam negosiasi.
Di TALKINC sendiri, kami memiliki program in-house training yang membahas mengenai negotiation skills. Dalam modul program negotiation skills tersebut, kami menyertakan Conflict Model yang dikemukakan oleh Thomas Kilmann yang tertera dibawah ini:

Menurut Thomas Kilman, terdapat 5 strategi dalam berkomunikasi berdasarkan tinggi-rendahnya asertifitas dan kerjasama dari pihak komunikator, yaitu competition (kompetisi), collaboration (kolaborasi), avoidance (penghindaran), accommodation (mengakomodir), dan compromise (jalan tengah). Secara garis besar, kelima strategi negosiasi ini dapat dijelaskan dengan cara berikut:
1. Competition (Win-Lose)
Dimulai dari tingkat asertifitas negosiator yang tinggi dengan kerjasama yang rendah, kompetisi cenderung menunjukkan posisi dan pandangan negosiator dengan jelas dan menggunakan logika untuk memastikan bahwa pihak lain akan setuju dengannya. Pendekatan ini dapat dilihat sebagai pendekatan yang agresif karena menggunakan ‘power’ untuk mencapai tujuan, namun keberhasilan yang didapatkan akan berjangka pendek.
2.Collaboration (Win-Win)
Dilanjutkan dengan tingkat asertifitas dan kerjasama yang juga tinggi, kolaborasi menitikberatkan negosiator yang mendengarkan dan memosisikan diri untuk mendengarkan saran dari kedua belah pihak, sehingga negosiator berorientasi kepada pencarian alternatif bagi semua pihak dan mementingkan rasa percaya antara kedua belah pihak.
3. Avoidance (Lose-Lose)
Kemudian memasuki kuadran bawah dalam Conflict Model dengan asertifitas dan kerjasama yang rendah, penghindaran akan cenderung memosisikan negosiator dalam posisi membiarkan orang lain mengambil keputusan dan menghindari situasi yang penuh dengan ketegangan. Cenderung menghindari konflik dan konfrontasi dengan taktik yang pasif-agresif.
4. Accomodation (Lose-Win)
Dengan tingkat asertifitas yang rendah namun kerjasama yang tinggi, strategi negosiasi mengakomodir akan cenderung menempatkan negosiator dalam posisi yang cenderung focus pada hal-hal yang disetujui bersama, menunjukkan sudut pandangnya dengan tujuan untuk menjaga hubungan dengan pihak lain. Langkah utama yang diambil dalam strategi ini adalah mengalah untuk menang’.
5. Compromise (Neutral)
Dalam strategi ini, negosiator cenderung mencari solusi tengah dengan cara menyeimbangkan proporsi di kedua belah pihak.
Kelima strategi ini memiliki tempatnya masing-masing dalam suatu proses negosiasi. Ada waktunya dunia profesional menuntut akomodasi, kompromi, atau kolaborasi. Namun terlepas dari strategi yang anda gunakan, terdapat langkah-langkah yang menjadi teknik negosiasi. Dalam pembahasan berikutnya, saya akan menjelaskan 4 langkah dalam bernegosiasi.
Irnasya Shafira
Research & Development TALKINC